Jangan Menilai Hanya Dari Tampilan Luar
Pagi ini adalah pagi istimewa, Rini baru merasakan bangun pagi dengan suasana lain dihatinya. Dilemparnya selimut jauh jauh dan berdiri dengan sigap menuju kamar mandi. Dia merasakan matahari yang bersinar tak sama lagi dengan yang kemarin. Ini hari dan tentu seterusnya akan menjadi duniaku. Akan kuraih dunia ini dengan segala apa yang kubisa. Katanya dalam hati. Dia ceria. Dikamar mandi dia terus bernyanyi sambil menggosok seluruh tubuhnya. Aku harus membuang semua noda yang dulu dan untuk bersih menjadi aku yang sekarang. Good by the past. Lagi lagi dia tersenyum puas menatap dirinya dicermin. Aku cantik dan pintar , apalagi yang kurang dari diriku. Katanya pada dirinya sendiri.
Pakaian untuk keberangkatannya keluar negeri semua sudah didalam koper. Sementara pakaian untuk dalam perjalanan dipesawat sudah disiapkannya pula. Pangkaian anggun standard executive kelas menengah. Ya dia pantas untuk tampil anyar karena dia kini sudah menjadi manager kelas dunia. Lamarannya untuk bergabung dalam salah satu perusahaan multinasional diterima dan perjalanan kini hanya untuk mendapatkan legitimasi posisi itu dari kantor pusat di Hong Kong. Posisinya sebagai country manager. Posisi ini jarang sekali diisi oleh warga local kecuali yang benar benar qualified. Itulah dia. Makanya pantas bila berbangga hati dan puas dengan kerja kerasnya selama ini. Puas dengan ketekunannya selama di Universitas untuk lulus terbaik.
Pagi itu juga sahabat terbaiknya , Yolanda sudah datang kerumah untuk mengantarnya ke bandara. Mereka berteman sejak di bangku kuliah. Namun otaknya tidak seencer Rini maka karirnya tidak sebaik Rini. Yolanda pun tak secantik Rini tapi bagaimanapun kepribadian Yolanda sangat sempurna. Dia seorang muslimah yang taat. Pandai menjaga auratnya dan tak mudah melenggokan tubuh dan matanya kepada setiap pria. Makanya tak banyak pria mampir dalam hidupnya. Mungkin kepribadian ini datang dari lingkungan keluarganya yang sangat religius. Yolanda sabar untuk menjadi pendengar yang baik dan memahami setiap sahabatnya dengan hatinya. Rini gemar menulis dan hebat merangkai pikirannya dalam satu tulisan berbahasa inggeris maupun Indonesia. Rini penggemar syair dan prosa. Logikanya sangat kuat karena itu dia cerdas.
Sebelum mobil melaju ke Bandara, Yolanda memegang tangan Rini dan berkata “ Rin, Mari kita berdoa kepada Allah , semoga perjalanan mu selamat sampai tujuan.
Rini menatap kearah Yolanda dengan tersenyum. “ Ibu Uztandz “ seru Rini dengan tersenyum sambil memegang pipi Yolanda.’ Ini hanya penerbangan 4 jam tak lebih. Lagian pesawat yang aku tumpangi adalah AirBus , pesawat tercanggih diabad ini. “
“ Ya aku tahu. Tapi kan engga ada salahnya berdoa, Rin “
“ Ah, udahlah,,jalan aja. “
Yolanda hanya menghela nafas. Dia tahu betul sifat Rini sejak kuliah dulu yang bersandar dengan logika kuatnya. Bagi Rini ritual agama membawa budaya terbelakang. Membuat logika orang terpenjara akibatnya kebebasan berpikir terhenti. Bila kebebasan berpikir terhenti maka kemajuan tidak akan pernah ada. Jangan salahkan orang barat yang maju dan Indonesia yang terbelakang. Ini semua karena budaya kita mengekang kita untuk maju. Demikian argument Rini dengan analoginya. Yolanda tak mau berdebat lebih jauh. Dia hanya berdoa semoga Rini dapat menemukan hidayah untuk lebih mengenal agama sebagai landasannya berpikir.. Itu saja.
Sesampai di Bandara, Yolanda masih mendampingi Rini sebelum boarding.
“ Masih ada waktu 1,5 jam lagi untuk bording. Kita ke Mc Donal dulu ya. Aku lapar ini” Kata Yolanda.
Dari tempat parker mereka berjalan kearah terminal keberangkatan. Ketika tepat didepan Mc Donald, seorang wanita terhuyung dan akhrnya jatuh. Dari pakaiannya , mereka tahu wanita ini adalah cleaning service. Yolanda bersegera untuk membantu tapi Rini segera menahan tangannya “ Engga usah ikut campur. Biarin aja orang lain yang bantu. “
“ Tapi Rin, kita harus tolong” Kata Yolanda untuk segera menolong tapi tidak bisa melangkah karena tangannya dipagut erat erat oleh Rini. Ketika itulah seorang pria datang menghampir wanita itu. Dengan sigap pria itu meraba nadi wanita itu .
“ Dia hanya pingsan. “ Menatap kearah Rini dan Yolanda. “ Apakah kalian bisa bantu uleskan minyak angin ini kepada wanita ini “ Sambung pria itu lagi. Yolanda sadar bahwa pria itu tak ingin menyentuh lebih jauh wanita itu. Dari matanya , terkesan pria itu berwibawa. Yolanda melepaskan pagutan tangan Rini dan segera mengambil minyak angin dari tangan pria itu.
“ Usapkan kekeningnya dan hidungnya. Tekan yang keras dibalik betisnya. “ Kata pria itu.
Yolanda mengikuti kata kata pria itu. Benarlah, setelah itu wanita itu membuka matanya dengan keringat dingin membajiri tubuhnya.
‘ Adik masuk ingin. Tadi pagi engga sarapan ya “ Kata pria itu dengan lembut. Wanita itu terdiam dan berusaha berdiri. Yolanda menuntun wanita itu berdiri. Yolanda melihat pria itu membuka dompetnya dan memberi uang lembaran seratus ribu lima lembar.
“ Terimalah uang ini. Cepatlah sarapan dan kalau bisa minta izin sama kantor untuk pulang ya. Istirahat saja dirumah “ Kata pria itu. Wanita itu menerima dengan ragu dan akhirnya airmatanya mengambang sambil berkata “ Terimakasih, pak. “ Wanita itu berlalu.
Rini menyaksikan semua itu dengan tersenyum sinis “ Aku rasa hanya taktik belaka dari wanita itu untuk dikasihani dan akhirnya dapat duit “
‘Rin..” Yolanda menatap Rini dengan kening berkerut’ Kamu ngomong apa sih ? Engga mungkinlah seperti dugaan kamu. “
“ Tapi kenapa begitu cepatnya dia siuman “
“ Pijatan dibalakang betis itu berhubungan langsung dengan aliran daran ke jantung. “ Terdengar suara dibelakang mereka. Ternyata pria yang tadi menolong wanita itu mendengar pembicaraan mereka. Pria itu tetap tersenyum. “ Jadi, kalau ditekan dengan kencang akan menimbulkan kejutan listrik pada pembuluh darah hingga menimbulkan energi untuk jantung kembali berdetak secara normal..Ya sama seperti electrict shock yang dipakai oleh dokter dirumah sakit. “ Sambung pria itu lagi. Disampaikan dengan lancar.
“ Kok anda tahu ? tanya Rini dengan cepat.
“Awalnya orang tua saya mengajarkan saya tapi tanpa penjelasan apapun. Setelah saya dewasa , saya mendapat tahu mengapa. Ternyata ada alasan ilmiah membenarkan kebiasaan itu. “
Yolanda kembali memperhatikan pria itu. Nampak penampilan pria itu sangat sederhana Tak ada aksesoris yang meyakinkan bahwa pria ini berasal dari kelas menengah. “ Anda juga mau keluar negeri “ tanya Yolanda.
“ Ya.”
“ Kemana ?
“ Ke Hong Kong.
“ Oh , sama dengan teman saya ini. Dia juga mau ke Hong Kong. “ Kata Yolanda menunjuk kepada Rini. Rini hanya tersenyum tipis atau lebih tepatnya acuh dengan kehadiaran pria itu dimeja mereka. Entah kenapa Yolanda terkesan dengan pria itu. Selama pembcaraan ,Rini hanya diam tanpa ada niat untuk menimpali pembicaraan mereka. . Mungkin karena pembicaraan terkesan ringan.
“ Oh ya anda naik pesawat apa ?
‘ Saya naik CX “ jawab pria itu
‘ Eh, sama dengan teman saya ini? Kata Yolanda
“ Tapi saya business class “ Jawab Rini cepat.
“ Ohh..saya economi class”
“ Oh ya “ Jawab Rini dengan agak angkuh
‘ Ada urusan apa ke hong kong ? tanya Yolanda
“ Saya TKI”
Entah mengapa Rini segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada Yolanda “ AKu harus segera boarding. “
“ Kan masih satu jam lagi “
“ Ya engga apa, lagian ngapain disini. Setelah bording aku bisa baca di lounge executive. ‘ Rini berkata dengan nada ketus. Seakan dia mulai bosn berhadapan dengan pria TKI. Ini bukan kelas Rini.
. “Silakan duluan boardingnya. Saya nanti saja boardingnya. Karena saya masih tunggu seseorang. “Pria itu dengan sopan memberikan kartu namanya kepada Rini dan Yolanda sebelum mereka berpisah.
‘ Senang bertemu dengan anda” Kata pria itu menatap Yolanda. Yolanda melirik kartu nama itu. Tak ada gelar. Tak ada nama perusahaan dimana dia bekerja. Ini hnaya kartu nama pribadi yang memuat informasi soal nama dan alamat email serta telp. Ketika melintasi tempat sampah, Yolanda melihat Rini membuang kartu nama itu.
“ Kenapa dibuang Rin, Pertemuan itu kan rahmat Allah. Bukan tidak mungkin pria itu dikrim Tuhan untuk kita, untuk jadi suami kita kelak.
“ Ah Gila kamu. Amit amit .Janngan sampai dech. pria begitu jadi suamiku. Kamu aja kalau mau ambil. “ Kata Rini sambil tertawa.
Yolanda hanya menghela nafas. Dia kenal betul Rini. Yang tak mau wasting time for nothing. Rini punya standar sendiri untuk orang yang pantas didekati. Pria itu memang gagah tapi hanya TKI. Tapi Yolanda tidak bisa melupakan wajah teduh pria itu. Sikapnya yang sopan dan reaktif dengan situasi yang membutuhkan pertolongannya. Tak ragu menyapa dan memberikan kartu nama. Ini pria baik baik. Dia hanya butuh kepatutan untuk saling menghormati. Tapi apa yang dia perbuat kepada pria itu. ? Diapun tak memberikan kartu namanya. Tak pula memperkenalkan diri. Dia larut dengan sikap Rini terhadap pria itu. Semoga pria itu dapat memaklumi sikapnya. Demikian Yolanda berdoa didalam hati.
Sesampai di Hong Kong, Rini kembali bertemu pria itu di kuridor bandara. Pria itu berusaha tersenyum tapi Rini segera memalingkan wajahnya. Pria itu surut untuk mendekati Rini.
***
Suasana ruang tunggu direksi itu memang nyaman karena menghadap jendela untuk bisa menikmati panorama hong kong. Dia agak terkejut karena dari bayangan kaca jendela itu dia melihat ada pria yang berjalan melintasi ruang tunggu itu. Dia ingin menoleh kebelakang tapi segera diurungkannya karma pria itu adalah pria yang bertemu dengannya di Bandara. Dia yakin sekali. Walau pria itu berpakaian rapi dengan stelan jas namun wajah dan matanya , tak berubah. Pria itu melangkah cepat dan menghilang dibalik pintu pemisah ruang sebelum Rini menyapanya.
Dia berpikir keras. Benarkah yang tadi dilihatnya adalah pria yang ditemuinya di Bandara. Yang menolong seorang wanita cleaning service. Yang katanya bekerja sebagai TKI di Hong Kong. Tapi mengapa dia ada disini. Apa hubungannya dengan kantor ini? Ditengah kebingungan itulah dia dikejutkan oleh sekretaris yang menyediakannya secangkir teh
“ Boleh saya tahu. Tadi yang barusan masuk kedalam siapa ? Tanya Rini kepada Sekretaris itu.
“ Oh Itu Adre Chan. Dia salah satu pimpinan disini.
“ Pimpinan ?
“ Ya, itu yang saya tahu. Tapi saya tidak tahu prĂ©cis dia memimpin bidang apa. “
“ Terimakasih. “ Kata Rini kepada sekretaris itu.
Tak berapa lama , Rini diminta masuk kedalam untuk bertemu dengan Manager Regional. Inilah Hong Kong, semua dilakukan dengan cepat , tepat waktu, tanpa bertele tele. Tak ada basa basi ketika bertemu. Langsung kepokok persoalan. Tak lebih 15 menit pertemuan itu dan selesai. Sekretaris perusahaan memberinya berbagai dokumen untuk dipelajarinya. Dari informasi sekretais perusahaan , dia mengetahui pria yang ditemuinya di Bandara itu bernama Adre Chan, adalah pimpinan regional untuk Asia Tengah. Terbayang oleh Rini akan kesederhanaan pria itu dan rasa empatinya yang tinggi untuk berbuat baik.
***
Setahun dia menjabat sebagai contry manager dan tak satu kalipun dia berkesempatan bertemu pria itu. Mungkin karena wilayah tugas yang berbeda dan sibuk dengan tugasnya masing masing. Namun Rini ingin sekali untuk bertemu kembali dengan pria itu. Dia ingin meminta maat atas sikapnya yang tak ramah. Setidaknya dia ingin dekat dengan pria itu belajar banyak demi karirnya. Tapi bukan itu saja, dia menginginkan lebih. Apalagi yang diharapkan oleh setiap wanita kecuali pria gagah, cerdas dan punya karir bagus. Dia merasa pantas untuk mendapatkan itu. Karena dia merasa punya kelas untuk bersanding dengan pria semacam itu..
Setiap malam dia tak henti memikirkan pria itu. Bayangan dijendela kaca ruang tunggu kantor di Hong Kong masih lekat dalam memori otaknya.. Pria yang tahu menempatkan dirinya secara pantas dimanapun dia berada. Ramah dan mau berbagi dalam situasi apapun. Tak sombong dan rendah hati bersikap maupun berbuat. Juga pria yang tangguh berkompetisi secara global dan ditempatkan secara terhotmat sebagai pimpinan regional business kelas dunia. Rini sadar , ketidak tertarikannya kepada pria itu hanya karena pria itu mengaku sebagai TKi dan lagi penampilan pria itu mendukung semua untuk dipercaya oleh akalnya. Ternyata akalnya telah menimpunya. Sekali lagi dia ingin bertemu dengan pria itu dan memohon maaf akan sikapnya. Tapi kesempatan itu tak pernah datang. Dia sibuk dan egonya tak mengizinkannya untuk menghubungi pria itu kecuali menanti suatu saat akan bertemu. Sejak itulah dia menanti dan menanti sebuah asa ditengah usia yang terus memanggal.
***
Yolanda langsung merangkul Rini ketika mereka betemu di sebuah cafe
“ hampir setahun ya kita engga ketemu. Kamu susah sekali dihubungi. Sibuk terus ya setelah jadi boss “ Kata Yolanda.
“ ya begitulah. Maafin aku ya . Karena berkali kali kamu kirim SMS aku engga pernah sempat bales. Bahkan emailpun aku engga sempat bales. Tapi aku tahu kamu engga akan kecewa dengan sikapku. Karena hati kita sebagai sahabat selalu menyatu walau tanpa berkomunikasi. Ya kan “
“Aku selalu memaklumi kamu , Rin, Selalu.. “
Yolanda menatap mata Rini agak lama. “ Ada apa sich kamu ? Aku masih Rini yang dulu kamu kenal. Here I am..” Kata Rini
“ Aku akan menikah bulan depan. Aku ingin kamu jadi ketua panitia acara resepsi ku. Hanya kamu sahabatku. Mau kan.” Kata Yolanda dengan tenang dan menanti reaksi Rini.
“ Tunggu sebentar. Soal jadi panitia itu soal gampang. Aku siap. Tapi soal menikah ini, “ Rini dengan mata agak melotot “ ini benar serius. “
“ ya serius.
“ Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar. Kok mendadak begini “ Kata Rini. Karena Rini tahu betul , Yolanda tak pernah punya pacar yang serius. Usia sudah kepala tiga dan hampir tidak mungkin mendapatkan pria lajang kecuali duda. Beda dengan Rini yang selalu dikelilingi oleh banyak pria tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena dia menanti seorang pria idamannya untuk menyapanya. Dia sedang menanti itu dan dia berharap sambil menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaan.
“ Buka email yang pernah aku kirim. Ketahuan kamu engga pernah baca emialku. Ya..”
Rini terkejut.
“ Aku cerita semua tentang pria yang akan menjadi suamiku. Tapi kamu tidak pernah response. Padahal ketika itu aku butuh dukungan moral dari mu sebagai sahabat. Akhirnya aku harus melewati itu semua dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Aku bersandar kepada Allah manakala aku tak tahu bagaimana harus bersikap..”
“ Maafkan aku ..” Kata Rini. “ yang penting sekarang kita bertemu lagi. Aku siap jadi ketua panitia resepsi kamu. “ Lanjut Rini. Mereka berdua berpelukan.
Sesampai dikantor , Rini membuka file mail box dari Yolanda. Ketika dia membaca email tersebut jantungnya terasa berhenti. Dia hampir tidak percaya. Dia sangat mengenal pria itu walau hanya dua kali bertemu. Pria itu adalah Andre Chan, yang kini akan menjadi suami Yolanda…Rini teringat peristiwa setahun lalu. Teringat ketika dia membuang kartu nama pria itu kedalam tong sampah, Teringat kata kata Yolanda “ Bukan tidak mungkin pria itu dikirim Tuhan untuk kita, untuk jadi suami kita”. Yolanda percaya dan Yolanda mendapatkan itu. Rini sadar dan mendulang hikmat untuk mulai mendekat kepada Allah...untuk mendapatkan sebaik baik pria sebagai pedamping hidupnya kelak.
Sumber :: Buku harianku.
dimuat di blog "sajadahku" 2010
Dedikasikan untuk sahabatku,
Pakaian untuk keberangkatannya keluar negeri semua sudah didalam koper. Sementara pakaian untuk dalam perjalanan dipesawat sudah disiapkannya pula. Pangkaian anggun standard executive kelas menengah. Ya dia pantas untuk tampil anyar karena dia kini sudah menjadi manager kelas dunia. Lamarannya untuk bergabung dalam salah satu perusahaan multinasional diterima dan perjalanan kini hanya untuk mendapatkan legitimasi posisi itu dari kantor pusat di Hong Kong. Posisinya sebagai country manager. Posisi ini jarang sekali diisi oleh warga local kecuali yang benar benar qualified. Itulah dia. Makanya pantas bila berbangga hati dan puas dengan kerja kerasnya selama ini. Puas dengan ketekunannya selama di Universitas untuk lulus terbaik.
Pagi itu juga sahabat terbaiknya , Yolanda sudah datang kerumah untuk mengantarnya ke bandara. Mereka berteman sejak di bangku kuliah. Namun otaknya tidak seencer Rini maka karirnya tidak sebaik Rini. Yolanda pun tak secantik Rini tapi bagaimanapun kepribadian Yolanda sangat sempurna. Dia seorang muslimah yang taat. Pandai menjaga auratnya dan tak mudah melenggokan tubuh dan matanya kepada setiap pria. Makanya tak banyak pria mampir dalam hidupnya. Mungkin kepribadian ini datang dari lingkungan keluarganya yang sangat religius. Yolanda sabar untuk menjadi pendengar yang baik dan memahami setiap sahabatnya dengan hatinya. Rini gemar menulis dan hebat merangkai pikirannya dalam satu tulisan berbahasa inggeris maupun Indonesia. Rini penggemar syair dan prosa. Logikanya sangat kuat karena itu dia cerdas.
Sebelum mobil melaju ke Bandara, Yolanda memegang tangan Rini dan berkata “ Rin, Mari kita berdoa kepada Allah , semoga perjalanan mu selamat sampai tujuan.
Rini menatap kearah Yolanda dengan tersenyum. “ Ibu Uztandz “ seru Rini dengan tersenyum sambil memegang pipi Yolanda.’ Ini hanya penerbangan 4 jam tak lebih. Lagian pesawat yang aku tumpangi adalah AirBus , pesawat tercanggih diabad ini. “
“ Ya aku tahu. Tapi kan engga ada salahnya berdoa, Rin “
“ Ah, udahlah,,jalan aja. “
Yolanda hanya menghela nafas. Dia tahu betul sifat Rini sejak kuliah dulu yang bersandar dengan logika kuatnya. Bagi Rini ritual agama membawa budaya terbelakang. Membuat logika orang terpenjara akibatnya kebebasan berpikir terhenti. Bila kebebasan berpikir terhenti maka kemajuan tidak akan pernah ada. Jangan salahkan orang barat yang maju dan Indonesia yang terbelakang. Ini semua karena budaya kita mengekang kita untuk maju. Demikian argument Rini dengan analoginya. Yolanda tak mau berdebat lebih jauh. Dia hanya berdoa semoga Rini dapat menemukan hidayah untuk lebih mengenal agama sebagai landasannya berpikir.. Itu saja.
Sesampai di Bandara, Yolanda masih mendampingi Rini sebelum boarding.
“ Masih ada waktu 1,5 jam lagi untuk bording. Kita ke Mc Donal dulu ya. Aku lapar ini” Kata Yolanda.
Dari tempat parker mereka berjalan kearah terminal keberangkatan. Ketika tepat didepan Mc Donald, seorang wanita terhuyung dan akhrnya jatuh. Dari pakaiannya , mereka tahu wanita ini adalah cleaning service. Yolanda bersegera untuk membantu tapi Rini segera menahan tangannya “ Engga usah ikut campur. Biarin aja orang lain yang bantu. “
“ Tapi Rin, kita harus tolong” Kata Yolanda untuk segera menolong tapi tidak bisa melangkah karena tangannya dipagut erat erat oleh Rini. Ketika itulah seorang pria datang menghampir wanita itu. Dengan sigap pria itu meraba nadi wanita itu .
“ Dia hanya pingsan. “ Menatap kearah Rini dan Yolanda. “ Apakah kalian bisa bantu uleskan minyak angin ini kepada wanita ini “ Sambung pria itu lagi. Yolanda sadar bahwa pria itu tak ingin menyentuh lebih jauh wanita itu. Dari matanya , terkesan pria itu berwibawa. Yolanda melepaskan pagutan tangan Rini dan segera mengambil minyak angin dari tangan pria itu.
“ Usapkan kekeningnya dan hidungnya. Tekan yang keras dibalik betisnya. “ Kata pria itu.
Yolanda mengikuti kata kata pria itu. Benarlah, setelah itu wanita itu membuka matanya dengan keringat dingin membajiri tubuhnya.
‘ Adik masuk ingin. Tadi pagi engga sarapan ya “ Kata pria itu dengan lembut. Wanita itu terdiam dan berusaha berdiri. Yolanda menuntun wanita itu berdiri. Yolanda melihat pria itu membuka dompetnya dan memberi uang lembaran seratus ribu lima lembar.
“ Terimalah uang ini. Cepatlah sarapan dan kalau bisa minta izin sama kantor untuk pulang ya. Istirahat saja dirumah “ Kata pria itu. Wanita itu menerima dengan ragu dan akhirnya airmatanya mengambang sambil berkata “ Terimakasih, pak. “ Wanita itu berlalu.
Rini menyaksikan semua itu dengan tersenyum sinis “ Aku rasa hanya taktik belaka dari wanita itu untuk dikasihani dan akhirnya dapat duit “
‘Rin..” Yolanda menatap Rini dengan kening berkerut’ Kamu ngomong apa sih ? Engga mungkinlah seperti dugaan kamu. “
“ Tapi kenapa begitu cepatnya dia siuman “
“ Pijatan dibalakang betis itu berhubungan langsung dengan aliran daran ke jantung. “ Terdengar suara dibelakang mereka. Ternyata pria yang tadi menolong wanita itu mendengar pembicaraan mereka. Pria itu tetap tersenyum. “ Jadi, kalau ditekan dengan kencang akan menimbulkan kejutan listrik pada pembuluh darah hingga menimbulkan energi untuk jantung kembali berdetak secara normal..Ya sama seperti electrict shock yang dipakai oleh dokter dirumah sakit. “ Sambung pria itu lagi. Disampaikan dengan lancar.
“ Kok anda tahu ? tanya Rini dengan cepat.
“Awalnya orang tua saya mengajarkan saya tapi tanpa penjelasan apapun. Setelah saya dewasa , saya mendapat tahu mengapa. Ternyata ada alasan ilmiah membenarkan kebiasaan itu. “
Yolanda kembali memperhatikan pria itu. Nampak penampilan pria itu sangat sederhana Tak ada aksesoris yang meyakinkan bahwa pria ini berasal dari kelas menengah. “ Anda juga mau keluar negeri “ tanya Yolanda.
“ Ya.”
“ Kemana ?
“ Ke Hong Kong.
“ Oh , sama dengan teman saya ini. Dia juga mau ke Hong Kong. “ Kata Yolanda menunjuk kepada Rini. Rini hanya tersenyum tipis atau lebih tepatnya acuh dengan kehadiaran pria itu dimeja mereka. Entah kenapa Yolanda terkesan dengan pria itu. Selama pembcaraan ,Rini hanya diam tanpa ada niat untuk menimpali pembicaraan mereka. . Mungkin karena pembicaraan terkesan ringan.
“ Oh ya anda naik pesawat apa ?
‘ Saya naik CX “ jawab pria itu
‘ Eh, sama dengan teman saya ini? Kata Yolanda
“ Tapi saya business class “ Jawab Rini cepat.
“ Ohh..saya economi class”
“ Oh ya “ Jawab Rini dengan agak angkuh
‘ Ada urusan apa ke hong kong ? tanya Yolanda
“ Saya TKI”
Entah mengapa Rini segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada Yolanda “ AKu harus segera boarding. “
“ Kan masih satu jam lagi “
“ Ya engga apa, lagian ngapain disini. Setelah bording aku bisa baca di lounge executive. ‘ Rini berkata dengan nada ketus. Seakan dia mulai bosn berhadapan dengan pria TKI. Ini bukan kelas Rini.
. “Silakan duluan boardingnya. Saya nanti saja boardingnya. Karena saya masih tunggu seseorang. “Pria itu dengan sopan memberikan kartu namanya kepada Rini dan Yolanda sebelum mereka berpisah.
‘ Senang bertemu dengan anda” Kata pria itu menatap Yolanda. Yolanda melirik kartu nama itu. Tak ada gelar. Tak ada nama perusahaan dimana dia bekerja. Ini hnaya kartu nama pribadi yang memuat informasi soal nama dan alamat email serta telp. Ketika melintasi tempat sampah, Yolanda melihat Rini membuang kartu nama itu.
“ Kenapa dibuang Rin, Pertemuan itu kan rahmat Allah. Bukan tidak mungkin pria itu dikrim Tuhan untuk kita, untuk jadi suami kita kelak.
“ Ah Gila kamu. Amit amit .Janngan sampai dech. pria begitu jadi suamiku. Kamu aja kalau mau ambil. “ Kata Rini sambil tertawa.
Yolanda hanya menghela nafas. Dia kenal betul Rini. Yang tak mau wasting time for nothing. Rini punya standar sendiri untuk orang yang pantas didekati. Pria itu memang gagah tapi hanya TKI. Tapi Yolanda tidak bisa melupakan wajah teduh pria itu. Sikapnya yang sopan dan reaktif dengan situasi yang membutuhkan pertolongannya. Tak ragu menyapa dan memberikan kartu nama. Ini pria baik baik. Dia hanya butuh kepatutan untuk saling menghormati. Tapi apa yang dia perbuat kepada pria itu. ? Diapun tak memberikan kartu namanya. Tak pula memperkenalkan diri. Dia larut dengan sikap Rini terhadap pria itu. Semoga pria itu dapat memaklumi sikapnya. Demikian Yolanda berdoa didalam hati.
Sesampai di Hong Kong, Rini kembali bertemu pria itu di kuridor bandara. Pria itu berusaha tersenyum tapi Rini segera memalingkan wajahnya. Pria itu surut untuk mendekati Rini.
***
Suasana ruang tunggu direksi itu memang nyaman karena menghadap jendela untuk bisa menikmati panorama hong kong. Dia agak terkejut karena dari bayangan kaca jendela itu dia melihat ada pria yang berjalan melintasi ruang tunggu itu. Dia ingin menoleh kebelakang tapi segera diurungkannya karma pria itu adalah pria yang bertemu dengannya di Bandara. Dia yakin sekali. Walau pria itu berpakaian rapi dengan stelan jas namun wajah dan matanya , tak berubah. Pria itu melangkah cepat dan menghilang dibalik pintu pemisah ruang sebelum Rini menyapanya.
Dia berpikir keras. Benarkah yang tadi dilihatnya adalah pria yang ditemuinya di Bandara. Yang menolong seorang wanita cleaning service. Yang katanya bekerja sebagai TKI di Hong Kong. Tapi mengapa dia ada disini. Apa hubungannya dengan kantor ini? Ditengah kebingungan itulah dia dikejutkan oleh sekretaris yang menyediakannya secangkir teh
“ Boleh saya tahu. Tadi yang barusan masuk kedalam siapa ? Tanya Rini kepada Sekretaris itu.
“ Oh Itu Adre Chan. Dia salah satu pimpinan disini.
“ Pimpinan ?
“ Ya, itu yang saya tahu. Tapi saya tidak tahu prĂ©cis dia memimpin bidang apa. “
“ Terimakasih. “ Kata Rini kepada sekretaris itu.
Tak berapa lama , Rini diminta masuk kedalam untuk bertemu dengan Manager Regional. Inilah Hong Kong, semua dilakukan dengan cepat , tepat waktu, tanpa bertele tele. Tak ada basa basi ketika bertemu. Langsung kepokok persoalan. Tak lebih 15 menit pertemuan itu dan selesai. Sekretaris perusahaan memberinya berbagai dokumen untuk dipelajarinya. Dari informasi sekretais perusahaan , dia mengetahui pria yang ditemuinya di Bandara itu bernama Adre Chan, adalah pimpinan regional untuk Asia Tengah. Terbayang oleh Rini akan kesederhanaan pria itu dan rasa empatinya yang tinggi untuk berbuat baik.
***
Setahun dia menjabat sebagai contry manager dan tak satu kalipun dia berkesempatan bertemu pria itu. Mungkin karena wilayah tugas yang berbeda dan sibuk dengan tugasnya masing masing. Namun Rini ingin sekali untuk bertemu kembali dengan pria itu. Dia ingin meminta maat atas sikapnya yang tak ramah. Setidaknya dia ingin dekat dengan pria itu belajar banyak demi karirnya. Tapi bukan itu saja, dia menginginkan lebih. Apalagi yang diharapkan oleh setiap wanita kecuali pria gagah, cerdas dan punya karir bagus. Dia merasa pantas untuk mendapatkan itu. Karena dia merasa punya kelas untuk bersanding dengan pria semacam itu..
Setiap malam dia tak henti memikirkan pria itu. Bayangan dijendela kaca ruang tunggu kantor di Hong Kong masih lekat dalam memori otaknya.. Pria yang tahu menempatkan dirinya secara pantas dimanapun dia berada. Ramah dan mau berbagi dalam situasi apapun. Tak sombong dan rendah hati bersikap maupun berbuat. Juga pria yang tangguh berkompetisi secara global dan ditempatkan secara terhotmat sebagai pimpinan regional business kelas dunia. Rini sadar , ketidak tertarikannya kepada pria itu hanya karena pria itu mengaku sebagai TKi dan lagi penampilan pria itu mendukung semua untuk dipercaya oleh akalnya. Ternyata akalnya telah menimpunya. Sekali lagi dia ingin bertemu dengan pria itu dan memohon maaf akan sikapnya. Tapi kesempatan itu tak pernah datang. Dia sibuk dan egonya tak mengizinkannya untuk menghubungi pria itu kecuali menanti suatu saat akan bertemu. Sejak itulah dia menanti dan menanti sebuah asa ditengah usia yang terus memanggal.
***
Yolanda langsung merangkul Rini ketika mereka betemu di sebuah cafe
“ hampir setahun ya kita engga ketemu. Kamu susah sekali dihubungi. Sibuk terus ya setelah jadi boss “ Kata Yolanda.
“ ya begitulah. Maafin aku ya . Karena berkali kali kamu kirim SMS aku engga pernah sempat bales. Bahkan emailpun aku engga sempat bales. Tapi aku tahu kamu engga akan kecewa dengan sikapku. Karena hati kita sebagai sahabat selalu menyatu walau tanpa berkomunikasi. Ya kan “
“Aku selalu memaklumi kamu , Rin, Selalu.. “
Yolanda menatap mata Rini agak lama. “ Ada apa sich kamu ? Aku masih Rini yang dulu kamu kenal. Here I am..” Kata Rini
“ Aku akan menikah bulan depan. Aku ingin kamu jadi ketua panitia acara resepsi ku. Hanya kamu sahabatku. Mau kan.” Kata Yolanda dengan tenang dan menanti reaksi Rini.
“ Tunggu sebentar. Soal jadi panitia itu soal gampang. Aku siap. Tapi soal menikah ini, “ Rini dengan mata agak melotot “ ini benar serius. “
“ ya serius.
“ Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar. Kok mendadak begini “ Kata Rini. Karena Rini tahu betul , Yolanda tak pernah punya pacar yang serius. Usia sudah kepala tiga dan hampir tidak mungkin mendapatkan pria lajang kecuali duda. Beda dengan Rini yang selalu dikelilingi oleh banyak pria tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena dia menanti seorang pria idamannya untuk menyapanya. Dia sedang menanti itu dan dia berharap sambil menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaan.
“ Buka email yang pernah aku kirim. Ketahuan kamu engga pernah baca emialku. Ya..”
Rini terkejut.
“ Aku cerita semua tentang pria yang akan menjadi suamiku. Tapi kamu tidak pernah response. Padahal ketika itu aku butuh dukungan moral dari mu sebagai sahabat. Akhirnya aku harus melewati itu semua dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Aku bersandar kepada Allah manakala aku tak tahu bagaimana harus bersikap..”
“ Maafkan aku ..” Kata Rini. “ yang penting sekarang kita bertemu lagi. Aku siap jadi ketua panitia resepsi kamu. “ Lanjut Rini. Mereka berdua berpelukan.
Sesampai dikantor , Rini membuka file mail box dari Yolanda. Ketika dia membaca email tersebut jantungnya terasa berhenti. Dia hampir tidak percaya. Dia sangat mengenal pria itu walau hanya dua kali bertemu. Pria itu adalah Andre Chan, yang kini akan menjadi suami Yolanda…Rini teringat peristiwa setahun lalu. Teringat ketika dia membuang kartu nama pria itu kedalam tong sampah, Teringat kata kata Yolanda “ Bukan tidak mungkin pria itu dikirim Tuhan untuk kita, untuk jadi suami kita”. Yolanda percaya dan Yolanda mendapatkan itu. Rini sadar dan mendulang hikmat untuk mulai mendekat kepada Allah...untuk mendapatkan sebaik baik pria sebagai pedamping hidupnya kelak.
Sumber :: Buku harianku.
dimuat di blog "sajadahku" 2010
Dedikasikan untuk sahabatku,
Komentar
Posting Komentar