MENGGAPAI UJUNG LANGIT
Aku datang dari kabut disatu sore yang mendung. Diantara detik suara gerimis dan leleh keringat yang bercampur dengan sengau napas yang mengeluarkan asap seperti naga yang kelelahan mendaki menuju pesanggrahan di kawasan perbukitan. Membayangkan matanya saja aku sudah meleleh. Mata yang selalu murung meski urat-urat di sekitar mulutnya tertarik ke atas untuk mengukir sepenggal tawa. Mata itu membutuhkan kemampuan ekstra jenius untuk mengurai satu per satu selsel makna di dalamnya. Mata yang marah. Mata yang diam. Mata itu membutuhkan istirahat dari pertanyaan. ”Ini kali pertama Yuni datang ketempat ini. Inikah tempat persembuyian uda.” ”Saya juga. Ini tempat sengaja Saya pilih agar kita bisa bicara tanpa ada kenangan masa lalu.?” “ Hmmm..Masa lalu ? Belum juga setahun. “ “ Tapi setahun juga kan waktu..” “ Terserah Uda ajalah.” “ Kamu merindukan saya ? “ Kenapa tanya ? Apakah Uda sedang mentertawakan Yuni ? “ Tidak. Saya hanya sekedar bertanya. Eng...
Komentar
Posting Komentar