MENGGAPAI UJUNG LANGIT


Aku datang dari kabut disatu sore yang mendung. Diantara detik suara
gerimis dan leleh keringat yang bercampur dengan sengau napas yang
mengeluarkan asap seperti naga yang kelelahan mendaki menuju
pesanggrahan di kawasan perbukitan. Membayangkan matanya saja aku
sudah meleleh. Mata yang selalu murung meski urat-urat di sekitar
mulutnya tertarik ke atas untuk mengukir sepenggal tawa. Mata itu
membutuhkan kemampuan ekstra jenius untuk mengurai satu per satu selsel
makna di dalamnya. Mata yang marah. Mata yang diam. Mata itu
membutuhkan istirahat dari pertanyaan.
”Ini kali pertama Yuni datang ketempat ini. Inikah tempat persembuyian
uda.”
”Saya juga. Ini tempat sengaja Saya pilih agar kita bisa bicara tanpa ada
kenangan masa lalu.?”
“ Hmmm..Masa lalu ? Belum juga setahun. “
“ Tapi setahun juga kan waktu..”
“ Terserah Uda ajalah.”
“ Kamu merindukan saya ?
“ Kenapa tanya ? Apakah Uda sedang mentertawakan Yuni ?
“ Tidak. Saya hanya sekedar bertanya. Engga boleh ?
“ Terserah Uda ajalah,”
“ Ketus amat sih. Lihat saya sekarang ada di hadapanmu. Tidak kah kau
merindukan ku..ayo peluk aku,” Katanya sambil merentangkan kedua
tangannya. Aku mejatuhkan kepala di dadanya. Mataku terpejam “ Lama
sekali…” Kataku pelan seakan bicara kepada diriku sendiri. Betapa aku
sangat merindukannya. Namun karena sifat egoisku, aku bertahan untuk
tidak ingin bertemu dengannya. Kecuali kalau ada masalah, aku akan
menghubunginya. Dan aku selalu menantinya. Seperti sekarang ini.
Percakapan biasa dari sebuah pertemuan tampak biasa. Kami sudah saling
kenal satu sama lain. Tak ada rahasia diantara kami. Aku merasa aku telah
ada dalam tubuhnya beratus-ratus tahun yang lalu. Aku tahu sekali
pertemuan ini harus terjadi dan entah kenapa dia percaya sejak awal
bahwa aku tidak akan secure hidupnya tanpanya.. Mata itu bicara. Mata itu
merindukan kedatanganku. Mata itu dahaga memandangku.
”Kamu seperti orang patah hati deh…” katanya
” Memang. Uda juga seperti orang stress.?”
”Memang. Jadi kita sama- sama orang cacat neh?”
”Cacat?”
” Iya, cacat emosi.”
Hujan sering turun dalam di gelap atau di pagi dengan kabut menghebat.
Kami bicara banyak dalam kata, tapi juga kami bicara banyak antara mata.
Dulu kami sering menikmati malam di cafe berkelas. Kami melihat orang
datang dengan tawa dan senyum palsu. Wine berbotol dan wiski berloki loki
di iringi musik jazz membuat suasana penuh kepalsuan terasanya nyata.
Aku sangat suka caranya dia mentertawakan semua hal , termasuk derita.
Baginya tidak ada orang baik yang ada orang cerdas. Orang pergi ke tempat
ibadah bukan karena dia ingin mencari Tuhan tapi karena stress
memikirkan hidup yang tidak ramah. Mereka butuh pengalihan waktu
barang sejenak agar bisa bertahan dalam kekalahan dan rasa kawatir. Juga
orang yang datang ketempat hiburan. Bukan mencari kesenangan dan
kebahagian dari uang berlebih. Tapi hanya sekedar lari dari kegalauan
hutang yang belum dibayar, keluarga yang tak menentramkan, kompetisi
hidup yang menyesakan. Semua orang berusaha recharge bateray
kehidupannya, dan soal apakah itu tempat hiburan atau tempat ibadah
sebagai pelarian hanyalah situasi dan kondisi kantong aja.
” Pelangi itu indah.” Katanya memandang dari teras kearah ujung langit.
” Kupu-kupu juga indah, kamu tahu kan aku suka kupu-kupu?” Kataku
cepat.
” Pelangi itu ajaib.” katanya sekenanya
” Cinta juga ajaib.” Aku menjawab cepat.
” Pelangi itu philosopi semesta. Penuh warna.” Dia mulai dengan
keahliannya dalam hal analogi.
” Kamu hadiah semesta. Yuni mencintai Uda…”.
” Kamu tidak mencintaiku tapi hanya terpesona saja?”
” Mengapa Uda bilang itu ? Kita telah bersama sama lebih dari 10 tahun.
Apakah itu tidak cukup bagi uda untuk mengetahui seoranga wanita
mencintai atau tidak ”
” Kamu mencintaiku, Yun?” tanyanya kembali dengan senyum sinis.
” ya sudahlah. Engga usah bahas soal cinta. “
”Baiklah. Deal “
“ Jadi, untuk apa pertemuan ini ?
“ Kembali bekerja denganku.”
“ Kantor yang lama ?
“ Ya. Tapi tugas kamu sebenarnya bukan itu. Karena kantor itu sudah jalan
sistemnya. Aku inginkan kamu terlibat dalam business process pendirian
pabrik. “
“ Ah itu bukan masalah serius.Mengapa harus aku ? Katanya penuh selidik.
“ KIta butuh tekhnologi”
“ Dan Uda tidak bisa membeli teknologi itu dengan mudah kan. Seperti dulu
waktu Yuni di Amrik ?
“ Tepat.”
“ Dan uda butuh aku?”
“ Sinergi tepatnya. Saling membutuhkan.”
“ Yang pasti kalau uda butuh orang, uda akan bujuk orang, Termasuk aku
yang sudah dibuang di pungut lagi.”
“ Jangan begitulah. Aku tidak pernah buang kamu dan tidak pernah
tinggalkan kamu. Aku percaya kamu.”
“ Ya karena Yuni tergila gila dengan Uda dan mau melakukan apa saja demi
Uda, ya kan ?
“ Duh..bisa engga jangan ketus terus. Pening kepalaku, sayang”
“ Aku marah dan kesal dengan Uda tapi tidak punya alasan untuk
menghilang dari uda.”
“ Ya karena kamu mencintaiku.”
“ Naip ya.”
“ Engga juga. Itu berkah dari Tuhan. Sabar aja. Lihat sisi lain dari hubungan
kita.”
“ Entahlah…”
“ Jadi gimana ? mau kerja lagi dengan aku.?
“ Mengapa Uda harus tanya lagi. Uda kan tahu aku wanita yang terjebak
dari kerakusan pria yang kucintai namun tidak pernah bisa kumiliki. Aku
tidak bisa menolak. Paham !
“Paham ”
“ Puas !”
“ Biasa sajalah..”
“ Kapan mulai kerjanya ?
“ Kapan kamu siap “
“ Ok.”
***
Yuni namaku. Sesuai permintaan dari Jaka aku harus kembali ke
pangkuannya. Atau tepatnya di pekerjakannya. Dalam diam aku duduk di
korsi kerja ini. Korsi yang pernah sekian tahun aku duduki dan akhirnya
aku tinggalkan. Di kursi yang sama tempat kali pertama aku membuktikan
siapa aku. Bahwa aku bukan wanita murahan. Hanya bisa tangan di bawah
dan tidur di bawah. Saat ini aku memakai rok berwarna biru, dan blesser
berlengan panjang warna biru. Jaka mampir kekantorku mengenakan
celana jins hitam dengan kaus berlengan pendek warna hitam. Dia duduk
disofa seakan mengharapkan aku ikut duduk disebelahnya atau di
hadapannya. Apa pentingnya bagi dia. Depan atau di sisinya, itu biasa
saja.,Aku memilih duduk di sisinya. Perlahan, kusandarkan kepalaku di
bahu kirinya. Pandangan kami sama, mengarah ke TV yang sedang
menyiarkan berita. Perlahan dia menundukkan kepalanya dan mengecup
kuat keningku. Dan mengalirlah perintah yang harus aku dengar dan patuhi.
“ Aku minta kamu hubungi mereka yang berpotensi untuk jadi mitra kita.
Ini informasi tentang mereka. “ Katanya sambil menyerahkan setumpuk
dokumen. “ Pelajari itu semua. “ Lanjutnya dengan tegas.
Aku meihat sekilas dokumen itu dan membacanya dengan cepat. “ Ini
artinya Yuni harus terbang ke Shanghai. Mungkin harus buka kantor di sana”
“ Buatlah rencana. Nanti kasih tahu aku ya. “
“ Baik ! Aku akan pelajari dan buat rencananya.”
“ Good.” Dia langsung berdiri melangkah keluar kamar kerjaku.
Aku termenung sambil memandang kepergiannya. Padahal aku ingin lebih
banyak berbicara tentang hal lain yang tidak ada hubungannya dengan
pekerjaanku. Aku tahu betul tentang dia. Karena aku pendengar yang baik.
Dia bercerita tentang ibunya. Kedekatannya dengan ibu yang melebihi
kedekatan dengan ayah. Bahkan hanya dia satu-satunya yang dibuat pening
oleh ibunya. Hanya kepada dialah ibunya suka menuntut banyak hal.
Bahkan membuat dia selalu jadi kanak kanak di hadapan ibunya. Beda
dengan saudaranya yang lain. Namun, dia menemukan kebahagiaan dari
sikap ibunya itu. Dia terbiasa hidup seperti itu. Terbiasa dimanjakan ibunya
dan juga terbiasa di omelin ibunya. Manusia memang seperti itu, katanya.
Kita hidup karena terbiasa. Kita membenci kemacetan jalan raya tapi tetap
menerimanya. Karena itu bagian hidup kita. Aku hanya terdiam seolah
mengiyakan.
Pernah satu kali aku di bawanya dalam business trip ke Changsa. Bagiku itu
kali pertama berkunjung. Sementara dia, sudah puluhan kalinya. Karena
dia punya pabrik filter knalfot kendaraan untuk mobil rendah emisi. Itu
business proteksi. Tekhnologi dia dapat dari German dan ditingkatkan
kecanggihannya di Wuhan. Berkat koneksinya dengan petinggi militer di
China dia dapat konsesi business monopoli di kota itu. Aku terlihat takjub
dengan kunjungan itu. Sepertinya dia ingin menunjukan kepadaku bahwa
dimana saja kekuasaan bisa dimanfaatkan asalkan tahu bagaimana
membeli jiwa orang. Hormati orang dan pastikan orang merasa nyaman
untuk bersama kita. Setelah itu banyak hal bisa di lakukan. Itu nasehatnya
kepadaku.
Pada kunjungan ke Changsa itu, memang tak ingin dia buat istimewa.
Hanya sekedar kunjugan business. Dan kalaupun ada selingan, maka itu
hanya jalan jalan ke mal, makan, ke spa , nonton theater, dan jika masih
ada sisa waktu, nongkrong di kedai kopi. “ Tidak. Aku ingin membuatmu
terkesan. Ingin membuatmu merasa aku berbeda dari orang-orang yang
selama ini pernah kau kenal dalam hidupmu. Aku tahu kamu sangat sulit
mempercayai orang lain, sampai kau lebih merasa nyaman dengannya.
Tapi, aku yakin, kau dengan perasaanmu padaku, akan mau mencoba
mengikuti hubungan kita secara akal sehat. Mitra bisnis yang lahir dari
persahabatan. Engga ada masalah kan“
Di kedai kopi yang menghadap ketaman. Kami bersediam. Melihat warna
langit yang berubah perlahan. Menyaksikan terang beranjak gelap. Minum
segelas air kopi seharga 15 Yuan. Mendengarkan suara pengamen yang
bernyanyi. Saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dia dengan
keluarganya, dan aku dengan impian-impianku. Sejak kunjungan itu aku
lebih mengenal dirinya. Selanjutnya aku berharap bisa pergi bersamanya
ke Eropa, Melihat keindahan Eropa seperti ceritanya. Menjelajah kota kota
eropa timur. Tapi harapan itu tak kunjung datang. Dia selalu sibuk dengan
bisnisnya dan aku juga sibuk dengan tugas sebagai eksekutif dari salah satu
perusahaannya.
Aku menyadari bahwa baginya pada akhirnya terlihat lebih nyaman bila aku
tidak banyak menuntut untuk bertemu. Namun, ada hal yang menyentuh
hatiku yang dia lakukan untukku. Dia sangat peduli dengan putriku satu
satunya dari perkawinanku yang gagal. Aku merasa dia sangat sempurna
sebagai ayah, dan selalu ada untuk putriku. Padahal itu bukanlah anak
kandungnya. Tapi sikapnya membuat aku terperangkap dalam jiwa bahwa
aku memang tak berdaya. Dia memberiku kesempatan menjadi wanita
pebisnis dan memberiku kehormatan di hadapan putriku. Yang lebih
penting lagi dia selalu ada untuk ku…
“ Mengapa Uda tertarik denganku ? Kataku suatu waktu.
“ Ingat engga.” Katanya sambil tersenyum” Ketika kamu menuju mal
tempat kita akan bertemu, aku kaget sewaktu kamu meneleponku bahwa
kamu naik bus karena sulit menemukan taksi yang tidak berpenumpang.
Aku lihat dari lounge hotel, kamu turun di seberang mal dan menaiki
jembatan penyeberangan. Kamu bertemu denganku ekspresi khawatir. Tak
kamu pedulikan keringat yang membasahi wajah dan rambutmu. Rupanya
kamu setengah berlari dari pintu mal untuk bertemu denganku. Kamu
segera menjabatku dan berbisik bahwa kamu khawatir pertemuan ini gagal.
Karena maklum udah berkali kali kamu ingin betemu denganku.. Saat itu
kamu begitu polos atau tepatnya wajah keibuan meski wajahmu basah oleh
keringatmu. “
“ Dan dari pertemuan itu, Yuni gagal menaklukan uda sebagia konsumen.“
“ Ya. Tapi kamu berhasil menaklukan ego ku. Dan akhirnya kamu mendapat
lebih dari yang kamu harapkan.”
Kini di sinilah aku berada, di kursi seorang Direktur Utama yang sama
seperti tahun lalu. Kadang aku tersenyun sendiri. Bagaimana kedekatan
sebagai sahabat tidak menghasil sex apapun. Seakan ada dinding tebal yang
sengaja dia ciptakan untuk ku agar aku tidak bisa melompat ke ruang
hatinya. Aku ingat saat ada kesempatan bercinta untuk pertama kali
denganya. Saat itu aku bersedekat dengannya dan bergerak seolah magma
yang menyusup celah-celah kerak bumi mencari kepundan yang siap
meletuskannya. Dia sekuat tenaga mencoba menahan larva itu untuk tetap
berada di dasar bumi. Entah untuk berapa lama. Namun aku mulai
menyadari ini tidak akan pernah berhasil, sampai kapanpun.
Saat aku menyadari kenapa aku mencintainya. Jawaban itu ada di matanya.
Mata yang selalu terbuka saat dia mengarahkanku. Mata yang lebih
berbicara banyak hal dari yang terkatakan oleh bibirnya yang penuh dan
lembap. Mata yang membuatku menyerah untuk menemukan semua
penjelasan nalar. Melihat dan terlihat oleh matanya, membuatku selalu
telanjang. Seharusnya aku ngeri. Karena aku tak lagi memiliki selubung apa
pun. Seolah kota tanpa benteng. Rumah tanpa pagar. Mata itu tak
menyampaikan kata permisi. Langsung masuk melewati pintu utama,
melintasi ruang tamu, tak memedulikan isi dapur, dan langsung masuk ke
ruang tidur tempatku menunggu dengan kepasrahan bulat Ishak yang akan
dikorbankan Abraham kepada Tuhannya.
Dia, lewat matanya, membuatku tak pernah bisa menolak. Banyak hal yang
dia tawarkan lewat mata itu. Tentang kebersamaan, tentang hidup tanpa
beban, kebebasan yang bermoral, perjalanan ke ujung pelangi. Hanya ada
dia dan aku. Berdua menyusuri setiap tepi impian.
“ Ya, Uda lah dunia fantasiku. Aku terbebaskan di duniamu.” kataku ketika
berpisah denganya tahun lalu.
“ Sesekali kamu harus pulang ke dunia nyata. Saat itulah kamu harus sadar
bahwa aku atau kamu tidak akan pernah saling memiliki. Karena pemilik
sejati adalah Tuhan. Kita hanya menjalani lakon dari Tuhan saja. Tidak ada
yang serius selain Tuhan. Tak peduli seberapa lamanya kita ingin bersama,
kita harus berpisah. Kuharap untuk sementara, “ Katanya. Aku terdiam,
bibirku mengerut kecut. Semudah itukah dia bersikap. Dan Diapun
terpejam, membiarkan aku pergi.
Aku tak pernah pergi. Bahkan meski itu hanya untuk beberapa hari.
Bagaimanapun demi persahabatan , aku tak ingin membuat dia bertanya
tanya jika aku benar benar menghilang darinya. Aku yakin suatu saat dia
akan memanggilku kembali. Tentu akan Ada peran berbeda yang harus
kujalankan. Seperti seorang aktris panggung yang tak bisa menolak peran
yang disodorkan sutradara. Demi kepuasannya , aku harus menjalankan
peran itu hingga selesai. Inilah takdirku.
***
“ Uda, Apakah bisa bertemu ? kataku via telp selularnya.
“ Bisa.”
“ DImana dan jam berapa ?
“ Kamu terbang aja ke Singapore. Aku lagi meeting disini. Kalau udah
sampai hubungi aku ya.”
“ Apa perlu nginap ?
‘ Tak perlu. Aku akan kembali ke jakarta dengan penerbangan terakhir”
“ Baik, Uda. Sekarang saya langsung ke Airport. Terimakasih” Telp ditutup.
Aku segera keluar dari kantor menuju Bandara, yang berjarak hanya 20
menit dari kantor. Aku maklumi bahwa Jaka sang Bos, memang tidak
mudah ditemui sejak aku memegang jabatan sebagai Dirut perusahaan.
Namun komunikasi via telp selalu direspon. Dan setiap kirim email pasti
dibalas. Jaka sangat efisien membalas email namun cepat di pahami apa
yang dia mau. Kalau menerima telp juga langsung kepokok persoalan.
Seakan tidak ada kesan sama sekali unsur perasaan. Tapi aku dapat
memaklumi. Bagaimanapun aku bekerja dan aku di bayar mahal.
Sesampai di Singapore, di sebuah cafe , nampak olehku , Jaka sedang
bersama relasinya. Ia berdiri sambil tersenyum menyambut kedatanganku.
“ Kamu tunggu di meja sana dulu ya. “ Katanya sambil menuntunku ke
meja agak jauh dari tempat dia duduk .”10 menit lagi aku selesai dengan
mereka “ Lanjutnya seraya meninggalkanku.
Dari kejauhan ku melihat Jaka yang tampak lelah bertemu dengan banyak
relasinya. Semua dia lakukan untuk menjaga momentum bisnis yang sedang
di gelutinya. Tentu dia harus tampil sebagai solution provider terhadap
setiap masalah yang di hadapi direksinya. Bisa karena masalah keuangan,
bisa juga masalah hubungan dengan pemerintah. Soal inilah Jaka harus
tanpa lelah menjaga hubungan dengan banker dan pejabat pemerintah.
Menurutnya kalau ingin selamat sebagai pengusaha maka hormati tiga hal,
yaitu hormati orang yang lebih tua. Karena dari orang yang lebih tua kita
akan mendapatkan pengalaman tanpa harus melewatinya. Hormati
pemerintah. Karena dari kekuasaan kita bisa dapatkan legitimasi
mengembangkan usaha dan mendapatkan akses untuk terjadinya mystery
of capital. Hormati orang kaya yang rendah hati. Karena dari mereka kita
bisa dapatkan cermin bersih bagaimana melewati hidup sebagai
pengusaha. Dari mereka kita bisa dapatkan akses financial tanpa batas.
Dia kembali ke tableku. “ Ada masalah apa Yun “ Katanya.
“ Saya sudah selesai pelajari rencana Uda. Tapi….” Aku terhenti
meneruskan pembicaraanya.
“ Ada apa ?
“ Saya engga ngerti pak. Terlalu rumit bagi saya.”
“ Oh gitu. “ Dia terdiam sejenak sambil tersenyum menantapku. “ Kalau
begitu kamu urus buka kantor perwakilan di Vietnam, Hồ Chí Minh.
Kemungkinan pabrik Sepatu kita yang di china akan pindah ke Vietnam. “
“ Tapi ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan Yuni sebagai dirut di
perusahaan sekarang”
“ Kamu bisa tunjuk wakil Dirut untuk sementara. Dan lagi kamu bisa setiap
waktu ke Jakarta. Atur aja waktunya. “
“ Mengapa harus Yuni?
Dia hanya tersenyum sambil berdiri seakan ingin menyudahi pertemuan itu.
“ Aku masih bisa pakai kamar Uda di Mandarin ? Kata ku sambil berbisik
dalam bahasa persahabatan.
“ Kamu engga pulang hari ini ke jakarta. Bareng aku ? Katanya mengerutkan
kening
“ Mau istirahat malam ini di singapore aja. Dan lagi udah jam 8 malam.
Besok pagi pulang dengan pesawat pertama. Boleh kan ?“
“ Ada kencan ya dengan seseorang ?
“ Ya tapi yang mau di ajak kencan engga ngerti juga dia. Susah sekali. Dia
terlalu sibuk.” Kataku mencubit lengannya.
“ OK, kebetulan ada Gubernur datang ke singapore. Tadi dia telp minta
ketemu tapi aku bilang engga bisa nginap karena harus segera ke Jakarta.
Dia mau main judi disni. Kita ke Sentosa dulu ya, sebelum ko Hotel. “
“ Siaap boss.” Aku tersenyum. “ Boleh rangkul lengan Uda “ Kataku ketika
melangkah keluar dari cafe. Ia hanya tersenyum.
Di Sentosa kawasan judi di singapore, Aku agak menjauh ketika Jaka
bertemu dengan seorang. Dia hanya berbicara sebentar. Kemudian kembali
ke padaku.
' Kamu tahu siapa yang saya temui tadi ?
" Sepertinya pernah lihat tapi lupa. Siapa ?
" Itu Gubernur dari salah satu provinsi di Sumatera. Dia enga peduli
habiskan uang di tempat judi. Dari mana uangnya ? Padahal gubernur
sebelum dia udah kena KPK. " Katanya dengan wajah geram.
“ Itu ketua DPRD salah satu kabupaten di Sulawesi” Katanya mengarahkan
wajah ke salah satu table judi. Aku hanya terbengong bengong.
Dan “ Itu salah satu anggota DPD.” Katanya lagi memberi tahuku ketika
melintasi table lain.
“Banyak pejabat dan anggota Dewan menghabiskan uang di meja judi di
sini ya " Kata Jessca.
" Ya. Singapore memang smart. Kalau dulu bank sebagai tempat pejabat
nyimpan uang haram di sini tapi sekarang pejabat membuang uang di
tempat judi. Sumbernya sama. Sama sama dari korup.”
“ Jadi dulu singapore menyediakan tempat untuk orang menyembunyikan
uang haram namun kini melalui wahana judi, mereka merampok uang korup
itu ya” Kataku menegaskan.
“ Ya begitulah. Uang setan di makan jin”
“ Jahat amat”
“ Engga jahat. Mereka hanya cerdas. Tapi engga usah kawatir. Dengan
kekuatan KPK di bawah komando Jokowi, hanya masalah waktu para
koruptor itu akan kena jerat KPK. Bagaimanapun butuh proses untuk jadi
negara bersih. Yang penting ada tekad untuk membrantas korupsi.”.
***
Akhirnya setelah mencicipi sihir James Bond Martini di cafe hotel yang
disaput dingin dan asin angin, Aku nampak setengah mabuk. Pada saat
mendesiskan kata-kata aneh di bawah kucuran air dari gagang shower, aku
kadang-kadang meloncat-loncat seperti kanguru, kadang-kadang
melenggak-lenggok bagai Medusa menari di ujung jalan, dan tak jarang
berdiri tegak seperti patung gladiator sesaat sebelum berkelahi dengan
singa kelaparan. Jaka sebenarnya keberatan melihat tingkahku, tetapi
cinta telah menyihirku jadi kucing penurut. Jaka bahkan tak bisa
mencegahku membuktikan betapa pada suatu waktu aku bisa
menaklukannya.
”Dan akulah penari teater yang akan menceritakan semua hal tentang arti
dibalik tari itu. Aku bakal menyelam ke laut dalam” Kataku merebahkan
diri di tempat tidur.
”Kau tak takut disambar ikan ?” Jaka mendengus tak mampu
menyembunyikan kepanikan hasratnya. Namun sebelum semua terjadi,
Jaka sudah melangkah keluar kamar.
”Tak akan ada binatang buas dari samudra paling ganas yang berani
memangsaku, Sayang. Hanya binatang rakus sepertimu yang boleh
melahapku. Bukan gurita sialan. Bukan hiu urakan.” Kataku dengan suara
keras mengiringi kepergiannya. ”Kecuali istrimu, tidak seorang pun boleh
menyusup di balik selimut ini, Sayang. mari temani aku keatas bukit untuk
merasakan sensasi keajaiban semesta yang ditumpahkan dari langit
sebagaimana Tuhan mencurahkan cahaya aneh pada kercik hujan.”
Dan malam itu dalam amuk harum Martini, Jaka sama sekali tidak
terpengaruh sama sekali Tidak! Tidak! Jaka menghilang dari balik pintu
hotel.
Aku, sebagaimana Jaka, hanyalah sketsa persahabatan yang terpaksa untuk
saling mengerti. Sekedar untuk bertahan dari ketidak mungkinan.
Setidaknya kami bisa melanjutkan persahabatan yang telah terjalin lebih
dari 10 tahun tanpa harus ada yang terluka dan kecewa. Tetapi sekali lagi
cinta telah menumpulkan otak sehingga aku terpaksa mendukung apa pun
yang diminta oleh Jaka.
***
Setelah mengadakan rapat singkat di kantor dan menunjuk salah satu
stafku di kantor sebagai wakil dirut, Aku langsung ke Bandara. Ada niat ku
untuk menelphon Jaka namun akhirnya niat itu kuhentikan. Aku merasa
bukan hal yang penting bagi Jaka kepergianku. Ini hanya masalah rutinitas
kerja. Aku harus terbang ke Hanoi terlebih dahulu untuk bertemu dengan
Staf Jaka yang di tugaskan untuk membantu persiapan membuka pabrik di
Ho CHin Min. Rencana paling lambat seminggu aku harus sudah menempati
rumah yang disediakan oleh team Jaka di Ho Chi Min. Tentu berikutnya
adalah proses kerja yang tidak mudah.
Aku harus mendapat mitra lokal untuk mendukung pendirian pabrik,
mengurus izin, mempelajari semua aspek legal berbisnis di Vietnam. Rekrut
SDM dan mendapatkan suplly chain dan jasa pendukung dari pengusaha
lokal. Masih panjang lagi proses yang harus aku lalui. Waktu yang
disediakan Dono hanya 4 bulan.
***
Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layanglayang.
Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Hening mengepung diriku
yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku
berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat akan Jaka. Terakhir
bersama dengan Jaka di Singapore membekas rindu dan malu. Apakah Jaka
bisa memahami betapa aku selalu merindukan kebersamaan dengannya?.
Entahlah. Aku sadar, itu lebih baik daripada aku bersenggama dengan orang
yang tidak aku cintai. Tapi kini entah mengapa aku juga merindukan pria
lain. Robert , pria yang belum seminggu kukenal.
Pria berkwarga-negaraan Canada yang ramah dan tahu menghormatiku
sebagai orang kepercayaan Jaka. Setiap Robert bicara aku terpesona.
Kelembutan pancaran matanya mengesankan ketulusan. Tidak ada amarah
dan curiga di mata itu. Entah kanapa ini kesekian kali aku jatuh cinta,
setelah dengan Jaka yang tak berbalas, dengan Doni tercampakan. Tapi
kali ini aku tak akan bertempuk sebelah tangan. Aku yakin Robert
menyimpan perasaan yang sama. Hanya saja belum berani
menyampaikannya. Maklum terlalu cepat untuk menyimpulkan cinta bagi
seorang pria. Aku maklum dan menanti.
Aku tahu, Robert sudah beristri dan punya anak satu dari perkawinannya
yang kandas. Aku janda dan Robert duda. Dua sosok bertemu dalam situasi
yang tepat. Tidak ada yang salah bila takdir bersua untuk kami.
Kebersamaan selama ini hanya terkesan formal dengan posisi Robert
sebagai penghubung Holding Company Jaka dan aku sebagai orang yang
mendapat tugas mempersiapkan pendirian pabrik di Ho Ci Minh. Itu
sebabnya, setiap sore, Robert langsung pulang dan aku sendiri di kamar
dalam sepi.
Terdengar getar dari telp selularku.Tertera disitu nama Robert. Aku segera
menerima.
" Yes Robert "
“ Hei..Yuni, gimana kalau kita nongkrong di cafe. Bukankah besok kamu
akan terbang ke Ho Chi Minh.”
“ Senang sekali. Kamu dimana ?
“ Aku ada di loby hotel.”
“ Segera aku turun “
“ OK”
Hatiku terasa melambung. Kesepian di kamar akhirnya di ceriakan dengan
kehadiran Robert di hotel. Apalagi ini hari terakhir di Hanoi.
“ Vietnam sekarang sedang berbenah. Ekonomi menggeliat dan
pertumbuhan ekonomi pesat. Arus investasi asing semakin kencang masuk
ke Vietnam. Ini karena stabilitas politik dan keamanan yang terjamin.
Sehingga hampir tidak pernah ada demo buruh atau apalah. Pemerintah
vietnam sangat kuat mengontrol segala galanya.” Kata Robert mengawali
pembicaraan. Tetap terkesan formal namun santai.
“ Apakah di sini ada juga Organisasi Buruh ?
“ Saat ini satu satunya serikat yang diakui adalah Vietnam General
Confederation of Labour. Setiap perusahaan dengan modal asing wajib
mengakui organisasi yang mewakili pegawai mereka.
“ Bagaimana dengan upah buruh ?
“ Upah di Vietnam diatur sesuai distrik. Namun secara keseluruhan jauh
lebih murah di bandingkan upah di Indonesia. Sebagai pembanding, upah
tertinggi di Vietnam adalah Rp. 1,4 juta per bulan’
“ Wah rendah sekali. “
“ Ya bukan hanya rendah dari segi uang tapi dari segi nilai juga sangat
rendah karena output nya lebih tinggi dari buruh yang ada di Indonesia.
Soal output, hanya china yang bisa mengalahkan Vietnam.”
“ Sekarang saya paham, mengapa Jaka pindahkan pabriknya di China ke
Vietnam, bukan ke Indonesia. “
" Ya, bahkan banyak pabrik sepatu yang hengkang dari Indonesia ke
Vietnam. " Kata Robert.
" Ya saya tahu itu. Makanya kalau buruh Indonesia tidak meningkatkan etos
kerjanya maka akan di gilas oleh persaingan ASEAN. Apalagi sekarang sudah
ada ME"
Aku terdiam sambil sekilas memperhatikan wajah Robert. Ah, pria ini
begitu santunnya terhadapku. Mungkin karena Jaka memerintahkan dia
agar menjaga dan membantuku dan memperlakukanku dengan hormat.
“ Ceritakan kepadaku tentang vietnam. Bagaimana negara ini bisa bangkit
dari puing puing perang saudara. ? Kataku sekedar menghilangkan
kebisuan.
“ Hmm…” Robert nampak bingung dari mana harus mulai bicara. “ Baiklah,
lanjut Robert. “ Kamu tahu, Pada 30 April 1975, tank-tank Vietnam Utara
mendobrak gerbang istana kepresidenan di Saigon, menumbangkan rezim
bagian selatan yang didukung oleh Amerika Serikat. Kemenangan itu
mengakhiri sebuah perang yang telah menewaskan jutaan warga Vietnam,
sekitar 58.000 tentara AS dikirim untuk menghentikan serangan komunis
tersebut. Empat puluh tahun kemudian, masyarakat menyaksikan pawai
militer dan mendeklarasi kembali kemenangan komunis di bekas istana
kepresidenan. Para tentara melambaikan bendera palu dan sabit dan kaum
perempuan menari bertema Star Wars dengan tulisan, “Hidup Partai
Komunis Vietnam”. Dalam sebuah pidato yang disiarkan secara nasional,
Nguyen Quoc Khanh, seorang letnan jenderal tentara, menjelaskan
kemenangan pada 30 April tersebut sebagai “titik balik bagi rakyat
Vietnam”. Tapi beberapa blok dari acara tersebut, sentimen serupa
diungkapkan Vo Xuan Son, seorang wanita berusia 60 tahun yang menjual
kue ala Vietnam dengan keranjang. “Ini adalah hari negara kita,” katanya,
sambil menaburkan pate pada roti yang dipanggang. “Hari ini sangat
penting bagi semua orang karena tidak ada perang, tidak ada orang tewas.
Anak-anak kita tidak perlu ikut berjuang bersama tentara.”
Aku terpesona menyimak setiap kata dan cara Robert bercerita, Sangat
menarik dan terasa hidup.
“ Saigon telah berkembang jauh dalam 40 tahun. Lanjut Robert’ Tahun
1986, setelah bertahun-tahun sosialis gagal, Partai Komunis mengumumkan
doi moi, serangkaian reformasi yang melonggarkan cengkeraman negara
terhadap perekonomian dan menciptakan sistem “sosialisme yang
berorientasi pasar.” Ketika Vietnam dibuka kembali kepada dunia,
masuklah investasi asing, kehidupan ekonomi meningkat dan banyak orang
terangkat dari kemiskinan. Saat ini kota ini dengan delapan juta orang
telah berubah selama beberapa dekade terakhir. Ada gedung-gedung
tinggi, jalan-jalan diperlebar, dan banyak hal yang berubah dalam cara
yang positif.”
“ Jadi sejak reformasi sosialis , ekonomi vietnam tumbuh pesat. Sama
dengan China? Kata jessica.
“ Tepat sekali. Tapi itu hanya nampak di bagian selatan atau yang sekarang
di kenal namanya Ho Chi Minh , yang dulu di sebut kota Saigon. Sementara
Hanoi tetap dengan sosialisnya.”
“ Bagaimana dengan politiknya ?
“ Para pendukung pemerintah berpendapat bahwa reformasi ekonomi telah
mengangkat rakyat dari kubangan kemiskinan, tetapi para silent oposisi
lebih skeptis. Dalam praktek, reformasi telah menjadi peluang bisnis bagi
orang-orang memiliki koneksi dengan elite politik.”
“Ya, perekonomian telah terbuka tentu kompetisi terbuka juga. Orang akan
melakukan segala cara untuk unggul. Wajar saja. “ kataku.
“ Benar. kata Robert “tapi mereka berusaha membuka diri terhadap
mekanisme pasar dan tidak setimpal dengan keterbukaan politik.”
“ Maksudnya ? Tanyaku berkerut kening.
“ Partai Komunis sudah lama mengabaikan cita-cita sosialis Ho Chi Minh.
Korupsi luar biasa di Vietnam akibat dari hanya satu partai. Jika vietnam
ingin mengubah ini maka elite nya harus mau juga mereformasi politik nya.
Sudah saatnya multi-partai, demokrasi, dan hak asasi manusia,” katanya
Robert dengan sikap humanisnya.
“ jadi korupsi adalah topik sensitif akibat satu partai Vietnam, dimana
media tetap di bawah kontrol negara yang ketat.Benar ?
“ Benar sekali.”
“ Lantas apakah ada gerakan dari rakyat yang berani secara langsung
menentang ini ?
“ Tidak ada. Namun perlawanan datang dari pemuka agama. Dia Pastor
Anthony Le Ngoc Thanh, seorang imam Katolik yang mengelola
situs Redemptoris News, salah satu media independen di Vietnam, telah
ditahan tiga kali akibat menerbitkan berita tentang HAM dan penganiayaan
agama oleh negara. Dia berusaha membuka mata publik tentang apa yang
telah di lakukan pemerintah, termasuk soal kebohongan. Tapi, meskipun
banyak keluhan dari rakyat , rakyat tidak menentang kapitalisme. Rakyat
tidak suka KKN. Itu saja. “
“ Jadi orang vietnam tidak anti investasi asing” Tanyaku untuk menegaskan
pemahaman tentang penerimaan publik terhadap asing.
“Bahkan, hasil survei terbaru , 95 persen dari warga Vietnam mendukung
kebijakan kapitalis. Itu index tertinggi dari 45 negara yang disurvei”
“ Jadi sama juga dengan rakyat CHina yang tidak menial kapitalisme tapi
tidak suka dengan budaya KKN. “
“ Tepat sekali. Tapi sekarang sudah mulai ada kemauan politik dari
pemerintah untuk berubah. Banyak putra elite partai yang duduk di BUMN
di berhentikan dan di gantikan dengan professional. Ini suatu tanda bagus.
Yang pasti rakyat vietnam tidak suka keributan. Budaya malu masih ada di
kalangan elite dan walaupun rakyat tidak protes secara terbuka namun cara
rakyat bersikap sudah cukup membuat mereka malu dan harus berubah.”
“ Paham sekali, Robert. “
“ Besok pagi kamu harus terbang ke Ho Chin Minh. Sebaiknya kamu istirahat
ya. “Kata Robert dengan santun.
Aku terdiam barang sejenak, Karena sebetulnya aku masih ingin terus
bersama Robert. Namun akhirnya dia segera berdiri juga “ Baiklah, Selamat
malam” Kataku melangkah.
“ Besok saya jemput di hotel untuk ke bandara”
“ Terimakasih..”
***
Sebelum berangkat tidur, aku tertegun karena telp bergetar. Aku berharap
telp itu dari Robert tapi tidak ada nama tertera. Itu Aku yakin dari Jaka.
Hanya Jaka yang tahu telpnya di Vietnam. Ini jam 1 dini hari.
" Yun " terdengar suara telp di seberang dengan suara serak serak basah.
" Ya Uda "
" Gimana pelayanan Robert ? Dia bantu kamu dengan baik ?
" Baik sekali dia Uda. Saya senang dia bantu saya."
" OK. Keliatanya kamu ceria banget ?
" Ini barusan selesai makan malam dengan Robert"
" Dating ?
" Enggalah..hanya ngobrol aja. Mau tahu banyak soal Vietnam."
" OK. Dia tadinya dosen di universitas di Hanoi dan bergabung dengan saya
sejak tiga tahun lalu. "
" Oh i see."
" Besok kamu ke Ho Chi Minh ?
" Ya pak.."
" Kamu ingin Robert dampingi kamu di Ho Chi MInh?
" hmmm "
" Jawab aja ?
" eh ya ya pak..boleh"
" Ok. Besok saya minta Robert dampingi kamu ke Ho Chi Minh. "
" Pak..."
" Ya..
" Boleh request engga ?
" Apa?
" Apa bisa Robert jadi staff saya selama saya bertugas di Ho Chi Minh?
" Engga tahulah. Nanti saya tanya dengan HRD holding di Hong kong. "
" Baik saya paham."
" udah ya.."
" Uda dimana sekarang ?.
" Di Jakarta. Ini lagi jalan pulang ke rumah."
" Engga minum kan "?
" Enggalah.." Terdengar Jaka menahan tawa.
" Minum kan.?"
" Engga "
" Bohong.."
" Engga sayang... "
" jaga kesehatan kamu ya sayang.."
" Kamu juga..Udah ya.."
" OK. Bye now.
***
Sesampai di Bandara Udara Internasional Tan Son Nhat, aku langsung
menuju Sherwood residence Hotel dimana aku akan tinggal selama berada
di Ho Chin MInh. Semua sudah diatur oleh Robert. Perjalanan dari Bandara
ke apartement hanya 20 menit. Jadi pilihan yang tepat untuk tempat
tinggal. Disamping tenang, Sherwood berada setengah kilometer dari pusat
kota. Sesampai di Hotel, hanya istirahat 1 jam, aku minta diantar Robert
ke pusat kota, distrik 1. Ketika itu hari menunjukan jam 9 malam.
Di distrik 1 , aku mendapat kesan bahwa Ho Chi Minh City, dikenal sebagian
orang sebagai Saigon, berdenyut dengan energi yang berbeda dari kota lain
di Vietnam. Kota ini digerakkan oleh bisnis dan berkembang pesat. Namun
sesibuk apa pun kota ini, penduduknya tahu persis cara bersantai, biasanya
sambil menikmati es kopi atau koktail. Di District 1, pencakar langit
menjulang bersedekat dengan museum-museum Prancis tua. Di jalanan
rombongan motor berderu menyusuri ruas jalan. Tak ubahnya dengan
Jakarta.
“ Begitu matahari terbenam dan lampu neon menyala, Ho Chi Minh City
menjawab seluruh kebutuhan kita untuk menikmati malam, mulai dari
tempat minum bir sederhana hingga bar koktail mewah dan kelab malam
yang mengentak. Begitu banyaknya pilihan, mungkin kita baru akan
tertidur saat matahari terbit. Ini tidak terjadi di tempat lain di Vietnam.
Dari restoran mewah hingga outlet siap saji tersedia di sini. “ Kata Robert
menjelaskan kepadaku sambil berjalan di Ben Thanh Market. Kawasan kaki
lima untuk kuliner.
Robert mengajakku makan malam di L’usine restoran. Aku menyukai
restoran ini. Harga makanannya hanya setengah dari harga restoran serupa
Jakarta. Sementara, hidangan yang disajikan, tidak jauh berbeda dengan
cafe eksklusif di hotel bintang lima. Robert memastikan menu tanpa babi.
“ Boleh tahu ? Apa agama mu ?
“ Islam “
“ Oh i see. “
“ Sejak kapan masuk islam ?
“ Waktu kuliah dulu di Toronto.”
“ Mengapa kamu masuk Islam ? Tanya jessica penasaran.
“ Islam itu agama yang mudah. Tidak sesulit agama lain. Di Islam tidak ada
pemujaan terhadap tokoh, Tidak ada pemimpin sprituall seperti agama
Khatolik atau agama lainnya. Islam hanya ada satu yang ditinggikan yaitu
Allah. Selain Allah adalah fana dan pasti tidak sempurna. Semua umat islam
memimpin dirinya sendiri dan bertanggung jawab sendiri sendiri di hadapan
Tuhan atas perbuatannya “
“ Pemahaman yang sederhana namun jelas.”
“ Agamamu apa ? Tanya Robert halus.
“ Islam”
“ Jadi kita bersaudara. Bukankah sesama muslim bersaudara.”
“ Ya tapi pemahaman agama saya tidak sehebat kamu. Agama saya masih
cetek. Makanya saya sendiri tidak yakin apakah amalan saya sudah benar
di hadapan Tuhan. “ Kataku dengan wajah mendung.
“ Ilmu agama saya juga tidak luas. Bahkan saya tidak bisa membaca AL
Quran. Namun literatur terjemahan Al Quran banyak dijual dari buku
sampai CD , bahkan ada digiital system melalui perangkat lunak pintar yang
bisa menjawab semua pertanyaan kita sekitar hukum dan syariat. Islam itu
agama yang sederhana, moderat dan adil. Jadi bukan hal yang sulit di
pahami oleh siapapun."
“ Mengapa ?
“ Karena hanya ada lima rukun islam, Ingat ! hanya lima. yaitu bersahadat,
sholat, saum, zakat dan haji.Tidak banyak kan namun tentu didasarkan
oleh keyakinan sesuai rukun Iman. Sedari kecil kita sudah diajarkan oleh
orang tua kita tentang rukun islam itu. Bahkan di ajarkan sambil
bersenandung indah mengantar kita tidur. Tidak sulitkan menghafalnya.
Itulah islam.
“ Lantas apa yang sulit ?
“ Menghayati makna dibalik rukun islam itu. Itulah yang sulit. Karena bila
kamu sertakan nafsumu maka kamu tidak akan pernah bisa memahami
makna di balik rukun islam itu. Bersahadat bukan hanya melafalkannya tapi
memahami bahwa Tidak ada satupun yang kita sembah kecuali Allah. Engga
ada tuhan harta, tuhan jabatan, tuhan pangkat, tuhan cinta dunia, tidak
ada tuhan manusia. Semua hanya senda gurau, fana. Yang ada dan kekal
hanyalah Tuhan. "
“ Bagaimana kita sebagai umat islam memahamii itu ?
“ Belajarlah dari pribadi Rasul yang di tugaskan menyampaikan wahyu dari
Allah. Rasul adalah teladan terbaik dan terlengkap untuk semua aspek
kehidupan. Beliau adalah manusia biasa dan melaksanakan misi
kerasulannya dengan prinsip sunatullah. Pernah menang ,pernah kalah.
Pernah untung , penah juga rugi. Dicerca dan di asingkan, dan kemudian di
puja dan di hormati. Akhlak beliaulah yang menjadi teladan kita. Bahwa
islam itu rahmat bagi alam semesta, yang tentu menentramkan bagi
semua.”
“ I see. Bagaimana dengan kewaiiban sholat ?
“ Sholat adalah cara kita memahami tentang dimensi gaip khususnya
tentang eksistensi Tuhan. Sholat adalah koneksi keruang tanpa batas dalam
makna tak terdefinisikan, kecuali meninggikan Tuhan dan merendahkan
diri kita bahwa kita bukanlah siapa siapa tanpa pertolongan Tuhan. Bahwa
semua berawal dari Tuhan dan berakhir kepada Tuhan. Apapun itu. Selagi
kita terus terkoneksi dengan Tuhan sepanjang usia lewat sholat maka
secara sunatullah karakter kita akan terus berkembang menjadi lebih
baik.”
“ Mengapa sampai begitu ?
“ Karena kita merasa selalu menyatu dengan Tuhan yang maha pengasih
lagi penyayang. Hidup kita penuh cinta. Tanpa “ada prasangka buruk,
tanpa berpikir negatif dan selalu ikhlas.”
“ Bagaimana dengan puasa ?
“ Apabila sholat dalam dimensi tanpa batas, maka puasa adalah dimensi
yang terbatas. Puasa sebagai latihan jiwa untuk sabar dan rendah hati
dengan menahan hawa nafsu dalam kurun waktu tertentu. Tidak ada yang
tahu kita puasa kecuali Allah. Di sinilah di uji keimanan kita. Apakah kita
benar berpuasa karena Allah ataukah karena rasa hormat dari manusia. Bila
ikhas karena Allah, maka puasa itu menyehatkan raga dan jiwa. Badan kita
sehat, dan jiwa terlatih stablil menghadapi segala kemungkinan dimasa
depan. Bukankah kita tidak sabar dan tidak ikhlas karena nafsu, dan nafsu
itu ada diperut dan alat kelamin. Kendalikan itu maka kita kendalikan nafsu
kita.
“ Sederhana ya. “ Kataku tersenyum.
“ Benar”
“ Bagaimana dengan Zakat. “
“ Zakat adalah nutrisi jiwa. Kamu memberi tanpa berharap apapun dari
manusia kecuali mengharapkan ridho Tuhan. Apabila kamu lakukan ini
maka rasa bahagia akan membuncah dalam jiwamu. Empati terbangun dan
cinta menghiasi hatimu untuk senang memberi , dan bukan meminta.
Dengan memberi jiwamu akan kokoh, tentu ragamu akan jauh dari
penyakit. Perasaan bahagia yang dari sikap memberi itu mampu
meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit. “
“ Wow luar biasa. ?
“ Dan bila rukun islam dari satu sampai empat dapat kamu lakukan dengan
istiqamah maka puncak agama tauhid adalah ibadah Haji. Itu melodrama
perjalanan spirtiual untuk tiada tuhan selain Allah ,Itulah puncak agama
Tauhid. “
“ Hanya lima rukun islam itu tapi maknanya luas dan menyeluruh untuk
kesehatan jiwa dan raga kita. Benarlah , apapun yang kita lakukan dalam
beragama kembali kepada diri kita sendiri. Allah tidak mendapatkan
manfaat apapun namun Allah bangga bila kita bisa memenuhi
ketentuanNYA.”
“ Ya benar. Hanya lima. Namun kita tidak bisa mengatakan yang penting
sahadat tapi sholat tidak di lakukan, Itu salah, Atau yang penting sholat
dan zikir tapi etos kerja lemah sehingga rezeki tidak cukup untuk
membayar zakat. Itu juga salah. Tidak juga yang penting memberi tapi
puasa tidak, sholat tidak. Itu sikap yang salah. Lima rukun itu harus di
lakukan secara penuh tanpa bisa kurang satupun. Engga sulit kan?
“ ya engga sulit kalau mau konsisten.”
Pesanan makan datang terhidang di meja. Jessica memperhatikan Robert
membaca doa sebelum makan.
“ Besok kita akan menunjuk agent untuk mengurus segala izin untuk
pendirian perusahaan. Setelah izin di dapat , kita akan sewa kantor di
kawasan distrik 1. Setelah itu tugas saya selesai dan kembali ke Hanoi.
Kamu bisa lanjutkan untuk proses pendirian pabrik. “ kata Robert.
Aku berharap Jaka bisa membantu menempatkan Robert sebagai stafku di
Ho Chi Minh. Walau hanya sebentar berteman dengan Robert, aku
merasakan ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Aku juga merasakan
sikap Jaka selama ini tidak ada yang salah terhadap diriku. Hanya saja
karena aku terlalu menempatkan cinta manusia sebagai tuhan sehingga
membuat aku terpasung dalam kekalahan dan derita yang tidak perlu.
***
Ketika sampai di hotel jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Aku baru sadar
ada 4 missecall dari luar negeri. Nomor tidak di kenal. Aku yakin itu yang
telp pasti Jaka. Benarlah, hanya berselang beberapa menit sebelum dia
tidur telp bergetar
" Yun" terdengar suara Jaka di seberang.
" Ya Uda."
" Sudah di hotel kan."
" Ya sudah."
" Pastikan dalam seminggu urusan pendirian perusahaan selesai dan kamu
harus sewa kantor agar management bisa bekerja. Setelah itu kamu harus
terbang ke Dongwan China untuk persiapan relokasi pabrik."
" Ya uda. Yuni paham"
" Ya udah. "
" Uda dimana sekarang ?
" Di Medan. Besok ke KL. Mungkin weekend kita bisa ketemu di Ho Chi Minh."
" Benar ya.”
“ Kamu kangen aku ya ?" Terdengar Jaka tertawa.
" GR kamu ah. “Kataku cepat
“ Ya udah. Saya mau bicara dengan teman di sana yang mau jual property”
" Hotel ?
" ya resort hotel. Tapi itu ekspansi bisnis di Hong kong. "
" Oh i see. Oh ya Robert bisa bekerja untuk kamu. Udahan ya. Nanti
sambung lagi."
" Terimakasih Jaka, Kamu baik sekali. OK bye."
Aku merasa bahagia karena mendengar kabar dari Jaka bahwa Robert akan
tetap di Ho Chi Minh ntk membantuku. Itu artinya kebersamaan dengan
Robert akan terus berlangsung.
***
Aku tidak merasa kecewa ketika aku tahu Jaka datang ke Ho Chi Minh
selama weekend tapi tidak menghubungiku. Aku sadar tidak ada istilah
kangen kepada wanita bagi Jaka. Hidup bagi Jaka adalah bukan hanya
bagaimana bertahan dari kesulitan tapi juga dari rasa bahagia. Apapun
disikapi dengan biasa biasa saja. Tak pernah nampak rasa kawatir
berlebihan dan juga senang berlebihan. Aku tak ingin menelphone untuk
mengingatkan Jaka bahwa aku akan menanti sepanjang malam. Karena aku
tahu pasti Jaka bukan pria yang suka di ingatkan soal urusan yang tidak ada
kaitannya dengan bisnis. Tapi aku sadar bahwa Jaka tidak melupakanku dan
aku akan selalu memahami sikapnya.
Senin , hari kerja pertamaku di Ho Chi Minh, kutetap dari jendela hotel
sambil berkata “ Aku harus melupakan emosiku kepada Jaka. Aku harus
berusaha professional saja. Dia dengan sikapnya dan aku dengan sikapku”
Aku tersenyum ketika dapat pesan singkat dari Robert bahwa sudah stand
by di loby untuk mengatur bertemu dengan agent yang akan mengurus
segala sesuatunya pendirian perusahaan di Ho Chi Minh.
“ Selamat pagi Bu? Kata Robert menyapaku ketika keluar dari Lift
“ Pagi Robert. Kita langsung ke tempat agent itu kan?’
“ Ya bu. Ibu tunggu aja di depan loby, Saya akan ambil kendaraan“ Robert
melangkah cepat kearah parker kendaraan
Dalam perjalanan Robert mengatakan bahwa tidak mudah mendapatkan
kepercayaan dari Jaka. Dia sudah bekerja lebih dari 2 tahun namun belum
pernah dapat kesempatan duduk satu meja dengan Jaka. Tapi dia senang
karena posisinya mendapatkan penghargaan luar biasa untuk
mendampingiku selama proses pengurusan pemindahan pabrik di Cina ke
Vietnam.
“Apa cita cita kamu sebenarnya ? tanyaku.
“ Aku ingin mendirikan sendiri perusahaan. Berharap suatu saat bisa jadi
mitra venture Pak Jaka”
“ Kamu yakin dengan harapan kamu itu ?
“ Yakin, Bu. “
“ Mengapa ?
“ Saya di terima bekerja di Hong Kong karena rekomendasi teman saya yang
sudah sukses sebagai mitra venture Pak Jaka. Dan saya senang sekali di
tunjuk sebagai kepala perwakilan Perusahaan di Hanoi. “
“ Berapa orang staf kamu di Hanoi ?
“ Hanya tiga orang “
“ Selama 2 tahun lebih apa yang sudah di lakukan di Hanoi?
“ Hanya kumpulkan informasi apa saja yang bagus untuk dijadikan peluang.
Membangun network dengan pengusaha dan pejabat Vietnam. Mencari
mitra sebagai agent dan distributor yang qualified. Masih banyak lagi. “
“ Tentu ada SOP nya ya”
“ Ya. Holding di Hong kong mengawasi dengan ketat setiap pekerjaan yang
ditugaskan.”
“ Ya paham saya. “ Kataku mengangguk.
Kendaraan berhenti di Iwa Square di kawasan Distrik 1. Agent yang ditemui
ternyata seorang wanita Vietnam yang nampak cerdas. Proses administrasi
berlangsung cepat. Aku menyerahkan document yang berkaitan dengan
statusku sebagai authorize penuh dari perusahaan Jaka di China yang
berencana melakukan relokasi pabrik ke Ho Chi Minh.
“ Setelah akta pendirian perusahaan dan pembukaan rekening bank
settle, Holding di Hong Kong akan mengirim uang sebagai setoran modal.”
Kata Robert.
“ Ya. Kamu pastikan proses itu selesai dengan cepat.”
“ Ya bu.”
“ Bagaimana dengan kantor ?
“ Hari ini kita ke Saigon Center tower untuk lihat kantor yang akan disewa.
Engga jauh dari sini. “ Kata Robert sambil melangkah kearah tempat
parker.
****
Aku sudah memutuskan untuk menyewa kantor di Saigon Center Tower
dengan luas 100 meter persegi. Jam makan siang, semua urusan sudah
selesai. Robert mengajakku makan di Quan An Ngon Restaurant.
“ Robert, boleh saya minta pendapat soal pribadi ? kataku.
“ Kalau kamu percaya saya..”
“ Tentu saya percaya kamu “
“ Silahkan”
“ Usia saya sudah 43 tahun. Punya seorang putri. Saya merasa sudah mati
sebelum waktunya. “
“ Maksud kamu ?
“ Entahlah. Semoga kamu bisa paham apa maksud saya “ Aku murung.
Bayanganku kepada Jaka. Kebersamaan dengan Jaka bagaikan dilangit tak
bergantung dibumi tak berbijak. Tertawa hanya menumpang tawa. Tapi
selalu menangis di tempat sepi.
“ Dari awal ketika kita bertemu, saya merasakan ada sesuatu pada dirimu.
Tapi kamu terlalu hebat bisa menyembunyikannya. Namun kadang tanpa
kamu sadari, mendung itu datang tiba tiba di wajahmu. Aku perhatikan
itu.”
“ Oh gitu. “
“ Tapi baiklah aku ingin sampaikan pandangan yang mungkin kamu bisa
pahami. Ketahuilah bahwa setiap waktu, peristiwa begitu saja terjadi,
lantas tidak meninggalkan apa pun selain kesan kehilangan; sebuah
perayaan kekalahan yang terus tertunda. Kita selalu berpikir bahwa
kegagalan adalah cara baik untuk kuat. Dan, kegagalan dapat terjadi pada
siapa saja. Hidup penuh resiko dan resiko tertinggi adalah kematian.
Kematian bisa kapan saja bekunjung, maka kita tidak dapat menyiapkan
segala hiporia kepiluan tersebut. Begitu juga dengan sebuah liang
kesedihan tempat mengubur segala duka. Dunia hanya sebuah stasiun kecil
tempat bersinggahnya ribuan kendaraan yang mengarak kemurungan. “
Kata Robert.
“ Kesedihan sudah menjadi teman baik di dalam hidupku. Kesedihan
bukanlah barang asing lagi. Akan tetapi, telah menjelma menjadi seorang
kawan lama yang bisa kapan saja datang; mengetuk pintu rumahku;
berbicara panjang lebar seraya melemparkan lelucon tentang hidup yang
sebenarnya sudah sangat menyedihkan; kehidupan yang seharusnya jadi
bahan tertawaan. Kesedihan adalah candu yang harus aku sesap berulang
kali.” Aku mengingat peristiwa ketika diusir oleh suamiku bersama putri
kecilku. Setelah itu kegagalan berumah tangga datang silih berganti di
dalam hidupku. Sebuah kegagalan yang mungkin tidak harus ku ratapi lagi.
Sama halnya saat aku memaklumi Jaka yang hingga kini tak tahu bagaimana
sebetulnya sikap Jaka kepadaku. Aku kembali kepada Jaka setelah setahun
bekerja sebagai volantir kemanusiaa di luar negeri. Dan berhap keadaan
berubah setelah itu.
“ Apapun yang kamu alami itu adalah perjalanan spiritual kamu menuju
Tuhan. Orang bahagia, orang menderita, kalah atau menang adalah proses
menuju jalan ke Tuhan. Engga usah terlalu larut dengan keadaan masa lalu
dan juga engga perlu kamu terus bertanya mengapa tidak begini, mengapa
begitu. Itu hanya membuang energy. Apa yang harus kamu lakukan adalah
nikmati kehidupan hari ini dan syukuri kamu masih makan dengan badan
tetap sehat. “ Kata Robert mencerahkan. Akuterkesima. Sikap hidup
Robert tidak jauh beda dengan Jaka. Tapi Jaka matang karena usia diatas
50 , sementara Robert dapat bijak dalam usia muda.
“ Boleh tahu mengapa kamu bercerai ? Tanyaku
“ Saya bisa saja cerita apa alasan perceraian. Tapi untuk apa?. Alasan
hanyalah sunattullah tapi penyebab utamanya adalah takdir Tuhan. Sudah
sampai disitu usia jodoh saya. Mau gimana lagi?“
“ Apakah kamu menderita karena itu?
“ Tidak.”
“ Mengapa ? Apakah semua pria bisa dengan mudah bisa melupakan
perpisahan dan berdamai dengan kenyataan?
“ Ini bukan soal mudah melupakan dan berdamai dengan kenyataan tapi
sikap hidup. Apapun didunia ini tidak ada yang abadi. Bahkan tidak ada
hubungan yang sempurna. Kalau toh akhirnya kami berpisah, itu juga
bagian dari kenyataan hidup. Yang penting saya dan mantan istri saya tidak
larut dalam kegagalan. Tidak harus saling membenci. Kami punya cara
sendiri untuk berdamai dan melanjutkan hidup.”
“ Bagaimana dengan anak ?
“ Anak ikut mantan istri saya namun biaya hidup anak saya tanggung setiap
bulannya. ya kami kerjasama. Dia menggunakan tenaganya dan saya
membantu uang. Biasa saja.”
“ Semudah itu ?
“ HIdup kita milik Tuhan. Apapun itu hanya Tuhan yang menjadi sandaran
kita. Sikap bijak menerima dan melaluinya dengan ikhlas adalah kata kunci
sebagai orang beriman.”
“ Luar biasa. Sebegitunya kamu bisa berdamai dengan kenyataan hanya
karena kamu percaya kepada Tuhan.”
Robert hanya tersenyum mendengar kesimpulan yang terucap dariku. Aku
tak ingin bicara banyak. Setelah makanan terhidang, aku nampak kembali
riang.
“ Saya harus jemput Pak Jaka di hotel dan antar ke Bandara. Hari ini dia
akan terbang ke Bangkok.”
“ Oh Pak Jaka masih di Ho Chi Minh ? Kamu tahu dari mana? Kataku berkerut
kening.
“ Ya. Saya dapat email dari Hong Kong tadi pagi untuk antar Pak Jaka ke
Bandara. Emang ada apa ?
“ Ah engga. “
Aku terdiam agak lama. Mengapa Jaka tidak menghubungiku? Ah sudahlah.
Mungkin tidak ada yang penting untuk di bahas oleh Jaka. Toh pekerjaan
di Ho Chi Minh telah di bantu oleh Robert dan itu juga berkat permintaanku.
“ Oh ya kamu mau ikut ke Hotel Pak Jaka ?
“ Boleh ?
“ Saya hanya staf dan kamu boss saya yang juga executive Pak Jaka. Emang
ada larangan eksekutif ketemu Pak Jaka ?
“ Engga ada larangan “
“ Ya udah kita sama sama saja antar Pak Jaka ke Bandara. Kan hari ini kita
engga ada lagi kerjaan yang harus di urus ”
Jaka menginap di Park Hyatt Saigon yang juga di kawasan distrik 1.
Sesampa di Hotel, Robert menghubungi Jaka via telp bahwa dia sudah ada
di loby. Tak berapa lama menanti, Jaka keluar dari ruangan longe
executive bersama seorang wanita. Nampaknya wanita Korea atua china.
“ Hi Yun! “ Seru Jaka “ Udah kenalkan Wenni ?. Kami sedang menjajaki
akuisisi hotel di Saigon.” Lanjut Jaka. Aku dengan agak ragu menyalami
Wenny yang nampak sangat dekat disamping Jaka.
“ Ok Robert, ambil kendaraan sekarang, Saya tunggu di pintu loby. “ Kata
Jaka dengan berwibawa. “ dan kamu ikut aku saya ke Bandara “ Sambung
Robert kepadaku yang masih nampak mematung. Aku hanya mengangguk
dan mengikuti langkah Jaka ke pintu loby utama.
Dalam perjalanan menuju bandara Jaka duduk di sebelahku dan Wenni
duduk di depan. Dalam bahasa Indonesia , aku setengah berbisik berkata
kepada Jaka “ Kamu engga kangen aku ya. “
“ Aku sibuk “ Kata Jaka sekenannya.
“ Sibuk dengan Wenny ?
“ Maksud kamu ?.”
“ Sibuk apa selama weekend ?
“ Meeting dengan relasi di sini.”
“ Wenny ?
“ Bukan lah. Dia baru datang pagi tadi dari Hong Kong. Saya akan ajak dia
ke Bangkok, biar urusan akuisis di serahkan dengan perusahaan yang ada di
Bankok.”
“ Hmmm “ Aku hanya berguman. Tapi aku percaya. Jaka tidak mudah
mengajak tidur wanita tanpa alasan yang kuat. Apalagi wanita sebagai
mitra bisnis tidak pernah dia dekati secara emosional. Business is business.
“ Gimana kalau kamu ikut aku ke Bangkok ?
“ Ngapain ?
“ ya ikut aja.”
“ Tapi ..” Aku memikirkan pekerjaanku di Ho Chi Minh
“ Itu udah ada Robert yang bantu kamu di sini. Bukankah kamu harus
terbang ke Shenznen minggu ini. ?
“ Pakaian ku di Hotel ?
“ Beli aja di Bangkok nanti. Yang penting passport “
“ OK. Tapi engga ganggu,kan ?
“ Ah sudahlah. Mau ikut engga ?
“ Ya mau.” Aku mencubit lengan Jaka seraya tersenyum dan merebahkan
kepala ke pundak Jaka.
“ Oh. ya Yuli mau liburan ke Hong Kong sama teman temannya. Kamu
izinkan? Kata Jaka. Yuli adalah putri tunggalku yang memang sudah seperti
anak kandung Jaka. Semua hal tentang YUli di tanggung oleh Jaka.
Sekarang menetap di London
“ Kok dia engga kasih tahu aku?
“Kamu telp sekarang dia ? kata Jaka memberikan telpnya agar aku
menghubungi Yuli.
Usai menelphone aku menyerahkan telp ke Jaka kembali “ Kamu terlalu
memanjakan dia. Dan sengaja menyudutkan aku”
“ Maksud kamu ?
“ Kata Yuli, papa udah setuju. Lantas untuk apa lagi minta izin dengan aku?
Jaka hanya tersenyum. Dia tak ingin bertengkar soal Yuli denganku.
***
Di Bangkok , Jaka tinggal di Hotel Grand Millennium. Itu karena sahabatnya
dari US datang ke Bangkok untuk bertemu membahas rencana akuisis hotel.
Aku mendampingi Jaka makan malam. Juga hadir mitra Jaka dari Hong
Kong, seorang wanita. Awalnya aku tidak begitu peduli karena pembicaraan
lebih kepada masalah business. Seperti aspek legal business yang akan di
lakukan di Bangkok. Kemudian membicarakan soal business model yang
tepat, siapa international chain yang layak di rangkul. Design dan lain lain.
Beranjak soal financial model tentang bagaimana merancang pembiayaan,
Apakah melalui project funding atau project equity. Terakhir membahas
mengenai project settlement sebagai dasar di lakukan financial
closing. Namun menjadi menarik pembicaraan ketika masalah business
usai di bahas.
‘ Apa yang kamu tahu mengenai jatuhnya harga minyak sekarang “ Kata
Jaka.
“ Pada bulan September 2014, Sekretaris Negara AS John Kerry terbang ke
Arab Saudi. Dia ada di sana untuk bertemu dengan Raja Abdullah, penguasa
negara dan salah satu orang terkaya di dunia. Pertemuan itu bertujuan
menyusun rencana untuk menghancurkan musuh bersama mereka: Rusia
dan Iran. Tapi untuk melakukan serangan, mereka tidak akan menggunakan
jet tempur, tank dan pasukan darat. Mereka akan menggunakan senjata
jauh lebih kuat …” Kata sahabat Jaka dengan tersenyum sambil meminum
wine yang ada didepannya.
“ Apa itu “
“ Minyak.!” Katanya sabatnya dengan santai. “ Kamu tahu kan, minyak
adalah komoditas yang paling strategis dalam perdagangan dunia. Arab
Saudi adalah eksportir minyak terbesar di dunia. Memiliki kontrol atas
harga. Mereka sepakat untuk membanjiri pasar minyak. Tujuannya adalah
untuk menurunkan harga minyak. Tentu ini akan memukul telak ekonomi
Rusia dan Iran yang sangat bergantung pada penjualan minyak. Dengan
demikian tidak sulit menjatuhkan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang di
dukung Iran dan Rusia. Mereka ingin menghancurkan Iran karena alasan
yang sama. Iran adalah saingan geopolitik sengit Saudi 'di wilayah
tersebut.” Lanjut sahabat Jaka.
“ Ya masuk akal juga. Strategi mereka memang berhasil. Harga minyak
telah anjlok lebih dari 70% sejak pertemuan September tahun 2014. “ Kata
Jaka.
“ Ya. Ini di manfaatkan China dengan memperbesar stok minyak
nasionalnya. Maklum china kan pembeli minyak nomor 2 di dunia setelah
AS. Padahal ketika itu ekonomi china sedang melemah. Daya beli China
yang tinggi tidak membuat minyak naik tapi jusru jatuh terus.” Kata
sahabat Jaka.
“ Bagaimana dengan shale gas ? Jaka ingin tahu reaksi temanya atas adanya
industri minyak alternatif yang sendang tumbuh di Amerika Serikat.
“ Itu juga jadi sasaran untuk di hancurkan dengan penurunan harga
minyak."
“ Mengapa ?“
“ Cobalah bayangkan. Pada 1990-an, AS mengimpor hampir 25% dari total
produksi minyak Arab. Karena adanya shale gas, tinggal hanya 5% saja.
Benar benar pukulan yang menyakitkan. Ini harus di perangi oleh Arab.
Mereka pikir harga jatuh cukup lama akan membangkrutkan industri shale
gas. Karena Ongkos produksi shale gas lebih mahal dari minyak Saudi. Tentu
ini akan melumpuhkan pesaing utama dan memungkinkan Saudi
mendapatkan kembali pangsa pasar yang hilang. Tapi perang ekonomi tidak
selalu berjalan sesuai rencana. Saya pikir Saudi membuat kesalahan kolosal
…”
“ Oh senjata makan tuan “ Seru Jaka.
“ Saya pikir Saudi telah keterlaluan. Berperang dengan emosi. Padahal
APBN mereka sebagian besar bergantung dengan minyak. Jadi penurunan
harga tentu memukul ekonominya dan cadangan devisa bleeding. Selama
lebih dari 30 tahun, Arab Saudi telah mematok mata uangnya pada 3,75
riyal per AS dolar. Untuk mempertahankan ini, perlu tumpukan besar dolar
AS. Dengan cadangan historis yang besar, ini tidak pernah menjadi
masalah. Tapi sekarang, anggaran Saudi berada di bawah tekanan serius.
Ini mengancam kemampuan Arab Saudi untuk mendukung peg mata
uangnya. Devaluasi hanya soal waktu harus di lakukan. Kalau benar di
lakukan maka akan memenggal mereka yang punya penghasilan tetap. “
“ Itu sangat mengerikan.” Kata Jaka mengerutkan kening.
“ Kalau tidak segera di carikan solusi akan menimbulkan kerusuhan sosial,
seperti negara teluk lainnya. Apalagi ongkos perang tolol dengan Yaman
dan Suriah menguras anggaran tak sedikit. Saudi pikir mereka bisa
mendukung pemberontak Suriah bersenjata dan menggulingkan
pemerintah Assad dalam hitungan bulan. Mereka pikir Assad akan jatuh
semudah Gadhafi lakukan di Libya pada tahun 2011. Itu perhitungan bodoh.
Iran dan Rusia terlalu besar untuk di hadapi”
“ Oh I see. Dan dampaknya dari adanya krisis pasar minyak melebar kemana
mana, khususnya moneter. Banyak bank memberikan pinjaman besar untuk
perusahaan-perusahaan minyak termasuk shale gas yang kini banyak
terancam bangkrut. Dan akan meningkatkan NPL bank. “ Kata Jaka.
“ Ya. Saudi telah merusak industri Shale gas AS. Dan mereka akan terus
menyebabkan lebih banyak kerusakan. Tapi mereka tidak akan membuat
semua bangkrut. Industri shale gas punya daya tahan lebih dari Arab Saudi.
Tekhnologi shale gas semakin maju dan bahkan tetap bisa bersang pada
harga minyak USD 40 per barrel.” Kata Sahabat Jaka yakin.
“ Dan akhirnya semua rencana yang disusun dengan niat buruk pada
akhirnya justru memukul balik Saudi.” Jaka menyimpulkan. " Datu satu hal
lagi bahwa Saudi Aramco sebagai BUMN Arab Saudi dibidang minyak dan
gas, hanya sebagai management supervisi. Dimana dari drilling , refinery,
marketing, logistic, procurement, bahkan sampai pada training SDM di
outsourcing kepada subsidiary company yang bermitra dengan asing. Dan
ketika harga minyak jatuh, Saudi Aramco terpukul karena sumber
penerimaan mereka hanya dari penjualan. Sementara subsidiary
company tetap untung karena mereka menjual jasa dan memakan dari
semua cost yang dibayar oleh Saudi Aramco.” Lanjut Jaka, melihat dari
kacamata dia sebagai pebisnis. Bahwa skema bisnis minyak Saudi lebih
menguntungkan outsourcing..
‘ Tepat sekali. Suatu kebodohan. Jalan satu satunya agar terhindar dari
kebodohan fatal, maka sudah saatnya Saudi Aramco berpikir untuk
mengambil alih semua industri jasa pendukung tersebut. Setidaknya bisa
menjadi sumber pendapatan sampingan dan sekaligus menekan biaya untuk
menyisakan margin dari harga minyak yang jatuh. Tapi dari mana uangnya?
“ Ya Saudi Aramco sebagai pemilik konsesi bisnis dapat melepas sahamnya
ke publik. Dari penjualan saham tersebut dapat di gunakan untuk
mengambil alih oursourcing bisnis yang ada atau membeli industri jasa
sejenis di pasar. ya sudah saatnya Arab mandiri di bidang tekhnologi oil dan
gas. Jangan lagi tergantung dengan AS “ Kata Jaka yang paham betul soal
skema financial structure.
“ BIsa saja. Masalahnya kalau IPO, tentu harus terbuka segala sesuatunya.
Apakah kerajaan Arab mau terbuka soal bisnisnya ? Apalagi semua tahu
bisnis minyak juga di pakai untuk alat politik. Bukan pure business.” Kata
sahabat Jaka.
Jaka hanya mengangkat bahu. Mereka kemudian bicara soal lain sampai
jam menunjukan pukul 1 dini hari. Sahabatnya minta undur diri karena
besok pagi harus terbang ke Eropa. Jaka menutup bill. Dari pertemuan itu
,aku dapat mengetahui bahwa sumber informasi Dono sangat luas.
Pergaulan dengan teman temanya dari kalangan yang dekat dengan the
first hand information, bahkan yang tergolong confidential , memungkinkan
dia mempunyai wawasan luas dalam mengambil kebijakan bisnis.
Malam itu aku tidur di ranjangku sendiri dan Jaka di ranjangna. Jaka
nampak lelah sekali. Apalagi keesokan paginya dia harus kembali ke Jakarta
dan aku kembali ke Ho Chi Minh.
***
Aku telp Robert HP. " Ya" Terdengar Robert menjawah dengan agak parau.
" Hi, Robert, jemput aku di bandara ya. "
" Siap bu. Tolong ETA nya ?
" Jam 7 malam. "
" Siap bu. Jam 6 saya sudah di bandara”
“ " Terimakasih”
***
“ Maaf Bu. Sepertinya hubungan ibu dengan Pak Jaka sangat istimewa.”
Kata Robert ketika dalam perjalanan dari Bandara ke Hotel.
“ Bagaimana kamu punya kesimpulan seperti itu?
“ Saya merasakan itu ketika kemarin ibu bertemu dengan Pak Jaka”
“ Dia sahabat saya, guru saya, juga kakak saya. “Kataku sekenanya. Namun
entah mengapa ada perasaan cemburu Robert melihat kedekatan Jaka
kepadaku. Namun dia berusaha menutupi perasaannya dihadapanku. Sadar
bahwa dia bukanlah siapa siapa di bandingkan Jaka untuk bisa merebut
hatiku. Robert melihat sisi lain yang bisa di dapatnya dari bekerja di
bawahku. Setidaknya dia bisa mendapatkan akses kepada Jaka langsung di
bandingkan bekerja di bawah kendali Holding di Hongkong.
“ Bu, Saya punya impian untuk membangun pabrik kliker dengan tekhnologi
dari china bisa terkabulkan. Apalagi pasar rumah murah di Vietnam sangat
besar. Pemerintah Vietnam punya program rumah untuk rakyat miskin
sebagai bagian dari penataan wilayah komersial. “
“ Tapi …”
“ Apa ?
“ Apakah ibu tidak keberatan menyampaikan proposal ini kepada Pak Jaka.
Maaf bu, kalua saya lancang”
“ Engga usah sungkan.”
“ Ya Karena tugas saya hanya membantu ibu ,tidak ada kaitannya dengan
obsesi saya..”
Aku hanya mendiamkan saja dan Robert terus cerita soal obsesinya.
Ketika itu jam 5 sore. Robert janjian denganku untuk makan malam. Cerita
Robert tadi waktu mengantar ke bandara membuat aku galau. Robert
cerita hubungannya dengan seorang wanita yang juga Putri dari pentinggi
Partai Vietnam. Nama wanita itu Yen. Walau sarjana dari China namun
nampak seperti anak remaja yang belum dewasa, katanya. Maklum
mungkin karena di besarkan oleh keluarga kaya. Melalui Yen, Robert di
tawarkan peluang untuk bangun pabrik kliker khusus bahan material semen
yang hemat biaya. Bahkan menghemat sampai 80% dari harga semen yang
telah ada di pasaran. Semen ini juga punya daya tahan lebih baik
dibandingkan dengan semen Portland. China menggunakan tehnologi dalam
program rumah murah.
Dari jauh nampak Robert berjalan menuju kearahku. “ Capek ya” Kata
Robert. Aku hanya tersenyum.
“ Bu, Besok senin kantor sudah siap. Izin pendirian perusahaan sudah
selesai. Kita tinggal action saja.”Kata Robert.
“ Terimakasih Robert.” Kataku sambil menatap kearah depan. Seakan
sedang berpikir sesuatu. “ Hari selasa saya terbang ke Dongguan , China.
Kamu siapkan SDM untuk tiga orang dulu ya. Bagian legal dan umum,
akuntansi, Sekretaris. Saya harap, saya kembali semua SDM sudah
tersedia”
“ Siap Bu.”
Nampaknya Robert menantiku memberi perintah lagi. Namun aku malas
bicara banyak lagi. Makan malam hambar.
“ Bu..”
“ Ya. “
“ Boleh saya bicara soal lain? Kata Robert kaku. Aku tahu dia ingin
melanjutkan pembicaraan tadi didalam kendaraan.
“ Bicara aja “
“ Untuk kesekian kalinya Yen menelphon mempertanyakan kapan bisa
merealisasikan pembangunan pabrik kliker itu. Aku sudah kehabisan alasan
untuk meyakinkan Yen bahwa usahanya akan berhasil mendapatkan
investor. Tapi siapa ? Dia sudah menghubungi banyak orang kaya dan juga
banker di Hanoi dan Ho Chi Minh namun hampa. Karena semua punya alasan
yang hampir sama bahwa tekhnologi itu tidak familiar. Mereka masih
percaya dengan produk semen dari portland. Dan lagi tekhnologi dari China
itu tidak populer di pasar eksport. Peruntukannya hanya sebatas
perumahan kelas murahan dengan daya tahan terbatas.” Kata Robert yang
berpikir keras dan bingung.
“ Ada niat ingin menyampaikan proposal langsung kepada Holding di
Hongkong namun saya tidak yakin akan mendapatkan response yang cepat.
Karena saya tahu holding di hongkong dalam situasi konsolidasi yang di
syaratkan oleh kreditur agar sehat. “ Sambung Robert.
Dalam kegalauan itu , Robert menerima telp dari seseorang datang lagi.
Setelah usai bicara lewat telp, Robert kelihatan tegang“ Yen, marah. Dia
mau ketemu dengan saya.” Katanya mengusap kepalanya sendiri.
“ Temuilah dia. “
“ Engga apa ya bu ?
“ Engga apa apa.”
Robert segera berlalu.
***
Telah seminggu aku di China. Mungkin malam ini sesuai jadwal aku akan
mendarat di Ho Chi Minh. “ Robert, jemput aku di bandara ya jam 7 Malam”
kataku lewat telp ke Robert.
“ Siap bu. Jam 6 saya sudah di bandara. “ Kata Robert.
Aku tak bicara banyak. Hanya menutup telp dengan mengucapkan
terimakasih.
Dalam perjalanan ke hotel dari bandara , Robert kembali bicara soal
bisnisnya dan berharap aku bisa bertemu dengan mitranya, Yen.
“Setidaknya saya bisa cerita siapa ibu dan yakinkan Yen bahwa ibu sebagai
wakil dari Holding.”
“ Robert, saya akan bantu kamu bicara dengan Holding untuk mendapatkan
dukungan membangun proyek kliker dengan tekhnologi dari China. Tapi
pastikan proyek ini dapat dukungan politik baik pasar maupun bahan baku.
Dan Pastikan Yen memang punya kemampuan melobi pemerintah Vietnam.
Bisa ?“
“ Bisa. Bu. Sangat bisa. Ayah Yen salah satu petinggi Parai Komunis
Vietnam. Pengaruhnya besar sekali. “ Kata Robert meyakinkanku. “ Apakah
ibu yakin proposal ini tidak akan mengganggu posisi saya di hadapan
holding karena melanggar SOP ?”
“ Tidak ada masalah, Salah satu tugas kamu adalah penghubung perusahaan
dengan pihak pihak yang punya akses politik dan business network di
vietnam.” Kataku dengan santai.
“ Ibu tahulah. Aku sangat menginginkan pekerjaan di perusahaan ini.” Kata
Robert dengan wajah memelas sambil mengalihkan wajahnya ke samping.
“ OK sekarang atur saya bertemu dengan Yen”
“ Baik bu.
Tak berapa lama Yen datang ke restoran dimana aku dan Robert sudah
menanti. Dalam pertemuan itu Yen mencoba menjelaskan peluang pasar
Vietnam dan tekhnologi yang dia yakin akan didapat dari China. Yen
meremas jemari Robert dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan
menghadapi bersama sama. Aku terhenyak dan kelabu.
***
Setelah makan malam dengan Robert dan Yen, aku dapat merasakan ada
sesuatu antara Yen dan Robert. Sebagai wanita aku dapat dengan mudah
merasakan itu. Terutama tanpa sadar Yen memanggil Robert dengan
sebutan “ Honey”. Sempat terkesiap jantungku ketika mendengar Yen
memanggil dengan nada sayang yang teramat dekat. Tapi mengapa aku
sampai tidak merasa nyaman terhadap sikap Yen? Bukankah hubungan ku
dengan Robert hanya sebatas atasan dan bawahan. Kalaupun hubungan
terkesan dekat itupun karena sikapku yang mampu membuat orang bekerja
dengannya merasa nyaman.
Apakah aku telah salah menebak bahwa Robert menyukaiku. Atau aku
terlalu berharap dapat dengan mudah menaklukan Robert. Aku sadar
bahwa aku harus berdamai dengan kenyataan. Bahwa banyak pria yang
mudah didekati tapi tidak mudah mengajak mereka berkomitmen untuk
hubungan yang lebih serius.
Malam ini aku merasa sangat kesepian. Hidup diusia kepala empat tanpa
hati untuk berlabuh. Jaka memang sahabat yang baik namun ruang hatinya
sudah penuh sesak dengan kedua anak dan istrinya. Aku hanya berada di
beranda hati Jaka, tanpa bisa masuk kedalam. Namun walau hanya di
beranda kadang aku merasa itu sudah berkah luar biasa. Tapi
bagaimanapun aku ingin ada ruang khusus di hati seorang pria. Biar ruang
itu kecil , tak apalah. Aku bisa menyendiri di ruang itu sambil menghitung
bintang di langit mengantarku tidur dalam pelukan seorang pria.
Karenanya aku bertekad dalam hati bahwa aku akan bersaing mendapatkan
Robert. Bagaimanapun aku dalam posisi lebih menguntungkan bagi Robert
di bandingkan Yen. Tanpa keputusan dari Jaka tak mungkin proyek itu bisa
jalan. Robert akan lebih memihak kepadaku. Itulah keyakinanku.
Sekarang tinggal berpikir bagaimana meyakinkan Jaka. Aku tahu percis
sifat Jaka yaitu tidak bisa ditebak, Namun Jaka bisa jujur akan sikapnya
ketika mengambil keputusan. Mungkin aku akan merasa kecewa namun
Jaka selalu punya alasan yang rasional atas keputusannya. Aku akan
meyakinkan Jaka secara rasional bahwa investasi di kliker itu
menguntungkan dan sekaligus pintu gerbang menjalin hubungan dengan
elite partai di vietnam.
Aku tahu betul bahwa bagi Jaka keneksi politik itu sangat dia inginkan.
Walau dia tidak pernah terlibat secara langsung bermain politik namun soal
bagaimana memanfaatkan akses politik untuk mengembangkan bisnis dia
memang jagonya. Jaka selalu punya ide hebat untuk memanfaatkan
kekuasaan politik. Caranya sangat halus dan tak pernah takut akan resiko.
Selalu pada akhirnya dia jadi pemenang.
Aku meliat ke mononitor computerku. Nampak notifikasi incoming email.
Aku bersegera membuka mail box tersebut karena tertera pengirimnya
adalah Yen. Semua data proyek dan studi kelayakan terlampir pada email
tersebut. Dengan seksama aku mempelajari data proyek sampai jam 2 dini
hari. Kemudian aku membuat resume proyek untuk di sampaikan
kepada Jaka. Berharap keesokan paginya aku akan dapat jawaban dari
Jaka. Itu kebiasaan Jaka yang selalu menjawab email dari orang orang yang
bekerja dengannya.
Dengan lelah dan kantuk kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Namun
belum sempat aku terlelap , terdengar telp cellularku bergetar. “ Yun”
Suara Jaka diseberang
“ Ya Uda..”
“ Maaf ganggu ya”
“ Engga apa apa. Aku senang uda telp. “
“ AKu sudah baca resume kamu. Bagus.”
“ Jadi gimana pak ?
“ Aku hanya mikirkan gimana kamu bisa atur pekerjaan kamu yang sedang
memproses pemindahan pabrik dari China ke Ho Chi Minh”
“ Engga ada masalah Uda. Kalau di izinkan , beri saya otoritas untuk
menugaskan Robert untuk proses peluang bisnis ini.”
“ OK. Lah. “
“ Terimakasih Uda.”
“ Oh Ya. boleh aku juga usul ?
“ Apa ?
“ Gimana kalau Robert juga di bantu oleh salah satu orang dari team aku
yang ada di Jakarta. “
“ Mengapa ?
“ Untuk efektifitas aja. Dan sekalian memberikan wawasan mereka bekerja
secara international”
“ Engga ada masalah Uda.”
“ OK thanks. Besok aku ke Hong Kong.”
“ Ok. Jadi kapan kita ketemu lagi ? Kataku harap.
“ Kamu kangen yaaa”
“ Ya. Emang Uda engga kangen?
“ Kangen juga tapi aku sibuk Yun. “
“ Ya aku maklum”
“ Tadi Yuli telp aku. Dia tinggal di apartement aku sama teman temannya
selama liburan di Hong Kong. Perhatikan, dia memang patuh dengan
janjinya akan selalu ada di bawah pengawasan kita. Apapun dia lapor. “
“ Kapan usai libur musim panasnya ?
“ Katanya minggu depan. “
“ Kok Yuli engga telp aku, mamanya?
“ Cobalah kamu perbaiki hubungan kamu dengan Yuli. “
“ Bagaimana caranya ? Uda lebih dia percaya dibandingkan aku”
“ Dia putri kamu, Yun. Kamu lunakan hatimu sedikit. Jangan mudah
paranoid. Anak jaman sekarang engga bisa kita paksa seperti mau
kita. Kamu harus lebih dulu mengerti dia dan memahami dia untuk
merebut hatinya. Bagaimanapun dia bukan kamu dan dia adalah miliknya
dirinya sendiri yang punya takdir sendiri. Kita sebagai orang tua hanya
mendukungnya selagi benar. Kalau salah ya kita peringatkan dengan
dialogh bukan perintah. Paham ya sayang”
“ Ya. Aku menyadari itu. “
“ Gimana kalau setelah urusan Ho Chi Minh selesai kamu ke london
temani Yuli disana selama 1 bulan”
“ Benar ya.” Aku setengah berteriak.
“ Benar.”
“ Uda ikut antar aku ya.”
“ Ya. “
“ Setidaknya selama seminggu sampai Yuli dan aku kembali normal. BIsa
ya.”
“ Lama sekali?
“ Please. “
“ OK. janji ya. hanya seminggu. Setelah itu hubungan kamu dengan Yuli
kembali normal.”
“ Tapi…” Aku tersekat.
“ Apa ?
“ Bisa engga dia putuskan hubungan dengan sinegro itu.”
‘ Kenapa ?
“ Aku engga suka”
“ tapi kamu kan bukan Yuli.”
“ Aku orang tuanya”
“ Ya udahlah. Kembali kita berbeda pendapat. Kenapa sih kamu mau atur
soal pribadi putri kamu sampai sejauh itu? Beri dia kepercayaan dan doakan
agar dia bisa mengambil keputusan yang terbaik. Dan lagi dia masih
berproses untuk mencapai dewasa. Kuliah juga masih 2 tahun lagi selesai”
“ Aku engga suka?
“ Apa salahnya pria itu ? Dia sarjana bekerja di Bank di London. Dari
keluarga baik baik. “
“ Aku ingin dia menikah dengan orang Indonesia?
“ Mengapa ?
“ ya itu yang aku suka”
“ Tidak ada jaminan jodoh itu lebih baik seperti kita tahu. Seperti kamu
dapat jodoh dari Indonesia. Apakah itu baik untuk kamu? tidak juga kan.
Kamu akhirnya bercerai. Jodoh bisa datang dari mana saja. Dan keluarga
utuh bukan karena cinta tapi karena nilai persahabatan yang terbangun.
Aku senang Yuli menentukan pilihannya bukan karena melihat pria itu
ganteng , kaya atau hebat. Tapi melihat sikap pria itu memang sahabat
yang baik untuk dia. Dan dia merasa punya tempat aman berlabuh.”
“ Ya…” aku terdiam. ‘ Terimakasih kamu begitu peduli dengan Yuli, sampai
kamu luangkan waktu untuk mencari tahu siapa pria yang jadi pacar Yuli.
Andaikan Yuli punya ayah kandung seperti kamu tentu akan lengkap sekali
hidup kami”
“ Yun , Yuli memang bukan putri kandungku tapi dari usia Balita aku ikut
membesarkannya sejak kamu bercerai dengan suami kamu. Tolong jangan
lagi di bahas soal anak kandung atau bukan. Itu engga baik kalau di dengar
oleh Yuli. Paham, kamu.
“ Ya. Paham sayang.”
“ Ya. udah tidur sana. “
“ Aku kangen nih. “
“ Tidur kamu. Udah ya..
“ Ya. “
***
Tak lebih sebulan Robert di minta Jaka untuk berangkat ke Hong Kong
bertemu dengan Business development group di Holding. Jaka minta agar
mendampingi Robert. Dan tak lupa juga Jaka ingatkan agar membawa Juga
Yen. Dengan penerbangan pertama , kami berangkat ke Hong Kong. Dalam
peneberbangan , Jaka duduk bersama Yen dan aku duduk di ruang business
Class. Kadang aku sempat lirik kearah belakang tapi tanpa nampak mereka.
Mungkin mereka sedang menikmati kebersamaan dan impian akan masa
depan yang indah. Apalagi kedatangan mereka atas undangan resmi dari
Holding.
Setiba di kantor Holding, Jaka minta bicara secara pribadi dengan Yen
namun didampingi oleh Lena. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan. Namun
setelah pertemuan itu, Jaka mengajak Yen dan Robert rapat bersama BDG.
Jaka menjelaskkan peluang yang ada dan meminta agar BDG membuat
lebih detail rencana bisnis tersebut. Usai meeting, Yen mengundang kami
makan malam bersama professor dari Tianjin. Katanya professor itu
sahbaat ayahnya. Aku tahu Professor itu juga adalah sahabat Jaka , yang
termasuk elite partai komunis di China. Ada apa ini? Apakah Yen ingin
gunakan pengaruh ayahnya agar melukan sikap Jaka. Ataukah Yen ingin
memastikan bahwa peranku kecil kalau sampai ada keputusan proyek ini
dijalankan.
Dalam acara makan malam itu , Jaka nampak akrab sekali dengan Professor
dan ketika hendak berpisah usai makan malam itu , Aku mendengar pasti
Jaka berkata kepada Professor itu “ Saya akan follow up proyek ini dan saya
akan jaga Yen sebagaimana permintaan ada untuk sahabat anda di
Vietnam.” Professor itu nampak senang sekali. Tapi ketika Yen nampak
tersenyum kearah Jaka, hatiku teriris. Apalagi ketika Robert merangkul
pinggang Yen ketika melangkah keluar dari restoran. Aku kembali ke Hotel
bersama Jaka. Dalam perjalanan ke hotel, rasanya aku ingin menangis
meratapi nasipku. Tapi aku berusaha kuat. Akankah sahabatku mengerti
keadaanku. Akankah Jaka bisa diajak memahami sikapku yang harus
mendapakan Robert dari Yen ? akankah ?
“ Yuni dengar sekarang Doni udah jadi boss. Pegang posisi puncak di anak
perusahaan developer kawasan industry di China ? Kataku.
“ Ya. Itu keputusan HRD”
“ Bukan keputusan uda.?
“ Bukan.”
“ Beruntung sekali Yolanda.” Kataku bicara sendiri dengan menoleh
kesamping.
“ Ada apa dengan kamu ?Jaka menoleh kesamping kearahku.
“ Engga apa apa “
“ Masih inginkan Doni. Masih belum move on?
“ Yuni udah lupakan dia. Tapi…”
“ Tapi..apa ?
“ Semua pria yang pernah menolak Yuni adalah pria hebat dan yang justru
menerima Yuni adalah pria pecudang. Kenapa ?
“ Ah kamu. Mulai dech baper. Sekarang focus aja kerja “
“ Mau focus gimana ? sebentar lagi Yen akan jadi boss di pabrik itu dan
menikah dengan Robert. Yuni akan kembali mimpin holding di Jakarta. “
“ Emang masalah buat kamu ?
“ Engga. Kalau itu sudah keputusan Uda , ya mau gimana lagi. Apalah Yuni?
“ Duh..nada bicara kamu sepertinya ada sesuatu …”
“ Yuni hanya sampaikan kenyataan. Kenapa pula uda jadi berpikir macam
macam?
“ Ok. Saya paham”
“ Dan…
‘ Apalagi ?
“ Yuli semakin jauh dari Yuni. “ Entah mengapa aku menangis. Jaka
terkejut. Dia segera mendekapku dari sebelah aku duduk. Mendekatkan
kepalaku kebahunya untuk aku bersandar. “ Uda…” Kataku dengan
menumpahkan air mata sejadinya. Tapi aku tidak mau meratap.
Jaka hanya diam. Tapi aku merasakan jantungnya bergetar hebat. Dia
menahan emosi dan bisa merasakan perasaanku. Tapi dia tidak bisa
berbuat banyak. Bisnis adalah bisnis dan aku bagian dari proses bisnis bagi
Jaka. Kalau aku masih menggunakan perasaanku maka aku akan terluka.
Dan Aku hanya berdiri di pangkal akanan. Merasakan hangat matahari dan
cahaya senja. Tap aku tidak akan pernah menjangkaunya…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI SUFI

PEMIMPIN ATAU GURU