Mencintai dan di lupakan
terdapat tepat didepan kamarnya bergerak lembut. Satu satu daun gugur berjatuhan
dan kadang masuk kedalam kamarnya. Dia tidak terkejut ketika sepasang kaki indah
melintas didepan kamarnya, yang kemudian menyorongkan kepalanya kearah jendela.
“ Aku bawakan makanan kesukaan mu. “ wanita itu menaikan tangannya tinggi tinggi
sambil melihatkan rantang ditangannya
.“ Kenapa harus repot, Yun.. “ Jawabnya. Wanita itu tidak memperdulikannya. Terus
berputar kearah pintu kamar.
“ Apakah ada kemajuan skripsi mu, Don “ Wanita itu memegang pundaknya dari
belakang dengan memperhatikan lembaran kertas yang tergeletak diatas meja. Dia
hanya menggaruk kepala. Wanita itu kembali melakukan kebiasaanya. Mengambil
pakaian kotor untuk di cuci dan sekalian membersihkan kamarnya yang berantakan.
Biasanya keesokan sorenya wanita itu akan datang lagi dengan membawa pakaiannya
yang sudah bersih.“ Aku harus segera pergi. Takut terlambat masuk kerja “ Wanita itu
berlalu dengan membawa pakaian kotornya.
Dia hanya terhenyak. Sudah lebih dua tahun dia menjalin hubungan dengan wanita itu
namun tak pernah dia menyentuh wanita itu. Wanita yang terlalu polos dengan
cintanya. Wanita yang tidak berhijab namun punya rasa hormat untuk tahu bagaimana
berkorban dan mencintai. Sampai kapan keadaan ini dia harus pertahankan.
Cinta itu memang tidak mudah diraih. Begitu pula dengan kehadiran wanita itu dalam
hidupnya. Dia tidak pernah dapat mencintai wanita itu namun dia dapat bersikap
sempurna hingga nampak dia benar benar mencintai. Mungkin karena memang dia
sangat membutuhkan wanita itu untuk menopang kehidupannya yang memang butuh
biaya. Hingga setiap hari wanita itu terus bekerja keras untuk memberikan dukungan
menyelesaikan kuliahnya
“ Apakah tidak lebih baik kita menikah saja. Kamu dapat terus dengan kuliahmu tanpa
harus dibebani dengan biaya hidup. Gajiku cukup untuk kita hidup berdua. “ Kata
wanita itu satu ketika.
“ Aku tidak bisa mendahului kakak perempuanku. “ Demikian dia beralasan untuk
sengaja menunda. Wanita itu tetap sabar menanti saatnya tiba.
Ketika Kakak perempuannya menikah wanita itu kembali datang dengan harapannya.
“ bukankah sudah saatnya kitapun menikah. “
Dan diapun kembali dengan alasan lain “ Aku harus menunggu sampai kuliahku selesai.
“ Kembali wanita itu harus menunggu.
Ketika kuliahnyapun selesai , wanita itu menampakan keceriaan yang luar biasa.
“ Orang tuaku sudah siap menanti lamaranmu “
Diapun datang dengan alasan “ Aku harus dapat kerjaan dulu. Aku tidak mau
membebanimu bila kelak kita berumah tangga. “
“ Aku hanya ingin impian ku dapat terkabulkan segera. Hidup bersama pria yang aku
cintai. “ Kata wanita itu. Harapan yang terlalu sederhana tapi menjadi sulit baginya.
Bagaimana mungkin.? Baginya lebih baik hidup sehari dengan orang yang di cintainya
daripada hidup seribu tahun dengan wanita yang tidak pernah di cintainya.
Ketika sudah dapat kerjaan, dia harus berkata dengan jujur. Maka diapun tanpa beban
untuk mengatakan “ Aku tidak mencitai mu, Yuni. Ada wanita soleha berhijab yang
telah ku pilih. Lebih baik kamu berharap pada pria yang tahu bagaimana seharusnya
mencintaimu. Itu lebih baik “
“ Tidak adakah arti bagi mu hubungan kita selama ini? “ Wanita itu menampakan wajah
keterkejutannya dengan airmata berlinang.
“ Itu sangat berarti sekali. Aku justru disadarkan betapa kamu sangat bernilai
dihadapanku. .” Katanya dengan berat menatap sendu wajah wanita dihadapannya “
Maafka aku. Aku telah menemukan wanita yang aku cintai dan Kami akan segera
menikah” sambungnya yang membuat wanita itu jatuh berkeping keping.
“ Apakah diapun mencintaimu sama seperti aku ? “
“ Kami saling mencitai. “
“ Secepat itukah ?“
“ Ya. “
Yuni tertunduk sambil mengusap airmata dan kemudian berdiri keluar dari kamarnya.
Di luar angin bertiup lembut dan daun keringpun nampak jatuh berguguran. “ Nasipku
, tidak lebih sama dengan daun itu. Yang akhirnya gugur dimakan waktu. Tapi aku
tetap bersyukur karena kamu telah memberi waktu untuk ku mencintaimu.”
***
Sepuluh tahun Doni baru merasakan hidup sebagai pecundang. Walau kedudukannya
sebagai direktur perusahaan namun semua kendali perusahaan dipegang oleh istrinya.
Dihadapan mertua dan keluarga istrinya , dia tidak lebih sebagai boneka yang harus
dijaga namun dapat dengan mudah diabaikan. Baru kini dia merasa perlunya
kehormatan sebagai laki laki. Tapi apakah dia mampu ?
“ Aku menikah dengan mu karena kamu punya kepintaran dan pekerja keras. Jadi
jangan pernah berharap lebih dari ku. “ Kata istrinya ketika dia meminta agar tinggal
dirumah.
“Orang tuaku memintaku untuk menjalankan perusahaan ini dengan benar.Dan kamu
harus membantu usaha keluarga ini agar dapat diteruskan dengan anak anak kita
kelak”
“ Bukankah kamu istriku ? Serunya “ dan kamu harus mendengar ku. Sampai sekarang
kita belum punya anak. Karena kamu selalu sibuk. Sampai kapan ? “ katanya.“
“Kita tidak punya apa apa selain memang harus hidup dibawah pengawasan Ayah. Kita
sudah beruntung dapat menikmati kelebihan harta ini tanpa harus menderita seperti
orang lain. Soal anak , memang aku belum siap melahirkan .Jadi berhentilah bersikap
kekanakan. “
Selalu dia kehilangan jalan untuk menjadi seorang laki laki. Satu saat dia kembali ada
keberanian bersikap dihadapan istri dan mertuanya.“ Saya harus keluar dari
perusahaan ini. Saya sudah tidak tahan menjadi boneka diperusahaan maupun dirumah
tangga. Saya ingin dihargai seperti layaknya direktur diperusahaan dan kepala keluarga
dirumah.” Katanya.
“ Oh, Itu yang kamu mau.? “ Jawab mertuanya. “ Baik, Kamu boleh keluar dari
perusahaan ini dan silahkan kembali kerumah sebagai kepala keluarga yang kamu mau
“ Lanjut mertuanya sambil menatap kearah istrinya.
“ Bagaimana dengan kamu “ Katanya kepada istrinya.
“ Kalau abang berhenti dari perusahaan ini maka abang tidak ada tempat dirumah. “
Jawab istrinya dengan dingin.
“ Bukankah kamu mencitaiku ? “
“ Abang, sudah tahu apa yang harus abang lakukan. Banyak pintu keluar untuk abang
bebas pergi dari sini. “ Istrinya tidak menjawab tentang cinta tapi memintanya pergi.
“ Baik. Saya perg!!i “ Dia mengambil tasnya dari pergi meninggalkan istri dan
mertuanya
“ Tolong jangan ada satupun yang boleh abang bawa. Karena semua bukan milik abang.
Kecuali barang yang abang bawa sewaktu abang datang kerumah saya “ Teriak istrinya
ketika dia melangkahkan kakinya keluar.
sepuluh tahun perkawinan yang sia sia. Memanglah perkawinan yang salah karena
diawali dengan niat yang salah. Karena dia hanya melihat dari kecantikan wanita dan
kekayaannya. Bahkan dalam banyak hal dia memang tidak pernah membuat keputusan
yang benar. Delapan tahun bagai menumpang tawa ditempat ramai namun akhirnya
menangis dalam kesendirian tanpa ada yang mau peduli.Bayangannya kini kembali
kepada ketika dia pergi meninggalkan tempat dimana Doni menyelesaikan kuliahnya.
Bayangan tentang seorang wanita yang begitu setia berkorban dan akhirnya dia
tinggalkan begitu saja hanya karena dia tidak mencintai wanita itu. Tapi dengan
keadaannya kini maka dia sangat merindukan wanita itu. Ternyata bagi laki laki yang
sangat dibutuhkan adalah cinta dari seorang wanita yang ikhlas berkorban..
***
Waktu berlalu pada akhirnya Yuni tetap sendiri. Hanya saja dia tidak perlu harus
berharap apapun kepada setiap pria. Kalau pria tempat berlindung untuk kebutuhan
makan , dan rumah maka dia dapat mengadakannya. Dia sudah mengubur masa lalunya
itu dalam dalam. Mengapa ? Karena cinta yang tak bertaut dia sempat drepresi. Karena
itu dia harus kehilangan pekerjaan. Akhirnya dia menemukan pria yang benar benar
mencintainya dan membantunya melewati masa masa depresinya. Pria itu tidak
sarjana. Hanya tamatan SMU. Bekerja sebagai tenaga administrasi di Show Room. Tapi
perkawinan itu kandas setelah dia di karuniai satu anak perempuan. Perceraian itu
hanya karena keadaan ekonomi. Ketika suaminya terkena PHK, kehidupan rumah
tangganya tidak ada lagi kedamaian dan berujung kepada percearian. Sangat
menyakitkan. Namun tidak terlalu lama akhirnya dia dapat berdamai dengan
kenyataan.
Seorang sahabat terbaiknya membantunya memulai hidup sebagai janda. Awalnya
usaha sebagai eksportir hasil laut dengan menyewa coldstorage di pasar ikan. Akhirnya
berkat kerja keras dan dukungan dari sahabatnya telah mengantarkannya sebagai
pengusaha berkelas dunia. Kerja keras dan belajar keras dalam setiap putaran waktu
membuatnya berkembang dan berkembang. Dia puas. Mitos pria bisa berbuat apa saja,
ternyata juga berlaku untuk wanita.
Di Bandara International mata mereka beradu pandang. Wanita itu tak bisa melupakan
pria yang kini dihadapannya. Dia ingin segera berlalu namun langkahnya terhenti. Dia
menoleh kebelakang dan pria itu berkata
“ Yun, kau kah itu ?
“ Mas Doni ?
“ Ya, Aku Doni ”
pria itu berusaha membalut wajahnya dengan senyum ramah. Dihadapannya kini ada
seorang wanita cantik berkelas. Tak nampak kesan wanita itu seperti dulu yang dia
kenal. Penuh percaya diri.
“ Lama engga ketemu. Apa kabar? Tanya Doni.
“ Kabar baik “
‘ Terlalu baik nampaknya “ Kata Doni.
Yuni hanya tersenyum.
Dia tak ingin bercerita banyak. Dan apa pentingnya untuk bercerita kepada pria
dihadapannya. Baginya pria itu adalah masa lalu.
“ Tahun lalu aku sempat ke kota dimana kita pernah bersama “ Kata Doni
“ Oh ya. Aku udah lama engga pulang , setidaknya sejak ibuku meninggal”
“ Mua kemana ?“
“ Ke Shanghai”
“ Oh ya, Bisnis apa ?
“ Ya hanya sekedar bertahan hidup mencari nafkah..” kata wanita itu sekenanya
“ wah hebat kamu. Sudah jadi bisnis woman berkelas dunia ”
" Kamu sendiri mau kemana?
" Mau ke Batam. Ada panggilan lowongan kerja di sana?
“ Loh istri kamu ?
“ Sudah bercerai. Setahun lalu.”
“ Mengapa ? Tanya wanita itu sambil mengerutkan kening
“ Mungkin hanya segitu usia jodoh kami.
" Puya anak berapa ?
" Belum punya. "
" Oh...."
Terasa kikuk pertemuan itu. Sebetulnya pria itu ingin lebih lama lagi berbicara tapi
entah mengapa dia kehilangan keberanian untuk bicara banyak. Apalagi nampak wanita
itu tergese gesa. " Kalau kamu gagal di terima kerja di Batam, kamu bisa hubungi
teman saya di Jakarta . " Wanita itu menulis nama dan nomor telp temannya di
belakang kartu namanya. " Berikan kartu nama saya ini kalau ketemu dia. Mungkin dia
bisa bantu kamu. " Wanita itu tersenyum dan segera berlalu.
Dia terpana melihat langkah tegas Yuni berlalu darinya. Tak nampak sikap rendah diri
kecuali penuh percaya diri. Tapi Yuni tidak menyimpan dendam apapun. Bahkan
berempati dengan hidupnya dengan memberikan kesempatan dia bekerja untuk
bertahan hidup, untuk harga dirinya sebagai pria...
***
Setelah 3 Bulan sekembali dari Batam, Doni sudah kehabisan tabungan untuk bertahan
hidup. Sementara panggilan kerja belum juga dia terima. Ada keinginan untuk
mendatangi kantor yang di rekomendasikan oleh Yuni, wanita yang pernah dia tolak
cintanya. Namun dia tak punya keberanian lebih untuk memanfaatkan koneksi Yuni.
Semakin dia sadar betapa mulia wanita itu semakin dia hidup dalam sesal. Tapi karena
tidak punya pilihan lain , diapun mendatangi alamat kantor yang di maksud
Yuni. Alamat perusahaan berada di pasar Ikan , Jakarta utara. Perusahaan ini bergerak
di bidang pengolahan ikan untuk pasar ekspor. Setelah menyerahkan kartu nama Yuni
kepada Satpam, dia diantar bertemu dengan staf perusahaan. Nama yang terdapat
pada kartu nama Yuni itu adalah boss di perusahaan itu, yang kebetulan sedang tidak
ada di tempat. Namun staf perusahaan berusaha menghubunginya. Dia diminta datang
ke kantor pusat di jalan Batu ceper.
" Pengalaman kerja sebagai direktur marketing selama 8 tahun. Bahasa Inggris aktif.
Usia 33 tahun. Pendidikan Sarjana Ekonomi. Hmm" kata pimpinan perusahaan membaca
CV nya. Doni memperhatikan pimpinan perusahaan ini nampak usianya belum mencapai
40. Mungkin karena kacamata minus progressive , dengan setelan bleser warna hitam
membuat dia anggun dan berwibawa.
" Anda akan saya tempatkan sebagai staf marketing pada 3 bulan pertama. Kalau
prestasi bagus , Anda akan dapat posisi tetap di perusahaan saya. Kapan mulai kerja ?
" Kata
" Kapanpun saya siap Bu"
" Ya udah. Besok Anda mulai kerja. Sekarang Anda temui bagian personalia untuk
selesaikan administrasi pengangkatan Anda sebagai staf"
" Terimakasih Bu"
" Jangan terima kasih kepada saya. Tapi kepada Bu Yuni. Saya di sini hanya bekerja
untuk dia. Perusahaan ini milik Bu Yuni. "
Terasa ada halilintar menghantam tubuhnya. Untuk kesekian kalinya wanita yang
pernah dia kecewakan karena cinta palsu tapi selalu punya cara memberi. Tanpa ada
dendam apapun. Cinta yang tulus memang selalu punya cara memaafkan dan tak
penting cinta akan berbalas atau tidak.
***
Pagi ini adalah pagi istimewa, Kini baru merasakan bangun pagi dengan suasana lain
dihatinya. Dilemparnya selimut jauh jauh dan berdiri dengan sigap menuju kamar
mandi. Dia merasakan matahari yang bersinar tak sama lagi dengan yang kemarin. Ini
hari dan tentu seterusnya akan menjadi dunianya. Akan kuraih dunia ini dengan segala
apa yang kubisa. Katanya dalam hati. Dia ceria. Dikamar mandi dia terus bernyanyi
sambil menggosok seluruh tubuhnya. Aku harus membuang semua noda yang dulu dan
untuk bersih menjadi aku yang sekarang. Good bye the past. Lagi lagi dia tersenyum
puas menatap dirinya dicermin. Aku gagah dan pintar , apalagi yang kurang dari diriku.
Katanya pada dirinya sendiri.
Pakaian untuk keberangkatannya keluar negeri semua sudah didalam koper. Sementara
pakaian untuk dalam perjalanan dipesawat sudah disiapkannya pula. Pangkaian
standard executive kelas menengah. Ya dia pantas untuk tampil anyar karena dia kini
sudah menjadi manager kelas dunia. Kemarin dia dapat kabar dari pimpinan
perusahaan untuk menempati pos baru sebagai manager di Bangkok. Untuk itu dia
harus terbang ke Hong Kong untuk wawancara akhir dari kantor pusat di Hong kong.
Perjalanan kini hanya untuk mendapatkan legitimasi posisi itu dari kantor pusat di
Hong Kong.
Setahun bekerja di Jakarta, dia merindukan bertemu dengan Yuni tapi tidak pernah
sekalipun dia bersua. Dari Yolanda, atasanya di kantor dia tahu bahwa Yuni sibuk
dengan bisnis yang lain. Setidaknya dia tahu bahwa Yuni bermitra dengan perusahaan
international, dan salah satunya adalah perusahaan tempat dia bekerja. Ada keinginan
untuk menelphone Yuni namun dia tak punya keberanian. Apalah dia. Setidaknya
pekerjaan ini sangat membuat dia merasa hidup kembali.
Pagi itu juga sahabat terbaiknya , Yolanda sudah datang kerumah untuk mengantarnya
ke bandara. Walau Yolanda atasannya di kantor namun hubungan mereka secara
pribadi terasa akrab bagaikan sahabat. Yolanda tak secantik Yuni tapi bagaimanapun
kepribadian Yolanda sangat sempurna. Dia seorang muslimah yang taat. Pandai
menjaga auratnya dan tak mudah melenggokan tubuh dan matanya kepada setiap pria.
Makanya tak banyak pria mampir dalam hidupnya. Mungkin kepribadian ini datang dari
lingkungan keluarganya yang sangat religius. Yolanda sabar untuk menjadi pendengar
yang baik dan memahami setiap sahabatnya dengan hatinya.
Sebelum mobil melaju ke Bandara, Yolanda memegang tangan Doni dan berkata “ Don,
Mari kita berdoa kepada Allah , semoga perjalanan mu selamat sampai tujuan. “
Doni menatap kearah Yolanda dengan tersenyum. “ Ibu Uztadz “ seru Doni dengan
tersenyum.’ Ini hanya penerbangan 4 jam tak lebih. Lagian pesawat yang aku tumpangi
adalah AirBus , pesawat tercanggih diabad ini. “
“ Ya aku tahu. Tapi kan engga ada salahnya berdoa, Don “
“ Ah, udahlah,,jalan aja. “
Yolanda hanya menghela nafas. Lambat laun Yolanda tahu sifat Doni sejak awal kerja
yang bersandar dengan logika kuatnya. Bagi Doni ritual agama membawa budaya
terbelakang. Membuat logika orang terpenjara akibatnya kebebasan berpikir terhenti.
Bila kebebasan berpikir terhenti maka kemajuan tidak akan pernah ada. Jangan
salahkan orang barat yang maju dan Indonesia yang terbelakang. Ini semua karena
budaya kita mengekang kita untuk maju. Demikian argument Doni dengan analoginya.
Yolanda tak mau berdebat lebih jauh. Dia hanya berdoa semoga Doni dapat menemukan
hidayah untuk lebih mengenal agama sebagai landasannya berpikir.. Itu saja.
Sesampai di Bandara, Yolanda masih mendampingi Doni sebelum boarding.
“ Masih ada waktu 1,5 jam lagi untuk bording. Kita ke Mc Donal dulu ya. Aku lapar ini”
Kata Yolanda. Doni mengangguk tanda setuju walau sebetulnya dia ingin segera masuk
ke check in agar bisa santai di lounge executive.
“ Kamu tahu Don” kata Yolanda “ Dua tahun setelah mendirikan perusahaan, Bu Yuni
ditipu oleh rekan bisnisnya, yang juga seorang pria. Dua tahun keuntungan habis dan
modal juga ludes karena harus menutupi hutang yang di akibatkan oleh rekan
bisnisinya. Bu Yuni sempat bunuh diri ketika itu” Sambung Yolanda.
“ Oh Ya..” Kata Doni.
“ Ya tapi untunglah cepat ditolong sehingga tidak sampai menyebabkan kematian.”
“ Mengapa Yuni sampai sebegitu nekatnya? Yang saya tahu, Yuni adalah wanita yang
tegar dan dak tidak mudah di kalahkan oleh keadaan apapun. “ Kata Doni mengingatkan
tentang wanita yang dulu dekat dengannya dan bisa tegar di tinggalkannya. “
“ Masalahnya perusahaan itu berdiri karena kepercayaan dari sahabatnya memberikan
modal. Padahal untuk mendapatkan kepercayaan itu dia butuh waktu 1 tahun lebih
meyakinkan dengan pengorbanan waktu dan asa di luar batas kemampuannya. Ketika
dia mendapatkan kepercayaan, dia sudah ada bayi perempuan dan suaminya
menceraikannya. Jadi pertolongan dari sahabatnya itu benar benar berkah yang harus
dia pertanggung jawabkan sebagai ujud terimakasih. Namun dia gagal mengemban
kepercayaan itu“
“ Apa? Yuni pernah menikah dan punya anak ?
“ Ya. “
“ Terus bagaimana kelanjutannya ?
“ Dia tak henti menyalahkan dirinya. Mengapa dia sampai tidak sadar kalau pria rekan
binsisnya hanya memanfaatkannya.? Dia tidak tahu bagaimana mempertanggung
jawabkan kerugian itu kepada sahabatnya? Namun tahukah kamu apa yang terjadia
kemudian? Sahabatnya dapat berhati lapang untuk menerima kerugian itu dan
mendampingi Yuni sampai kembali sehat. Setelah sehat, sahabatnya kembali memberi
modal agar dia berani memulai kembali dan belajar dari kegagalannya.
Saya mendampingi bu Yuni sejak pertama kali dia membuka usaha dan ikut bersama
dia melewati masa masa sulit merintis kembali setelah bangkrut akibat di tipu rekan
bisnisnya. Berkat kerja keras dan dukungan yang luar biasa dari sahabatnya,
perusahaan kembali bangkit dan akhirnya berkembang seperti sekarang. Bu Yuni sangat
disiplin dan pekerja keras. Karenanya dia tahu menghargai dan memberikan
kepercayaan orang yang pantas di percayanya, dan sebagai pribadi dia orang yang
berhati lembut dan pemaaf sekali. Tiga tahun lalu saya diangkat sebagai Dirut, karena
Bu Yuni mengambangkan bisnisnya di Vietnam dan China. Kendali perusahaan di pegang
oleh team yang anda di Hong kong. Jadi walau jabatan Dirut, saya hanya administrasi
saja”
“ Hebat sekali sahabatnya itu. Kamu kenal sahabatnya itu ?
“ Walau tahu namanya tapi tidak pernah bersua dengan sahabatnya"
“ Sahabat yang luar biasa. Pasti punya hubungan istimewa sehingga pria itu mau
berkorban apa saja untuk Yuni.”
“ Yang saya tahu, hubungan mereka hanya sebatas sahabat. Pria sahabatnya itu sudah
berkeluarga dan dia menghargai Yuni benar benar tulus sebagai sahabat. Yuni selalu
berpikir positip dengan siapapun dan dia siap hancur karena kesalahannya tapi tak
ingin orang hancur karena kesalahannya. Mungkin karena itu mudah bagi dia
mendapatkan sahabat sejati dan juga sahabat palsu. Pria yang mencintainya dengan
tulus dan yang memberikan cinta palsu adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Semua
itu bukan membuat dia lemah tapi justru membuat dia kuat dan berkembang karena
waktu. “
Tidak jauh dari tempat duduk mereka, eeorang wanita terhuyung dan akhirnya jatuh.
Dari pakaiannya , mereka tahu wanita ini adalah cleaning service. Yolanda bersegera
untuk membantu tapi Doni segera menahan tangannya “ Engga usah ikut campur. Biarin
aja orang lain yang bantu. “
“ Tapi Don, kita harus tolong” Kata Yolanda untuk segera menolong tapi tidak bisa
melangkah karena tangannya dipagut erat erat oleh Doni. Ketika itulah seorang pria
datang menghampir wanita itu. Dengan sigap pria itu meraba nadi wanita itu .
“ Dia hanya pingsan. “ Menatap kearah Doni dan Yolanda. “ Apakah kamu bisa bantu
uleskan minyak angin ini kepada wanita ini “ Sambung pria itu lagi. Yolanda sadar
bahwa pria itu tak ingin menyentuh lebih jauh wanita itu. Dari matanya , terkesan pria
itu berwibawa. Yolanda melepaskan pagutan tangan Doni dan segera mengambil
minyak angin dari tangan pria itu.
“ Usapkan kekeningnya dan hidungnya. Tekan yang keras dibalik betisnya. “ Kata pria
itu.
Yolanda mengikuti kata kata pria itu. Benarlah, setelah itu wanita itu membuka
matanya dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
‘ Adik masuk ingin. Tadi pagi engga sarapan ya “ Kata pria itu dengan lembut. Wanita
itu terdiam dan berusaha berdiri. Yolanda menuntun wanita itu berdiri. Yolanda
melihat pria itu membuka dompetnya dan memberi uang lembaran seratus ribu lima
lembar.
“ Terimalah uang ini. Cepatlah sarapan dan kalau bisa minta izin sama kantor untuk
pulang ya. Istirahat saja dirumah “ Kata pria itu. Wanita itu menerima dengan ragu
dan akhirnya airmatanya mengambang sambil berkata “ Terimakasih, pak. “ Wanita
itu berlalu.
Doni menyaksikan semua itu dengan tersenyum sinis “ Aku rasa hanya taktik belaka
dari wanita itu untuk dikasihani dan akhirnya dapat duit “
‘Don..” Yolanda menatap Doni dengan kening berkerut’ Kamu ngomong apa sih ? Engga
mungkinlah seperti dugaan kamu. “
“ Tapi kenapa begitu cepatnya dia siuman “
Yolanda kembali memperhatikan pria itu. Nampak penampilan pria itu sangat
sederhana. Tak ada aksesoris yang meyakinkan bahwa pria ini berasal dari kelas
menengah. “ Anda juga mau keluar negeri “ tanya Yolanda."
“ Ya.”
“ Kemana ?
“ Ke Hong Kong."
“ Oh , sama dengan teman saya ini. Dia juga mau ke Hong Kong. “ Kata Yolanda
menunjuk kepada Doni. Doni hanya tersenyum tipis atau lebih tepatnya acuh dengan
kehadiaran pria itu dimeja mereka. Entah kenapa Yolanda terkesan dengan pria itu.
Selama pembicaraan ,Doni hanya diam tanpa ada niat untuk menimpali pembicaraan
mereka. . Mungkin karena pembicaraan terkesan ringan.
“ Oh ya anda naik pesawat apa ?
‘ Saya naik CX “ jawab pria itu
‘ Eh, sama dengan teman saya ini? Kata Yolanda.
“ Tapi saya business class “ Jawab Doni cepat.
“ Ohh..saya economic class”
“ Oh ya “ Kata Doni.
‘ Ada urusan apa ke hong kong ? tanya Yolanda.
Pria itu tidak menjawab tapi hanya tersenyum.
Entah mengapa Doni segera berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada Yolanda
“ Aku harus segera boarding. “
“ Kan masih satu jam lagi “
“ Ya engga apa, lagian ngapain disini."
“Silakan duluan. Saya nanti saja. Karena saya masih tunggu seseorang. “Pria itu dengan
sopan memberikan kartu namanya kepada Doni dan Yolanda sebelum mereka berpisah.
‘ Senang bertemu dengan anda” Kata pria itu menatap Yolanda. Yolanda melirik kartu
nama itu. Namanya : Andi Chan.Tak ada gelar. Tak ada nama perusahaan dimana dia
bekerja. Ini hanya kartu nama pribadi yang memuat informasi soal nama dan alamat
email serta telp. Ketika melintasi tempat sampah, Yolanda melihat Doni membuang
kartu nama itu.
“ Kenapa dibuang Don, Pertemuan itu kan rahmat Allah. “
Yolanda hanya menghela nafas. Pria itu memang gagah tapi terlalu sederhana. Tapi
Yolanda tidak bisa melupakan wajah teduh pria itu. Sikapnya yang sopan dan responsip
dengan situasi yang membutuhkan pertolongannya. Tak ragu menyapa dan memberikan
kartu nama. Ini pria baik baik. Dia hanya butuh kepatutan untuk saling menghormati.
Tapi apa yang dia perbuat kepada pria itu. ? Diapun tak memberikan kartu namanya.
Tak pula memperkenalkan diri. Dia larut dengan sikap Doni terhadap pria itu. Semoga
pria itu dapat memaklumi sikapnya. Demikian Yolanda berdoa didalam hati.
Sesampai di Hong Kong, Doni kembali bertemu pria itu di kuridor bandara. Pria itu
berusaha tersenyum tapi Doni segera memalingkan wajahnya. Pria itu surut untuk
mendekati Doni.
***
Suasana ruang tunggu direksi itu memang nyaman karena menghadap jendela untuk
bisa menikmati panorama hong kong. Dia agak terkejut karena dari bayangan kaca
jendela itu dia melihat ada pria yang berjalan melintasi ruang tunggu itu. Dia ingin
menoleh kebelakang tapi segera diurungkannya karma pria itu adalah pria yang
bertemu dengannya di Bandara. Dia yakin sekali. Walau pria itu berpakaian rapi dengan
stelan jas namun wajah dan matanya , tak berubah. Pria itu melangkah cepat dan
menghilang dibalik pintu pemisah ruang sebelum Doni menyapanya.
Dia berpikir keras. Benarkah yang tadi dilihatnya adalah pria yang ditemuinya di
Bandara. Yang menolong seorang wanita cleaning service. Tapi mengapa dia ada disini.
Apa hubungannya dengan kantor ini? Ditengah kebingungan itulah dia dikejutkan oleh
sekretaris yang menyediakannya secangkir teh
“ Boleh saya tahu. Tadi yang barusan masuk kedalam siapa ? Tanya Doni kepada
Sekretaris itu.
“ Oh Itu. Dia salah satu pimpinan disini.
“ Pimpinan ?
“ Ya, Pimpinan regional untuk Asia Tenggara “
Tak berapa lama , Doni di minta masuk kedalam untuk bertemu dengan pimpinan.
Betapa terkejutnya, di hadapan nya kini adalah Yuni. “ Hi Don, selamat datang di Hong
Kong. Saya dengar dari Yolanda kerja kamu bagus di Jakarta. Sekarang kamu siap untuk
pegang pabrik di Bangkok. ‘ Doni hanya diam mematung. Dia terpesona dengan sikap
Yuni yang begitu ringan.
Inilah Hong Kong, semua dilakukan dengan cepat , tepat waktu, tanpa bertele tele.
Tak terlalu lama basa basi ketika bertemu. Langsung kepokok persoalan. Tak lebih 15
menit pertemuan itu dan selesai. Sekretaris perusahaan memberinya berbagai
dokumen untuk dipelajarinya.
Sebelum pergi Doni, di perkenalkan oleh Yuni dengan seseorang. Pria berusia tak lebih
50 tahun. Nampak berwibawa. “ Ini kenalkan boss saya, Don. “ Kata Yuni. “ Uda, ini
pria yang aku pernah ceritakan ke Uda. Namanya Doni.” Kata Yuni dengan ramah penuh
hormat kepada pria itu, sambil melirik kearah Doni.
“ Siapa boss dia sekarang?
“ Andi Chan.” Kata Yuni.
“ Oh Andi, yang baru bulan lalu pegang posisi Asia Tenggara.” Kata Pria itu “ Doni
Selamat bertugas ya. Kerja yang baik ya untuk Pak Andi. “ sambung pria itu singkat.
Sambil melempar tersenyum pria itu berlalu ke ruang lain. Mungkinkah pria itu yang
di ceritakan Yolanda yang merupakan sahabat Yuni, yang sangat baik kepada Yuni.
***
Lebih setahun dia bertugas di Bangkok dan tak satu kalipun dia berkesempatan
bertemu Yuni lagi. Doni ingin sekali untuk bertemu kembali dengan Yuni. Dia ingin
meminta maaf atas sikapnya yang pernah melukai Yuni di masa lalu. Setidaknya dia
ingin dekat dengan Yuni untuk belajar banyak demi karirnya. Tapi bukan itu saja, dia
menginginkan lebih. Apalagi yang diharapkan oleh setiap pria kecuali wanita cantik ,
cerdas dan pengusaha. Dia merasa pantas untuk mendapatkan itu. Karena dia merasa
Yuni masih mencintainya.
Setiap malam dia tak henti memikirkan Yuni. Bayangan petemuan di Hong Kong masih
lekat dalam memori otaknya.. Wanita yang tahu menempatkan dirinya secara pantas
dimanapun dia berada. Ramah dan mau berbagi dalam situasi apapun. Tak sombong
dan rendah hati bersikap maupun berbuat. Juga wanita yang tangguh berkompetisi
secara global dan ditempatkan secara terhotmat sebagai mitra global berkelas dunia.
Doni sadar , ketidak tertarikannya kepada Yuni dulu itu hanya karena sikap
kekanakannya dalam menentukan pilihan. Ternyata sikap kekanakannya telah
menipunya. Sekali lagi dia ingin bertemu dengan Yuni secara pribadi dan memohon
maaf akan sikapnya. Tapi kesempatan itu tak pernah datang. Dia sibuk dan egonya tak
mengizinkannya untuk menghubungi Yuni kecuali menanti suatu saat akan bertemu.
Sejak itulah dia menanti dan menanti sebuah asa ditengah usia yang terus memanggal.
***
Yolanda langsung menjabat Doni ketika mereka betemu di sebuah cafe
“ Hampir setahun ya kita engga ketemu. Kamu susah sekali dihubungi. Sibuk terus ya
setelah jadi boss “ Kata Yolanda.
“ Ya begitulah. Maafin aku ya . Karena berkali kali kamu kirim SMS aku engga pernah
sempat bales. Bahkan emailpun aku engga sempat bales. Tapi aku tahu kamu engga
akan kecewa dengan sikapku. Karena hati kita sebagai sahabat selalu menyatu walau
tanpa berkomunikasi. Ya kan “
“Aku selalu memaklumi kamu , Don, Selalu.. “
Yolanda menatap mata Doni agak lama. “ Ada apa sich kamu ? Aku masih Doni yang
dulu kamu kenal. Here I am..” Kata Doni
“ Bu Yuni akan menikah bulan depan. Dia ingin kamu jadi ketua panitia acara resepsi
ku. Hanya kamu sahabanya. Maukan.” Kata Yolanda dengan tenang dan menanti reaksi
Doni."
“ Tunggu sebentar. Soal jadi panitia itu soal gampang. Aku siap. Tapi soal menikah ini,
“ Kata Doni dengan mata agak melotot “ ini benar serius. “
“ Ya serius."
“ Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau Ibu Yuni sudah punya pacar. Kok mendadak
begini “ Kata Doni. Terasa langit runtuh menimpa tubuhnya. Yuni tidak pernah
mencintainya lagi. Mengapa Yuni membantunya kalau tidak mencintainya?
“ Buka email yang pernah aku kirim. Ketahuan kamu engga pernah baca emailku. Ya..”
Doni terkejut.
“ Saya bersahabat lama dengan Yuni. Saya tahu betul masa lalunya, juga dengan kamu.
Saya cerita semua lewat email tentang pria yang akan menjadi suami Yuni. Tapi kamu
tidak pernah response. Padahal ketika itu dia butuh dukungan moral dari mu sebagai
pria yang pernah dia cintai. Akhirnya dia harus melewati itu semua dengan
menyerahkan segala urusan kepada Allah. Dia bersandar kepada Allah manakala dia
tak mendapatkan respect dari kamu, padahal dia hanya butuh dukungan moral kamu
sebagai pria yang pernah bersemayam di hatinya. Dia anggap kamu sebagai
sahabatnya”
“ Mengapa Yuni tidak bicara langsung ke aku. Mengapa harus melalui kamu?
“ Begitulah cara dia bersikap terhadap pria yang pernah dia cintai.Tidak mudah di
pahami perasaan wanita ketika dia pernah terluka dan akhirnya harus berdamai. Suka
tidak suka kamu pernah hadir dalam hidupnya dan itu meninggalkan jejak yang tak
mudah di hapus. Setidaknya dia masih menaruh kepercayaan bahwa kamu bisa
berdamai pula dengan masa lalu atas kebaikan demi kebaikan yang dia beri. Dia hanya
ingin menjadi sahabat mu , dan itu dia harapkan dukungan di saat dia harus mengambil
keputusan penting dalam hidupnya.”
Doni terhenyak. Terasa tertampar wajahnya dengan fakta di hadapanya. Dia malu
dengan sikap hidupnya.
Sesampai dikantor , Doni membuka file mail box dari Yolanda. Ketika dia membaca
email tersebut jantungnya terasa berhenti. Dia hampir tidak percaya. Dia sangat
mengenal pria itu walau hanya dua kali bertemu. Pria itu adalah Andi Chan, pria yang
dia temui di Bandara yang sangat rendah hati, yang kini akan menjadi suami Yuni. Doni
teringat peristiwa setahun lalu ketika bertemu pria itu.
Ya , berkat kesabaran Yuni melewati waktu akhirnya mendapatkan pria yang pantas
untuk mendampingi hidupnya. Pria yang rendah hati , cerdas dan tangguh bertarung di
kancah international. Wanita baik baik akan mendapatkan pria baik baik pula. Dan Yuni
bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat di hadapan Doni. Sahabat terbaik adalah
yang tak pernah menilai sikap sahabat tapi memakluminya dan memaafkannya. Selagi
kita berharap orang lain menghormati kita karena apa yang kita beri dan perbuat maka
selamanya kita tidak akan pernah menjadi sahabat bagi siapapun. Karena kita hanya
mencintai diri kita sendiri…***
Kembalinya cinta yang hilang
Beberapa bulan setelah pernikahan Yuni, Doni masih merasa berada di ruang gelap.
Sesal tak bertepi. Makanya dia berusaha mencari cahaya lain. Seperti biasa setiap sabtu
malam menghabiskan malanya di café di kota Bangkok. Ia datang bersama senja, dan
ia harus menunggu malam tiba untuk bertemu pramuria langganannya . Namanya Meri.
Wanita berkulit kuning, kali pertama bertemu langsung ke cemplung dalam lautan dan
terbang ke langit menggapai bintang. Mudah tapi terlalu murah.
Semua orang berada dalam kafe diam-diam memperhatikannya. Mereka bergumam
bahkan pura-pura seperti tidak memperhatikannya. Mereka duduk, berbincang dengan
bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa
mereka peragakan selama ini. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang,
mengenakan rompi, berdasi kupu-kupu, dan rambut yang di cat diam-diam juga
memperhatikan. Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu, baru kali ini ada
pelanggan yang hanya menanti satu pramuria yang sama. Padahal banyak sekali pilihan
kalau dia mau.
“ Madam Kram!” Teriak pelayan melalui hape nya “ Cepat bawa kemari Mari. Tamunya
datang. “
“ Semoga dia bisa datang,” katanya.
“ Semua tamu sudah bosan degnan pramuria itu. Mengapa anda masih suka dia? Bahkan
dia termasuk akan di keluarkan dari kafe ini karena seminggu hanya satu tamu yang
pesan, dan itu hanya anda. “
“ Emangnya kenapa saya?
“ Anda bersama pramuria itu hanya memesan kopi. Apa untungnya kami ?
Pelayan itu pergi berlalu.
“Iyalah, pramuria seperti itu merusak suasana café ini” Kata salah satu pengunjung yang
sempat dia dengar. Doni bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya.
Apakah ia akan selalu bersama pramuriw di café ini, berbicara sambil mengelus wajah
pramuria itu , yang hanya bisa jadi pendengar yang baik tanpa pernah menyelanya.
Ia teringat ketika memperhatikan pramuria yang ada di sampingnya, wajah yang tak
menyiratkan semangat kecuali pasrah dan kalah. Seperti melihat siluet rumah mungil
di latar cahaya bulan. Remang namun pernuh imajinasi. Setidaknya wanita itu bisa
seperti apa yang dia mau. Ia senang dekat dengan wanita itu, dingin tapi panas, panas
tapi dingin, segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya.
Seminggu kemudian, dia memasuki kafe itu, dan menyebut nama Meri untuk
mendampinginya.
“Panggilkan Meri,” katanya.
Para pelayan saling berpandangan.
“Oh, Meri sudah tidak bekerja lagi tuan. Seorang pria telah membawanya.”
Doni terpana.
“Apakah Tuan tidak memperhatikan, sudah tidak ada photo Meri di dinding itu?”
Doni tersentak.
“Siapa laki laki yang malang itu?”
“ Mengapa Tuan bilang malang?
“ Hanya pria malang yang suka dengan wanita seperti Meri”
Para pelayan saling berpandangan. Salah seorang pelayan menjelaskan ciri-ciri pria
yang telah membawa membawa pergi Meri
“Ah, Apa sih yang dia harap dari wanita itu? Apakah dia menikahi Meri?”
Para pelayan saling berpandangan lagi.
“Tidak Tuan…”
“Jadi?”
“Meri tidak mungkin menikah…”
“Mengapa ….”
“Maaf, karena Meri bukan wanita sesungguhnya. Dia WARIA.”
“Maksudmu?”
“Dia sesungguhnya pria yang berpenampilan Wanita.”
“Tapi sempurna sekali?”
“Ya Tuan...”
Para pelayan di kafe itu teringat, betapa Doni mengaduk-aduk mulut Meri, bahkan
menyeruput , tapi tidak menyentuh ketempat lain. Setelah itu Doni hanya
memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengelus wajah Meri sang WARIA.
Pria yang terkesan pintar sebetulnya bodoh. Demikian pendapat pelayan dan juga
pengunjung café memandang kepergian Doni dengan wajah keruh. Namun, ia merasa
bagaikan kiamat sudah tiba. Agak malu juga sebetulnya.
"Aku tidak sesial dirku sebenarnya" Kata nya berguman.
Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana istrinya pergi dari rumah
karena bisnis yang bangkrut dan tidak pernah sabar menerima keluhan istri. Ada juga
digelandang dan diarak keliling kampong karena kepergok bermesum dengan janda
beranak 5. Tidak sedikit wanita yang berprofesi dengan kutukan jalang yang menjual
kapling alat kelaminnya sambil menyanyi dan menari, padahal ia adalah korban dari
kebanyakan kebohongan pria. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik meskipun
tidak mempunyai kesalahan samasekali. Tanpa pembelaan sama sekali. Tanpa
pembelaan. Tanpa…
Doni sadar. Dia merasa berjalan tapi sebetulnya dia tidak kemana mana. Tidak ada yang
salah dengan hidupnya. Yang salah adalah sikapnya terhadap hidup. Mungkin dia harus
belajar dari kepergian Yuni yang terluka namun tetap semangat dengan prasangka baik.
Mungkin dia juga harus belajar dari mantan istrinya yang lebih mencintai orang tuanya
daripada dirinya. Mungkin dia harus belajar dari Yolanda walau jomblo di usia kepala 4
tetap berprasangka baik tanpa kehilangan rasa hormat. Lantas, apakah dia tidak bisa
belajar dari semua ini? Tanpa harus mengutuki masa lalu untuk berdamai dengan
kenyataan , dan berubah menjadi sebaik baiknya manusia yang selalu berjalan di jalan
Tuhan.
***
Yuni dapat menerima aturan holding company bahwa dia harus keluar dari perusahaan
sebagai eksekutif. Karena memang tidak di benarkan suami istri berada di satu group
perusahaan. Namun sahabatnya tetap tidak mengeluarkan nya sebagai pemegang saham
salah satu perusahaan yang ada di Indonesia. Walau dia tahu bahwa itu hanya golden
Share yang di dapat dari kebaikan hati sahabatnya yang juga sebagai pemegang saham
utama di holding company. Baginya keluarga lebih penting. Dia memilih tinggal di
Jakarta agar ada waktu lebih banyak dengan putrinya yang sedang tumbuh remaja.
Andi memang sibuk sekali. Karena dia memimpin perusahaan yang tersebar di Asia
tenggara. Waktu kebersamaan memang kurang namun selalu ada komunikasi. Kalau
Yuni merindukan , dia bisa kapanpun bertemu Suaminya. Mereka punya rumah di
Singapore, KL dan Bangkok. Andi memang berkah yang tak ternilai dari Tuhan untuk
hidupnya. Suami yang penyabar dan penuh kasih. Suaminya sangat taat beragama dan
karenanya Yuni merasa bahagia ketika suaminya dengan sabar menuntutnya memahami
agama . Dia semakin giat memperdalam agama. Ada kesejukan ketika dia samakin
paham akan nilai nilai agama.
Tek terasa telah 9 bulan pernikahan mereka. Hari harinya juga disibukkan dengan
kegiatan sosial yang di prakarsai oleh Yolanda. Hidup terasa sempurna sebagai wanita
menjelang usia 40. Punya suami yang penyayang dan perkerja keras. Punya putri yang
cantik dan pintar. Punya kehidupan sosial yang menyenangkan. Beribadah pun tenang.
Rasa syukur tak bertepi, yang senantiasa di ikrarkan disetiap sholatnya.
Siang itu Yuni dapat Telp dari suaminya " Mah, aku mau pulang. Jenput aku ya di
bandara. Insya Allah malam aku udah sampai di rumah". Kata pulang itu selalu membuat
dia bahagia. Karena itu artinya dia bersama suaminya walau sesaat.
Ketika menjelang tidur, dengan mesra suaminya berkata " Sayang, boleh aku bicara "
wajah suaminya begitu dekat , dengan senyum penuh kasih.
" Ada apa bang ?
Suaminya terdiam sebentar. Seakan ada sesuatu yang sedang di pikirkan.
" ada apa?
" Izinkan aku menikah lagi ? Kata suaminya dengan tenang. Dia bangkit dari tidurnya.
Sambil duduk di perhatikannya wajah suaminya. Apakah ini hanya Joke? Ah tidak. Ini
serius. Suaminya mengangguk untuk meyakinkan bahwa apa yang barusan di katakan
adalah serius.
" Mengapa ? Dengan siapa ?
" Aku engga bisa membiarkan hubungan dengan dia terus berlanjut tanpa ikatan Syah di
hadapan Allah. Bukankah kamu tidak ingin abang melakukan perbuatan zina yang di
murkai Allah. Ya kan?
" Siapa dia itu ?
" Staf aku di Kuala lumpur.. wanita muslimah dan ikhlas kok di jadikan istri kedua"
Terasa seperti halilintar menyambar tubuhnya. Benarkah ini sebuah kenyataan ? Apakah
ini hanya mimpi ? Oh Tuhan, jangan biarkan ini terjadi. Terlalu cepat kebahagiaan
berlalu.
" Apa salah ku Bang ?
" engga ada yang salah dengan mu. Kamu tetap yang pertama dan tersayang bagiku.
Izinkan aku menikah dengan ikhlas?
" abang ..abang tega sekali. Abang engga sayang dengan aku " Yuni tak sanggup
meneruskan kata katanya.
" Abang sayang sekali dengan kamu Yun. Pernikahan kedua ini adalah kunci sorga untuk
mu apabila kamu ikhlas. Abang hanya melaksanakan sunah rasul. Dan lagi abang mampu
untuk itu. Abang ingin kelak kita berkumpul lagi di sorga, ya sayang "
Yuni hanya diam tanpa ingin berdebat lagi. Dia tak mungkin merubah sikap suaminya.
Malam itu dia tidak bisa tidur. Menjelang subuh dia beranjak dari tempat tidurnya untuk
melaksanakan sholat malam. Dalam rintihan dia berdoa kepada Allah.
" Ya Allah begitu banyak nikmat yang telah engkau berikan Padaku, rasanya aku tak
pantas berkeluh kesah dengan hidupku. Kuatkan aku ya Rabb dalam kelemahanku
sebagai manusia. Dengan iman yang dangkal ini rasanya aku tidak pentas mendapatkan
Sorgamu namun untuk merasakan neraka Mu pun aku tak sanggup. Tempatkan lah aku
dalam rahmat-Mu , belas kasihanilah aku atas segala takdir yang telah engkau tetapkan.
Amin Ya Allah "
Pagi pagi dia menyediakan sarapan pagi untuk suaminya. Dengan tenang dia berkata "
Abang memang berhak menikah lagi dan itu memang di benarkan oleh agama. Aku ingin
mendukung itu karena sayangku kepada abang. Tapi maafkan aku abang... Iman ku
sangat dangkal untuk menerima kenyataan ini. Mohon aku di ceraikan saja. Aku lebih
ikhlas memberikan ke sempatkan abang menikah lagi dengan wanita lain tanpa aku
harus diduakan. Kalau karena itu aku kehilangan sorga, biarlah.., semoga Tuhan
mengampuni dosa ku..,"
***
Seminggu suaminya di Rumah, selama itu Yuni berusaha membuat suaminya nyaman.
Kewajibannya sebagai istri seperti menyediakan sarapan pagi dan lain lain di laksanakan
dengan baik. Hanya saja dia sulit untuk bisa tersenyum seperti dulu kepada suaminya.
Bahkan ketika Andi berusaha mencairkan suasana dengan mengajak makan malam, Yuni
tetap tidak bisa tersenyum indah. Semua telp dari luar , pesan singkat dari temannya
tidak direspons nya. Dia hanya ingin sendiri menghadapi masalahnya selagi suaminya
ada di rumahnya. Ini antara dia dan suaminya. Selanjutnya ini antara dia dengan Tuhan.
Poligami itu bersanding dengan kesanggupan suami berlaku adil. Sementara keadilan
itu hanya milik Allah, bukan milik manusia. Manusia hanya berusaha mendekati keadilan
namun upaya itu tidak akan pernah purna. Merasa sanggup berlaku adil adalah
kesombongan di hadapan Tuhan. Karena Allah dengan tegas mengatakan …"Dan kamu
sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat
ingin berbuat demikian …(An-Nisa 129).Mungkin bisa saja poligami di lakukan asalkan
ada kemauan wanita mau berkorban dengan ikhlas di perlakukan tidak adil sehingga
tidak membuat suaminya mengenggam bara.
Yuni tidak merasa mampu di perlakukan tidak adil. Karena dia masih mampu
mendelivery kewajibannya sebagai istri. Dia sehat dan tak kurang apapun sebagai istri.
Wanita yang akan dinikahi suaminya itu bukanlah wanita yang harus di tolong seperti
Rasul menikahi istri istrinya. Ini lebih karena suaminya hanya ingin mencari jalan pintas
menyelamatkan libidonya yang tak bisa di bendung. Beriman tapi takut menghadapi
cobaan libido yang besar. Iman tanpa cobaan adalah praktik beragama yang egois.
Inilah hidupnya.. Yuni tidak menyalahkan Andi sebagai suami. Tidak menyalahkan
takdirnya. Dia harus tegar bersikap atas pilihannya. Berat tapi hidup harus terus
berlanjut. Ketika mengantar suaminya ke Bandara, suaminya berkata “ Mah, aku beri
kamu waktu berpikir sebulan untuk bersikap. Apapun itu tidak akan menghalangi aku
untuk menikah lagi karena aku hanya patuh akan firman Allah.
“ Abang, tidak perlu tunggu sebulan. Sikap ku sudah jelas dan tidak akan berubah.
Ceraikan aku, please. Tolong jangan tunda sebulan. Bukankah ini bagi abang , bukan
salah atau benar. Ini soal keyakinan abang dalam beragama. Lakukan itu tanpa ragu dan
biarkan aku keluar dari hidup abang. Ya…abang sayang. Selanjutnya kita tetap akan
bersahabat. Abang dengan hidup abang dan aku dengan hidup aku”
“ Yun…menikah itu adalah ibadah, Semua karena Allah, bukan karena manusia. Maklumi
sikap abang ya bila harus menikah lagi”
“ Sangat maklum, my dear. Lakukan secepatnya. Jangan ditunda lagi. Ceraikan aku dan
aku akan baik baik saja..”
“ Yuni tidak pernah mencintai abang ya? Andi berusaha mengingatkan tentan cinta yang
dulu pernah Yunin ikrarkan ketika ingin di nikahi.
“ Abang adalah harapanku dan pelabuhan terakhir ku untuk menemukan Cinta Tuhan.
Tapi aku sadar, inilah cara Tuhan untuk mendidikku bahwa aku memang berhak atas
hidupku tapi aku tidak berkuasa menentukan apapun, apalagi menentukan apa yang
seharusnya orang lain lakukan terhadapku. Abang..cinta itu adalah melepaskan sesuatu
yang pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya. Mungkin itulah kehendak
Tuhan untuk aku hanya bergantung kepada Tuhan, bukan kepada manusia yang mengaku
pembawa kunci sorga…Maafkan aku..
Andi terpana dengan sikap Yuni. “ Baiklah secepatnya aku urus perceraian kita…”
“ Terimakasih bang. “
Ketika Andi melangkah pergi hendak masuk ke gate…Yuni memanggil “ Abang..” Andi
berbalik. Yuni berlari memeluk suaminya lama sekali , dan berbisik “ Cintai wanita itu,
jangan perlakukan dia sama dengan Yuni ya. Walau aku masih punya power sebagai
pemegang saham, tapi aku tak akan gunakan power itu untuk menghabisi karir abang.
Baik baik selalu ya sayang. Terimakasih telah memberikan kesempatan Yuni untuk
mencintai Abang walau hanya sesaat..”
Yuni segera berlalu untuk pulang “ Mama kenapa nangis” Kata putrinya ketika Yuli
masuk ke dalam kendaraan.
“ Mama sayang Yuli..sayang sekali. Ayo peluk mama …” Yuli memeluk mamanya. Yuni
merasakan dekapan Tuhan terhadap dirinya. Betapa masih ada kebahagiaan yang akan
selalu menyertai hidupnya ..dan Yuli adalah sumber kebahagiaan itu..Yuli adalah
sumber kekuatan yang di titipkan Tuhan kepadanya.
***
Yuni menghubungi Burhan via Telp.
" Yes. Yun. "Sahut Burhan.
" Where are you now ?
" Jakarta ?
" Oh. Can I meet you. may I ..
" OK. Afternoon ya. Where ?
" Di rumah Yuni aja ya. Yuni masak kesukaan Uda. Gimana? Yuli kangen Uda.."
" Yun...
" Uda. Datanglah. Aku sudah bercerai dengan Andi."
" Hah " Burhan terkejut. " kenapa "
" Nanti aku ceritakan di rumah."
" Ya Udah. See you ya."
Karena memang Burhan tidak pernah datang ke rumah sejak Yuni menikah. Kalaupun
ketemu lebih banyak di luar bersama Yuli. Tapi itu jarang sekali. Padahal sebelum
menikah Burhan tidak keberatan datang kerumah Yuni. Itulah sikap bijaksana Burhan
sebagai sahabat. Yang tahu memperlakukan sahabat secara patut.
Yuni tidak tahu apakah harus bicara penyebab perceraiannya. Karena selama ini Yuni
tidak pernah bercerita soal kehidupan rumah tangganya dengan Burhan. Padahal Burhan
adalah sahabat terbaik yang mengangkat nya dari keterpurukan dan memberikan
kesempatan dia bangkit dari kebangkrutan akibat kebodohannya.
Dia teringat awal berjumpa dengan Burhan. Ketika itu dia menawarkan voucher hotel
ke Burhan yang duduk di Lounge executive hotel. Burhan tidak begitu tertarik dengan
tawarannya namun sikapnya yang ramah dan mau mendengar membuat Yuni punya
keyakinan dia bisa sukses sebagai salesman. Burhan memberinya kartu nama. Seakan
memberikan isyarat bahwa dia punya kesempatan untuk menghubungi Burhan lagi.
Akhirnya benarlah mereka bisa bersahabat walau Burhan tidak pernah membeli apapun
yang dia tawarkan.
Selama setahun lebih persahabatan itu terjalin walau tidak sering bertemu namun di
saat bertemu dia terasa mendapatkan pencerahan secara spritual tentang apa yang
harus dia lakukan. Dia tidak tahu apa pekerjaan Burhan. Karena dia memang tidak
pernah bertanya. Setiap pertemuan Burhan selalu memperlakukannya secara
terhormat. Walau kadang bertemu di tempat berkelas namun tanpa ada sedikitpun
kesan menggoda.
Sampai suatu saat dia menghadapi prahara karena suaminya menceraikannya dan
mengusirnya dari rumah tanpa bekal apapun dan tidak punya uang untuk tinggal
bersama anaknya yang masih kecil. Semua teman di hubungi untuk minta tolong tapi
semua hanya punya alasan. Namun ketika dengan berat dia menghubungi Burhan, kesan
yang dia terima sangat melegakan. Karena masih di luar negeri, Burhan mengirim orang
untuk membantunya. Benarlah hari itu juga dia bisa tinggal di apartemen di kawasan
elite dan di beri uang saku yang lebih dari cukup sebulan untuk hidup. Sehingga dia bisa
menata kembali hidupnya.
Sebulan kemudian barulah dia bertemu Burhan di sebuah Cafe. Burhan mendengar
dengan seksama ceritanya.:
" Sejak suami saya nganggur, saya kerja apa saja. Tapi hanya kerjaan sebagai sales free
lance. Tentu kerjaan itu tidak memberikan penghasilan pasti. Suami saya marah besar
karena hutang yang saya gali untuk bayar kontrakan dan makan. Dia anggap pekerjaan
saya sia sia dan tidak serius membantunya. Bahkan menimbulkan masalah hutang. Ini
memang salah saya. Tapi mau gimana lagi. Saya sudah berjuang dengan sekeras
kerasnya. Hasil tak seberapa. Malah kadang harus sabar kalau sampai di goda calon
konsumen pria hidung belang. " kata Yuni dengan air mata berlinang. Burhan
memberinya tissue untuk mengusap air matanya.
" Saya capek Pak. Berilah saya pekerjaan apa saja. Yang penting halal. Jangan saya di
tolong yang engga mungkin saya bisa membalasnya." Sambung Yuni.
Burhan meminta dia bersabar. Empat bulan kemudian Burhan memberinya kesempatan
mengelola usaha coldstorage. Usaha itu hanya menampung ikan dari nelayan dan
kemudian di packing untuk di ekspor. Akses pasar di beri, juga modal. Namun dia harus
bekerja keras menjalankan bisnis process dengan benar. Dia terima tawaran itu dengan
suka cinta dan tentu penuh tanggung jawab. Selama mengelola usaha itu , Burhan
dengan sabar membinanya , yang kadang terkesan kasar namun tetap rasional untuk dia
belajar dari process yang ada.
Benarlah usaha itu berkembang. Dan setahun sudah punya empat coldstorage. Diapun
semakin gila kerja agar semakin besar mendatangkan laba. Setelah itu , burhan
memberinya golden Share. Kepercayaan itu semakin besar di berikan kepadanya.
Mungkin karena itu dia terjebak oleh penipuan dari mitranya yang sehingga dia harus
menanggung kerugian. Modal dan cadangan laba habis begitu saja. Dia benar benar
hancur dan merasa bodoh sekali. Yang sulit dia maafkan adalah dirinya karena tidak
bisa memegang amanah dari seorang pria yang begitu tulus memberikan peluang
baginya untuk berkembang. Padahal Burhan, sudah anggap dia sebagai sahabat atas
dasar trust dan sincerity.
Namun Burhan bisa menerima kenyataan itu dan meminta dia untuk bangkit lagi dari
kegagalan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Benarlah. Setelah kegagalan
itu , dia bisa bangkit , bahkan lebih besar. Namun kendali perusahaan tidak lagi
sepenuhnya di tangannya. Kebijakan utama bisnis di tentukan oleh perusahaan Burhan
yang bermarkas di Hong Kong. Barulah dia tahu siapa sesungguhnya sahabatnya. Dia
semakin bersyukur dan semakin tinggi rasa hormat. Bukan karena bisnis Burhan tapi
sikap rendah hati dan jiwa Yang lapang menghadapi masalah dengan penuh prasangka
baik.
***
Sore hari , benarlah Burhan datang ke rumahnya. Yuli cepat berlari ke teras dan minta
di gendong. Nampak sekali akrab. Padahal Yuli jarang bertemu Burhan tapi mungkin
ketulusan sikap kebapakan Burhan membuat Yuli seperti punya ayah kandung. Burhan
juga bisa membuat Yuli senang. Bahkan kalau Burhan datang ke rumah , waktunya lebih
banyak dengan Yuli. Burhan baru pulang kalau Yuli sudah tidur. Beda sekali dengan Andi
yang nampak acuh dengan Yuli. Apalagi ayah kandung Yuli yang sepertinya tidak pernah
merindukan anak kandungnya sendiri.
Seusai makan malam, Yuni bicara dengan Burhan di ruang nonton TV dan Yuli tertidur
di pangkuan Burhan.
" Uda, sekarang aku sendiri lagi... Udah nasip ya Uda "
Burhan menatap Yuli. Nampak berkerut kening. Kemudian berdiri menggendong Yuli
untuk di tidurkan di kamar. Setelah kembali dari lantai atas, Burhan berjalan ke teras.
Duduk disana. YUni duduk dekat Burhan. Tak ada suara apapun. Lama hening. Akhirnya
Burhan bicara juga
" Sabar ya Yun. Jodoh itu kehendak Tuhan. Usia jodoh pun Tuhan yang tentukan. Soal
penyebab itu engga penting. Esensinya kamu sedang di uji. Jadi sabar ya" Kata Burhan
menatap Yuni dengan wajah penuh empati. " tapi seharusnya dari awal kamu cerita
kepada ku. Setidaknya aku bisa bantu menyelamatkan perkawinan mu. Tapi sudahlah.
Itu sudah terjadi. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan ?
" Boleh aku aktif lagi di perusahaan"
" Boleh. Kapan saja. "
" Di mana ?
" Vietnam. Ho cin Min. Kamu bantu pengembangan bisnis elektronik di sana. "
" Tapi itu artinya di bawah Andi"
" Kan Andi akan di geser ke Ukraina.
" Mengapa?
" Kita ada proyek insfrastruktur kerja sama dengan China di sana. Andi orang yang cocok
untuk tugas itu"
" Oh...Uda, boleh aku usul ?
" Ya apa?
" Gimana usaha yang sekarang di pegang Yolanda, di Jakarta di keluarkan dari group di
Hongkong"
" secara kepemilikan memang tidak ada hubungannya dengan Hongkong Perusahan kamu
itu. Hanya aku minta group bantu management cash flow dan marketing. Jadi mau kamu
gimana?
" Aku kan ada saham di sana. Walau kecil tapi aku ingin mendiri Uda. Beri kesempatan
aku sekali ini. "
" Apa rencana kamu ?
" Aku mau ambil alih pengolahan jelyfish yang punya grup di Thailand. Bukankah 80%
bahan mentah jellyfish nya dari perusahaan ku di Jakarta. Kan lebih efisien bila aku
ambil alih. Aku juga bisa bangun lagi di China untuk mendekati pasar. Korea juga sudah
tawarin untuk buka pabrik di sana. Kalau maju kan Uda juga yang untung. Kan pemegang
saham mayoritas Uda.
" Dari mana kamu punya uang beli perusahaan di Thailand ? Kamu kan tahu group bukan
hanya aku sendiri pemegang saham."
" Aku pinjam pribadi ke Uda. Jaminannya ya saham aku yang ada si Jakarta. Kalau aku
gagal ambil saham aku semua. "
" Emang berapa nilai saham kamu itu ? Engga akan cukup beli perusahaan di Thailand"
" Uda.... Please. "
Burhan melihat wajah Yuni nampak memelas. Burhan hanya tersenyum
" Eh kalau engga salah. Yang pegang Perusahan di Thailand itu kan Doni. Kamu masih
cinta mati dengan dia?
" Doni, urusan uda. Kirim ke Papua New Guinea aja. Kan Grup punya bisnis di New
Guinea"
" Kenapa engga kerja sama kamu aja. Kan kerjanya bagus"
" Aku mau kelola sendiri. Uda ... Please"
Burhan hanya tersenyum.
" Uda... Please
Burhan melirik jam dan akhirnya permisi untuk pergi karena ada urusan lain. Sebelum
pergi Burhan sempatkan ke kamar Yuli. Di perhatikannya Yuli sedang tidur begitu
tenteramnya. " dia mutiara kamu Yun. You should always be strong, dear. Yuli need
you.
" I know . thank my dear brother. You are always there when I'm weak. "
" It's Ok. God love you , dear
***
Pagi pagi Yuni sudah masuk kantor. Semua karyawan menyapanya dan menyalaminya
dengan girang. Betapa tidak. Lebih 3 tahun Yuni meninggalkan perusahaan. Kenangan
kelembutan hatinya sebagai pimpinan tetap lekat di hati karyawan. Yolanda
memeluk Yuni dengan air mata berlinang.
“ Welcome back Yun.”
“ Terimakasih. Yo. Tapi aku belum pasti tetap di sini. Hong kong belum putuskan
apakah usulan ku diterima atau tidak ?
“ Apa usulan kamu?
“ Aku mau ambil alih buyer kita di Thailand. Jadikan kantor ini holding. Sudah
seharusnya Jakarta jadi Markas utama. Bukankah bahan baku dari Negara kita. Kenapa
kita hanya jadi pemasok saja. Aku ingin besarkan perusahaan ini. Apalagi sekarang kita
punya presiden baru yang menjadikan laut subagai sumber penerimaan Negara dalam
jangka panjang.”
“ Wow…semoga Hong Kong bisa setuju.”
“Yo, bantu aku ya buat analisa menyeluruh tentang rencana aku ini. Kamu lebih ahli
soal buat proposal. Aku yakin Hong Kong bisa ambil keputusan yang bijak bila kita bisa
buat proposal yang rasional. “
“ Siaap. Bu. “ kata Yolanda. “ Paling lambat minggu depan sudah selesai proposal itu”
“ Bantu aku ya ke Hong Kong dampingi meeting dengan Holding.”
“ Mengapa ?
“ Ya kamu kan Dirut perusahaan ini. Inisiastif harus datang dari Perusahaan secara
resmi. Aku kan bukan lagi management. “
“ Baik Bu. Tapi kalau Hongkong setuju, darimana uang untuk ambil alih perusahaand di
Thailand itu? Apalagi sekarang ada aturan pemerintah bahwa kapal asing di larang
nangkap ikan di Perairan Indonesia. Kita lagi siapkan anggaran untuk beli dan perbanyak
kapal penangkapan ikan. Semua cadangan laba tidak cukup untuk rencana ekspansi ini.
Aku udah usulkan masalah pembiayaan ini, tapi belum ada tanggapan dari Hong Kong.
Nah sekarang kita akan ajukan lagi rencana ekspansi ambil alih perusahaan yang juga
milik holding di Thailand. “ Kata Yolanda nampak bingung.
“ Aku ngerti. Buat aja business plan nya. Selanjutnya itu urasan aku. “ Kata Yuni dengan
penuh keyakinan bahwa dia akan dapat jalan keluar.
Setelah selesai meeting, Yuni berpikir bahwa harapan untuk mendapatkan dukungan
pembiayaan dair Hongkong sangat kecil. Yuni harus cari solusi lain. Dia putuskan untuk
berbicara dengan bankernya. Yuni pergi keluar kantor untuk bertemu dengan relasi
banker nya. Pertemuan diadakan di hotel bintang 5. Banker ini seorang pria yang dia
kenal lebih dari 5 tahun. Awal dia di perkenalkan oleh Burhan dan setelah itu dia dapat
kredit. Namun akhirnya gagal bayar karena tertipu oleh mitranya. Tapi Burhan bail out
hutang itu karena memang pinjaman itu di jamin oleh personal guarantee dari Burhan.
Kemudian dia bisa bangkit lagi. Kembali dapat pinjaman untuk membangun coldstorage
tanpa harus menyewa lagi. Dari satu coldstorage bertambah menjadi empat di empat
wilayah di Indonesia. Sekarang keadaan cash flow nya bagus dan perputaran bisnisnya
setahun mencapai USD 100 juta. Jadi bukan masalah sulit bila dia bisa yakinkan banker
untuk membantunya melakukan ekspansi bisnisnya.
“ Pak, “ seru Yuni mengawali pembicaraan dengan banker ‘ Dengar engga pidato
pertama PResiden di DPR. Kita terlalu lama memunggungi laut. Kini saatnya potensi
laut kita harus memberikan sumbangan berarti bagi kesejahteraan rakyat. Kami
berencana melakukan ekspansi lebih serius di tahun tahun kedepan”
“ Wah bagus Bu. Silahkan ajukan FS nya. Nanti kami pelajari. “
“ Terimakasih pak. “
“Oh Ya. Jangan lupa lampirkan PG dari Pak Burhan biar cepat prosesnya”
“ Pak, bisa engga tanpa harus melampirkan Personal Guarantee dari pak Burhan.
Jaminan asset perusahaan yang ada saya rasa cukup untuk menarik pinjaman yang akan
kami ajukan”
“ Bisa saja tapi prosesnya lambat karena kami harus dalami betul resikonya.”
“ Paham pak. “
Kemudian mereka berbicara banyak hal tentang situasi ekonomi global dan politik
terkini. Usai pertemuan itu, Yuni terhenyak. Dia memang punya pengalaman dan track
record sebagai pengusaha tapi untuk mendapatkan solusi pembiayaan dari lembaga
keuangan di perlukan bukan hanya pengalaman, penguasaan pasar, jaminan, tapi juga
reputasi dan integritas sebagai pengusaha. Burhan sudah terbukti punya itu. Dia
teringat kata kata Burhan “ Sebagai pengusaha yang harus kamu jaga hanya lima ,
Pemegang saham , pemerintah, perbankan , kunsumen dan karyawan. “ Selebihnya
engga usah di pusingi.
Dia meluncur ketempat di mana Burhan biasa membuang waktunya dalam kesendirian.
Dia yakin Burhan pasti akan datang ke tempat itu. Dia tidak ingin telp karena
memaklumi kesibukan Burhan kadang malas angkat telp. Dia tahu betul bahwa Burhan
hanya akan terima telp atau bahkan telp di sela sela dia tidak pusing dengan urusan
bisnis. Hanya dua orang yang kalau telp pasti Burhan angkat walau sedang sibuk
bagaimanapun, yaitu Ibunya dan istrinya. Sepertinya dunianya hanya bisa di taklukan
oleh dua orang wanita itu.
Jam 9 malam, dia melihat Burhan masuk ke café yang biasa dikunjunginya kalau sedang
di Jakarta. Café sederhana tapi dia menyukai kesederhanaan itu. Burhan tersenyum
cerah ketika melihat Yuni. Duduk di sebelah Yuni. “ Bagaimana urusan hari ini. Bagus
semua “
“ Ya biasa ajalah Yun. Lalui aja hidup seperti air mengalir. “
Entah mengapa bila mereka bertemu, tak ada yang di bicarakan. Burhan lebih banyak
bercengkrama dengan gadget nya. Yuni tahu itu bukan urusan bisnis. Karena kalau lagi
ditempat ini, tidak ada urusan bisnis. Burhan hanya bermeditasi di dunia maya dengan
sahabat mayanya. Kadang dia tersenyum sendiri. Yuni dengan sabar memperhatikan
Burhan yang sibuk sendiri dengan gadgetnya. Sehingga tak terasa waktu berlalu.
Burhan berdiri “ Yun, aku pulang ya.
“ Aku antar ya”
“ Engga perlu lah.” Burhan memang tidak pernah pakai kendaraan pribadi kalau di
Jakarta. Kemana mana naik angkutan umum dan taksi. Menurutnya itu cara meditasi
efektif keluar dari pemikiran kapitalis. “ Ada apa kamu ? Sepertinya ada yang mau di
bicarakan”Sambung Burhan melihat Yuni sedang memikirkan sesuatu.
“ Tadi aku ketemu banker ..”
“ Udah tahu. Dia telp aku tadi setelah ketemu kamu. Bagus rencana kamu itu. Lanjutkan
aja. “
“ Uda setuju ?
“ Setuju asalkan kamu dapat dukungan dari bank”
“ Yes..yes. Insya Allah aku bisa yakinkan banker. Uda tenang aja.”
“ Yun, aku bisa tenang. Masalahnya yang aku kawatirkan, kalau rencana kamu gagal,
kamu bisa berbuat nekat seperti dulu. Ingat engga 10 tahun lalu kamu nekat bunuh diri.
Jangan lagi ya.”
“ Dulu aku belum begitu mengenal pribadi Uda. Aku takut Uda usir aku ketika aku gagal.
Tapi ternyata Uda terus dukung aku. Hanya Uda sahabat yang terbukti ada disaat aku
tidak punya apa apa dan tidak ada siapa siapa. Tiga tahun masuk dalam lingkaran
holding aku semakin mengenal Uda. “
“ Yuli sebentar lagi masuk remaja. Jangan karena bisnis kamu nekat bunuh diri kalau
gagal. Pikirkan anak kamu. Yakinkan bahwa wirausaha itu adalah ibadah. Kalau ingin
dapat untung kita juga harus siap rugi. Itu biasa aja. Paham ya. Sekali lagi ada masalah,
kamu buat nekat, saya terpaksa rumahkan kamu. Engga usah bisnis lagi.”
“ Ya Uda. Aku janji.”
“ Ya udah…Aku pulang dulu ya.”
“ OH ya uda. Ada lagi.”
“ Apa?
“ Bang Andi ada kirim email ke Yuni. Dia minta penugasan ke Kiev di pertimbangkan
lagi. Karena alasannya keluarganya keberatan. Jauh sekali. Dan lagi istrinya engga bisa
ikut”
“ Itu bukan urusan kamu. “ Kata Burhan tegas “ dan lagi kamu kan tahu aku engga bisa
intervensi HRD Department. Itu SOP Holding.” Sambung Burhan.
“ Ya. Uda. Kasihan dia Uda.“
" Urus aja urusan kamu. Bisa engga focus ?
" Bisa."
" Good.
Yuni melihat Burhan melangkan ke luar café menuju pinggir jalan untuk dapatkan taksi.
Sementara dia pulang naik BMW. Pria yang selalu menghadang resiko namun bisa
tenang di setiap waktu. Mungkin karena masa lalu yang keras membuat dia bisa bersikap
rendah hati, dan tak pernah terpengaruh dengan gaya hidup mewah.
***
Di ruang kerja Yolanda...
Yuni membaca dengan seksama SWOT analisis yang di buat oleh Yolanda dalam lampiran
Business Plan yang ada. Dalam SWOT analisis itu disebutkan bahwa salah satu kekuatan
dari Perusahan yang ada di Thailand adalah kemampuan penguasaan pasar dengan
mendapatkan certifikasi dari FDA untuk masuk ke pasar AS. Dengan certifikasi ini
memungkinkan buyer tahu standar kesehatan dan mutu dari produk Olahan hasil laut.
Itu sebabnya tidak sulit masuk ke negara lain seperti Jepang, Korea, China, bahkan
Eropa. Salah satu tenaga kunci yang menguasai bidang pemasaran adalah Doni yang
sekarang menjabat sebagai direktur marketing.
" Hebat sekali prestasi Doni. Hanya dua tahun menjabat dia sudah kuasai pemasaran
dan bahkan bisa dia kembangkan sampai ke Eropa dan Korea. " Kata Yuni sambil melirik
Yolanda.
" Ya. Keliatannya rencana Pak Burhan dua tahun lalu agar orang Indonesia di tempatkan
di Bangkok, dengan maksud menguasai akses dan network marketing yang di kuasai oleh
mitra di Bangkok. Tentu sudah di rencanakan lama untuk menjadikan Perusahaan yang
ada di Indonesia menjadi leading. Hanya tunggu timing aja. Sekarang kamu Yun ambil
inisiatif di saat yang tepat" kata Yolanda.
Yuni bisa mengerti mengapa Burhan cepat bersikap mendukungnya. Hanya saja Burhan
ingin liat kemampuan Yuni mencari sendiri solusi pembiayaan. Suatu kepercayaan yang
luar biasa bagi Yuni.
" Jadi kalau kita jadi ambil alih Perusahan yang ada di Thailand, Doni harus di jadikan
trigger untuk melancarkan strategi bisnis kita"
" Tepat sekali. "
" OK. Kalau gitu kamu Yo urus pemisahan perusahaan kita dengan Hongkong. Pastikan
Doni tidak ikut holding tapi ikut kita"
" Loh, bukankah kamu lebih dekat dengan Doni. Dan juga kamu bisa gunakan pengaruh
Pak Burhan agar Doni di berhentikan dari holding"
" Aku sulit bicara dengan Doni. Sepertinya dia bukan hanya tidak pernah mencintaiku
tapi juga tidak bisa menjadikan aku sebagai sahabat. Aku engga bisa atur Pak Burhan
soal posisi Doni. Kamu aja bantu aku ya Yo"
" Siap boss. Aku akan bicara dengan Doni. Tapi kalau Hongkong engga mau lepas dia,
gimana? "
" Usahakan dia memilih kita dan mengundurkan diri dari holding"
" Siap boss "
" Oh ya gimana progress aplikasi kredit ke bank"
" Sudah OK semua. Tinggal lengkapi dokumen Personal Guarantee dari Pak Burhan"
" Ada masalah ?
" Engga ada. Kemarin udah dapat Telp dari sekretaris Pak Burhan di Hongkong. Katanya
lusa pak Burhan kembali dari Nanning , itu PG di tanda tangani dan di kirim ke kita via
DHL"
" Alhamdulilah"
" Bu, kapan kapan , kalau ibu ketemu Pak Burhan, ajak saya dong. Masa kerja sebagai
dirut selama 3 tahun engga pernah ketemu ultimate boss. Kira kira bapk suka engga
dengan kerja saya"
" Bapak perhatikan setiap prestasi kamu Yo. Setiap laporan kamu dia baca. Bahkan dia
sempat banggakan kamu di hadapan mitranya di Hongkong. Kalau mau ketemu ya
ketemu aja langsung. Engga sulit kok. Kamu kan ada nomor Telp nya. Telp aja langsung.
Janjian ketemu"
" segan saya bu. Lagian mau ketemu apa yang mau di bicarakan. Toh semua hal saya
cukup bicara dengan ibu."
" Ya udah. Suka suka kamu ajalah."
***
Proses pemisahan perusahaan dengan holding di Hongkong berlangsung mulus.
Selanjutnya Yuni harus bisa mandiri tanpa tergantung lagi dengan holding untuk
kelancaran cash flow dan marketing. Walau krisis global membuat pasar lesu tidak
membuat Yuni surut dengan tekadnya. Namun yang menjadi masalah laporan dari
Yolanda sepulang dari Hongkong bahwa Doni akan di tempatkan di Ho Cin Min.
Sementara upaya Yolanda membujuk Doni mengalami kegagalan. Yuni merasa benar
benar tidak di hormati oleh Doni atas segala kebaikan yang pernah di buatnya. Mengapa
Doni bersikap seperti ini?
Jam telah menunjukkan pukul 1 pagi. Yuni belum juga bisa terlelap. Dia masih
memikirkan soal Doni. Apa yang harus dia lakukan. Mungkinkah dia meminta Burhan
untuk memaksa Doni bekerja dengannya atau memberhentikan Doni bekerja di
lingkungan holding sehingga Doni mengemis kepadanya ? Ah Tidak mungkin. Dia tidak
mau kembali ke masa lalu untuk jadi pecundang di hadapan Doni. Di saat lamunan
tentang Doni, Telp selulernya bergetar, nampak di screen nama My dear brother,
Burhan.
" Ya. Uda "
" Maaf ganggu. Mau tanya aja: Gimana proses pengambil alihan perusahaan di Thailand?
" Ada sedikit kendala"
" kendala apa ? Kredit bank ?
" Bukan soal kredit bank. Bank sudah keluarkan surat penegasan kredit. Kapan aja kita
bisa eksekusi. Masalahnya ..:"
" Apa ?
" Sulit bicaranya ..."
" OK. Besok kamu terbang ke Hongkong. Aku tunggu. Kita bicarakan biar tuntas. Pastikan
besok ketemu aku waktu makan malam. Karena besok paginya aku harus ke Shanghai"
" Ya. Uda"
" Yuli gimana ?
" Dia lagi libur sekolah "
" Ajak dia sekalian.
" Ya Uda. pasti dia senang. Oh ya Uda , Terimakasih ya"
" untuk apa Terimakasih "
" Tadi bang Andi kirim e-mail. Dia engga jadi di tempatkan di Kiev. Tetap di regional
ASEAN. "
" Oh itu...."
Telp terputus. Yuni tahu sesibuk apapun dia , Burhan selalu ingatkan dia luangkan waktu
menemani Yuli liburan. Burhan paham menjaga perkembangan Yuli tumbuh tanpa ayah.
Burhan selalu mendengar permintaannya walau tidak langsung di tanggapi. Sahabat
yang tak banyak kata kata kecuali tindakan nyata berbuat.
Jam 8 malam, Yuni sudah berada bersama Burhan dan rekan bisnisnya untuk makan
malam. Setelah makan malam, Yuni antar Yuli ke kamar untuk tidur dan Burhan menanti
di lounge executive hotel.
" Apa masalah kamu? Kata Burhan ketika Yuni sudah ada di hadapannya.
" Doni tidak mau di bujuk oleh Yolanda untuk gabung dengan perusahaan aku. Dia lebih
memilih ikut penugasan holding."
" Masalah kamu apa?
" Aku butuh dia Uda sebagai direktur marketing. "
Burhan terdiam seakan berpikir namun raut wajahnya berubah. Yuni tahu ini tandanya
Burhan menahan emosinya. Dengan pandangan mata keras menghujam , Burhan berkata
" renta sekali bisnis dengan kamu. Bagaimana mungkin saya mempercayakan begitu
besar resource kepada kamu sementara kamu tergantung orang lain. "
Yuni tersentak. Dia sadar ini bukan sekali Burhan bicara keras kedia. Tepi berkali kali
terutama bila dia melakukan kebijakan yang tidak rasional. Yuni hanya diam. Siap
mendengar sikap Burhan berikutnya.
" Yun, aku tanya sekarang. Kamu mampu menjalankan program kamu itu apa engga ?
" mampu, Uda "
" Kalau begitu lakukan tanpa tergantung dengan Doni. Paham !
" Ya. Uda. " seperti biasa Yuni meneteskan air mata bila Burhan bicara keras kedia.
Burhan terdiam sebentar. Tak berapa lama Telp Yuni bergetar " Ya sayang. Tidur aja.
Mama lagi sama papa Han."
" Uda. Yuli minta aku temani dia tidur" kata Yuni
" Ya udah. Temanin yuli tidur. Besok kita ketemu waktu sarapan pagi. "
Ketika hendak menuju lift , Yuni Beranikan bicara " Uda, boleh aku bicara dari hati ke
hati dengan Doni"
" Untuk apa ?
" hanya mencoba Uda "
" Aku engga ngerti dengan kamu Yun. Mengapa kalau soal pria yang kamu cintai kamu
jadi lemah? Mereka sudah bersikap menentukan pilihannya. Sudah lah. Kamu harus
move on. Engga usah lagi berharap mereka akan mengerti kamu. Soal kebaikan kamu
kepada mereka engga usah di jadikan dasar mereka akan berempati dengan masalah
kamu. Dalam hidup ini hanya ada antara kamu dan Tuhan. Selebihnya hanya cobaan dan
permainan belaka. Paham."
" Ya Uda. Yuni paham. "
Yuni terdiam barang sejenak. Namun ketika wajah Burhan sudah berubah santai , dia
kembali bicara " Oh ya besok apa aku masih bisa pakai fasilitas holding untuk ajak Yuli
jalan jalan ? " Kata Yuni karena sejak dia berhenti dan menikah dengan Andi, dia bukan
lagi orang holding.
" Tentu boleh kalau sama Yuli. Kalau kamu sendiri engga bisa. Besok Lena akan temani
kamu dengan kendaraan kantor untuk jalan jalan "
" Engga usah temani Lena. Kan dia harus bantu Uda ke Shanghai. Aku bisa sendiri. Aku
hanya butuh kendaraan dan supir"
" Ya sudah." Kata Burhan ketika Yuni masuk lift " aku masih harus meeting dengan relasi.
Good night..
Pagi pagi Burhan sudah datang ke hotel dimana Yuni menginap. Dari apartemen Burhan
ke hotel hanya selangkah. Ketika sarapan pagi, Burhan memperkenalkan seseorang pria.
Usia belum 40 tapi keliatan dari sorot matanya pria ini cerdas. BUrhan menceritakan
kualifikasi pria itu yang akan di tugas selama 3 bulan membantu Yuni menguasai detail
operasional perusahaan yang ada di Thailand.
Yuni terharu dengan sikap Burhan. Selalu mendengar keluhannya dan bersikap bijak
setelah Burhan menyampaikan prinsipnya. Mengenal Burhan tidak bisa hanya sebagai
pribadi yang humanis tapi juga harus mengenalnya sebagai pengusaha yang punya
standar yang keras. Kalau tidak memahami ini maka akan mudah sakit hati. Burhan
tidak menghargai kegagalan tapi cepat memaafkan kalau orang mengakui kesalahan dan
berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
***
Dari Hongkong , Yuni memutuskan mampir ke Bangkok untuk bertemu Doni. Walau dia
sudah di peringatkan oleh Burhan untuk tidak perlu bicara dengan Doni namun dia
merasa harus bicara. Dia tak berharap banyak Doni akan mengerti dia tapi dia akan
berusaha mengerti Doni setelah tahu penjelasan dibalik keputusan Doni.
" Yun, aku tahu bahwa Perusahan ini akan kamu ambil alih. Aku sudah dapat
pemberitahuan untuk pindah ke Vietnam. Dari Yolanda aku sudah dapat informasi
bahwa kamu membutuhkan aku sebagai direktur marketing. Tapi Yun, tolong ngerti,
pengalaman buruk ku dengan mantan istriku yang juga boss ku menjadi trauma bagiku
untuk bekerja di bawah bayang wanita yang mencintaiku. Mungkin kamu sudah tidak
lagi mempersoalkan masa lalu kita tapi tidak bagiku. Aku ingin hidup dengan
kemampuanku sendiri tanpa ada bayang bayang orang lain. Beri aku dukungan melalui
hidupku dengan pilihan ku. Kita tetap berteman"
" Terimakasih Don. Sekarang jelas masalahnya. Sekali lagi aku harus mengerti kamu. "
" Terimakasih Yun. Aku juga mau kasih tahu kamu ..."
" Apa ?
" Tehun ini juga aku akan melamar Yoanda. Gimana pendapat kamu?
" Oh Ya. Kok Yolanda engga pernah cerita?
" Memang aku belum sempat katakan. Tapi aku yakin Yolanda mencintaiku. Kami terus
berkomunikasi setiap hari"
" Baiklah. Aku dukung itu. Semoga niat baik di mudahkan Allah"
Usai pertemuan dengan Doni, Yuni langsung ke AirPort. Di perjalanan dia berlinang
airmata sambil memeluk Yuli.
" Mama jangan nangis " Kata Yuli berwajah bingung
" Mama sayang Yuli. selanjutnya mama akan kerja keras untuk Papa Han. Mama tidak
akan nangis lagi "
***
Sejak usai pengambil alihan perusahaan di Thailand, Yuni kerja keras siang malam.
Waktunya begitu di sibukan dengan perluasan pasar, ekspansi memperbanyak kapal
penangkapan ikan. Tak terasa waktu berlalu cepat sekali. Dua tahun berlalu sejak
pengambil alihan dia sudah bisa mengembalikan 70% pinjaman bank. Benarlah. Return
on Investment bisnis hasil laut sangat fantastic. Melebihi ROI bisnis apapuun. Pasar
dunia boleh lesu. Orang bisa menunda belanja tapi tidak ada orang menunda makan.
Ikan adalah bagian menu penting bagi penyedia protein manusia. Makanya tak
berlebihan bila Presiden menetapkan strategi pembangunan nasional bahwa justru di
laut kita akan meraih kemakmuran. Apalagi kita Negara bahari dengan berkah wilayah
laut terluas di dunia. Jumlah pesisir pantai terpanjang. Jumlah pulau terbanyak.
Cita cita Yuni mendirikan pabrik pengolahan Jellyfish di China berhasil dengan
mendapatkan dukungan pembiayaan dari bank local di China. Selama proses itu Burhan
jarang sekali bicara dan bertemu dengan Yuni. Bahkan ketika Yuni mengambil alih
perusahaan travel yang senen kemis , Burhan tidak banyak komentar. Hanya setuju
saja. Begitu juga ketika Yuni mengambil alih jaringan hotel di China untuk mendukung
bisnis travelnya, Burhan mendukung tanpa banyak tanya. Kalau pun bertemu yang di
tanya Burhan selalu tentang Yuli. Selalu senang mendengar Yuni cerita mengenai
perkembangan sekolah Yuli. Tahun depan Yuli sudah masuk SMU. Yolanda sudah
menikah dengan Doni dan memilih berhenti dari perusahaan untuk ikut Doni ke
Vietnam. Posisi Yolanda digantikan oleh Yuni.
Yuni memang mampu belajar cepat dan pengalamannya selama 3 tahun lalu di Holding
bersama Burhan membantunya banyak cara bagaimana mengakses lembaga keuangan
dan tahu membangun network kemitraan untuk kemajuan bisnisnya. Burhan tahu bahwa
semua bisnis network Yuni berasal dari dia. Tentu tidak sulit bagi Burhan untuk
mengetahui langkah Yuni benar atau salah. Di samping itu , team nya di Holding selalu
di ingatkan agar setiap saat Yuni ada masalah untuk segera di bantu.
Suatu saat Burhan bertemu dengan Yuni dalam kunjungan bisnis di Kuala Lumpur.
Betapa terkejutnya Burhan ketika Yuni dengan begitu saja minum wine dalam satu botol
tak lebih 1 jam. Burhan perhatikan ada yang berubah dari Yuni. Walau Yuni berusaha
santai dan menampak wajah penuh semangat namun Burhan tahu Yuni dalam tekanan
luar biasa.
“ Ada apa dengan kamu , Yun ?
“ Biasa aja. Emang ada yang salah ?
“ Yang ku tahu kamu minum engga seperti ini”
“ Uda aja engga pernah perhatikan aku. Biasa aja Uda.”
“ Udahan minumnya. “ Kata Burhan menahan tangan Yuni yang akan menuangkan wine
kegelasnya.
“ Kenapa ?
“ Udah.!” Kata Burhan dengan mata melotot.
Yuni terdiam. Matanya nampak lelah. “ Uda kenapa larang aku minum ? Uda engga
peduli dengan aku”
“ Ngomong apa kamu ?
“ Aku kerja keras untuk Uda siang malam. Aku tinggalkan putriku dengan pembantu
dirumah berhari hari, bahkan berminggu minggu. Setiap sukses aku dalam transaksi,
uda engga pernah puji aku. Setiap aku minta mau ketemu, uda selalu punya alasan
menolak. Tapi setiap aku terlambat buat laporan, Orang uda terus kejar aku. Uda engga
pernah percaya sama aku. Udah engga sayang aku. Uda egois.”
Burhan terkejut dengan kata kata Yuni. Ini kali pertama Yuni bicara keras ke dia. Burhan
sadar Yuni sedang dalam keadaan mabuk.
“ Kamu masih sholat ?
“ Masih tapi sering bolong” Kata Yuni dengan senyum sinis
“ Kenapa ?
“ Uda kenapa peduli ? Itu urusan aku dengan Tuhan. “
Burhan terdiam. Dia yakin Yuni dalam keadaan depresi karena pekerjaan atau apalah.
Dia tidak mau lagi bertanya lebih jauh. Setidaknya Burhan tahu , Yuni sedang dalam
keadaan renta.
‘ Sekarang kamu harus kembali ke Hotel. “ Kata Burhan menarik tangan Yuni.
“ Engga mau.” Kata Yuni berusaha melepaskan tangannya. Tapi pagutan tangan Burhan
lebih keras. “ Uda, menyakiti aku. Lepaskan tangan ku uda….” Yuni menangis. Burhan
segera memeluk Yuni.
“ Yun, kamu sahabatku. Aku mencintaimu sabagai sahabat. Aku percaya kamu. Kalau
sampai orangku maksa minta laporan bukan berarti aku tidak percaya. Itu agar aku tahu
setiap langkah mu dan tahu kapan harus membantumu. Setiap hari aku telp Yuli dan
yakinkan dia bahwa kamu kerja dan segera kembali. Besok kita pulang ke Jakarta. Kita
bicarakan masalah kamu dengan tenang. Maafkan aku bila kurang komunikasi selama
ini. Aku pikir kamu baik baik saja. Maaf ya. Udahan nangis nya. “
Yuni tersenyum dan merasa tenang kembali“ Maafkan aku juga uda. Maaf. Aku capek…”
“ Ya udah. Aku minta Raymond antar kamu ke hotel ya”
“ Aku mau Uda antar aku”
“ Aku masih ada meeting dengan relasi. Tuh orangnya nunggu di meja sana. Barusan
datang” Kata Burhan menunjuk ke arah table tak jauh dari mereka duduk. Yuni bisa
mengerti untuk kembali ke hotel.
“ Besok pagi kita ketemu di Meja breakfast ya. Kita pulang bareng ke Jakarta. Ayo hugs
me” Kata Burhan sambil memeluk Yuni..
***
Setelah sampai di Jakarta, Burhan datang ke rumah Yuni. Sebetulnya rumah ini di beli
oleh Burhan dan masih atas nama Burhan. Tadinya setelah di ceraikan suaminya ,
selama 4 bulan Yuni tinggal di apatement Burhan. Setelah mendapat kepercayaan
mengelola usaha Burhan , Yuni pindah kerumah di kawasan real estate dengan maksud
lebih baik untuk pertumbuhan anaknya, Yuli. Berkali kali Burhan usulkan agar rumah
itu di ganti atas nama Yuni tapi Yuni tidak mau. Walau Yuni sendiri sudah beli rumah di
Selatan Jakarta, dia masih lebih suka tinggal dirumah pemberian Burhan.
Ketika sampai di rumah di sambut oleh Yuni. Yuli masih di sekolah. Mereka bicara di
ruang tamu.
“ Apa sebetulnya masalah kamu Yun ?
“ Aku engga ada masalah. Udah engga usah kawatir. Tempo hari aku di KL agak
mabuk.Maafkan aku”
“ Kamu engga boleh bohong dengan aku. Aku sahabat kamu. Apa masalah kamu?
“ Engga ada. “
Burhan terdiam. Seakan dia memikirkan sesuatu. Tanpa menatap wajah Yuni, Burhan
berkata “ Tahun depan Yuni sudah SMU. AKu rasa kamu mulai berpikir kurangi kegiatan
bisnis. “
“ Apa ? uda mau pecat aku ?
“ Bukan. Bukan itu maksud aku. Kamu harus membentuk Holding company sendiri.
Tempatkan orang yang kamu percaya dan mumpuni untuk mengawasi semua unit bisnis
yang ada. Kamu harus mulai berpikir mengembangkan bisnis atas dasar system. Bukan
seperti selama ini. Semua kamu tentukan sendiri dan kamu seperti lokomotif menarik
gerbong besar. Ini melelahkan”
“ Aku paham. Ini sudah aku duga sebelumnya. Usulan ini cara uda untuk singkirkan
aku”Kata Yuni dengan senyum sinis.
“ Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu? Kata burhan mengerutkan kening.
“ ya dengan adanya holding , lambat laun perusahaan tidak lagi tergantung dengan aku
tapi dengan system. Kapanpun uda bisa singkirkan aku. Ya kan.” Nada suara Yuni agak
tinggi.
“ Duh..kenapa jadi negative thingking begini. Pahami dengan dasar ke ilmuwan. Jangan
gampang tensi”
“ Engga perlu ilmu. Aku kenal Uda. “ Suara Yuni semakin tinggi.
“ Apa ? Burhan tetap tenang menahan emosi.
“ Uda itu memang predator. Jangankan perusahaan sendiri , perusahan orang lain saja
uda bisa ambil alih. Gaya uda selalu manis di depan. Membujuk memang ahlinya uda.
Memancing emosi orang memang jagonya uda. Semua uda manfaatkan agar
orang terjebak dan akhirnya setelah tujuan uda tercapai, uda dengan tanpa berdosa
singkir orang untuk kuasai hasil kerja keras orang. Aku tahu betul itu. Tiga tahun
bersama Uda di Holding di Hong kong , itu yang uda lakukan bersama team srigala. Ya
kan”
“ Aku engga mau menjelaskan tindakan aku, apalagi membela sikapku dalam bisnis.
Yang pasti semua tindakan ku selalu ada alasan. Tentu alasan dengan niat baik. Itu
urusan kamu menilai aku seperti apa. “
“ Itulah cara uda bersikap dengan dingin tanpa ada rasa berasalah sama sekali.” Kata
YUni dengan sinis.
“ Ok. Terserah kamu nilai aku apa. Asal tahu aja, aku usulkan ini agar kamu punya
waktu untuk Yuli. Ingat tahu depan Yuli sudah SMU. Kamu harus selalu ada untuk dia.
Engga baik anak gadis sering di tinggal oleh ibunya berhari hari bahkan berminggu
minggu. Engga ada maksud aku untuk menyingkirkan kamu. Tidak ada. Emang kamu
siapa yang harus jadi target? Tanpa singkirkan kamu, aku tetap penguasa tunggal di
perusahaan. Ingat 80% saham aku punya. Jernihkan otak kamu. Kita sudahi diskusi ini,”
Kata Burhan sambil berdiri keluar dari rumah.
“ Uda. Jangan pergi.” Yuni berlari memegang lengan Burhan dengan kedua tangannya.
“ Apa lagi?
“ AKu bingung Uda. Jangan pergi dalam situasi ini. Please” Yuni memelas sambil
menangis. Burhan memeluk Yuni. Tenangkan dirimu. Nanti kita lanjutkan lagi
membahas ini. Kalau kamu yakin tetap bisa bertanggung jawab dengan putri kamu, ya
silahkan dengan cara kamu. Engga usah dengar pendapatku.”
“ Yuni janji akan lebih punya waktu untuk Yuli. Engga akan sering pergi. Yuni bisa atur
di kantor. Tapi enga usah buat holding ya uda. “
“ Terserah kamu. Tapi kalau nanti aku lihat kamu ngeluh lagi soal kurang waktu dengan
Yuli karena sibuk, terpaksa aku ambil keputusan. Hanya dua pilihan kamu “
“ Apa pilhan itu ?
“ Bentuk Holding atau Yuli pindah ke asrama di Singapore. “
“ Kenapa harus di asrama”
“ Setidaknya disana dia di bawah pengawasan terbaik dan mendapatkan pendidikan
terbaik untuk masa depan dia. Setidaknya dia tidak seperti anak broken home karena
ibunya jarang di rumah. Paham kamu”
“ Yuni janji, engga akan terjadi pilihan pertama dan kedua. Yuni janji uda. Beri Yuni
kesempatan”
“ Waktu kamu setahun ini. Kalau semua baik baik aja ya terus. Deal ya”
“ Deal. “
Mereka berdua terdiam. Dari luar rumah nampak kendaraan masuk ke grasi. Yuli berlari
kedalam rumah. Langsung memeluk Burhan. “ Papa, ajarin Yuli matematika ya.Ada PR”
Kata Yuli dengan wajah harap
“ Papa masih ada urusan. “ Kata Burhan.
“ Papa sibuk sayang. Lain waktu papa ajarin kamu matematik “ Kata Yuni.
“ Ganti baju kamu, kita makan di luar sekalian papa bantu kerjakan PR kamu ya.“ Kata
Burhan
“ Asyik…Mama ikut ya “ kata Yuli sambil melompat lompat.
“ Mama ikut dong. “ Kata Yuni sambil memeluk Yuni dari belakang.
Di dalam perjalana menuju restoran, Burhan berkata kepada Yuni “ Ingat enggga Yun.
12 tahun lalu kamu datang ke padaku membawa Yuli usia 4 tahun. Sekarang dia sudah
ABG. Tahun depan masuk SMU. Dulu awalnya aku kasih kamu modal USD 200.000 tapi
sekarang asset perusahaan sudah mencapai USD 50 juta. Turnover penjualan mencapai
USD 200 juta setahun. Pabrik pengolahan ikan bukan hanya di Indonesia tapi juga di
Thailand, China dan Korea. Belum lagi jaringan hotel dan travel agent yang tersebar
sampai ke luar negeri. Apakah kamu tidak bersyukur dengan semua ini? Ini berkah luar
biasa. Betapa Tuhan sayang kamu. Tapi misi kamu yang utama bukan menumpuk harta
tapi bagaimana menjadikan anak kamu menjadi orang yang paling banyak manfaatnya
bagi orang lain. Peran kamu sangat menentukan. Kamu ibu…”
“ Yuli butuh ayah. Bukan hanya ibu. “ Kata Yuni sambil mencubit lengan Burhan.
“ Sudah takdir kamu mungkin menjadi single parent. Ikhlas sajalah dengan lalui hidup
secara cerdas. Usia kamu sudah kepala 4. Cobalah focus dengan anak kamu saja. Jodoh
engga usah di pikirkan tapi kalau datang jangan di tolak. Kamu sudah berkali kali gagal
dan di kecewakan. Itu sudah cukup sebagai upaya kamu mendapatkan jodoh.
Selanjutnya serahkan ke Tuhan ya.”
“ Ya uda. “
“ Kalau stress, ajak Yuli piknik ke mana saja kamu suka. Kamu kan ada rumah di
Singapore, Perth, Kuala Lumpur. Kalau bisa ajak Yuli umroh biar dia mulai mengenal
spiritual. Atau bangun tengah malam, sholat tahajud. Banyak cara lain untuk
mengalihkan stress…kan engga usah mabok minuman keras. Itu merusak kesehatan dan
juga membuat kamu tergantung.Paham”
“ Ya paham. Engga boleh minum lagi.”
“ Bagus.Oh ya dulu kamu aktif di kegiatan sosial keagamaan. Kenapa setelah cerai dari
Andi itu juga berhenti?
" Aku sibuk uda. Tapi nanti aku akan adakan lagi. Buat panti ya. "
" Terserah kamu. Kan ada dana CR yang bisa di salurkan untuk itu"
" Ya."
" Dan satu lagi..Sholat jangan bolong bolong lagi ya."
" Ya uda. "
" Ingat sholat itu tanda kamu online dengan Allah, sehingga bisa menahan kamu dari
perbuatan tercela dan membuat kamu kuat dalam kesabaran"
" Ya uda.
“ Pa..” Kata Yuli ketika menanti makanan di hidangkan.
“ Ada apa ?
“ Kata teman Yuli , kok Yuli china tapi islam”
“ Loh banyak juga orang china yang beragama islam.”
“ Kalau gitu Yuli pakai Jilbab aja ya Pa. Teman Yuli di sekolah yang islam pakai jilbab
semua.”
“ Bagus. Papa izinkan.”
Yuni ketawa kecil.
“ Kenapa kamu ketawa”
“ Lucu aja liat mata sipit pakai jilbab. “
“ Engga lucu. Malah lebih cantik. “ Kata Burhan cepat.
“ Boleh ya ma. Besok Yuli pakai jilbab”
“ Ya boleh kalau papa izinkan.”
***
Suatu saat pada bulan puasa, Dari Yuni , Burhan mendapat kabar bahwa Yuli ada di
kantor polisi. Kebetulan Burhan sedang di rumah. Pukul tiga pagi Burhan ke luar rumah
untuk menemuinya di sana. Dari polisi Burhan tahu bahwa Yuli mengendarai mobil
dalam keadaan mabuk bersama teman-temannya. Yuli tidak punya SIM. Setelah
membayar denda, Burhan membawa Yuni dan putrinya pulang. Saat itulah Burhan
merasa bersalah sebagai sahabat. Selama ini Burhan seakan memanfaatkan Yuni
sehingga dia tidak ada waktu untuk menjaga buah hatinya dengan baik. Sesampai di
rumahnya, Burhan mengajak Yuni berbicara dari hati ke hati.
“Saatnya kamu kurangi kesibukan bisnis kamu, Yun. Sebelum holding terbentuk, urusan
bisnis di luar negeri akan saya serahkan kepada profesional. Kamu cukup mengelola
perusahaan yang ada di Jakarta.Nanti setelah holding terbentuk kamu akan jadi
Presiden direktur mengontrol semua perusahaan dibawah holding. Waktu kamu akan
lebih santai.”
“Uda memecat Yuni?”
“Tidak.”
“Jadi?”
“Kamu akan tetap menerima gaji penuh walau kamu tidak lagi punya posisi di
perusahaan yang ada di luar negeri.”
“Terima kasih. Aku engga mau terima kebaikan demi kebaikan dari Uda. Biarkan aku
bekerja keras dan mengambil risiko ini. Yuli akan baik-baik saja.”
“Ini bukan soal kebaikan yang memang harus aku apply karena kamu sahabatku.Tapi ini
soal Yuli, putri kamu. Soal masa depannya. Penghasilanmu setiap bulan lebih dari
cukup. Secara materi kamu sudah punya segala-galanya. Kamu sudah sepatutnya
menikmati hasil kerja kerasmu dan mulai lebih memperhatikan anak gadismu. Kurangi
kesibukan, ya, Sayang.”
“Terima kasih untuk perhatian Uda. Boleh, kan, Yuni menolak usulan Uda? Please.”
Burhan tidak menanggapi. Tapi Yuni tahu kalau Burhan sudah ambil keputusan maka itu
tidak akan berubah. Kesempatan setahun di berikan Burhan ternyata tidak bisa ditepati
oleh Yuni bahwa dia akan mengatur waktu antara bisnis dan anak nya.
Sejak itu Yuni selalu murung. Seperti ada perasaan unsecure terhadap dirinya. Itu
artinya dia akan kehilangan jabatan di perusahaan yang ada di luar negeri. Dia sadar
bahwa dia hanya profesional, bukan pemegang saham utama, yang tak berhak apa pun
di hadapan Burhan. Tapi dia tidak ingin berjauhan dari bisnis dan akhirnya jauh dari
Burhan. Walau dia tahu niat Burhan baik, tetap sulit baginya untuk menerima. Yuni
sudah jarang berbicara karena dia selalu menghindar bertemu dengan Burhan. Seakan
dia ingin menghindar berbicara tentang masa depan anaknya yang akan berujung dia
kehilangan jabatan di perusahaan.
“Uda…Aku jatuh cinta” demikian pengakuannya suatu waktu.
“ Kepada siapa ?
“ Uda…”
Tak pernah Burhan bayangkan bila pada akhirnya Yuni yang telah menjadi mitra bisnis
dan sahabat selama lebih 10 tahun, jatuh cinta kepadanya. Sesuatu yang tak pernah
diduga. Bagi Burhan, hubungan selama ini hanya sebatas sahabat. Kalaupun ada
kerjasama bisnis karena Burhan yakin Yuni akan menjaga kepercayaan itu sebagaimana
dia mempercayai Yuni . Burhan akui bahwa dia mencintai Yuni namun dia tidak pernah
"jatuh cinta". Burhan mencintai dan memoercayai Yuni mengelola perusahaan. Ya, cinta
kepada sahabat yang membuat Burhan peduli dan menjaganya dengan rasa hormat.
Namun, ketika Burhan menolak dengan halus dan mengatakan bahwa dia tidak bisa
jatuh cinta namun tetap mencintai Yuni sebagai sahabat, Yuni mengambil keputusan
secara dramatis. Dia segera mengundurkan diri dari jabatan sebagai direktur tanpa
minta pesangon. Dia kecewa. Dia merasa dicampakkan. Setelah itu dia pergi menjauh
dari Burhan. Berminggu-minggu Burhan mencarinya. Akhirnya, di temukan ,
Yuni menginap di rumah temannya di luar negeri.
Dengan air mata berlinang Yuni berkata kepada Burhan “Tadinya Yuni punya pacar.
Yuni sangat mencintainya. Penuh harap. Tapi setelah pengorbanan yang Yuni berikan,
pacar yuni memutuskan Yuni karena jatuh cinta denga wanita lain. Pria itu tidak pernah
jatuh cinta dengan Yuni, uda. TIdak pernah. Kemudian Yuni menemukan pria yang baik
, yang menuntun Yuni dalam kesabaran. Yuni mencintainya dengan tulus dan dia pun
mencintai Yuni. Kami akhirnya menikah. Namun, setelah Yuli lahir dia menceraikan
Yuni karena alasan ekonomi. Padahal saat itu Yuni sangat membutuhkannya. Uda bantu
aku dengan Tulus. Uda dukung aku menikah dengan pria soleh, tapi akhirnya setelah
menikah , Yuni di poligami. Ketika YUni menolak , Yuni di ceraikan.
Sementara Uda, pria yang Yuni kenal sebagai sahabat, tidak pernah jatuh cinta kepada
Yuni karena Uda hanya jatuh cinta kepada istri Uda. Namun, Uda selalu ada untuk Yuni,
menjaga Yuni, mendidik Yuni dengan sabar. Uda terlalu baik. Apakah salah bila Yuni
jatuh cinta kepada Uda.? Yuni butuh suami dan Yuli butuh ayah. Salahkah bila Yuni
berharap?”
“Kalau aku menolak keinginanmu untuk menjadi istri, itu bukan berarti aku tidak
mencintaimu. Aku ingin kita tetap seperti dulu lagi. Sebagai sahabat, saling mencintai
dan menjaga. Kamu dengan hidupmu dan aku dengan hidupku. Yakinlah, banyak pria di
luar sana yang bisa jadi suami kamu. Kamu cantik dan pribadimu juga cantik. Apa pun
keadaan kamu, kita akan selalu bersama.”
Dia menangis mendengar kata-kata Burhan. Namun, itulah yang dapat Burhan katakan
tanpa harus berdusta kepada Yuni. Lantas, apa yang Burhan lakukan menghadapi
persoalan ini? Bagaimanapun Burhan tidak mau kehilangan Yuni sebagai sahabat, mitra
yang sukses mengelola bisnis, dan tentu Burhan tidak mau mengecewakan istrinya yang
telah memberi kehidupan yang begitu indah. Apa yang harus Burhan lakukan?
Tidak ada jalan lain kecuali bercerita kepada istrinya. Ini saatnya Burhan menceritakan
semua hal tentang Yuni. Ketika Burhan sampaikan persoalan antara dia dengan Yuni,
serta sikap tentangnya terhadap Yuni, istri Burhan mendengar dengan saksama. Setelah
itu istri Burhan mengusulkan untuk mengundang Yuni makan malam. Istri
Burhan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja setelah dinner. Burhan
menyetujuinya.
Ketika makan malam bersama, istri Burhan berkata kepada Yuni, “Saya sudah tahu
semua tentang kamu dari suami saya. Saya hanyalah ibu rumah tangga. Saya hargai
kamu membantu suami saya selama ini karena dia memang harus dibantu. Tapi
ketahuilah bahwa dia bukan suami yang pas untuk kamu. Kamu akan menderita karena
itu dan saya terluka. Terimalah kenyataan. Kalau tidak bisa menerima, berdamailah
dengan kenyataan. Ingatlah, Bapak akan selalu ada untuk kita, membagi cintanya
dengan cara berbeda. Namun, dia tidak akan jatuh cinta lagi. Paham, ya, Sayang.”
Yuni menangis mendengar kata-kata sejuk istri Burhan. Sementara itu, Burhan bingung,
tidak tahu bagaimana harus bersikap. Di hadapannya ada dua wanita, yang punya
tempat tersendiri di hati Burhan“Terima kasih, Bu. Terima kasih udah mengingatkan
saya. Maafkan bila saya telanjur jatuh cinta kepada Bapak. Saya akan melupakan
keinginan itu dan berdamai dengan kenyataan. Ya, Bapak akan selalu ada untuk kita.
Membagi cintanya dengan cara berbeda. Saya akan terus bekerja keras untuk Bapak dan
berkorban untuk cinta. Tentu Ibu akan tetap satu-satunya wanita yang mendampingi
Bapak dan berkorban untuk cinta. Ya, cinta yang berbeda karena posisi kita berbeda,”
kata Yuni dengan air mata berlinang.
“Syukurlah kamu bisa memahaminya. Oh, ya, untuk kamu tahu bahwa niat Bapak agar
kamu punya waktu untuk putri kamu, itu bukan bermaksud menghilangkan hakmu di
perusahaan. Bagaimanapun putri kamu berhak atas kamu. Dia butuh kamu. Bukankah
sukses kita sebagai orangtua adalah mendidik anak sukses dalam hidup sebagaimana
Tuhan amanahkan kepada kita? Ya, kan?”
“Ya, Bu.Saya paham. Bapak sangat halus bersikap terhadap saya. Hatinya sangat mulia
sebagai sahabat. Seharusnya saya mendengar sarannya dengan hati jernih. Ya.
Seharusnya saya punya waktu lebih untuk putri saya karena sayalah ibunya.”
Istri Burhan memeluk Yuni. Mereka berpelukan sebagai ungkapan ketulusan untuk saling
menghargai sesama wanita tanpa harus menyakiti dan kecewa. Mencintai adalah pilihan
dan hak bagi siapa saja, namun menikah adalah takdir Tuhan. Untuk menyadari ini tidak
perlu harus merasa paling superior. Pada akhirnya, yang hendak dituju adalah nilai di
hadapan Tuhan. Semua kembali pada niat baik dan keikhlasan sebagai sahabat atau
istri. Lewat peristiwa ini Yuni disadarkan bahwa cinta yang dia maknai seperti
sebelumnya telah terkubur. CInta hakiki yang seharusnya dia jemput yang sempat
hilang, kini kembali. Ya sebuah makna bahwa mencintai adalah lautan teramat luas
yang tak bisa disekat dengan lembaga perkawinan sekalipun. CInta berawal dari Tuhan
dan berakhir karena Tuhan, apapun itu, ia memberi dan berkorban karena Tuhan
semata. Dari sosok Burhan dia menemukan kelengkapan makna tentang cinta.
Yuli sayang mama..
Kesendirian seringkali lebih mematikan dari sebilah belati. Caranya membunuh begitu
perlahan, terkadang menyerupai kenikmatan. Kesendirian tidak membunuh tubuh,
melainkan jiwa. Lihatlah Yuni. Ia terlalu terpukau pada photo bersama Yuli dan Burhan
ketika liburan ke Istanbul, hingga sering lalai pada tubuhnya. Kenangan demi kenangan
ia resapi dan cumbui seperti aroma Istana Sultan Muhammad Al Fatih. Yuni bukan
kehilangan kecantikan fisiknya. Ia kehilangan sebagian jiwanya. Terbunuh perlahan
bukan oleh belati, namun kesendirian itu. Telah setengah tahun Yuli tinggal di Asrama
di Singapore. Ini keputusan Burhan karena Yuni terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu
untuk Yuli. Karena itu Yuni depresi. Ketika Holding terbentuk, dia kembali
dengan kebiasannya mabuk di Bar . Akhirnya Burhan terpaksa memberhentikannya
sebagai Presiden Direktur.
Sehari hari Yuni tidak melakukan apa apa dan bila malam hari dia menghabiskan
waktunya di Bar atau café berkelas. Kadang dia pergi ke luar negeri bersama teman
temannya hanya untuk mencari kesenangan yang tidak jelas. Yang pasti dia kesepian
di tempat ramai dan menumpang tawa ditempat ramai, dan akhirnya menangis di
kesediriannya. Sebetulnya Yuni bisa tegar menghadapi berbagai derita demi derita. Dia
terlatih berkorban ,bahkan terhina. Namun ketika dia bertemu di Singapore, meminta
agar Yuli kembali pulang, keadaan ini membuat dia rapuh dan kehilangan yang selama
ini dia perjuangkan.
“ Yuli engga mau kembali ke rumah ma.”
“ Kamu anak mama. Mama engga bisa jauh dari kamu, sayang”
“ Mama hanya bilang engga bisa jauh dari Yuli tapi kemana mama ketika Yuli butuh?.
Setiap hari mama sibuk dan jarang di rumah. Apalagi mama lebih banyak kumpul dengna
teman teman mama di bandingkan Yuli.”
“ Mama janji akan sediakan waktu sepenuhnya untuk Yuli. Mama janji. Pulang ya
sayang.”
“ Berkali kali mama janji berkali kali mama ingkari. Yuli bukan anak kecil lagi ma. “
“ Kamu engga peduli dengan mama ya? Kata Yuli keras.
“ Yuli sayang mama..sayang sekali. Tapi Yuli ingin sekolah. Beri kesempatan Yuli untuk
belajar tenang”
“ Kamu sudah di racuni oleh Papa kamu, ya. Ingat dia bukan Papa kandung kamu. Dia
orang lain bagi kita.”
“ Yuli tahu Papa Han bukan papa kandung Yuli. Tapi dari kecil Yuli hanya tahu, papa
Han ayah Yuli. Papa terlalu baik dengan kita mama. Kenapa mama selalu salahkan
papa”
“ Dia memang jahat.”
“ Papa engga jahat, ma. Semua biaya Yuli di sini papa yang tanggung. Tiap bulan Yuli
dapat kiriman uang. Setiap minggu papa telp Yuli. Apa mama pernah melakukan seperti
itu kepada Yuli.?
“ Dia pecat mama. Tahu kamu? “ Kata Yuni dengan suara keras.
“ Papa hanya rumahkan mama. Kalau mama bisa berubah, mama bisa kembali lagi ke
perusahaan. Kan perusahaan itu sebagian milik mama. “Kata Yuni dengan tenang.
“ Kamu engga paham masalah mama dengan papa kamu”
“ Ya Yuli memang engga paham. Itu urusan mama dengan papa. Yuli engga ngerti. Yuli
hanya mau sekolah ma”
Yuni menangis sejadi jadinya. Dia bisa menghadapi segala duka dan lara sejak gadis
namun dia tidak bisa menerima kenyataan ketika putrinya meragukannya. Dia terasa
tersungkur di lubang hitam. Yuli memeluknya untuk menenangkannya. “ Yuli sayang
mama. Mama tenang aja. Bagaimanapun Yuli tetap anak mama.. Yuli ingin masa tua
mama, Yuli yang urus. Yuli akan baik baik saja di sini. “ Yuni hanya diam namun
pelukannya semakin keras. Serasa dia tidak ingin melepaskan Yuli dari pelukannya.
Dadanya seka. Terasa seluruh bumi beserta isinya di timpakan kepada dirinya.
“ Jadi kamu engga percaya mama akan berubah?
“ Percaya ma. Papa minta Yuli untuk terus mendoakan mama agar berubah. Yuli ingin
mama seperti dulu lagi.”
“ Tapi engga mau ikut mama pulang..”
“ Yuli ingin sekolah mama…”
“ Kamu memang mau bunuh mama lambat lambat..”
“ Yuli sayang mama…”
Ketika kembali ke Jakarta, Yuni tidak tahu mau marah kepada siapa lagi. Mungkin dia
harus marah dengan nasipnya terlalu buruk. Ketika Doni mengatakan tidak pernah
mencintainya, dia bisa menerima. Ketika suami pertamanya menceraikannya dia bisa
terima. Ketika Andi menceraikannya karena mau poligami, diapun bisa menerima. Tapi
ketika Burhan menolak tegas jatuh cinta , dia tidak pernah siap. Terasa tidak ada
gunanya dia hidup lagi. Selama ini dia jaga kepercayaan Burhan dan bekerja keras siang
malam bagaimana mendatangkan laba untuk perusahaan, karena dia sangat mencintai
Burhan. Itulah cara dia mengungkapkan betapa Burhan lebih berarti dari dirinya, bahkan
waktu kebersamaan dengan putrinya dia korbankan. Tapi setelah dia dengan jujur
mengungkapkan cinta, Burhan menolak untuk menikahinya hanya karena Burhan tidak
bisa jatuh cinta lagi. Padahal Yuni tidak butuh status resmi sebagai Istri. Yuni hanya
ingin pengakuan Burhan bahwa dia istri Burhan syah dihadapan Tuhan. Yuni engga butuh
harta dan saham sebagai hak waris. Yuni hanya butuh Burhan. Itu saja. Tapi yang satu
ini tidak bisa dia jangkau. “Tuhan, mengapa terlalu mahal pria bagi ku.” Rintih Yuni
dalam kesendirian
Tak terasa air matanya mengalir. Seorang pria yang juga Capt Pilot memperhatikanya
yang duduk di Business Class. Menyapanya “ Are you OK “. Yuni terkejut dan secepatnya
dia menghapus air matanya. “ Yes, I am Ok.
“ Are you Singaporean?
“ No. I am Indonesian”
***
Sesampai di rumah Yuni terasa hampa. Dia hanyut dalam paranoia. Entah darimana ,
mungkin dari balik cermin itu, seseorang datang kepadanya dengan wajah sinis sambil
berkata “ Kamu bukan siapa siapa. Kamu sampah. Lihatlah putri yang kamu
lahirkan dari rahimmu tida lagi memghormatimu. Semua pria yang pernah mampir
dalam hidupmu satu satu pergi tanpa ada kesan mereka menyesal kehilangan wanita
seperti kamu. Semakin kamu berharap , semakin kamu di tertawakan oleh mereka.
Tahu mengapa ? Karena kamu hanya mencintai dirimu sendiri. Apapun yang kamu
korbankan karena kamu berharap kepada mereka. Itu hanya transaksional belaka. Tapi
sebetulnya transaksi yang bodoh. Apa yang kamu berikan dan korbankan tidak punya
jiwa membuat mereka harus berterimakasih. Itu yang kumaksud bodoh.
Usia kamu sudah 40 dan kini kamu tidak punya orang orang yang mencintaimu. Semua
teman teman tawamu selama ini hanya mereka yang sanasif dengan kamu. Ya senasip
karena mereka para wanita yang berstatus sebagai istri dan ibu yang tidak paham untuk
apa status itu di pegang. Mereka marah kepada suami atau hidupnya namun sebetulnya
mereka marah kepada diri mereka sendiri. Mereka menemukan kebahagian dari rasa
benci kepada suami dan keluarga. Tapi sebetulnya mereka membenci diri mereka
sendiri. Dan kamu larut dalam pergaulan bersama mereka. Semakin membuat kamu
kehilangan rasa hormat atas dirimu sendiri. Untuk apa kamu hidup.? Mati adalah jalan
tercepat untuk keluar dari kehidupan yang tidak adil.”
Yuni terpaku di hadapan cermin itu. Menatap wajahnya. Dia tersenyum membayangkan
wajah Yuli dan kemudian wajah Burhan. “ Selamat tinggal sayang. Semoga kalian baik
baik saja. AKu memang harus pergi dan mati untuk orang orang yang aku cintai.” Pill
tidur dia kumpulkan dalam satu genggam dan dengan tenang di telan semua. Dengan
segelas air , semua pil itu tertelan masuk lewat kerongkongannya. Tak berapa lama dia
merasa melayang menuju cahaya yang panjang. Namun entah mengapa nampak Burhan
dan Yuli mengejarnya dan akhirnya berhasil menangkapknya dari tarikan cahaya putih
itu.
Ketika matanya terbuka , di tatapnya ruangan semua nampak putih.” Yun…” Terdengar
suara memanggilnya. Dia menoleh kesamping nampak Burhan dan Yuli.
“ Mama….” Yuli memeluk Yuni dengan air mata “ Mama , Mengapa mama lakukan ini ?
Mengapa mama? Katanya mama sayang Yuli. Jangan pergi tinggalkan Yuli. Yuli butuh
mama…” Yuni membalas pelukan Yuli dengan lemah. Burhan menatap haru ibu dan anak
di hadapannya.
“ Untunglah pembantu cepat telp aku. Sehingga aku cepat membawa kamu ke rumah
sakit. “ Kata Burhan mengelus kening Yuni. “
“ Mama 2 hari tidak sadar. Papa terus dampingi mama tanpa tidur sama sekali. Yuli
baru sampai tadi siang ma. Yuli dan papa terus berdoa untuk mama.” Kata Yuli masih
dalam isakan tangis.
“ Maafkan aku uda..” Kata Yuni lirih dengan airmata mengalir dari tubir matanya. “
Mama sayang Yuli, maafkan mama ya. “ sambung Yuni sambil membelai kepala yuli yang
masih dalam dekapannya.
Dokter masuk ke ruangan. Setelah memeriksa, dokter pastikan Yuni akan baik baik saja
namun masih harus tetap istirahat di rumah sakit.
“ Uda istirahat ya. Muka uda pucat.” Kata Yuli seraya memegang lengan Burhan.
“ Aku engga apa apa.”
“ Uda istirahat , nanti sakit. Pulanglah. Aku baik baik aja.”
Seminggu di ruman sakit, Yuni sudah boleh pulang. Burhan menjemputnya di Rumah
sakit. Yuli tidak bisa ikut menjemput ibunya karena sudah kembali ke Asrama di
Singapore.
Dalam perjalanan dari RS ke rumah, Yuni hanya diam sambil memejamkan matanya. “
Uda, terimakasih ya. Udah selamatkan hidup Yuni untuk kedua kalinya.” Kata Yuni lirih
dengan tetap memejamkan mata.
“ Kamu beruntung untuk kedua kalinya…Tuhan masih beri kamu kesempatan untuk
bertobat.” Kata Burhan.
Yuni hanya diam.
“ Yun, kalau kamu ingin Yuli pulang, aku akan bujuk. Kalau kamu larang aku ikut camput
soal Yuli, aku akan mundur. Apapun selagi kamu senang, yun, aku akan ikut”
“ Uda..boleh aku Tanya ?
“ ya…”
“ Mengapa uda begitu baik dengan aku ?
Burhan hanya diam…
“ Uda jawablah… aku ingin uda jujur. Agar aku jelas bersikap”
“ Yun..sebelum kita buka usaha, setahun lebih kita bersahabat. Selama itu kamu tidak
pernah tanya pekerjaan ku. Kamu selalu menaruh hormat kepadaku. Berkali kali kamu
SMS, aku tidak jawab, kamu tetap tidak kehilangan harapan untuk terus bersahabat
denganku. Aku tahu ketika kamu bertemu dengan ku, itu perjuangan tersendiri. Karena
aku lihat keringat di kening kamu masih membekas. Kamu lelah. Namun semangat mu
tetap terpancar. Penuh semangat. Berkali kali aku beri kamu uang, kamu tolak dengan
halus. Harga diri dan kehormatan sangat tinggi. Kamu bukan wanita biasa.
Yang membuat aku terkejut adalah ketika aku mengundangmu makan malam dengan
teman orang asing, kamu bisa bahasa inggeris dengan baik dan bahasa mandarin kamu
juga sempurna. Cara kamu berkomunikasi menunjukan kamu bukan wanita biasa. Naluri
bisnisku mengatakan bahwa kamu punya potensi. Tapi belum cukup untuk memicu agar
kamu menjadi petarung sebagai pengusaha. Ketika kamu bercerai dan memelas
dihadapanku untuk mendapatkan pekerjaan. Aku melihat ada kekuatan besar di balik
wajah dukamu. Saat itulah aku yakin kamu bisa menjadi mitraku.
Terbukti setelah aku beri kesempatan , kamu bisa belajar cepat dan berkembang
dengan pesat. Bahkan di luar dugaanku. Dan ketika kamu di tipu oleh mitramu sehingga
kamu bangkrut kamu sempat bunuh diri.Saat itu aku tahu kamu punya loyaitas tinggi
kepada ku. Tapi bukan hanya karena loyalitas atas dasar uang tapi karena cinta. Cinta
adalah soal kehormatan dan pengorbanan. Itu sebabnya jiwa samurai itu tinggi karena
mereka membayar kegagalan dengan nyawanya, bukan hanya mengundurkan diri. Ingat
engga kamu ketika kamu siuman, kamu berkata kepadaku “ uda, aku gagal, Kalau hanya
di penjara rasanya tidak cukup untuk membayar kegagalanku. Kematian adalah
hukuman tepat untuk ku.” itu tidak pernah aku lupa, Yun. Aku mencintaimu karena
kamu punya rasa hormat. Itu sebabnya aku menjaga jarak agar emosi positip kita tetap
terjaga.
Ketika kamu jatuh cinta dengan Andi , aku tidak terkejut. Karena memang qualifikasi
pria yang cocok untuk kamu adalah Andi. Karena Andi memperlakukan wanita seperti
keyakinannya beragama dan ini ternyata tidak sesuai dengan standar yang kamu suka.
Kamu ingin memiliki pria.Karenanya kamu lakukan apa saja untuk menguasainya.Tapi
kamu lupa bahwa kita tidak berhak atas hidup orang lain dan tidak berhak memiliki
kecuali Tuhan. Ketika kamu berharap ingin memiliki maka saat itulah kamu harus siap
kecewa dan menderita.
Karenanya walau aku mencintaimu, aku tidak mau jatuh cinta dengan mu. Aku ingin
persahabatan kita atas dasar hormat tanpa ada diantara kita ingin memiliki atau
menguasai. Aku beri kamu kepercayaan sepenuhnya. Aku menyerahkan sistem
management bekerja efektif untuk mengawasi dan mengedanlikan kamu tanpa aku
intervensi. Tujuanku agar kalau kamu berhasil, itu memang karena jerih payahmu tanpa
harus di puji. Kamu tidak butuh pujian karena kehormatan mu di hadapanku adalah
pujian yang tak bertepi.
Kamu kan tahu ,aku tidak pernah ambil deviden dari keuntungan perusahaan yang kamu
kelola. Semua deviden kukembalikan ke perusahan sebagai cadangan laba untuk
ekspansi. Sementara walau kamu hanya punya saham kosong namun setiap tahun
sahammu aku hargai tunai melalui deviden out. Itulah cara aku menghormati jerih
payahmu dan menghargaimu.
Nah mengapa aku baik kepadamu? Karena kamu punya kehormatan sebagai sahabat,
sebagai mitra. Terbukti kamu tidak pernah salah gunakan kekuasaan kamu dan prestasi
kamu terus meningkat. Berkali kali aku tahu kamu di pancing orang untuk
mengkhianatiku dalam kemitraan kita tapi kamu tidak pernah terpancing. Aku tahu itu
tidak mudah. Jadi sebetulnya kebaikan demi kebaikan yang kamu rasakan atas sikapku
bukanlah hal yang luar biasa. Itu human being. Karena kamu sangat mencintaiku dan
tentuk aku harus mendelivery hal yang sama. Bagiku jangankan kepada orang baik
seperti kamu aku harus berbuat baik, kepada orang jahatpun aku akan berusaha
bersikap baik. “
Burhan menghela napas panjang. Yuni membuka matanya dan melirik kearah Burhan. ‘
" Kenapa dengan hidup Yuni? Yuni yatim piatu di usia remaja. Janda di usia muda.
Berkali kali berhubungan dengan pria berujung kekecewaan. Begitu banyak cobaan
datang sampai batas akhirnya Yuni sadar bahwa memang inilah jalan hidup yang di
kehendaki Tuhan kepada Yuni.
“ Itulah cara Tuhan mendidik kita agar kita sempurna. Kamu tahu sejak tahun lalu ,
kekuasan ku sudah di lucuti di Holding oleh kreditur. Karena kondisi cash flow semua
unit bisnis menurun. Pasar menyusut , penjualan menurun, laba menurun , sementara
Bunga bank dan cicilan harus terus dibayar. Aku di beri waktu selama setahun untuk
memberikan solusi. Belum lagi aku harus menghadapi kasus gugatan hokum dari mitra
bisnis ku. Di tambah lagi aku masuk daptar yang di suspect oleh otoritas keuangan
international karena leverage trading dan insider trading. Kalau memikirkan karyawan
dan tanggung jawan kepada mitra bisnisl rasanya aku tidak bisa bernafas. Tapi aku
hadapi dengan tenang.
Satu demi satu masalah dapat aku selesaikan. Kreditur kembali menyerahkan kekuasan
holding kepadaku. Kasus leverage trading dan insider trading dapat aku selesaikan
dengan baik. Segala kecurigaan otoritas dapat aku buktikan bahwa aku bersih. Gugatan
hokum dari mitra bisnis dapat aku menangkan. Semua itu bukan karena aku hebat tapi
Tuhan yang hebat. Untuk terus menguji kesabaran dan kekuatanku. Tujuannya adalah
agar aku tetap rendah hati dan berjalan di jalan Tuhan.
Yun, sebaik apapun kita kepada sahabat, sahabat palsu akan selalu ada. Kita tetap harus
terus menjalin persahabatan. Sebanyak apapun kita memberi, akan selalu ada orang
tidak bererimakasih. Kita tetap harus terus memberi. Bagaimanapun kita mencintai dan
berkorban , pengkhiatan akan selalu kita termui. Kita tetap harus selalu mencintai dan
berkorban untuk orang lain. Seberapa keras kita mengumpulkan harta , itu bisa
kapanpun hilang sekejap. Tapi kita tetap harus bekerja keras dan berpikir positip. Itulah
hidup. Ini bukan soal suka tidak suka, senang tidak senang. Semua bukanlah antara kita
dengan orang lain tapi antara kita dengan Tuhan. Tujuannya agar kita sabar menghadapi
masalah untuk tetap di jalan Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah memberikan
cobaan di luar batas kemampuan manusia. ”
“ Uda…” Yuni memeluk lengan Burhan sambil menangis “Uda, benar dengan semua yang
uda katakan. Tapi Yuni tidak tahu keadaan uda di Hongkong sampai segitu parahnya.
Ternyata uda sedang dalam keadaan sulit ketika Yuni sedang gila gilanya. Yuni terus
merepotkan uda dengan ulah Yuni. Uda..maafkan aku. Yuni janji akan berubah.
Sekarang Yuni paham mengapa uda begitu baik kepada Yuni.
Burhan hanya diam sambil mengenggam jemari Yuni.
“ Uda tahu. Sebelum kejadian ini, aku ke Singapore. Yuli nampak begitu yakinnya
kepada Uda. Walau dia tahu uda bukan ayah kandungnya tapi rasa terimakasihnya
kepada uda besar sekali. Dia tidak terima Yuni salahkan uda. “
“ Aku mencintai Yuli dengan tulus karena Yuli adalah putri kamu, buah hati kamu. Kalau
aku bisa mencintai kamu sebagai sahabat maka aku juga harus bisa peduli dan kasih
kepada anak kamu. Tapi kalau karena itu kamu merasa tidak nyaman, engga apa apa
Yun. Aku akan jaga jarak dengan Yuli…”
“ Engga uda. Apapun yang terjadi dengan kita, Yuli tetap putri Uda. Didiklah dia seperti
uda mendidik anak sendiri. Yuni senang kok mendengar Yuli panggil Uda, papa, tanpa
ragu sama sekali. Bertahun tahun Yuni lihat keakraban dan perhatian uda ke Yuli
membuat Yuni kadang menangis bahagia walau dalam dekapan malam sepi. Tuhan
mengirim Uda ke Yuni karena Tuhan sayang Yuni. NIkahilah Yuni uda. Engga perlu di
ramaikan dan tidak perlu ada setifikat segala.Engga perlu uda tinggal sama Yuni. Kita
lalui hidup sepeti sebelumnya, seolah tak ada pernikahan apapun. Tapi di hadapan
Tuhan kita syah.
Burhan tersenyum dan mengusap air mata Yuli “ Kamu wanita hebat, Yun, Jangan
nangis. Kalau nangis jelek kamu , tau ? Kata Burhan. Yuli tersenyum." Soal nikah engga
perlu di bahas sekarang. Untuk kamu tahu pernikahan itu sesuatu yang sakral. Walau
tidak resmi , walau tidak di hadapan KUA, namun di hadapan Tuhan sama dengan resmi.
Tanggung jawab dan hak sama di hadapan Tuhan. " Sambung Burhan.
" Ya Uda. Yuni ngerti. Boleh aku kembali ke perusahaan ?
“ Silahkan, Kapan aja kamu suka.?
“ Tapi Yuni akan umroh dulu uda. Boleh ya.”
“ Boleh.”
“ Ajak Yuli ya”
“ Bagus. “
“ Bulan depan Yuli libur panjang Yuni akan jemput ke Singapore terus Umroh”
***
Sepulang dari Umroh , Yuni kembali aktif di Perusahaan. Passion nya kembali seperti
dulu. Burhan senang karena Yuni sudah sangat sibuk dan Yuli tetap tenang tinggal di
Asrama. Yuni tidak lagi membahas soal keinginannya menikah sirih dengan Burhan.
Keliatannya Yuni tahu bahwa tidak mudah bagi Burhan mengambil keputusan. Memang
sangat sulit membuat Burhan mengambil komitmen. Tapi sekali dia ambil komitmen dia
tidak akan mundur walau selangkah. Yuni bisa buktikan itu ketika Burhan mengambil
komitmen untuk mendukungnya mendirikan perusahaan. Butuh setahun lebih Burhan
berpikir dan selama itu dia nampak hati hati bersikap terhadap Yuni. Tidak pernah
memberikan janji bahwa bisnis itu mudah dan menyenangkan. Burhan selalu punya
planning terhadap target nya dan dia cepat sekali mengambil keputusan drastic bila
planning nya tidak sesuai dengan targetnya. Bagi Burhan apapun rencana harus di uji
dengan berbagai cara untuk memastikan rencana itu terukur dengan baik.
Bagi sebagian orang yang belum mengenal Burhan, pertama kali bertemu akan terkesan
bahwa Burhan orang yang mudah di taklukan. Karena Burhan bersikap dengan jiwa
humanis nya. Mendengar dan mengikuti arus orang bermain. Namun orang lupa bahwa
Burhan sedang mempelajari karakter orang yang akan deal dengan dia. Ibarat petarung,
Burhan selalu membuka diri di pukul lawan. Itu bukan karena dia Bodoh dan lemah tapi
itulah caranya mengukur kekuatan lawan. Dan ketika dia menyerang balik maka yang
keluar adalah karakter nya sebagai pengusaha. Orang akan terkejut dengan sikapnya.
Seakan menilai Burhan plin plan atau tidak sesuai kata dengan perbuatan. Itulah
Burhan. Dia tidak melihat proses bagaimana keputusan itu diambil tapi bagaimana
keputusan itu dibuat.
Yuni sadar apa yang selama ini Burhan lakukan terhadapnya, tak lain adalah gabungan
antara jiwa humanisnya dan jiwa bisnis nya. Yuni tahu bahwa banyak wanita cantik di
sekitar Burhan yang berkeja di lingkungan perusahaannya. Burhan tidak pernah terlibat
affair dengan mereka. Tidak pernah tergoda untuk merayu mereka. Burhan akan
nampak akrab ketika orang itu belum sebagai eksekutif nya tapi setelah duduk sebagai
mitranya maka semua menjadi formal. Kalaupun ada sentuhan pribadi maka itu hanya
berkaitan dengan keluarga. Burhan sangat perhatian dengan semua keluarga dari
eksekutifnya. Acara apapun dia pasti datang kalau di undang. Bila bertemu mereka
dengan dia maka yang pertama di tanya adalah keluarga.
Yiuni tahu , kalau orang bilang pria mudah dijatuhkan karena wanita, harta dan tahta.
Tapi bagi Burhan untuk hal itu bukan sesuatu yang membuat dia mudah ditaklukan.
Wanita? dia punya uang dan akses bergaul dengan kalangan sosialita dan jet set tapi dia
tidak pernah manfaatkan untuk menndapatkan kesenangan dari wanita. Dia angota club
mewah tempat nongkrongnya premium escort international tapi dia tidak pernah
gunakan dompetnya untuk “jajan”.
Harta? Dia punya keanggotaan credit card private banker yang unlimited. Dia bisa beli
apa saja tapi dia tidak memanjakan dirnya dengan harta yang ada. Rumah untuk
keluarganya sederhana saja. Bahkan rumah eksekutifnya lebih mewah. Dia tidak punya
kendaraan pribadi. Dia hanya pakai kendaraan tergolong mewah bila untuk urusan
perusahaan. Dia mendidik keluarganya sesuai dengan prinsip hidup sederhana.
Karenanya engga usah kaget bila istri dan anak anaknya tidak tahu banyak tentang
bisnisnya. Burhan ingin agar anak anaknya tumbuh menjadi diri mereka sendiri tanpa
hidup dari bayang bayang dia sebagai ayah yang pengusaha.
Kekuasan? Dia punya perusahaan tersebar di berbagai Negara. Dengan karyawan lebih
dari 10 ribu orang. Dengan posisinya itu dia bisa saja memaksa orang mengormatinya
dan membuat aturan bagaimana standar penghormatan terhadap dirinya. Tapi itu tidak
dia lakukan. Dia menjauhi hasrat melakukan aktualisasi diri untuk menunjukan
kekuasaanya sebagai pengusaha. Berbagai tawaran dari parti untuk mencalonkan
sebagai anggota legislative, dia tolak dengan cara halus. Jadi kalau orang memburu
kekuasaan dan untuk meraih harta , bagi Burhan kekuasan membuat dia bagai duduk
diatas bara , yang memaksa dia harus rendah hati agar terhindar dari sifat sombong.
Karenanya harta sebagai pemicu membuat orang sombong di jauhinya dengan tidak
menjadikan deviden perusahaan untuk menumpuk harta pribadi tapi di gunakan untuk
ekspansi bisnis yang memberikan dampat kepada penyediaan lapangan kerja.
Semakin Yuni mengenal Burhan semakin dia sadar bahwa Burhan terlalu jauh untuk dia
raih. Tapi Burhan tidak pernah mentertawakan harapannya untuk di nikahi. Itulah
Burhan yang tahu menjaga perasaan orang lain tanpa ingin membuat orang merasa
rendah dihadapanya. Yang pasti di hadapan Burhan , semua orang merasa istmewa.
Bahkan untuk orang yang baru mengenalnya. Karena sifat inilah kadang membuat orang
GR. Dan ketika harapan dan persepsi tentang Burhan tidak sesuai keinginan mereka,
mereka akan kecewa. Burhan tidak pernah memikirkan orang menilai apa tentang dia.
Baginya nilai itu hanya ada di hadapan Tuhan. Dia mudah memberi tapi selektif dan
rasional. Dia mudah mengalah dan berkorban tentu untuk alasan yang jelas dan itu
hanya Tuhan tempat sandarannya bersikap.
Yuni harus kembali menata hidupnya. Bagaimanapun Burhan adalah berkah dari Tuhan
untuk dia. Burhan akan menjadi inspirasi bagi dia untuk kuat sebagai wanita, ibu dan
juga mitra bisnis. Burhan akan abadi dihatinya sebagai orang yang dia cintai namun dia
harus memahami bahwa Burhan tidak di miliki oleh siapapun.. Dia milik Tuhan.
Itulah sebabnya Yuni bisa dengan ringan memulai harinya di perusahaan. Pagi itu dia
menghubungi Burhan untuk membahas suatu peluang bisnis yang proposalnya telah
dikirim oleh holdingnya sebulan lalu. Burhan kebetulan sedang di Singapore rapat bisnis.
Yuni berangkat ke Singapore siang hari untuk membahas rencana bisnisnya. Dalam rapat
bisnis dikantor Burhan di kawasan Orchard , hadir seorang wanita. Wanita itu peranakan
Asia Eropa. Cantik dan berkelas. Wanita itu memberikan kartu namanya. Tertera
jabatannya sebagai banker di Hong Kong. Yuni perhatikan cara wanita itu bicara, percis
seperti dia bicara dengan Burhan. Akrab dan hangat. Apakah ini another lady dari
Burhan? Ataukah memang semua wanita merasa nyaman dekat dengan Burhan? Yuni
semakin merasa rendah dan malu dengan sikapnya selama ini yang terkesan berlebihan.
‘ Yun , coba kamu jelaskan detail business yang kamu usulkan itu kepada Esher.” Kata
Burhan.
“ OK. Saya berencana untuk akuisisi perusahaan yang terdaftar di Singapore.
Perusahaan ini mengkhususkan bidang bisnis pelayaran untuk melayani proyek offshore
minyak dan gas. Tapi karena harga minyak jatuh, banyak proyek oil and gas yang
menghentikan produksinya, perusahaan ini kesulitan cash flow. Hutang ke bank tidak
bisa di bayar. Pihak lending bank ancam akan lelang perusahaan tersebut. Dari
pemegang saham, kita dapat informasi bahwa neraca perusahaan masih ada uang tunai
sebesar USD 8 juta. Total asset dalam kondisi terburuk senilai USD 350 juta. Kalau di
jual cepat harga bisa USD 300 juta. Hutang yang jatuh tempo USD 120 juta. Pihak bank
bersedia hair cut sebesar 20%. Pemilih mau lepas dengan harga USD 95 juta. Jadi kita
hanya cash out untuk akuisisi ini senilai USD 191.” Kata Yuni dengan lancar. Burhan
perhatikan Esther memperhatikan dokumen proyek yang Yuni serahkan.
“ Mengapa jual begitu murah” Tanya Esther sambil mengeerutkan kening
“ Mereka mau cut loss karena sudah tiga tahun mereka bleeding terus. Engga
ada peluang untuk bisa recovery. Maka mereka putuskan untuk jual.”
“ Apa rencana bisnis untuk akuisisi ini? Kata Esther
“Kita akan gunakan sebagai floating power untuk daerah terpencil atau proyek proyek
yang ada di Afrika yang butuh pembangkit listrik. Sebagian kita gunakan untuk kapal
penangkap ikan. Sebagian lagi untuk angkutan shale gas di Indonesia. “
“ Apakah ada off take guarantee ?
“ Kita sudah dapat kontrak dari developer China yang punya proyek di Afrika. Juga
dapat kontrak dari perusahaan tambang di Venezuela yang butuh power. “ Kata Yuni
menyerahkan dokumen kontrak yang di maksud. “ dan untuk kapal penangkapan ikan,
group kita akan pakai sendiri dengan skema BBHP. Jadi secure. Juga untuk angkutan
shale gas akan di pakai oleh group sendiri.” Sambung Yuni menyerahkan dokumen
kontrak dari salah satu unit bisnis dibawah holdingnya.
“ Burhan, ini proyek bagus. Kami akan berikan solusi pembiayaan secepatnya ? Kata
Esther
‘ Secepatnya ? berapa lama ?
“ Saya tidak bisa pastikan”
“ Kalau anda tidak bisa pastikan, sebaiknya tidak perlu di proses. Saya hanya ada waktu
sampai akhir bulan ini. Atau tepatnya seminggu lagi. Pemilik perusahaan akan
melakukan lelang terbatas untuk melepas perusahaannya."
Esther menatap Burhan dengan mata tajam seakan minta Burhan menjawab tekanan
dari Yuni.
“ Yun, kamu punya alternative lain sumber pembiayaan “
“ Tentu ada alternative lain. Selalu ada.”
“ Yakin?
“ 100 % yakin.”
“ Ok kalau gitu kita sudahi meeting. Thank esther for your coming” kata Burhan
menyalami mereka berdua.
Ketika Yuni hendak keluar dari kantor, Burhan berkata “ Hebat kamu bisa kalahkan
Esther. Pastikan alternative itu lebih baik ya.”
“ Kan Uda yang didik aku” kata Yuni tersenyum.
“ Murid yang lebih hebat dari gurunya. “
“ Engga mungkinlah. Uda. Oh, aku pulang besok aja ya. Mau masakin sarapan pagi untuk
Yuli di apartement. Katanya dia kangen masakan mama. Besok kan sabtu. Jadi aku ada
waktu sabtu minggu bersama Yuli.”
“ Bagus. Yun. Biasakan itu ya. Kamu hanya punya anak satu satunya, Itu real asset kamu"
‘ Uda pulang hari ini ?“ Nampak wajah Yuni berharap Burhan punya waktu semalam saja
di Singapore
“ Ya. Putri ku mau kenalkan pacarnya ke aku. Kita janji makan malam di rumah”
“ Ok. Salam untuk ibu dan anak anak di rumah.”
Yuni segera masuk lift.
***
Bersama team direksi di holding , Yuni bekerja keras mendapatkan solusi pembiayaan.
Rencana mereka adalah menerbitkan global bond atas nama special propose
company di bawah hukum trustee di wilayah bebas pajak, BVI. Alasanya penerbitan
global bond di wilayah ini tidak memperlukan izin dari otoritas. Global bond ini
didukung dengan exit strategi yang kuat. Dimana setelah akuisisi di laksanakan dan
struktur model bisnis baru settle maka akan di adakan refinancing melalui lembaga
perbankan di China. Sudah ada beberapa bank yang berminat. Apalagi sebagian kapal
akan di gunakan untuk mendukung BUMN china yang punya bisnis di Afrika dan
Venezuela.
Agar dapat menjual cepat bond dimaksud maka mereka menghubungi Perbankan di
Macao yang punya pengalaman menerbitkan SBLC dengan back up Global Bond. Yield
yang di tawarkan cukup menarik dari sisi penerbit maupun pembeli. Apalagi transaksi
ini bebas pajak. Bank yang akan mem financing SBLC tersebut sudah siap. Yaang jadi
masalah adalah belum ada dukungan underwriter dari trust company. Padahal tanpa itu
bank tidak mungkin mau menerbitkan SBLC. Yuni sedikit panik ketika dapat laporan dari
team nya bahwa bank di Macau butuh jamina resiko bila exit strategy gagal.
“ Bu, kita harus lapor pak Burhan soal ini.Waktu kita engga banyak”
Kata salah satu direksi kepadaa Yuni yang nampak tegang. Yuni tidak yakin Burhan akan
memberikan dukungan penuh karena dia sendiri yang menentukan pilihan ini. Solusi
dari awal sudah di berikan oleh Burhan melalui Esther. Tapi di tolaknya. Betapa rendah
dan malunya Yuni kalau sampai Burhan menyesali sikapnya.
“ Tidak! Kita harus cari jalan keluar. Engga mungkin bicara dengan bapak soal ini. “
Kata Yuni tegas.
“ Ibu..kita engga punya waktu. Solusi tidak ada lagi. Come on. “
Yuni nampak tegang. Salah satu direksi memberikan gagang telp “ Ibu , tinggal telp
bapak selanjutnya masalah kita selesai. Lusa kita udah bisa ikut lelang pengambil alihan
perusahaan itu”
‘ Beri saya waktu 15 menit untuk berpikir.” Kata Yuli.
Akhirnya setelah 15 menit YUni memutuskan untuk bicara dengan Burhan. Semua direksi
lega.
Yuni keluar dari ruang meeting dan pergi ke kamar kerjanya untuk bicara via telp
international dengan Burhan.
“ Uda..”
“ Ya. “ terdengar suara Burhan seperti di dalam subway..
“ Aku ada masalah..”
“ Masalah apa?
“ Aku butuh trust company yang akan menjamin resiko atas exit strategy yagn ada”
“ Mengapa kamu ngotot sekali untuk akuisi perusahaan ini?
“ Uda. Kita harus beli kapal sekarang. Harga lagi jatuh. Baja lagi jatuh harganya di
pasar dunia karena China sedang tidak ekspansi insfrastruktur. Juga semua shipyard
fullybook. Dan lagi tanpa kapal yang banyak engga mungkin program pemerintah bisa
di jalankan, khususnya soal memanfaatkan potensi laut indonesia. Secara global ini saat
nya kita ekspansi Uda.’
Burhan terdiam sebentar.
“ OK. Struktur funding nya sudah workable ?
“ Sudah.”
“ Confirmed semua?
“ Confirmed.”
“ OK. Saya akan minta Wenny contact kamu sekarang “
“ Siapa itu Uda ?
“ Sahabatku.Dia akan bantu kamu untuk mendapatkan solusi sampai terbitnya LC.
“Yuni engga pernah dengar namanya. Sahabat seperti apa ?
“ ya sahabat. Kamu mau solusi atau mau jadi investigator?
“ Baik, uda. Yuni akan hubungi dia.”
“ Sebaiknya kamu keluar dari kantor , langsung terbang ke Hong kong sekarang.”
“ Ya uda.
Bersama team Yuni terbang ke Hongkong namun sesampai di Hongkong, Burhan sudah
terbang ke Nanning. Mereka tidak bertemu. Sesuai telp dari Wenni, mereka janjian
bertemu ke esokan harinya. Ketika bertemu di kantor di kawasan Wanchai, Yuni
terkejut karena Wenni memang Cantik namun terkesan kaku. Tanpa banyak basa basi,
Wenni commit akan mengatur semua sampai SBLC terbit. Hari itu juga paperwork di
kerjakan di kantor Wenni dan setelah itu mereka pergi ke Macau dengan heli untuk
meeting dengan banker. Ke esokan harinya bank sudah terbitkan SBLC dan mengirimnya
ke bank di singapore yang akan bertindak sebagai cutting house.
Hanya sehari sebelum lelang di buka, Yuni sudah siap dengan pendanaan. Sekarang dia
yakin akan menang. Karena kemungkinan besar yang siap melakukan financial closing
dalam waktu singkat adalah dia. Ini pelajaran dari Burhan yang dia terima. Bahwa kalau
ingin unggul dalam akusisi pastikan uang kontan ada di tangan. Janga maju kalau uang
belum siap. Itu akan buang waktu.
Malamnya sebelum lelang di adakan, Yuni mengundang Wenni makan malam. Pada
waktu makan malam itu datang Esther. Yuni sangat terkejut. Bagaimana mungkin Esther
ada di acara makan malam ini. Apa hubungannya dengan Wenni. Ternyata setelah di
jelaskan oleh Wenni tahulah Yuni bahwa Esther ada di balik suksesnya pengaturan yang
di lakukan oleh Wenni. Saat itu Yuni semakin merasa harus berterima kasih kepada
Burhan. Karena sikapnya selama ini terkesan kekanak kanakan namun Burhan tetap
sabar menghadapinya. Banyak wanita yang senasip dengan dia yang juga terkubur
karena karir namun tetap berpikir positip. Weni adalah single parent dan Esther adalah
wanita lajang yang tak pernah menikah.Usia mereka diatas 40 semua. Mereka baik baik
saja. Tanpa berkeluh kesah dan selalu bersyukur.
Malam itu mereka bicara banyak hal namun semua mengarah kepada Burhan. Masing
masing mereka baik Wenni maupun Esther punya pandangan sama bahwa Burhan adalah
sahabat yang menyenangkan. Esther berteman dengan Burhan lebih 20 tahun. Dan
Wenni sudah 14 tahun berteman dengan Burhan. Selama ini mereka saling menjaga dan
menghormati sebagai sahabat. Semua mereka sepakat bahwa Burhan sangat
menghormati istrinya, dan baginya keluarga adalah nomor satu, walau tanpa di sadari
dia punya waktu sedikit dengan keluarga. Tapi setidak nya keluarganya tahu dia berbuat
untuk mereka.
Saat itulah Yuni mengubur dalam dalam harapannya untuk mendapatkan Burhan. Kini
dia tidak akan mengharapkan siapa siapa. tapi kalau jodoh datang dia tidak akan
menolak. Mengapa ? Hidup bersama suami akan lebih baik bila di bandingkan tanpa
suami. Karena semua orang akan menua dan ketika itu pasangan sangat di butuhkan.
Tapi kapan itu datang, Yuni tidak lagi berharap kepada manusia tapi kepada Tuhan.
***
Yuni ukses dengan gemilang. Karena benarlah dia berhasil melakukan akuisisi. Diapun
melakukan rasionalisasi perusahaan. Ada karyawan yang di berhentikan dan ada pula
yang yang di geser posisinya. Tapi bagaimanapun Yuni berhaasil melakukan restruktur
perusahaan sesuai dengan business model yang dia inginkan tanpa ada gejolak apapun.
Selanjutnya dia di sibukan dengan membangun platform business agar sesuai dengan
rencana bisnis yang ada. Karena kesibukan itu, dia jarang bertemu dengan Burhan.
Komunikasi hanya lewat email. Burhan selalu menjawab emailnya dan memberikan
arahan dengan tepat. Sudah 8 kali week end dia tidak bertemu dengan Yuli di Singapore
namun dia berusaha telp setiap akhir pekan walau dia sedang di Afrika atau di Amerika
latin atau di China. Bagaimanapun dia selalu merindukan putrinya disaat sepinya jauh
ribuan mill dari putrinya. Dalam 3 bulan dia berhasil sempurna menempatkan
perusahaan sesuai dengan rencana awal. Selanjutnya perusahaan di kelola oleh
professional. Dia akan kembali ke Holding di Jakarta.
Dari Beijing dia terbang ke Singapore untuk bertemu dengan Yuli. Dia harus menanti
semalam lagi agar besok sabtu bisa bertemu dengan putrinya.
“ Mama keliatan gemukan “ Kata Yuli ketika menemui Yuni di apartement.
“ Ih kamu tega ya bilang mama gemuk. Jadi jelek ya sayang”
“ Engga kok. Mama malah keliatan cantik kalau agak gemuk”
“ Kamu sama dengan Papa kamu, selalu senang liat mama agak gemuk”
“ Serius..mama keliatan cantik kalau seperti ini”
“ Ya udah. Gimana sekolah kamu?
“ Doain ya ma. Bulan depan Yuli ujian. Moga berhasil baik”
“ Kamu pasti berhasil. Kamu anak mama. “
“ Ma..boleh usul engga ?
“ Yuni akan lanjutkan ke London, kalau lulus SMU nanti.”
“ Kamu udah bicara dengan papa kamu soal rencana ini”
“ Udah. Papa dukung “
“ Wah mama akan semakin jauh jenguk kamu. Kenapa engga di jakarta aja sayang”
“ Yuli maunya di London, boleh ya ma..”
Yuni hanya diam saja. Dia belum bisa memutuskan. Selama dua malam bersama Yuli
membuat kerinduannya selama 3 bulan terbayar lunas. Senin pagi dia kembali ke
Jakarta. Di dalam pesawat, dia di tegur oleh capt pilot “ apa kabar ?Anda masih
mengingat saya?
Yuni segera ingat beberapa bulan lalu Pilot ini pernah menyapanya karena menangis di
dalam perjalanan SIngapore jakarta.
“ Kabar baik. “
Mereka bicara sejenak karena Pilot itu sedang melakukan peninjauan standar ke kabin
penumpang. Saat itu dengan sopan, Pilot itu meminta kartu nama Yuni. Setelah Yuni
menyerahkan kartu namanya, pilot itu juga menyerahkan kartu namanya. Namanya Andi
Ng
“ Saya akan stay satu malam di jakata, untuk besok terbang lagi. Apa boleh saya undang
anda makan malam”
Yuni sempat terkejut. Terlalu cepat pria ini mengundangnya makan malam. Tapi dari
wajahnya yang nampak tulus dan sikapnya yang sopan , tidak ada alasan Yuni
menolaknya.Pria itu di perkirakan usianya tidak lebih 50. Nampak gagah dengan setelan
Pilot.
Setelah makan malam itu, Yuni merasakan ada sesuatu getaran dalam hatinya. Ah
terlalu cepat untuk berprasangka dengan pria itu. Setidaknya dari pembicaraan makan
malam itu, Yuni tahu pria itu sedang dalam proses perceraian dengan istrinya. Sama
dengan Yuni, punya satu putri berusia sama dengan Yuli. Mereka janjian akan terus
berkomunikasi.
***
Kegiatan operasional di Holding tidak terlalu sibuk. Kerjaannya hanya melakukan
koordinasi dan memantau perkembang setiap anak perusahaan. Sehingga waktu Yuni
lebih banyak santai. Andaikan dulu dia mengikuti saran Burhan membentuk Holding,
mungkin Yuli tidak perlu tinggal di Asrama. Kini dia sadar Burhan memang berniat baik
dengan cara yang baik. Tapi dia sendiri yang kadang cepat paranoid dengan sikap
Burhan, khususnya yang berhubungan dengan Yuli. Dengan keadaan sekarang, dia
berkeyakinan bahwa Yuli sebaiknya kuliah di Jakarta. Tidak perlu di luar negeri.
Setelah makan malam dengan Andi Ng, selanjutnya Yuni setiap hari di telp oleh Andi.
Di setiap ada kesempatan stay di Jakata Andi sempatkan bertemu Yuni. Akhirnya Yuni
merasakan ada perasaan mendalam terhadap Andi. Dia menemukan kedamaian dari
sosok Andi. Pria yang tahu menghormati wanita. Santun dan intelek. Dari pembicaraan
dengan Andi , Yuni tahu bahwa banyak prinsip hidup berbeda dengan Burhan. Andi lebih
hanya punya jiwa humanis dan penyayang. Beda dengan Burhan yang sikapnya bisa
berubah cepat kalau sudah bicara bisnis. Burhan tidak suka bicara banyak soal pribadi
kecuali kalau di pancing bicara soal politik dan visi ekonomi. Selebihnya Burhan bukan
teman yang menyenangkan kalau bicara soal pribadi. Dia teringat kata kata Burhan.
Apapun sikap kita terhadap orang lain tidak akan pernah benar seratus persen. Karena
kita sendiri juga tidak tahu apakah kita selalu tulus. Itulah sisi terlemah manusia sebagai
makhluk sosial. Karenanya tidak layak kita mengadili manusia dengan sikapnya dan
tidak perlu kecewa bila sikap orang tidak seperti kita mau.
Sejak kedekatan Yuni dengan Andi Ng, dia sudah tidak begitu merindukan Burhan.
Kalaupun ada komunikasi via telp hanya sebatas melaporkan perkembangan
perusahaan. Burhan sendiripun tidak juga meminta bertemu dengannya. Dengan
kehadiran Andi Ng di dalam hidupnya, terasa hari harinya begitu menyenangkan. Dari
Andi Ng, Yuni sadar sikap hidupnya mengharapkan kehormatan dari harta adalah sikap
yang salah. Banyak cara membuat manusia bahagia, dan itu tidak perlu mahal. Rasa
terimakasihnya kepada Burhan terlalu berlebihan. Karena apa yang di lakukan Burhan
terhadap Yuni hanyalah pertimbangan bisnis walau sisi humanisnya kadang nampak. Dan
dia telah membalas secara pantas dengan mengelola perusahaan berkembang dengan
baik.
Suatu waktu Andi Ng menghubungi Yuni bahwa istrinya tidak menginginkan perceraian
dan setuju pindah dari Hong Kong untuk ikut Andi Ng tinggal di Singapore. Terasa kabar
tersebut seperti halilintar di siang bolong. Namun Yuni tidak bisa menyalahkan Andi Ng
karena memang selama ini Andi Ng hanya sebagai sahabatanya dan tidak pernah
menyatakan jatuh cinta. Yuni hanya sebatas memberikan dukungan kepada Andi Ng
agar mengalah demi istrinya dan melupakan semua yang tida menyamankan yang
hampir membuat rumah tangga bubar. Namun setelah itu, Andi Ng semakin berusaha
dekat dengan Yuni. AlasanAndi Ng bahwa dia merasakan kenyamanan kebersamaan
dengan Yuni. Walau perasaan kedekatan sedikit berbeda setelah mengetahui Andi Ng
setuju istrinya kembali namun tidak mengurangi rasa rindunya.
Entah mengapa Yuni berniat untuk membicarakan masalah ini kepada Burhan. Dia yakin
Burhan bisa memberikan masukan yang rasional. Walau kadang mungkin nasehat yang
menyakitkan. Tapi itu lebih baik agar dia bisa bersikap rasional juga.
“ Uda. Kalau uda ada waktu aku ingin ketemu. Aku ada masalah. Please.’ Itu pesan
singkat yang dia kirim ke Burhan. Namun tidak segera di balas Burhan. Beberapa jam
kemudian Burhan membalas pesan singkatnya “ Kita ketemu di Cork and screw , PI. Jam
7 malam.”
Ketika bertemu dengan Burhan, seperti biasa dia disambut dengan senyuman khas
Burhan sambil memeluknya.
“ Lama ya kita engga ketemu. Ada 5 bulan. “ Kata Burhan.
“ Ya uda. Uda sibuk terus jadi Yuni di lupakan“
" Duh mulai dech melankolis."
" Nyatanya memang begitu."
“ Aku baca laporan holding kamu wah hebat sekali. “
“ Uda senang?
“ Aku kagum cara kamu melakukan restruktur perusahaan yang kamu ambil alih tanpa
menimbulkan gejolak. Hebat kamu Yun. Sentuhan seorang ibu menyelesaikan masalah
soal kemanusiaan memang tidak bisa di kalahkan dengan sentuhan seorang bapak. “
“ Aku belajar banyak dari Uda.”
“ Sang predator yaa” Kata Burhan tersenyum.
“ Ah uda. Itu anggapan aku dulu. Tapi sekarang setelah pimpin holding sendiri dan ikut
proses akuisisi memang tidak mudah bersikap terhadap SDM perusahaan yang telah kita
ambil alih. Aku yakin sekarang bahwa tindakan Uda selama ini terhadap SDM adalah
benar. Aku ingat uda pernah bilang bahwa perusahaan harus menghasilkan laba agar
fungsi sosialnya tercapai. Untuk apa karyawan banyak tapi perusahaan gagal
mendelivery fungsi sosialnya kepada karyawan dan negara. Karena keuntungan
perusahaan tergerus untuk membiayai SDM yang tidak seratus persen memberikan
kontribusi kepada perusahaan. PHK adalah pilihan rasional bukan karena alasan
kapitalis tapi untuk mengkokohkan fungsi perusahaan sebagai lembaga profit untuk
menjalankan fungsi sosialnya. Maafkan aku atas sikap ku dulu”
“ Engga usah minta maaf. Aku tahu kamu sedang berproses. Belajar dari kenyataan itu
lebih baik daripada hanya tahu dari buku.”
Yuni terdiam sebentar. Matanya memandang WIne yang ada di rak cafe itu.
“ KIta buka botol ya Uda. Hanya sebotol wine ya. Engga lebih. Kita minum bareng.
Gimana ? Kata Yuni.
“ OK. Hanya sebotol aja. Engga lebih.”
Yuni segera memanggil waitress untuk pesanan sebotol Wine. Wajahnya nampak cerah.
“ Ini kencan ya..” Kata Yuni toas gelas wine ke Burhan.
“ Ya kencan sama mama Yuli.”
“ Sama papa Yuli.” Kata Yuni menimpali cepat tanpa surut dari senyum yang menghias
wajahnya.
Mereka berdua tertawa bersama.
“ Jadi apa masalah kamu ?
“ Aku jatuh cinta”
“ Dengan siapa ?
“ Yang pasti bukan dengan uda.” Kata Yuni dan Burhan tertawa. “ Beberapa bulan ini
ada seorang Pilot yang keliatannya dia suka Yuni.” Sambung Yuni.
“ Dan beberapa bulan itu berapa lama pastinya”
“ 2 bulan setelah kembali dari Beijing”
“ Bagaimana kamu bisa jatuh cinta?
“ Aku merasa nyaman dekat dengan dia Uda.”
“ Oh kalau gitu, itu alasan yang rasional yang di dasarkan oleh kelembutan hati kamu”
“ Masalahnya…”
“ Apa ?
“ Dia suami orang..”
“ Terus…”
“ Gimana pendapat Uda.”
Burhan terdiam sebentar Dia memperhatikan gelas wine di hadapannya. Kemudia
melirik ke arah Yuni. “ Mau aku beri nasehat ?
“ Ya uda.”
“ Kalau sampai kamu mengambil keputusan untuk menikah dengan Pilot itu maka satu
hal yang kamu harus sadari bahwa kamu adalah istri kedua. Tahu maksud aku? Kamu
harus lebih ikhlas dan lebih mamahami siapa itu suami kamu. “
“ Mengapa Uda?
“ Karena bagaimanapun pria itu punya ikatan lebih dulu dengan wanita yang sekarang
adalah istrinya. Apakah dia sudah punya anak?
" Sudah”
“ Apalagi dia sudah punya anak. Ikatan cintanya dengan istrinya tak tergantikan dengan
apapun. Kalaupun dia jatuh cinta dengan kamu dan akhirnya menikahi kamu itu tidak
seratus persen sama dengan pernikahan pertama. “
“ Oh ….”
Burhan meminum wine yang tersisa di gelasnya.
“ Boleh tanya?
“ Apa ?
“ Kalau uda sendiri , mungkinkah akan menikah lagi suatu saat?”
“Mungkin, karena semua lelaki mempunyai bakat untuk itu. Tapi secara praktis tak akan
menyenangkan. Di dunia ini, satu-satunya standar moral yang aneh dan disepakati di
seluruh dunia adalah moral dalam lembaga perkawinan. Bayangkan, semua transaksi
sekarang selalu bayar dimuka dan orang akan mendapatkan apa yang dia mau. Dalam
perkawinan pembayaran dan ikatan berlangsung selamanya. Kalaulah bukanlah karena
Tuhan, lembaga perkawinan adalah kontrak moral yang paling dungu. Itu sebabnya Allah
mengatakan silahkan poligami asalkan kamu bisa berlaku adil, sementara Allah
mengatakan sendiri bahwa manusia tidak akan pernah bisa berlaku adil. Hanya pria
dungu yang tidak paham bahwa izin poligami itu bukanlah free will tapi by tight
condition dan mungkin mission impossible. Paham kamu.."
“Berarti Uda menyesali perkawinan?”
“Satu-satunya yang kusesali dalam hidup ini adalah karena aku tak bisa menyesali apa
yang terjadi. Aku bahkan tak mampu menyesali kenapa aku tak dilahirkan di tempat
yang paling aku sukai, tempat yang ada sungainya dengan empat musim, lalu aku bisa
bermain bola salju ketika salju turun. Menyesal adalah hasil dari pikiran, dari
nalar. Dan nalar bahkan tak bisa menjelaskan hal yang paling sederhana tentang cinta.
Jadi ikhlas melewati hidup adalah cara mudah untuk bahagia."
" Ya, karena cinta ?
" Ketahuilah oleh kamu, sebesar apapun cinta pria atau wanita kepada selain Tuhan
bukanlah cinta yang aman. Mengapa ? Tuhan tidak pernah cemburu. Tuhan tidak pernah
meminta. Tuhan selalu memberi. Kedua orang tua kita juga sama, sama sama cinta
dalam arti memberi, tanpa cemburu dan ikhlas berkorban. Cinta aman. Itu sebabnya
aku begitu hormat dan sayang kepada ibuku. Karena ibuku adalah cinta amanku, bayang
bayang Tuhan..."
“Benarkah semata-mata karena rasa aman yang membedakan cinta sesungguhnya ?”
tanya Yuni
“Ya. Sesungguhnya cinta selain kepada Tuhan hanya ada dalam pembesaran di pikiran,
di perasaan. Cinta tak akan selesai dirumuskan dengan pemikiran. Cinta aman tidak
akan kamu peroleh dari anak, cucu, menantu, suami, harta atau jabatan. Seseorang
hanya memiliki satu cinta, yaitu Tuhan , yang bagaikan air sungai, bisa mengalir ke
mana-mana, membelok ke selatan atau ke utara, tapi sebenarnya satu arus saja,
menuju Tuhan."
" Mengapa akhirnya uda menikahi IBu ?
“Ketika aku memutuskan untuk melamar istriku maka itulah keberanian, itulah
anugerah Allah. Keberanian, karena banyak cinta diutarakan tanpa keberanian
menikah. Anugerah, karena itu hadiah besar dari Tuhan. Semua itulah harga yang kita
bayar sepanjang usia berbagi rasa, merawat, memanjakan dan dimanjakan. Kita tak
akan merasa aman, merasa tentram, hanya dengan menyewa, membeli atau
memandangi. Paham, kan. Aku bisa saja mengagumi keindahan ikan berenang didalam
aquarium. Memandangi wanita cantik berbikini melenggok dipinggir kolam
renang. Menyewa escort jelita untuk acara business dinner dengan relasiku. Bisa.! Tapi
aku tidak merasakan cinta aman. Aku hanya bisa memandangnya. Tapi… istriku adalah
takdirku yang dianugerahkan Allah yang bukan hanya kupandangi tapi memang dia
amanah terindah dari pemberi Cinta, Tuhan.”
" Yuni sudah bayangkan kalau uda itu suami yang mengagumkan."
" Kenapa kamu bilang gitu ?
" Sebagai sahabat saja Uda hebat apalagi sebagai suami?
" Kamu engga pernah tahu bagaimana sebetulnya pribadi aku sebagai suami. Kamu
hanya kenal aku sehebat yang kamu liat sekarang. Tadinya aku pria yang lemah, peragu
dan penuh inferior. Tapi berlalunya waktu, istriku mendidikku jadi seperti sekarang ini.
Dan sampai kini mungkin dia adalah mentorku dengan memberikan kepercayaan luar
biasa. Ya baru aku sadar dia bukan hanya istri tapi juga adalah sahabatku, yang Tuhan
kirim kepada ku agar aku bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik. "
Yuni terdiam dan terhenyak dengan kata kata Burhan. Kembali, akhirnya Yuni sadar
bahwa dia harus bersyukur memiliki sahabat seperti Burhan, sebagai anugerah dari
Allah “
“ Kamu tahu Yun, Istri itu walau kadang terkesan seperti ikan yang berenang didalam
aquarium , ada kebebasan namun ia terhalang oleh dinding tebal dalam bentuk budaya
dan agama yang mengharuskan dia selalu menjaga kehormatan suaminya dalam kondisi
apapun. Menghindari fitnah ketika suaminya sedang tidak ada dirumah. Menjaga dan
merawat semua yang di amanahkan suaminya dan menanti ketika suaminya pulang ,
semua karena Tuhan tentunya..
"Bagaimana sikap uda sebetulnya terhadap aku, ? Katanya dengan nada lucu.
" Kamu memang bukan wanita sempurna tapi ya limited edition"
Yuni tertawa dan Burhan hanya tersenyum. “ Sekarang Yuni paham bagaimana bersikap
kalau sampai Pilot itu menyatkaan cintanya dan ingin menikahi Yuni. “
“ Bagus.! “
“ Uda, ini ada tawaran dari keluarga pemilik Hotel yang ada di Jakarta, Bali, Manado,
Yogyakarta. Mereka mau jual. Aku sudah suruh team untuk pelajari. Kalau bagus untuk
mendukung anak perusahaan kita yang kelola bisnis pariwisata. Aku mau beli. Boleh
Uda ?" Kata Yuni mulai mengalihkan pembicaraan soal bisnis.
“ Terserah kamu aja. Yang penting jangan ganggu cash flow holding. “
“ Baik Uda. Aku mau gandeng Ventture Capital dari China. Mereka pernah bilang,
mereka berminat lebarkan bisnis pariwista di Indonesia karena tingkat kunjungan turis
china ke Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat.”
" Dari mana kamu kenal venture capital itu?
" Dari si cantik Wenni."
" Oh dia. Boleh aja."
" Keliatannya Wenni jatuh cinta dengan Uda. Sama sepeti aku ya ?
" Wenni adalah sahabatku.Dia bantu aku ketika awal awal mendirikan Holding di Hong
kong."
" Tentu sangat istimewa sekali ya"
" Ya sahabat. Sahabat itu kadang susah bedakan dengan istri. "
" Bedanya ?
" Dengan istri ada kewajiban memberikan nafkah di tempat tidur, sementara kepada
sahabat engga ada kewajiban itu. Selebihnya sama"
" Oh itu sebabnya Yuni dan mungkin juga Wenni engga dapat kewajiban itu dari Uda."
Kata Yuni tersenyum memerah wajah.
" Bagiku sex hanya soal option, namun sakral. Kita akan selalu bersama sama walau
tanpa sex ?
Sebelum tutup bill, Burhan menerima telp dari luar negeri. Ternyata yang telp Yuli.“
Papa lagi sama mama. Mau bicara dengan mama ? Kata Burhan melirik ke Yuni. Burhan
bicara sebentar dengan Yuli dan kemudian menyerahkan telp ke Yuni.
“ Kenapa kamu engga jawab keinginan Yull mau lanjutkan sekolahnya ke London?
“ Aku belum bisa putuskan. Uda, nanti ajalah. Kan baru tahun depan dia tamat SMU.”
“ Kamu keberatan ?”
“ Masih aku pikirkan.”
“ Ya udah. “
“ Uda aku antar pulang ya”
“ Engga perlu.Aku masih harus ketemu dengan tamu yang baru datang dari Hong Kong
tadi jam 10 malam baru check ini di hotel.”
“ Mau Yuni temanin ?
“ Kamu pulang aja. Ini sudah jam 11 malam.”
“ Emang kenapa jam 11 malam. Emang ada yang nunggu Yuni pulang”
“ Kamu harus istirahat. Besok harus masuk kantor.”
“ Ya uda. “
***
Ketika itu musim dingin. Yuni datang ke Beijing karena di Undang oleh perusahan
ventura untuk membicarakan lebih detail rencana pengembangan bisnis pariwisata nya.
Dia telah dapat izin dari Burhan untuk melanjutkan rencana pengambil alihan jarigan
hotel. Wenni tidak bisa mendampinginya meeting karena Wenni sedang business trip ke
Afrika. Sesampai di Bandara dia di jemput orang staff dari modal ventura. Yuni merasa
tersanjung karena di jemput dengan perlakuan sangat hormat. Tapi memang beginilah
cara pengusaha china memperlakukan mitranya. Mereka sangat ramah. Setidaknya
mereka ingin memastikan tamunya merasa nyaman selama kunjungan. Yuni menginap
di Hotel Bintang Lima jantung kota Beijing karena kebetulan Holding yang di kelola
Burhan mempunyai saham di Hotel ini.
Malamnya Yuni di undang Dinner. Suasana semakin nampak begitu ramah. Untung Yuni
fasih bahasa mandarin sehingga walau baru kenal terasa akrab. Barulah Yuni tahu
ternyata CEO dari Modal Ventura adalah sahabat Burhan. Mereka pernah satu team dari
China Western Development Program. Ini program kemanusiaan untuk membantu rakyat
miskin di China bagian barat. Yuni samakin bingung. Kapan Burhan punya waktu bekerja
sampingan sebagai volantire. Yang lebih membuat Yuni terkejut adalah ketika CEO itu
mengatakan Burhan pernah duduk sebagai Direktur Asia Fasifik dari lembaga
international di bawah PBB yang mengkhususkan bidang program kemanusiaan di negara
miskin. Dan tambah terkejut lagi adalah Burhan juga pernah duduk sebagai salah satu
direktur lembaga charity di bawah Vatican. Padahal Burhan seorang muslim yang taat.
Burhan memang terkesan tertutup dengan kegiatan sosialnya. Bahkan untuk kegiatan
bisnis pun Burhan sangat tertutup kepada siapapun. Dia selalu menonjolkan
eksekutifnya. Bahkan dia melengkapi para eksekutifnya dengan kontrak kerahasiaan (
NDA ) untuk tidak membocorkan informasi tentang posisinya di perusahaan. Mungkin
Burhan termasuk salah satu pengusaha yang sudah menganut officeless mengelola
bisnisnya. Itu karena kehebatannya memanfaatkan IT dalam sistem informasi
management serta kemampuannya menunjuk orang yang tepat sebagai eksekutif.
Pertemuan dengan eksekutif kebanyakan diadakan di luar kantor. Bisa dimana saja,
sesuka Burhan. LIngkungan pergaulannya yang tahu siapa dia hanya banker, CEO
perusahaan MNC. Kalaupun ada pejabat pemerintah atau politisi yang mengenalnya
itupun sangat terbatas. Hanya mereka yang sudah di kenalnya jauh sebelum orang itu
jadi pejabat atau politisi. Namun ketika orang itu jadi pejabat publik maka Burhan akan
menjaga jarak dengan orang itu. Yuni sering diajak Burhan bertemu dengan pejabat
Publik. Pertemuan itu selalu di tempat yang tidak umum. Menurut Burhan yang tidak
pernah Yuni lupakan bahwa pejabat publik itu usia jabatannya terbatas karena waktu.
Biasanya paling lama 10 tahun. Namun pengusaha punya waktu tidak terbatas. Jangan
sampai kedekatan dengan pejabat publik membuat business terancam seiring dengan
usia jabatan itu. Pengusaha harus bisa bertahan dan beradaptasai dengan siapapun yang
jadi penguasa.
Burhan pernah menasehati Yuni bahwa hormati pejabat karena dia punya kekuasaan.
Jangan lawan atau pertanyakan kebijakan pemerintah. Patuhi dan hormati mereka
sepantasnya. Karena kalau penguasa mau hancurkan pengusaha gampang sekali.
Sebaliknya mereka juga bisa dengan mudah membuat pengusaha berkembang pesat dan
sukses. Juga hormati pengusaha yang berada diatas. Mereka sukses dan punya akses
kepada financial resource, tekhnology, market. Dekati mereka dengan merendahkan
hati. Makanya Yuni sering lihat Burhan kalau bertemu dengan pengusaha kalangan atas,
dia selalu melayani mereka dengan santun dan hormat. Dia selalu bayar bill untuk
makan malam dengan mereka. Kadang pertemuan itu lebih banyak tidak ada hubungan
dengan bisnis tapi Burhan perlakukan mereka dengan penuh hormat. Menurut Burhan ,
mungkin kita tidak butuh uang dari orang yang sukses tapi bergaul dengan mereka dapat
menimbulkan aura positip bagaimana seharusnya mengembangkan bisnis dengan benar.
Seusai makan malam, Yuni kembali ke Hotel. Sesampai di kamar hotel dia siap siap
untuk mandi dan setelah itu tidur. Namun telp cellularnya bergetar.
“ Yun”
“ Ya Uda.”
“ Tadi gimana makan malamnya ?
“ Luar biasa. Mereka ramah sekali uda.”
“ Baguslah. Gimana rencana bisnis kamu, apakah mereka tanggapi ?
“ Besok akan di bahas detail nya di kantor mereka.”
“Oh OK.”
“ Eh, Uda. Tadi CEO nya cerita soal Uda. Kok engga pernah cerita ke Yuni kalau uda
juga pegiat kemanusiaan berkelas dunia?
“ Ah bisa aja kamu. Itu Chong terlalu berlebihan cerita soal aku.”
“ Uda hebat. I love you”
“ Besok siang aku masuk Beijing mau ketemu relasi. Tapi malamnya kembali ke Hong
Kong”
“ Kenapa engga nginep semalam aja Uda.”
“ Ada yang mau di tanya?
“ Engga ada uda. Hanya pengen cepat ketemu Uda aja. Terakhir ketemu dua bulan lalu
ya”
“ Ya udah ya.. Jangan lupa telp Yuli ya.. Have a nice sleep “
“ Ya uda.”
***
Sepulang dari Beijing, Yuni melakukan negosiasi intensip dengan pihak keluarga yang
akan menjual hotel. Akhirnya harga dan cara pembayaran di sepakati. Namun yang jadi
masalah adalah pihak Ventura tidak mau terlibat sebelum ada purchase agreement
dengan pihak pemilik Hotel . Sementara pihak pemilik hotel tidak mau melakukan
purchase agreement tanpa ada uang muka sedikitnya 5%. Yuni sudah di peringatkan
Burhan tidak boleh menganggu cash flow holdingnya. Dari mana mendapakan uang
sebesar 5% itu?
Yuni menghubungi seorang konglomerat yang istrinya berteman baik dengan Yuni.
Ternyata dapat tanggapan baik. Konglomerat itu menawarkan skema Repo saham
perusahaan yang akan di ambil alih itu dengan ketentuan Yuni harus setuju dalam
certain time perusahaan listed di bursa Hong kong. Artinya Konglomerat itu minta agar
nilai pinjaman yang di berikan itu dianggap sebagai transaksi pembelian kembali saham
oleh Yuni dengan harga di tetapkan didepan. Sebelum tanda tangan perjanjian dengan
konglomerat itu , Yuni menghubungi Burhan.
“ Uda.” Panggil Yuni melalui telp international karena Burhan sedang di Hong Kong.
“ Ya “
“ Aku lagi deal dengan pak Tony soal Hotel itu “
“ Tony ? siapa itu ?
“ Itu Uda, konglomerat yang punya jaringan ratail. Istrinya teman aku”
‘ OK”
“ Aku butuh uang tunai sebesar 5% untuk akuisisi Hotel itu. Karena cash flow holding
engga bisa diganggu, aku pinjam ke dia. Proposalnya bagus uda.”
“ Kirim via email ke aku proposalnya”
“ Sekarang aku kirim ya. Jangan matikan telp”
Tak berapa lama setelah Yuni kirim email.
“ Yun kamu keluar dari deal dengan Pak Tony itu.”
“ Kenapa Uda.?
“ Keluar aja sekarang.”
“ Kenapa Uda.?
“ Kamu keluar dulu , baru nanti aku jelaskan.”
“ Tapi aku kepepet waktu uda. Aku butuh uang 5% itu”
“ Dengar engga kamu. Keluar sekarang.”
“ Ya Uda.”
Yuni menghela nafas panjang. Dia kenal betul sifat Burhan. Ini SOP yang harus dia
patuhi. Tak berapa lama dia telp konglomerat itu bahwa dia keluar dari transaksi.
Dengan ucapan maaf sebesar besarnya. Seharian di kantor Yuni dalam keadaan
bingung. Dia harus memberi tahu kepastian kepada pihak pemilik hotel. Dia tidak ingin
gagal. Karena momentum pertumbuhan wisata Cina harus di manfaatkan, apalagi
pemerintah china telah memberikan quota exit permit bagi warga negaranyauntuk
kunjungan ke Indonesia sebanyak 10 juta orang setahun.
Telpnya bergetar
“ Ibu Yuni ?
“ Ya. Anda siapa ?
“ Saya diminta untuk menghubungi anda.”
“ Oleh siapa? Untuk apa ?
“ Pak Burhan meminta saya bantu ibu. Katanya ibu butuh pre financing untuk beli hotel
“Ya ya..Bu “ Yuni berusaha sopan karena dia menyebut nama Burhan. Tapi wanita yang
menghubunginya itu menggunakan bahasa inggeris.
“ Bisa saya ketemu ibu ?
“ Dimana ?
“ Kebetulan saya nginap di hotel Pulman Thamrin.”
“ OK segera saya kesana?
“ Terimakasih Bu.”
Ketika bertemu di Hotel , wanita itu menyerahkan kartu namanya. Ternyata dia
eksekutif dari perusahaan pembiayaan yang bermarkas di Tokio. Kebetulan sedang
kunjungan bisnis ke Jakarta. Wanita itu bertanya beberapa hal tentang proses akuisisi
itu. Setelah ada kesepakatan mengenai proses yang di inginkan , wanita itu
menyerahkan dokumen untuk di tanda tangani oleh Yuni. Setelah membaca dokumen,
tahulah Yuni bahwa dia harus mengembalikan pinjaman itu dalam jangka waktu 1 tahun
dengan bunga 2% setahun atau pinjaman itu di convert dengan saham perusahaan dari
unit business yang menjalankan bidang pariwisata. Setelah Yuni tanda tangani, wanita
itu berjanji besok pagi uang sudah sampai di rekening notaris yang di tunjuk dimana
Purchase agreement akan di tandatangani. Pertemuan itu tidak lebih 1 jam. Usai
pertemuan itu terasa Yuni berjalan diatas awan. Burhan selalu bertindak cepat dan di
saat yang tepat. Burhan mungkin sedang ada masalah atau memang tidak punya cash
flow bagus tapi financial network nya cukup kuat untuk selalu memberikan solusi bagi
perusahaan di lingkungannya.
“ Uda “ Yuni telp Burhan
“ Ya.”
“ Yuni udah ketemu wanita itu dan udah tanda tangani pinjaman untuk yang 5% uang
muka.”
“ Good.”
“ Uda, boleh tanya?
“ Apa ?
“ Kenapa engga boleh deal dengan Pak Tony?
“ Dia itu pemain shadow banking. Kamu deal dengan sindikat yang punya hoby hostile
take over perusahaan orang. “
“ Oh tapi dia orangnya agmais sekali dan philanthropy.”
“ Ya engga usah di bahas pribadi orang. Cukup itu aja asal kamu tahu.”
" Uda engga marah kan sama Yuni."?
" Marah ? Kenapa harus marah?
" Soal pak Tony."
" You are my lady , how come i could be mad you
“ Thanks my dear
“***
Usai pembelian jaringan hotel itu, Yuni menggandeng international chain Hotel yang
punya akses ke pasar wisata di China. Bagaimanapun dengan pengambil alihan ini unit
business tourism di bawah holding nya semakin punya potensi untuk unggul dalam
persaingan menuju ASEANTA. Yang membuat Yuni terharu adalah lembaga pembiayaan
yang memberikan dukungan 5% uang muka pembelian hotel itu ternyata adalah private
investor yang juga pemegang saham dari Jal Airline dan pemegang saham beberapa
international airport. Dengan demikian , akan lebih mudah bagi Yuni membujuk mereka
tahun depan untuk jadi strategy partners. Value perusahaan akan semakin besar karena
bermitra dengan investor yang punya bisnis infrastruktur pariwisata berkelas dunia.
Mengapa selalu mudah bagi Burhan memberikan solusi? ya karena semua perusahaan di
lingkungannya berdiri karena visi nya. Para eksekutifnya adalah sang kapten yang
berada di garis depan memimpin permainan sesuai dengan strateginya. Mereka adalah
orang orang yang mencintainya dengan tulus. Mereka bekerja keras karena vision
Burhan. Mereka bekerja karena passion Burhan sebagai wirausaha. Itulah yang di
pahami oleh Yuni. Makanya dia tidak begitu terkejut bila Burhan selalu punya solusi.
Tapi secara pribadi Burhan adalah anak ibunya. Dia bukanlah petarung predator.
Baginya kehidupan ini tidak di sikapi berlebihan. Dia hanya focus ketika sedang
menghadapi masalah. Setelah itu dia akan melupakan , untuk menghadapi masalah
baru. Hidupnya seperti air mengalir di sungai yang bisa saja terhalang batu besar tapi
selalu ada jalan untuk terus mengalir. Apakah sekuat itu Burhan. Tidak juga. Yuni acap
di bangunkan tengah malam karena Burhan minta di temani dalam kesendirian di
cafe, di tempat yang tak banyak orang tahu. Di sana Burhan hanya duduk berdiam
tanpa bicara apapun. Dia lelah dan Yuni tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Tapi
setidaknya Burhan punya cara tersendiri bagaimana mengalihkan stress nya tanpa harus
merugikan dirinya dan orang lain. Dia tidak ingin nampak lemah di hadapan orang lain
termasuk di hadapan keluarganya. Yuni merasa tersanjung , dalam hal ini Burhan mau
membuka dirinya tanpa topeng di hadapan Yuni.
Mungkin persahabatan dengan Burhan adalah pilihan tepat di bandingkan harus
menjadi istrinya. Demikian pikiran Yuni menyikapi hubungannya dengan Burhan. Dan
bagaimana dengan Andi Ng. ? Semakin hari Yuni merasakan hubungannya dengan Andi
Ng semakin tidak jelas kemana arahnya. Andi hanya senang bersama dengannya
menghabis waktu di cafe tapi ya hanya itu. Yuni tidak menemukan lain kecuali pria
yang depresi karena punya istri tidak sesuai yang di mau. Pria macam apakah ini?
Apakah pantas di jadikan sandaran? Mengapa harus terus mengeluh dan tersakiti dengan
sikap orang yang di cintai. Apalagi itu adalah istri? Tidak kah ada ruang untuk bicara
dan berdamai dengan kenyataan? Mungkin Andi Ng hidup dalam imajinasi tentan cinta
yang dia maknai. Namun lupa kehidupan bukanlah imajinasi tapi kenyataan , yang
semua orang harus paham bahwa tidak ada yang sempuna. Pahamkah Andi soal ini?.
Kalau dia tidak paham , maka sebetulnya dia tidak akan pernah bisa mencintai orang
lain. Dia lebih mencintai dirinya sendiri.
Yang membuat Yuni mulai menjaga jarak dengan Andi adalah ketika dengan begitu saja
Andi menyentuhnya. Yuni terkejut, Dimanakah kehormatan pria ini? Dia tidak pernah
menyatakan cintanya tapi tanpa merasa sungkan menyentuh wanita? Apakah ini sudah
menjadi habit baginya bahwa pria bebas melaksanakan nafsu hewaninya kepada setiap
wanita. Walau terkesan tidak serius sentuhan itu namun perasaan kewanitaan Yuni
terasa terhina. Yuni merasa memang dia berada dalam posisi yang salah dan kebetulan
bertemu dengan pria yang salah. Sehingga kedekatannya di tanggapi lain seolah dia
butuh di sentuh. Padahal dia butuh cinta.
Sejak itu Andi tidak lagi menghubungi Yuni. Dan Yuni bisa memaklumi bila Andi merasa
tersinggung ketika dia menolak di sentuh. Setelah pulang dari kantor dia lebih banyak
di rumah untuk membaca. Di akhir minggu dia selalu menghabiskan waktunya bersama
Yuli di Apartemen nya di Singapore. Telah lebih 3 bulan tidak bertemu dengan Burhan.
Komunikasi dengan Burhan selalu terjalin melalui telp. Ada keinginan Yuni untuk
bertemu dengan Burhan namun dia tidak punya alasan kuat untuk bertemu.
Sore hari sepulang dari kantor dia sengaja datang ke cafe ke gemaran Burhan. Setelah
3 jam berada di cafe itu, nampak Burhan datang seorang diri. Ada rasa bahagia ketika
melihat Burhan melangkah ke table.
“ Eh untung kamu ada disini. Kebetulan aku mau ke spa. Temanin ya”
“ Tempat biasa ya uda?
“ Ya lah.”
Ada kebiasaan Burhan lain. Dia suka kumpul dengan teman temannya semasa dia masih
jadi salesman. Sekarang teman temannya itu semua jadi pengusaha. Kalau Burhan sudah
kumpul dengan mereka, nampak sekali keakraban itu. Mereka saling ejek satu sama lain
dengan kata kata yang membuat telinga pedih. Namun mereka menikmati kebersamaan
itu. Mereka bersahabat tanpa topeng. Satu sama lain tidak ada kerjasama bisnis. Karena
memang bisnis yang mereka kelola satu sama lain berbeda. Persahabatan mereka
memang tulus. Hanya murni bersahabat.
Di ruang lounge spa , ketika bersantai Yuni memberanikan diri untuk bicara agak serius.
“ Uda, boleh bicara sebentar”
“ BIcara aja”
“ Aku bingung soal Yuli. Dia tidak bisa merubah keinginannya untuk melanjutkan
pendidikannya ke London. “
“Emangnya kamu engga setuju?
“ Yuni engga mau terlalu jauh dari Yuli, uda.”
“ Kamu sayang sama anak ?
“ Ya sayang sekali.”
“ Aku rasa kamu engga sayang anak dech. Kamu hanya mencintai diri kamu sendiri.
Kamu anggap anak sebagai pelipur lara kamu. Sebagai pelengkap kamu dalam
kesepian.”
“ Uda…kok ngomong begitu.” Kata Yuni mencubit pinggang Burhan.
“ Loh faktanya memang begitu.”
“ Jadi gimana seharusnya Yuni?
Burhan hanya diam. Dia asyik nonton film lewat layar lebar yang terdapat di lounge
itu.
“ Uda mau Yuni ambilkan Kopi?
“ Ya. Thanks.”
“ Jadi gimana uda” Kata Yuni ketika menyerahkan Kopi ke meja.
“ Anak itu bukan milik kita Yun. Anak itu milik Tuhan. Dia punya takdir sendiri. Tugas
kita hanya mengarahkan dia agar dapat lingkungan yang baik untuk dia berkembang.
Biarkan dia dengan pilihan hidupnya. Doakan saja. “
“ Tapi Yuni…”
“ Yun, hanya masalah waktu pada akhirnya anak pasti meninggalkan kita atau kita
meninggalkan anak. Soal bagaimana perginya itu hanya sunattullah. Tapi esensinya
tidak ada kebersamaan yang abadi. Suka tidak suka kita sebagai orang tua harus siap
untuk hidup sendiri tanpa anak. Yakinlah kamu akan baik baik saja. Yuli juga akan baik
saja. Ikatan cinta tulus diantara kalian tak akan bisa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Ikhlas sajalah.”
Yuni menangis. Burhan dengan cepat memeluknya.” Kemarin aku sempat bujuk Yuli
untuk kuliah di Jakarta. Kamu tahu apa dia bilang ?”
“ Apa?
“ Yuli ingin sekolah tinggi agar Yuli bisa jaga mama nanti di masa tua mama. Yuli sayang
mama..”
Yuni terharu. Hening.
“ Uda pengen Yuli gantikan Yuni nanti di perusahaan? Kata Yuni dengan suara lirih
“ Itu tergantung Yuli. Kalau memang itu pilihannya , aku akan dukung dan kamu harus
bina dia dari bawah”
‘ Semoga Yuli dapat jodoh yang baik. Engga seperti mamanya.
“ Amin ya Allah.Tapi tetap bersyukur karena mama nya dapat sahabat seperti aku ya"
" Dapatin sahabat seperti Uda engga gampang. Seperti mencari jarum di tengah
tumpukan jerami."
Usai Spa, Burhan mengajak Yuni kembali ke cafe namun sebelumnya mampir dulu ke
mushola di mall. Seusai sholat Isya, mereka berjalan kaki menyusur trotoar. “ Bulan
depan Yuli sudah terbang ke London dan akan tinggal di sana untuk lima tahun. Yuni
akan merasa sepi sekali. Akhir minggu yang tentu akan membosankan tanpa Yuli.”
“ Oh ya Yun. Bisa bantu aku engga ?
“ Apa ?
“ Aku butuh kamu bantu aku deal dengan prinsipal merek di Amerika.Usahakan mereka
mau kerjasama dengan kita bangun pabrik elektronik di Indonesia. Data perusahaannya
nanti aku suruh Lena kirim ke kamu. Pelajari rencana bisnis itu dengan baik.”
“Kan holding Yuni engga masuk ke binsis elektronik.”
“ Makanya aku minta tolong kamu. Bisnis ini akan di kelola oleh holding di Malaysia.”
“Jadi tugas Yuni hanya bantu Uda untuk deal dengan prinsipal”
“ Ya “
“ Kenapa Yuni?
“ Karena hanya kamu yang selalu sukses mengemnban tugas dari aku?
“ Emang apa kelebihan Yuni”
“ Apa ada yang aku tugaskan ke kamu yang gagal ?
“ Ah itu biasa aja Uda. Yuni juga pernah gagal.”
“ Kamu punya passion yang luar biasa atas setiap tugas yang aku berikan.”
“ Passion?
“ Ya passion karena kamu mencintai aku. “
“ Tuh kan ketahuan memang dari dulu Uda manfaatkan cinta Yuni untuk bisnis yaaa.”
Kata Yuni mencubit lengan Burhan dengan keras. Burhan sampai meringis menahan
sakit.
“ Mau kan ?
“ Ya siaaap Boss. Yuni siap laksanakan. “
“ Good. That is my lady”
***
Di Changi Airport, Yuni memeluk Yuli lama sekali seakan tak ingin berpisah dengan
satu satu putrinya. Burhan hanya mematung sambil tersenyum menyaksikannya.
“ Mama, Yuli harus masuk gate ma…” Kata Yuli seakan mengingatkan dia harus segera
boarding.
“ Ya nak..Mama ikhlas. Pergi lah. Ingat nasehat mama ya.”
“ Ya ma. Yuli ingat semua nasehat mama.”
“ Dan satu lagi …Kamu kan janji akan telp mama sedikitnya seminggu dua kali.”
“ Ya mama.” Kata Yuli tersenyum menatap Burhan “ Papa terimakasih. Doain Yuli selalu
ya Pa” Kata Yuli memeluk Burhan.
“ Tentu papa akan doakan. Jaga diri baik baik ya sayang. Ingat nasehat mama.”
“ Ya papa”
“ Masih ingat nasehat papa ?
“ Ingat papa”
“ Apa?
“ Yuli harus dekat kepada Tuhan. Agar hidup Yuli selamat dunia akhirat, sholat engga
boleh di tinggalkan. Itulah cara terbaik untuk mencintai mama. Yuli sayang mama..”
Kata Yuli melirik Yuni yang masih berlinang air mata.
“ Bagus. “ Burhan melepas pelukannya.
Yuni nampak rapuh sekali ketika melihat Yuli berlalu darinya dan masuk gate dengan
pasti. Yuni baru menatap Burhan setelah Yuli menghilang dari pandangannya.
“ Uda. Aku teringat 14tahun lalu Yuli aku gendong keluar dari rumah setelah di usir oleh
suamiku. Aku menangis sejadi jadinya. Bukan nasip ku yang kuratapi tapi nasip Yuli.
Aku tak ingin nasipnya seperti aku kelak. Aku yatim piatu , Uda. Semua sanak famili
tidak peduli denganku. Sahabat semua tutup pintu membantu. Aku sujud di jalan
sambil menangis, ku katakan kepada Tuhan” Kuatkan aku ya Tuhan untuk anak manusia
yang engkau titipkan kepadaku” entah kenapa aku di kuatkan untuk telepon Uda. Dan
ketika terdengar suara di seberang dengan suara serak serak basah. Terasa ada cahaya
dan harapan. Benarlah, Uda merespon dengan cepat. Hanya dua jam setelah aku telp
Uda, seseorang menemui aku di halte bus. Ketika itu jam 1 pagi. Setelah mengenalkan
bahwa dia orang uda. Dia bawa aku ke apartement mewah. Diapun memberi aku uang
untuk makan. Kini, bayi usia 4 tahun lalu dalam tangis lapar dan haus, telah tumbuh
dewasa dan penuh percaya diri terbang ke Eropa untuk satu cinta cita agar dia kelak
bisa mengurus Yuni di masa tua..Uda..terimakasih..terimakasih..Udah terlalu baik.
Terlalu baik.” Kata Yuni dengan air mata memeluk Burhan.
Burhan hanya tersenyum. “ Sekarang kita juga harus check ini pesawat untuk kembali
ke Jakarta. Udahan nangisnya. Ayo senyum”
Yuni berusaha tersenyum. “ Thanks for being my best friend.”
“ Kamu akan selalu jadi sahabat aku, Yun”
‘ Terimakasih uda.”
“ Oh ya. Ini ada amplop. Silahkan kamu terima.” Kata Burhan ketika sudah di dalam
pesawat.
“ Apa ini?
“ Bukalah..”
Ketika Yuni buka amplop dan membaca “ Uda…” Yuni setengah teriak kegirangan. ‘ Uda
baik banget. Thanks Uda.”
Burhan hanya tersenyum.
“ Jadi kapan Yuni bisa terbang ke London?
“ Terserah kamu tapi pastikan pendelegasian Holding ke pihak profesional beres dulu.
Ingat kamu hanya setahun tinggal di London sampai urusan deal dengan prinsipal di
Amerika selesai. Setelah itu kamu kembali ke Jakarta.”
“Beres Uda. Tenang aja. Udah ada calon yang hebat untuk gantikan Yuni sementara.
Walau begitu Yuni akan terus perhatikan kantor. Yuni akan atur jadwal meeting di
Jakarta. Dan akan terus menitor lewat video conference“
Tidak ada serba kebetulan dalam hidup ini. Pertemuan Burhan dengan Yuni sudah
kehendak Tuhan. Ketika mereka saling kenal, proses sunatullah terjadi. Kalaulah
bukan karena sikap Yuni yang pandai berterima kasih mungkin dia tidak akan
mendapatkan hikmah dari pertemuan itu. Kalaulah bukan sifat Burhan yang terbuka
dan berpikir positip , mungkin tidak akan terjalin persahabatan yang berbeda kelas
itu. Kalaulah bukan karena kesabaran dari kedua belah pihak , persahabatan itu tidak
akan bertahan lama. Kalaulah tidak atas dasar niat baik, persahabatan itu tidak
akan saling berbagi dan percaya. Karenanya keduanya menyadari bahwa menikah
adalah takdir. Mencintai adalah pilihan. Andaikan cinta tidak bersua takdir maka
hubungan persahabatan tidak seharusnya terputus. Apapun itu pada akhirnya kembali
kepada keikhlasan ..Selebihnya mereka akan baik baik saja.
***
Ini salah ku..
Ketika di Bandara, Yuni menanti Burhan akan mengantarnya sampai Beijing tapi setelah
mendekati waktu boarding, telpnya bergetar. Nampak di layar nama My dear Brother
“ Ya Uda. “
“ Yun, maaf aku engga bisa antar kamu sampai Beijing. Karena jadwal meeting di
Beijing di tunda. Aku harus terbang ke Kunming terus ke Puer dan kemudian ke Laos.
Ada masalah dengan izin perluasan lokasi kebun pisang. Pemerintah Laos keberatan
keluarkan izin perluasan. Aku harus bujuk mereka. Engga apa apa kan ?
“ Engga apa apa Uda.”
“ Oh Ya. Kamu sudah pelajari semua kan apa tugas kamu ?
“ Sudah uda.”
“ Ada masalah?
“ Sekarang belum ada. Nanti kalau ada masalah Yuni akan hubungi Uda.”
“ Ok. Nanti di Bandara kamu akan di jemput oleh Henry. Dia akan siapkan apartement
untuk kamu”
“ Uda, boleh usul engga ?
“ Apa ?
“ Boleh Yuni beli Apartement di London.”Ini kebiasaan Yuni apapun yang akan di beli,
dia selalu minta izin dari Burhan walau itu dari uangnya sendiri dari bonus dan deviden.
“ Boleh. Kan kamu ada uang. Beli aja. Tapi untuk sementara kamu tinggal di apartement
yang di siapkan Henry.
“ Terimakasih Uda. Siapa itu Henry?
“ Dia orang Holding di Hong Kong yang ditempatkan di Geneva.”
“ Apa tugasnya ?
“ Dia bantu kamu. Apapun kebutuhan kamu dia akan siapkan.”
“ Berapa usianya ?
“ 45 tahun. Seusia kamu.”
“ Pasti ganteng”
“ ya Tentulah. Dia Asia Amerika. “
“ Lajang ?
“ Kenapa ?
“ Tanya aja.”
“ Ok. Engga tahu aku lajang atau bukan. Apakah itu penting untuk kamu tahu?
“ Engga penting. Hanya ingin tahu aja.”
“ Oh Ya. Bulan depan aku akan ke Moskow, aku akan usahakan mampir ke London. “
“ Benar ya uda. “
“ Ya.”
“ Janji”
“ Engga bisa janji. Kamu kan tahu jadwal aku yang atur Lena. Dia bisa rubah jadwal aku
mendadak.”
“ Ya Uda.”
“ Udahan ya. Bye”
“ Bye.”
Dalam perjalanan, Yuni berusaha membaca ulang Business plan. Semua nampak biasa
saja. Tapi ketika dia baca paper mengenai global strategy investment, tahulah Yuni
akan visi di balik proyek ini. Burhan ingin memanfaatkan pasar ASEAN menjelang
ASEANTA. Di tambah lagi pemerintah Indonesia sudah membuat aturan lokal konten
untuk produk Elekronik. Memang Indonesia terlalu lama tidur soal industrialisasi.
Bahkan selama 10 tahun belakangan terjadi deindustrialisasi. Penguasaan tekhnologi
bukan hal sulit karena insinyur Indonesia banyak yang hebat dan mampu untuk bersaing.
Tapi yang sulit adalah bagaimana produk itu di percaya pasar. Memanfaatkan merek
berkelas dunia sebagai dasar mengembangkan bisnis tekhnologi adalah mutlak. Itulah
sebabnya Burhan ingin menggandeng pemilik merek terkenal di Amerika untuk
bermitra. Apakah mungkin?
Yuni membaca SWOT analisis dari business plan yang ada. Nampak sekali ini sudah di
pikirkan dengan matang. Semua aspek telah di pikirkan dengan baik. Team di belakang
Burhan memang hebat hebat. Mereka well educated dan paham kemana visi Burhan dan
menterjemahkan secara detail dalam rencana terukur. Profile dari target yang akan di
jadikan mitra sudah ada. Tapi tidak ada data mengenai siapa yang harus di hubungi.
Artinya, Yuni harus mencari tahu sendiri agar punya akses kepada target. Itulah
sebabnya Burhan inginkan Yuni melakukan tugas ini. Karena Burhan tahu benar akan
sifat Yuni yang mudah bergaul. Walau Yuni wanita namun cara dia bergaul di kalangan
atas atau bawah tetap menjaga kehormatannya sebagai wanita. Tak terasa perjalanan
panjang terasa singkat karena waktu Yuni dihabiskan dengan membaca semua dokumen
yang dia dapat dari Lena.
Benarlah, Henry yang menjemput Yuni adalah pria yang sangat mempesona. Rambut
model kekinian dan bibir merah. Artinya pria ini tidak merokok dan tubuh atletis itu
karena dia pandai menjaga kesehatannya. Henry sangat menaruh hormat kepada Yuni.
Ketika masuk kendaraan, Henri membuka pintu belakang kendaraan untuk Yuni dan
Henry yang drive kendaraan. Yuni merasa aneh. Henry menganggap dia sebagai Boss
sehingga tidak pantas duduk di depan dengannya. Selama kendaraan menuju
apartement, Yuni menelphone Yuli. Mengabarkan dia sudah ada di London. Yuli senang
sekali. Janji akan pindah ke apartemen Yuni. Setelah telp Yuli, Yuni bertanya hal sepele
kepada Henry. Ternyata Henry lulusan Harvard bidang financial and banking. Dia
sekarang memimpin Asset management dibawah Holding di Hong Kong. Menurutnya
perusahaan yang di pimpinnya itu baru dua tahun berdiri di Geneva namun
perkembangannya bagus sekali. Private investor dari Arab cukup banyak jadi clients
nya. Juga dari Indonesia, terutama kalangan pejabat dan politisi. Yuni hanya menyimak.
Tapi dari pembicaraan itu tahulah Yuni bahwa tidak mudah hidup sebagai Burhan, yang
harus terus berpikir mengembangkan bisnisnya dengan melebarkan telinga serta
manajamkan penciuman untuk mendapat peluang secara global. Entah apa yang
sebetulnya yang di tuju oleh Burhan. Kalau harta dan kesenangan hidup yang di tuju,
itu tidak nampak dari kehidupan pribadinya yang humble.Yang pasti Yuni tahu bahwa
Burhan memang berada diatas piramida bisnis global dan termasuk elite. Kehidupan
sosial seperti ini pasti tidak nyaman dan pasti kesepian.
Yuni tahu bahwa Burhan pernah mencoba masuk ke lingkungan sosial baru. Tak lebih
setahun dia merasa bingung sendiri. Dia merasa tidak di terima. Sifatnya sebagai
businessman tak bisa sinkron dengan sifat dasar humanisnya. Karena di lingkungan baru
itu orang tak beda dengan hidup di lingkungannya yang kapitalis. Orang di hormati
karena harta dan jabatan. Padahal dia inginkan lingkungan di mana dia dapat
menemukan ketulusan persahabatan. Ternyata dia memang tidak bisa keluar dari
lingkungan sosial yang sudah bertahun tahun menjadi pilihannya.
Apartment itu berada di kawasan docklands. Lingkungan yang bagus. Setiba Yuni di
apartement, sudah ada Yuli menanti. Yuli berlari merentangkan tangannya. “ Yuli
kangen mama” Katanya sambil memeluk erat Yuni.
“ Mama juga kangen.”
***
Yuni menyukai Docklands. Apartement sangat dekat dengan Canary Wharf sebagai
district financial center di London. Hal ini cukup nyaman, karena ada tranfortasi kelas
satu yang membuat perjalanan terasa singkat ke pusat London. Di sekitar apartemennya
memiliki banyak fasilitas - gym terbaik, Mall yang besar, banyak bar dan restoran. Hari
harinya lebih banyak di apartemen menyusun rencana kerjannya. Akhirnya Yuni
menyimpulkan bahwa dia harus mendirikan perusahaan di Amerika Serikat agar dia
punya akses dengan kalangan pebisnis di Amerika. Sehingga memudahkannya mendekati
target yang di incar Burhan. Rencana itu dia susun dan di kirim via email ke Burhan,
lengkap dengan anggarannya. Tak lebih tiga hari, Henry menghubunginya untuk
menyiapkan pendirian perusahaan di Amerika. Setelah perusahaan berdiri, anggaran
akan di kirim ke rekening perusahan itu.
Yuni tidak punya pilihan bila dia harus kembali berpisah dengan Yuni. Tapi setidaknya
setiap bulan sekali dia akan tinggal di London selama akhir pekan bersama Yuli. Tak
lebih sebulan setibanya di London, Yuni sudah terbang ke New York, AS. Henry
mendampinginya dalam penerbangan itu. Penerbangan itu membutuhkan waktu rata
rata 7 jam 30 menit. Sesampai di New York, di Bandara mereka di jemput oleh
perewakilan Holding. Wanita Negro yang ramah dan cantik. Yuni di sediakan fasilitas
apartement di Manhattan. Tak lebih seminggu semua proses pendirian perusahaan
tuntas. Selanjutnya Yuni akan berkantor di kawasan financial center. Inilah langkah
awalnya melaksanakan misi dari Burhan.Dia bertekad untuk sukses walau kondisi yang
ditetapkan Burhan dalam tugas ini tidak boleh melibatkan nama Holding di Hong kong.
***
Yuni membeli perusahaan yang nilainya hampir nol karena bangkrut akibat kalah
bersaing dengan China. Namun perusahaan ini terdaftar di Amerika dan telah punya
merek terkenal sebelumnya di pasar Amerika dan Asia. Dengan merek itu, dia
menggandeng Pabrikan di China untuk memproduksi. Target marketnya adalah pasar
Amerika khususnya kalangan menengah bawah. Hal ini sudah biasa di lakukan oleh
pemilk merek di Amerika yang lebih memilih menjadikan pabrik di China sebagai
outsourcing memproduksi merek mereka. Pertimbanganya jauh lebih efisien di buat di
China daripada di Amerika. Makanya tak aneh banyak pabrikan di Amerika yang gulung
tikar. Inilah hukum kapitalis. Walau omzet tidak begitu besar namun Yuni sudah bisa
mengkukuhkan perusahaannya sebagai produsen produk elektronik. Diapun masuk
dalam lingkungan sosial pengusaha elektronik. Semua aktifitas nya sesuai dengan
rencana yang dia susun dan di setujui oleh Burhan.
Seperti biasa setiap hari rabu sore, Yuni pergi ke Gym. Di tempat ini dia berkenalan
dengan seorang pria yang bekerja di pusat riset IT. Pria ini kelahiran Turki namun ber
kwarga-negaraan Francis dan mengembangkan karir nya di AS sebagai phd di bidang
IT. Namanya Mahmud. Yuni merasa suka berteman dengan pria ini y karena taat
beragama dan sangat sopan. Dari Mahmud, dia mengenal lebih jauh tentang dunia
elektronik khususnya IT. Namun kadang dia melihat Mahmud murung di sela sela
pembicaraan. Ketika di tanya, tahulah Yuni bahwa perusahaan tempat Mahmud bekerja
sedang di landa krisis. Rencananya program riset akan di hentikan. Penyebabnya di
samping karena persaingan bisnis, juga pihak perbankan di AS mempersulit penyaluran
kredit. Walau suku bunga sangat rendah namun tidak mudah mendapatkan kredit ,
terutama paska kejatuhan wall street tahun 2008.
Dari Mahmud Yuni mendapakan wawasan bahwa hampir tidak mungkin pemegang merek
yang menjadi target Burhan bersedia menjalin mitra. Mereka punya pabrik sendiri di
China dan Taiwan. Ada rencana membuat pabrik di Indonesia dan Malaysia. Pemengang
merek tersebut punya strategi menjadi monopoli pasar atas dasar penguasaan
tekhnologi yang ada. Mereka ,sebagaimana ruh pengusaha Amerika yang punya tendesi
menjadi diktator tekhnologi dan pasar. Namun Mahmud beredia mengatur pertemuan
Yuni dengan rekannya yang juga bekerja di perusahaan yang menjadi target Burhan.
Dengan senang hati , Yuni mengundang mereka makan malam di restoran. Tempat dan
waktu , dia menyesuaikan. Semua bill , Yuni yang bayar.
Dari pertemuan awal dengan para professional di Perusahaan yang akan jadi target ,
memudahkan Yuni berhubungan dengan mereka dan tentu semakin banyak bergaul
dengan mereka. Pergaulan lebih secara pribadi. Dalam beberapa acara kantor mereka,
Yuni di undang. Sehingga wawasan Yuni semakin luas dan keakraban terasa sekali. Atas
dasar itulah dia berencana melakukan langkah strategis untuk mulai beraksi. Rencana
konkrit telah disusunnya dengan baik dan ini akan dia bicarakan dengan Burhan. Dari
email , Yuni tahu Burhan ada di Moscow dua hari lalu. Rencana akhir minggu akan
mampir ke London. Yuni memastikan akan bertemu dengan Burhan di London.
Penerbangan dari New York ada 225 kali dalam seminggu. jadi hampir setiap jam ada
penerbangan ke London. Sehingga memundahkan Yuni mengatur jadwal jam terbang
setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ketika pintu Apartement terkuak, Burhan sudah
ada di ruang tamu bersama Yuli, hanya melirik Yuni dari tempat dia duduk di sofa. Yuli
segera menghambur kedalam pelukan mamanya.
“ Uda kapan datang ? Kata Yuli menyalami Burhan sambil mencium tangan Burhan dan
duduk di sebelah Burhan. “
“ Papa datang tadi malam ma. Tapi engga nginep di apartement. Papa tidur di hotel.”
Kata Yuli duduk di sebelah Burhan.
“ Kamu cantik , Yun” Kata Burhan memperhatikan Yuni telah menggunakan Jilbab.
“ Cantik ya Uda. Thanks ya. Ini kali pertama Uda bilang cantik dengan wajah serius.”
Kata Yuni
“ Siapa yang merubah pikiranmu ?
“ Mama, punya teman pria Turki yang soleh.” Kata Yuli sambil tersenyum kearah Yuni.
“ Wah bagus Yun.” Kata Burhan “ Makanya, kamu juga harus pandai cari teman. Carilah
teman yang membuat kamu lebih baik secara spiritual ya sayang” Sambung Burhan
kepada Yuli.
“ Ya Papa.Di kampus bisa di hitung dengan jari perempuan yang pakai jilbab seperti
Yuni. Tapi Yuni di terima untuk bergaul dengan siapapun. Tetap istiqamah dalam ke
imanan ya pa. Hanya berteman dengan orang yang akhlak nya baik”
Burhan memeluk Yuli“ Anak pintar.” Kata Burhan.
Yuni masuk kamar untuk ganti pakaian. Keluar dari kamar dengan pakaian santai. Tshirt
longgar dan celana panjang denim namun tetap menggunakan jilbab “ Uda kenapa
engga nginep di apartement aja. “
“ Aku ada business meeting dengan beberapa relasi. Jadi agak repot kalau tinggal di
apartemen. Besok sore sudah kembali”
“ Ke Hong kong”
“ Langsung ke Jakarta.”
Yuni minta izin ke luar karena ada janji dengan temannya di Islamic center. TInggalah
Burhan dan Yuni di apartement.
“ Gimana kerjaan kamu di NY “
“ Bagus Uda.”
“ Udah 5 bulan ya kamu di sana”
“ Ya. Uda, Yuni mau bicara soal tugas yang uda berikan ke Yuni.”
“ Ok. Silahkan.”
“ Keliatannya missi ini impossible. “
“ Mengapa ?
“ Aku udah tanya ke mereka yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan
perusahaan target itu. Tidak mungkin mereka mau bermitra dengan siapapun. Apalagi
memberikan authoritas memproduksi merek mereka. Mereka punya standar yang ketat
atas kualitas produknya. Alasannhya , produk mereka adalah supply chain utama untuk
mendukung kartel industri di bidang alat kesehatan dan semua yang berkaitan dengan
pengendalian system menggunakan tekhnology IT. Jadi lebih karena di sebabkan
melindungi kartel Industri yang menjadikan mereka sebagai supply chain utama” Kata
Yuni dengan hati hati.
“Aku udah tahu dari awal. Makanya aku tugaskan kamu”
‘ Jadi gimana Uda.?”
“ Kalau bisnis semua dapat di selesaikan dengan permohonan, tentu semua orang bisa
sukses. Tidak ada yang gratis dan tidak ada yang mudah. di dunia ini. Kalau ingin unggul
dalam bisnis maka kamu harus rubah cara berpikir mu bahwa bukan siapa melakukan
pembelian tapi siapa dibalik yang membuat keputusan membeli. Paham kamu.?”
“ Jelaskan kepada Yuni secara konkrit.”
‘ Nanti kamu akan tahu setelah semua di lewati. Yang penting ikuti saja arahan aku.”
“ Baik uda.”
“ Dalam laporan kamu, aku tahu kamu punya akses dengan teman kamu yang murung
karena terancam PHK karena perusahaannya kesulitan likuiditas. Perusahaannya bagus
karena khusus di bidang riset tekhnologi tinggi.”
“ Terus “
“ Mengapa kamu tidak tawarkan untuk ambil alih perusahaan itu?
“ Untuk apa ? Riset nya saja belum selesai. Isinya hanya ada orang orang yang bergaji
mahal.Apa engga konyol kalau kita beli?
“ Beli aja perusahaan itu dan selamatkan program bisnis nya”
“ Tentu tidak murah biaya pengambil alihan itu. Apalagi kita harus deal dengan
pangeran Arab Saudi yang jadi pemegang saham utama. Dia orang kaya, Uda. Eggga
gampang dia di tekan.”
“ Jangan deal dengan pemegang saham. Tapi deal dengan serikat pekerja.” Kata Burhan
sambil menatap layar TV.
“ Kalau terjadi deal. Dari mana kita dapatkan uang untuk ambil alih?
“ Itu urusan Henry. Tugas kamu pastikan mereka mau jual perusahaannya. Paham?
“ Ya paham Uda. “
Burhan pergi ke kamar mandi “ Aku mau sholat dulu. “
“ Yuni ikut jadi makmun ya”
Burhan melirik sambil tersenyum melihat Yuni masuk kekamar untuk ambil sajadah dan
mukena.
Setelah selesai sholat, Yuni berkata kepada Burhan “ Uda, mengapa kalau udah sholat
kening Uda seperti berkeringat?
“ Sholat kan sama dengan meditasi. Kita berusaha konsentrasi mengosongkan pikiran
kita, menguatkan persepsi bahwa kita sedang berhadapa dengan Tuhan. Tidak ada yang
lain selain kita dengan Tuhan. Kita seakan berada di dunia lain. Tentu saja otak kita
panas karena mengeluarkan energi besar. Keringat keluar ya wajar. Tapi sebetulnya itu
bukan keringat seperti kita olah raga tapi embun dari energi cahaya di dalam otak kita.”
“ Oh. Tapi orang lain sholat biasa aja tuh. Yuni engga begitu”
“ Karena kalau kamu sholat belum sepenuhnya khusyu.”
‘ Gimana bisa khusyu ?
“ Butuh waktu engga sebentar dan itu seiring dengan tingkat keimanan kita.”
“ Terus gimana dengan yang solat seperti biasa ?
“ Ya engga apa apa. Semua orang berproses mencapai tingkat keimanan. Yang penting
terus lakukan sholat dalam kondisi dan situasi apapun. Jangan pernah di tinggalkan
barang sekalipun. Lambat namun pasti , keimanan akan meningkat dan tingkat khusu
juga akan meningkat. Paham ya sayang”
“Apa bedanya orang beriman biasa saja dengan mereka yang sudah tinggi levelnya?
“ Orang biasa masih terisolasi dengan cara bagaimana beribadah. Tapi orang yang sudah
levelnya tinggi, cara itu sudah tidak lagi menjadi standar. Mereka beriman itu karena
hakikat. Standar nya ya hakikat.
“ Apa hakikat itu?
“ Cinta hanya kepada Allah. “
‘ Contohnya ?
“Kalau dia menghindari perbuatan yang di larang Tuhan, itu karena kecintaanya kepada
Tuhan. Bukan karena takut neraka dan berharap sorga. Bukan. Itu dia lakukan karena
patuh atas dasar cinta kepada Tuhan. Apapun godaan datang, dia sikapi biasa saja.
Tidak di sikapi dengan serius apalagi takut. Godaan itu harus di hadapi dengan iman ,
bukan di hindari. Kalau di hindari bagaimana kita bisa merubah keadaan. Kaya miskin,
sehat sakit, senang susah , bagi dia itu hanya senda gurau saja. Hakikatnya semua itu
cara Tuhan berdialiogh dengannya untuk sabar dan ikhlas, tetap di dalam keimanan.
Makanya dia menebarkan cinta dan kasih sayang, selalu berprasangka baik, pemaaf dan
pandai berterimakasih kepada siapapun.”
“ Oh hebat sekali. Sekarang Yuni semakin tahu siapa Uda sebenarnya”
“ Loh emang selama ini kamu engga kenal aku ?
“ Bukan begitu Uda. Aku punya teman orang Turki , yang juga muslim yang taat. Tapi
cara berpikirnya dalam beragama beda dengan Uda. Sehabis sholat, zikirnya lama
sekali. Tapi sedikit masalah datang dia cepat kawatir dan kalau doa seakan semua
masalah di laporkan ke Tuhan , berharap Tuhan berikan lampu aladin. Kalau engga suka
sama orang yang berbeda, dia cepat sekali mengadili orang. Salah lah, kafir lah.
Sementara Uda, Yuni jarang liat Uda zikir. Sudah sholat langsung berdiri dan mulai
berpikir soal lain. Ngaji juga jarang Yuni liat. Tapi bacaan sholat uda bagus sekali.
Kadang menbuat Yuni nangis. Uda bisa berteman dengan siapapun yang berbeda tanpa
terdengar mengadili mereka yang berbeda. Bahkan dengan Yuni saja, Uda engga pernah
gunakan kekuasaan untuk Yuni pakai jilbab. “
“ Gimana dengan Bang Andi kamu?
“ Itu mantan suamiku agak lucu. Dia kalau sholat harus lama sujud biar jidatnya hitam.
Zikir lama dan kencang lagi bacaannya. Tapi liat wanita sedikit cantik, langsung mau di
nikahi. Sementara Uda, banyak wanita cantik sekitar Uda, yang mungkin semua mau
Uda sentuh atau nikahi tapi Uda bisa bertahan dengan sikap jelas tanpa sedikitpun
terpengaruh.”
Burhan hanya tersenyum tanpa mau mengomentari penilaian Yuni terhadap dirinya.
Setelah Sholat, Burhan pamit untuk kembali ke Hotel. Yuni janji akan ajak Yuli makan
malam di Hotel bersama Burhan.
***
Desember yang dingin. Sore yang membosankan. Yuni mengambil sweater yang
tergantung di belakang pintu dan di kenakannya untuk untuk keluar dari aparteman di
kawasan Manhattan. Di langkahkannya kaki menelusuri Broadway. Udara New York sore
itu begitu menusuk sungsum tulang. Jalanan sepi. Salju sisa semalam masih menutupi
jalan. Dia terus mengayunkan kakinya. Matanya mengembara memperhatikan burungburung
yang terbang berkejaran. Hidung kembang kempis, memerah menghirup udara
yang dingin.
Sesampai di First Avenue langkahnya terhenti. Sesuai janji dengan Mahmud, dia masuk
ke Caracas Arepa Bar. Sebuah bar dengan gaya latin , tepatnya Venezuela. Yuni duduk
di meja deretan belakang. Matanya langsung tertuju ke atas panggung. Seorang lelaki
negro tua sedang duduk menyanyikan “Song for George”-nya Eric Johnson, sebuah lagu
berirama blues sambil memainkan piano di hadapannya.
Seorang pelayan wanita datang menghampirinya
“Good afternoon, Madam. Mau pesan apa?” Dengan logat Latin yang masih kentara
sembari dia sodorkan daftar menu ke hadapan Yuni
Di bacanya urutan menu satu per satu.
“Cappuccino,” kata Yuni sambil menyerahkan daftar menu kepada pelayan itu
“Makanannya?”
“Kentang goreng saja.”
“Baik, tunggu sebentar, pesanan segera datang, permisi nyonya." Pelayan itu segera
pergi meninggalkannya. Tak lama berselang, wanita Latin itu kembali menghampirinya
dengan membawa nampan di tangan kirinya.
“Selamat menikmati,nyonya" ucapnya sambil tersenyum.
“Thank you,” sahut Yuni. Lalu pelayan itu kembali ke tempatnya semula.
Sambil mendengarkan alunan musik, segera dia menikmati minuman yang tersaji di
depannya. Sedikit demi sedikit. Cappucino yang hangat masuk ke dalam perutnya. Musik
yang merdu. Namun dari merdunya musik itu dapat Yuni rasakan jika lelaki tua itu
sedang dilanda kesedihan yang luar biasa. Ya, dia sedang menyanyikan lagu sedih.
Sebuah lagu yang menyayat. Seolah membuka kembali luka lama yang terpendam di
dasar samudera. Yuni ikut hanyut dalam nada-nada lagu itu. Sementara tangannya yang
satunya memasukkan kentang goreng yang masih hangat ke dalam mulutnya satu per
satu.
Kafe tampak sepi sore itu. Hanya beberapa orang tamu yang datang. Meja yang lain
masih kosong tak berpenghuni. Seorang wanita duduk di meja paling depan. Dia masih
muda dan cantik. Rambutnya yang keemasan tergerai jatuh hingga sebatas bahu.
Diperhatikannya dengan penuh konsentrasi lelaki tua yang sedang bermain piano di
hadapannya. Dia tampak menikmati alunan nada-nada yang keluar dari piano itu.
Segelas Red Wine yang tergeletak di mejanya diraihnya lalu diseruput sedikit demi
sedikit, lalu diletakkannya kembali ke tempat semula. Dan dia masih menikmati
permainan orang tua itu.
Di meja tengah, tampak sepasang orang tua duduk berhadapan. Mereka sedang dilanda
perasaan yang luar biasa bahagia. Mungkin mereka sedang merayakan hari jadinya yang
ketiga puluh atau mungkin yang ketiga puluh lima. Ya, mengenang masa bercintanya
dulu. Lagu pertama telah habis. Tepuk tangan pengunjung kafe pun menyambutnya.
Ya, meski hanya beberapa tepuk tangan. Lelaki tua itu terdiam sebentar, lalu
mengambil sebotol Martini di atas meja piano dan menuangkannya ke dalam gelas kaca
lalu menenggaknya tanpa sisa. Diletakkannya kembali gelas itu ke tempat semula. Tak
lama kemudian dia asyik kembali berkutat dengan tuts-tuts pianonya memainkan lagu
kedua.
Mata Yuni masih tertuju memperhatikan gerak-gerik pemain piano itu. Hingga dia tidak
sadar ada pria datang menghampiri mejanya.
" Yuni" panggilan yang mengejutkan nya. Dia menoleh kesamping " Mahmud.
Assalamu'alaikum"
" Waalaikum salam "Kata Mahmud dengan senyum cerah " Sudah lama"
" Ya sekitar 30 menit" kata Yuni sambil melirik jam tangannya.
" Maaf terlambat karena sholat maghrib dulu. Maaf juga mengundang mu ketempat ini"
" aku lagi engga sholat makanya datang lebih awal. Engga apa apa. Aku suka kok tempat
ini. Karena mengingatkan aku akan suatu Cafe di jakarta. Tentang seseorang yang
sangat berarti dalam hidup ku"
" Kekasih?
" Bukan. Tapi lebih dari itu. Kami mencintai karena Tuhan walau takdir tidak
menjadikan kami suami istri"
" Oh Ya. Tentu pria yang istimewa"
Yuni hanya tersenyum.
Setelah memesan menu, Mahfud nampak berwajah serius. Yuni menangkap ada sesuatu
yang harus di sampaikan dan ini tentu mengharapkan Yuni bisa menjadi pendengar yang
baik.
" Kamu tahu Yun. Negeri ini benar benar di kuasai oleh oligarki. Para elite baik itu
politisi maupun pengusaha besar mengatur segala galang agar resource hanya mereka
yang menguasai. Setelah skandal demi skandal terkuak di hadapan publik , keadaan
tidak mengarah menjadi lebih baik. Sepertinya mereka itu tidak peduli dengan rakyat
Amerika yang masih banyak buta huruf dan masih ada yang seumur hidupnya tidak
pernah lihat uang pecahan 100 dolar. Sementara elite membuang ratusan miliaran dolar
untuk menyelamatkan perbankan yang oleng karena skandal Lehman. " Mahmud nampak
geram di wajahnya.
Yuni hanya diam menyimak.
" Dulu kejayaan Amerika di topang oleh kuatnya lembaga riset sehingga Amerika di kenal
sebagai penghela lokomotif new world order dengan demokratisasi sebagai jargon untuk
menciptakan dunia lebih baik. Tapi itu dulu. Sekarang banyak lembaga riset tutup
karena anggaran tidak tersedia. Perusahaan menghentikan program riset dan lebih
memilih menjadikan China sebagai outsourcing untuk program risetnya. Itu karena
alasan ekonomis semata. Negeri ini sekarang di warisi oleh kaum pragmatis. Sangat
menyedihkan. " Kata mahmud.
" Bagaimana dengan Perusahaan tempat kamu kerja ? " tanya Yuni.
" Mungkin paling lambat sebulan lagi akan berlindung di balik undang undang pailit bila
bank tidak mau menambah kucuran kredit"
" Apakah pemegang saham tidak mau injeck lagi?
" Keliatannya mereka juga lagi panik karena harga minyak terus melorot. Bisa saja tidak
ada lagi uang tunai"
" Kalau pemegang saham tidak lagi peduli, mengapa tidak upayakan para karyawan
mengambil alih perusahaan itu. Ya konsep gotong royong. Itu lebih baik dari pada
meradang kehilangan kerjaan karena perusahaan bangkrut"
" Maksud kamu?
" Ya. Serikat kerja ambil insiatif untuk terus melanjutkan perusahaan yang dalam
keadaan pailit "
" Dari mana karyawan punya uang untuk melanjutkan operasional Perusahaan?
" Ya bisa menggunakan cadangan dana pensiun yang ada. Atau menarik strategik partner
yang bisa menyediakan modal dan juga pasar."
" Keliatannya menyediakan dana cadangan pensiun engga mungkin. Karena tidak setiap
orang punya mental wirausaha. Kalau memang ada startegi Partner, itu pasti di dukung
Serikat pekerja. "
" Bagaimana kalau Perusahan ku menawarkan diri untuk jadi strategi Partner ?
" Serius ?
" Serius ! Jawab Yuni tegas sambil menyeruput capucino.
" Mengapa? Apa alasan kamu? mahmud nampak antusias ingin tahu.
" Aku percaya kamu. Percaya dengan obsesi perusahaan atas apa yang sedang kamu dan
Team lakukan dalam riset produk "
" Baiklah. Aku percaya kamu karena kamu saudari muslim ku. Aku akan bicarakan
dengan teman teman. Ini akan kami jadikan proposal kepada Pemerintah agar kami
tidak kehilangan pekerjaan."
" Bagus. Kabarin aku terus ya perkembangannya."
" Insha Allah. "
***
Mahmud menghubungi Yuni bahwa dia akan datang bersama team inti dari
perusahaannya ke kantor. Mereka ingin membahas lebih detail mengenai niat Yuni
untuk memberikan dukungan mereka mengambil alih perusahaan. Menurut kabar,
Direksi sudah mengadakan pertemuan dengan seluruh perwakilan karyawan bahwa
perusahaan akan di nyatakan pailit. Jam 10 pagi, Mahmud dan Team nya sudah datang
ke kantor. Yuni sambut mereka dengan menggunakan pakaian muslimah yang modis.
“ Bu, kami sudah mengadakan musyawarah dengan pemegang saham. Mereka tidak bisa
menyerahkan perusahaan kepada kami. Karena seluruh asset perusahaan harus di jual
oleh lembaga kurator untuk membayar hutang kepada beberapa kreditur. “
“ Boleh saya tahu data neraca perusahaan terkini? Kata Yuni
Mahmud menyerahkan data neraca perusahaan. Yuni membaca Neraca perusahaan
dengan cepat, sambil melirik kepada yang hadir dalam rapat.
“ Baiklah. Coba usulkan bahwa apakah hutang bank dapat di reschedule. Hutang kepada
pihak ketiga lainnya saya akan bail out. Tapi tentu saya butuh kompensasi berupa
saham.”
“ Maksud Ibu ?
“ Saya akan ambil alih perusahaan ini. Saya akan bagikan saham sebesar 40% kepada
karyawan. Ini share loan, yang akan dibayar dari deviden. Bagaimana? Kata Yuni santai
tanpa ada tekanan apapun nadanya bicara.
Mereka saling pandang. “ Ibu. Benarkah ini?
“ Saya tidak sedang becanda , Mahmud.”
“ Mengapa ibu baik sekali?
“ Kami orang Asia. Kami percaya asset itu sebenarnya adalah sumber daya
manusia.Dengan anda semua sebagai pemegang saham maka kita akan bangun
perusahaan dengan konsep gotong royong. Ini kekuatan yang luar biasa untuk
menghadapi zaman yang berubah cepat.”
“ Paham, bu. Baiklah kami akan sampaikan usul ini kepada Pemegang saham. Kalau
mereka minta jaminan akan ada penyelesaian seperti yang ibu mau. Apa yang harus
kami lakukan? Bolehkah kami libatkan ibu untuk bicara dengan pemegang saham?
“ Tidak boleh. Saya tidak deal dengan pemegang saham anda. Saya deal denga anda
sebagai wakil serikat pekerja. Yang harus anda lakukan adalah buat perjanjian kepada
pemegan saham yang intinya bahwa apabila dalam sebulan anda tidak bisa memenuhi
komitmen itu maka perjanjian batal. Pemegang saham berhak melepas asset nya untuk
membayar hutang. Saya yakin pemegang saham akan nurut. Karena tidak ada ruginya
bagi mereka. Semakin mereka tidak percaya semakin lemah perjanjian yang akan
mereka buat untuk anda.”
Mereka yang hadir kembali berpandangan “ Baik Bu, kami rasa itu fair. Kami segera
laksanakan. Terimakasih atas kebaikan hati ibu”
“ Terimakasih kembali. Kita akan bersama sama menyelesaikan ini”
Usai pertemuan itu , Yuni menghubungi Henry di Geneva, Swiss.
“ Henry, berapa lama di butuhkan waktu untuk mengumpulkan dana sebesar USD 150
juta?
“ Oh Ya, Soal akuisisi perusahaan tekhnologi itu?
“ Ya.”
“ 2 bulan”
“ Usahakan 1 bulan. Atau transaksi ini gagal.”
“ Baik bu. Saya kan usahakan 1 bulan”
“ Saya butuh ketegasan anda, Henry”
“ Ok 1 bulan.”
‘“Thanks.”
Setelah telp itu, Yuni menatap kearah jendela kaca lebar yang terdapat di kamar
kerjanya di lantai 45. Dia melihat pemandangan kota New York yang di penuhi gedung
jangkung. DIa tersenyum. Tidak pernah membayangkan bahwa dia bisa ada di jantung
kota paling kapitalis dan kini di datangi oleh orang berpendidikan hebat untuk sebuah
solusi. Kalau ingat dia dulu terlahir dari keluarga miskin di Pangkalan Brandan. Yatim
di usia kanak kanak dan menjadi yatim piatu di usia remaja. Rasanya tidak mungkin ini
semua terjadi. Semua karena kasih sayang Tuhan yang harus di syukurinya sepanjang
usia.
Malam harinya Yuni mengundang Mahmud makan malam bersama teamnya. Dalam acara
makan malam itu , Yuni tetap menjadi pendengar yang baik atas berbagai keluhan
mereka tentang hidup yang tidak adil. Semua biangnya karena kapitalisme sistem. Yuni
tidak mau menanggapi keluhan mereka itu. Karena bagaimanapun keluhan mereka
adalah repleksi dari kekalahan mereka. Hidup memang bersaing. Kalah menang itu
biasa. Tapi orang hebat bukan karena dia menang tapi dia mengakui kekalahannya
tanpa berkeluh kesah.Dia sadar dia kalah dan dia bangkit untuk belajar dari kekalahan,
dan akhirnya menjadi pemenang. Ya menang bukan karena hebat menjatuhkan orang
lain tapi bisa mengalahkan diri sendiri , yang tetap rendah hati ketika menang dan
bersabar ketika kalah. Apapun itu hanyalah proses menjadi orang sebaik baik dirinya di
hadapan Tuhan. Tapi pemahaman ini tidak begitu di mengeri oleh Mahmud.
****
Bertempat di sebuah cafe , Yuni dan team Mahmud bertemu lagi. Saat ini mereka sudah
membawa perjanjian dengan pemegang saham. Benarlah waktu yang di sediakan
sebulan untuk menyelesaikan pembayaran hutang kepada pihak ketiga. Sementara dari
pihak bank sudah ada konfirmasi akan memberikan reschedule payment selama 10
tahun. Yuni membaca dengan cermat perjanjian itu sambil tersenyum. Dia berharap ke
esokannya bisa di buat Agreement antara perusahannya dengan mereka sebagia wakil
serikat pekerja. Usai pertemuan itu , Yuni menghubungi Burhan. Karena ini saat
menentukan soal langkah berikutnya.
“ Uda” Yuni telp Burhan.
“ Ya Yun”
“ Mereka setuju dengan kondisi yang kita tetapkan. Apa langkah selanjutnya?
“ Bagus. ! Besok Henry dan teamnya di Geneva akan terbang ke New York. Jangan ambil
tindakan apapun sebelum team Henry datang ya.”
“ Baik, Uda.”
“ Kamu sehat ?
“ Sehat. Uda gimana?
“ Sulit bilang. Tapi…
“ Uda….uda sakit? sakit apa? “ Terdengar setengah teriak.
“ Hasil test lab , terjadi penuruan fungsi lever. Tapi keadaan kesehatan ku baik baik
saja.”
“ Ah Uda…Jangan sakit. .” Terdengar suara Yuni seperti menahan tangis.
“ Engga ada yang tahu aku sakit, kecuali kamu.”
“ Uni di rumah juga tidak tahu?
“ Ya tidak tahu. Kalau tau , kawatir pikirannya terganggu.”
“ Apa perlu Yuni pulang ke jakarta”
“ Engga perlu. Kamu focus aja dengan kerjaan kamu. “
“ Janji engga akan ada kejutan ya uda. Yuni akan telp setiap hari tanyakan kesehatan
Uda.”
“ OK.
“ Yuni akan sholat tahajud setiap malam untuk doakan Uda. “
“ Terimakasih Yun. Jangan bilang ke Yuli kalau aku sakit ya?
“ Ya Uda. Uda harus kuat ya sayang.”
“ Insya Allah, ku akan baik baik saja. “
Sejak team Henry datang, proses pengambil alihan perusahaan Mahmud berlangsung
cepat sekali. Semua paper work yang di kerjakan oleh lawyer telah di tandangani oleh
Serikat kerja yang di pimpin Mahmud. Selanjutnya Team Henry akan berjuang
mendapatkan dana sebsar USD 150 juta. Ini tidak mudah. Yuni masih belum tahu
bagaimana detail proses fundraising ini. Henry janji akan membicarakannya setelah
mereka sampai di Geneva. Hari itu juga , malam hari mereka terbang ke swiss.
***
Sejak mengetahui Burhan sakit, setiap malam Yuni sholat tahajud. Kadang dia menangis
dalam rintihan doanya. Mengharapkan agar Tuhan menyembuhkan pria yang telah
menuntunnya ke mata air dan membawanya ke cahaya hidayah. Pertama mengenal
Burhan, Yuni beragama Budha. Karena Ayah ibunya yang etnis China. Agama Budha
adalah kali pertama dia mengenal Tuhan. Namun setelah bertahun tahun dengan
Burhan, akhirnya dia sendiri memutuskan masuk Islam. Padahal Burhan tidak pernah
provokasinya untuk memeluk Islam. Tapi pribadi Burhan telah menginspirasinya untuk
mengenal islam lebih jauh. Akhirnya dia memutuskan jadi muslimah. Beberapa bulan
kemudian, barulah dia beri tahu kepada Burhan bahwa dia mualaf. Burhan nampak haru
ketika mengetahui , dan tak pernah lupa akan kata kata Burhan “ Yun, sekarang kamu
adalah saudari muslimku. Aku akan menjaga kamu dalam keimananmu. Apalagi kamu
adalah sahabatku. Kamu tahu, dalam islam semua kita bersaudara. Di haramkan darah
bagi sesama muslim. Tahu maksudnya ? Kita tidak boleh menzolimi sesama muslim.
Apapun itu alasannya. "
Kita tidak bisa menghindari penyakit karena itu adalah sunatullah. Walau Allah
mendesign tubuh kita dengan sempurna namun tubuh kita pada hakikatnya akan
berproses melemah dari waktu kewaktu dan sangat renta dengan lingkungan dan kondisi
hidup kita. Sebagai manusia yang hidup di era modern, ada dua jalan untuk aman dari
akibat penyakit, yaitu asuransi kesehatan dimana premi dibayar kepada perusahaan
penyelenggara asuransi.Perusahaan asuransi hanya menjamin biaya namun tidak
menjamin kesembuhan. Tapi ada juga asuransi kesehatan yang diselenggarankan oleh
Allah yang menjamin biaya kesehatan dan juga kesembuhan. Burhan percaya itu. Bila
Alllah berkehendak maka semua sangat mudah, termasuk menyembuhkan penyakit.
Nabi saw telah bersabda : “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
Sadaqah adalah polis asuransi terbaik di bumi ini. Bahkan sedekah itu bukan hanya
asuransi kesehatan tapi juga asuransi keselamatan. Inilah sabda Rasul ”Ujian yang
menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus
dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar.”. Apakah ada asuransi
terbaik dibandingkan dengan Allah ? Walau Burhan hidup dilingkungan modern namun
dia dan keluarganya tidak punya polisi asuransi. Burhan hanya membiasakan diri
bersedekah sebagai premi asuransi. Hanya itu. Apakah benar aman?
Disuatu klinik di Singapore di kawasan Robinson, Burhan sedang menanti panggilan
untuk diperiksa. Dokternya seorang profesor. Diruang tunggu itu Burhan duduk
bersebelahan dengan pria tua. Dia menanyakan penyakit Burhan. Setelah Burhan
jelaskan penyakitnya, pria tua itu dengan serta merta mengatakan agar Burhan
mengkonsumsi obat yang disarankannya. Burhan tidak begitu menanggapi dengan
serius saran itu. Karena penyakit Burhan berdasarkan hasil analisa Rumah Sakit di Hong
Kong memang mengharuskan dia melakukan transplantasi lever. Burhan perlu menanti
jadwal untuk operasi. Maklum ada banyak sekali pasien yang ingin melakukan
transplantasi lever. Selama menanti itulah Burhan rutin setiap minggu ke dokter di
Singapore untuk mendapatkan suntikan daya tahan tubuh. Memang sangat menderita
penyakit itu, namun Burhan bisa menyembunyikan sakit itu dengan wajah penuh
optimis.Sehingga istri dan teman temannya tidak mengetahui bahwa dia sedang
sekarat.
Pria tua yang duduk disamping Burhan kembali menguatkannya agar mengkosumsi obat
yang disarankannya dan Burhan menanggapinya dengan senyum. Seusai diperiksa dokter
dan ketika hendak pulang, pria tua itu mengikuti Burhan. Dia menarik tangan Burhan
ke apotik dan membeli obat itu untuk Burhan. Dia membayar dengan uangnya. Burhan
terharu. Tentu tidak ada alasan Burhan meragukan sarannya dan lagi obat ini semacam
suplement yang tidak ada efek sampingannya.
Ketika mengkonsumsi obat yang disarankan orang tua itu, selama seminggu Burhan
merasakan setiap hari ada perubahan terhadap kesehatannya. Ketika check up di
Singapore, dokter juga melihat keanehan terhadap kesehatan Burhan. Menurutnya
kesehatan Burhan semakin membaik. Setelah satu bulan mengkonsumsi obat itu, Burhan
benar benar merasa sehat. Hasil test lab Rumah Sakit di Hong Kong menyatakan Burhan
bebas dari penyakit. Levernya kembali seperti semula. Bahkan jauh lebih baik
dibandingkan usianya. Kepada Allah Burhan bersyukur.
“ Yun “ Burhan segera menghubungi Yuni ketika hasil lab menyatakan dia bebas dari
penyakit levernya.
“ Ya, uda. Gimana kesehatan uda?
“ Mau tahu?
“ Iyalah Uda.”
“ Hasil lab, aku sudah bebas dari penyakit lever. Jadi engga perlu operasi transplasi
lever.”
“ Alhamdulillah.”
“ Sekarang aku sehat. Lebih baik dari sebelumnya. Kamu juga jaga kesehatan ya. Santai
aja. Hadapi masalah dengan tenang. Gimana perkembangan kerja Henry?
“ Henry sedang ke Beijing dan terus ke Dubai. Katanya dia akam mampir ke Hong Kong
ketemu dengan Project Committee group di Holding. Kita punya waktu 3 minggu lagi
harus penuhi komitment kepada serikat pekerja.”
“ OK. Besok aku ke Hong Kong. “
“ Uda, istirahat aja. “
“ Aku udah sehat kok”
Burhan pernah juga kena penyakit jantung koroner. Juga sudah dijadwalkan untuk
operasi jantung di KL tapi karena saran teman untuk mengkonsumsi jamu dapur, Burhan
pun bisa bebas dari jantung koroner. Burhan juga pernah kena penyakit penurunan
fungsi telinga.Penyebabnya karena ada radang diotak tengahnya. Jalan keluarnya
adalah operasi tapi Burhan tidak mau dioperasi karena kemungkinan gagal 50%. Burhan
memilih pasrah kepada Allah. Tapi seseorang dalam mimpi memintanya untuk
mengkonsumsi makanan. Dia sebutkan jenis makanan itu. Burhan mengalami mimpi
yang sama berkali kali sampai akhirnya dia tidak punya alasan untuk tidak mengikuti
saran dari dunia mimpi itu. Benarlah, setelah di konsumsi makanan itu , telinga Burhan
normal kembali dan radang otak tengah sebagai penyakit juga sembuh.Berkali kali
Burhan terkena penyakit yang mengkawatirkan namun selalu ada penyembuhan dengan
cara sederhana.
Sedekah berasal dari bahasa Arab, yaitu ash-shadaqah. Kata ini diambil dari huruf shada-
qa yang asal kata ash-shidiq yang berarti “benar”. Jadi sedekah adalah pemberian
yang diberikan untuk mengharap ridha Allah. Bedanya dengan zakat adalah sedekah
untuk kategori sunnah, dan zakat untuk yang wajib dimana peruntukannya sudah diatur
oleh Allah. Burhan teringat nasehat Ayahnya , “Nak jangan pernah kau tolak orang
pinjam uang untuk modal dia menyambung hidup atau bayar sekolah anak atau
menikahkan anak/adik atau bayar sewa rumah. Mereka tidak mengemis, Nak. Mereka
sedang dalam moment kesusahan , kesempitan dan karena itu mereka meminjam
kepadamu. Dan kelak bila mereka datang kepadamu meminta maaf belum bisa
membayar hutangnya maka maafkan mereka. Lepaskan mereka dari kewajiban
membayar hutang. "
Mengapa? Bagi Burhan itulah salah satu cara Allah menagih Premi asuransi kepadanya.
Karenanya cukuplah berharap Allah yang membayar hutang itu. Tentu banyak sekali
cara kita bisa bersedekah. Tapi intinya adalah menanamkan empathi kepada siapapun
yang membutuhkan pertolongan dan meninggikan kalimah Allah. Terbukti sepanjang
usia setengah abad , Burhan bisa merasakan sendiri, very secure ! Burhan yakin bila
kebiasaan bersedeqah ini menjadi standar kelas menengah dan atas di Indonesia maka
tidak ada lagi orang miskin yang kehilangan harapan dan tentu tidak ada lagi penyakit
yang menyengsarakan dan menguras harta.
***
Bertempat di Roof Terrace restaurant,The Excelsior, Hong Kong, Burhan mengundang
Lili Huy CEO salah satu Venture Capital besar di China, juga hadir anak muda dengan
pakaian sederhana namun dari matanya nampak dia orang cerdas. Dia mengenalkan diri
namanya Mr. Hu sebagai CEO dari perusahaan yang sedang membangun indusri alat
kesehatan. Burhan di dampingi oleh Lena dan Tong, dan Henry. Pembicaraan terkesan
santai.
“ Mr. Han “ Seru Lili sambil mengarahkan pandangan ke anak muda yang duduk di
sebelahnya“ Anak muda ini menyerahkan Feasibility Study untuk membangun Industri
MRI (Magnetic Resonance Imaging ). Awalnya saya meliat anak muda ini hanya punya
impian yang hampir tidak mungkin bisa dilakukan di China. Mengapa? MRI merupakan
suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme
hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa
digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahan fisiologi otot hidup
dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidrokarbon. Alat ini merupakan
tekhnologi paling maju dan paling mahal karena merupakan keajaiban
tekhnologi. Proses membuat MRI memerlukan keahlian terbaik dari beberapa bidang
yang sangat bersifat tekhnis. Industri ini akan melibatkan ahli fisika yang memiliki
pengetahuan mutakhir tentang resonansi nuklir dan kemampuan superkonduksi. Hal ini
akan membutuhkan ahli programmer dan tekhnisi yang dapat menangani design bidang
magnetic tiga dimenasi dengan processor super high speed. China tidak punya
kemampuan untuk itu.
Ada kendala serius yang bisa menghambat impian anak muda ini yaitu adanya kartel
tekhnology dari Industri alat kesehatan yang sudah ada seperti Philips, General electric
, Siemens , dll. Mereka akan memboikot tekhnoloy dengan melarang industri supply
chain untuk mendukung impian anak muda ini. Bukan rahasia lagi bahwa bisnis alat
kesehatan adalah bisnis triliunan dengan tingkat laba yang luar baisa tingginya.
Kapitalis!. Namun anak muda ini terus meyakinkan saya dengan penuh semangat bahwa
dia bersama teamnya akan menghadapi semua kendala tersebut. Impossible is
nothing. Anak muda ini sangat mengetahui kelebihan dari bisnisnya yang dapat
menghasilkan MRI yang harganya 50% lebih murah dari produk yang sudah ada di
pasar. ““ Lanjut Lili.
“ Kendala sebenarnya apa “ Tanya Burhan.
“ China belum bisa menemukan chip computer untuk menggerakan system MRI itu, yang
membutuhkan prosesor sehebat produk yang ada di pasar. Sementara produsen prosesor
menolak menjadi Supply chain untuk proyek ini.” Kata Hui.
“ Bukankah China punya Academic Science yang hebat dengan ratusan insinyur terbaik.
Mengapa tidak bisa menemukan prosesor itu ? Tanya Burhan.
“ Mereka hampir menemukan prosesor namun belum bisa sebaik yang ada di pasar. “
“ Oh Hampir..Kendala mereka apa ?
“ Lebih kepada campuran material dari prosesor itu. “ Kata Hui dengan wajah putus
asa.
“ Apakah ada kemungkinan saya bersama team bertemu dengan pihak China academic
science ? Tanya Burhan.
“ Tentu.Kami jadwalkan besok anda bisa bertemu mereka. “
“ Thanks.” Kata Burhan.
“ Kami tawarkan anda ikut dalam rencana bisnis anak muda ini” Kata Lili.
“ Apakah ada komitmen dari pemerintah china untuk memberikan peluang pasar bagi
produk buatan anak muda ini?
“ Tentu. Belanja pemerintah untuk alat kesehatan MRI ini akan semuanya menggunakan
produk dari anak muda ini. Pasarnya mengalahkan pasar yang ada di Eropa di tambah
Amerika. Ini pasar raksasa dengan nilai miliaran dollar. “
Burhan hanya menganguk. Kemudian dengan ramah Burhan mempersilahkan mereka
menikmati makan malam. Selanjutnya pembicaraan lebih hal sepele soal kebijakan
ekonomi china paska krisis global dan ketidak senangan china terhadap kebijakan
Amerika terhadap suku bunga. Usai makan malam, Burhan mengantar mereka sampai
ke lobi Hotel. Lili masih sempat bicara sebentar dengan Burhan secara pribadi.
“ Saya akan kirim FS ke kantor anda. “kata Lili
‘ Thanks”
“ Kami agak panik karena biaya riset sudah sangat mahal kami danai namun sampai kini
belum ada titik terang. Tekhnologi itu di kuasai Amerika. Sementara Program
revitalisasi Rumah Sakit seluruh CHina mulai di laksanakan setahun lagi. Sayang kalau
peluang ini hilang. “
“ Saya akan pertimbangkan untuk ambil resiko biaya riset selanjutnya. “
“ Saya yakin anda selalu ada alasan yang kuat untuk zero risk. Saya kenal betul sifat
anda. “ Kata Lili dengan senyum indah. Wanita yang di kenal Burhan cukup lama.
Burhan hanya tersenyum.
“ Janji kalau ke Beijing telp saya ya. Saya akan atur dinner di tempat terbaik untuk
anda. Ingat tempat kita dinner terakhir 3 tahun lalu.”
“ Ya saya janji. Oh ya bagaimana dengan Richard si bule jangkung itu?
“ AH dia sudah masa lalu”
“ Oh ya. Kenapa ?
“ Terlalu lemah sebagai pria. Membosankan mendengar dia bicara teori dengan rasa
kawatir berlebihan. “
“ Kamu memang wanita besi dan hanya pria baja yang bisa menjadi pendamping kamu”
Lili tersenyum, sambil menyubit lengan Burhan yang melangkah ke arah lobi. Burhan
berjanji akan memproses FS itu dengan cepat.
Sesampai di Apartement, Burhan menghubungi Henry via screen chat closing circuit
“ Henry “
“ Ya Pak.”
“ Gimana perundingan dengan mitra kita di Dubai?
“ Keliatannya mereka menolak untuk terlibat dalam pembiayaan untuk proyek ibu Yuni
di Amerika.”
“ Masih berapa lama waktu tersedia untuk fundraising”
“ Dua minggu lagi.”
‘ Ok. Sekarang kamu hubungi Tom di NY. Sampaikan bahwa kita ambil keputusan take
over sky building di Boston.”
“ Pak, boleh kasih saran?
“ Silahkan”
“ Transaksi nya besar sekali dan dari offtaker harga sewa rendah sekali selama 15
tahun. IRR bisa di katakan tidak layak secara ekonomi.”
“ Saya catat. Sekarang kamu telp Tom di NY, kita setuju dengan skema financing yang
dia offers. “
“ Baik pak. Segara saya laksanakan.”
“ Pastikan kita closing malam ini juga atau sebelum jam 4 sore waktu NY.”
‘ Saya lakukan.”
Jam menunjukan pukul 2.30 pagi. Burhan , menghubungi George di Frankfurt
“ George “ Burhan menghubungi via chat private baking room
“ Ya Han”
“ Apakah bank anda masih mendukung untuk synthetic bond ?
“ Untuk apa ?
“ Pengambil alihan building di Boston”
“ Siapa payment undertaking nya ?
“ Bank di NY “
“ Funding nya ?
“ Member 144 A SEC.”
“ OK. Kirim offersheet ke saya sekarang. Dalam 10 menit saya delivery synthetic bond
ke server anda.”
“ Thanks”
Benarlah dalam 10 menit setelah Burhan kirim offersheet, transfer file datang dari
server George di Frankfurt, masuk ke file private 144 A SEC di terminal Burhan. Segera
Burhan menghubungi Henry
“ Henry, gimana sudah closing “
“ Sudah namun saya masih tunggu confirmation termsheet”
“ Berapa lama ?
Henry terdiam sebentar “ Nah sudah masuk ke terminal saya. Segera saya kirm ke screen
anda , pak “
“ Lakukan sekarang”
“ Sudah pak “
“ OK. Nah sekarang, kamu pastikan terbang ke NY besok pagi. Setelah kamu sampai,
dampingi Yuni urus global trasfer ke rekening perusahaannya. Ingat setelah uang efektif
posted, atur penempatan di escrow agent. Atas dasar agreement escrow agent itu kamu
pastikan proses pengambil alihan selesai dalam 2 minggu”
“ Tapi pak, apakah keburu waktunya ? Ingat kita belum adakan due diligent tekhology
yang mereka punya. Kita butuh independent consultant untuk itu”
“ Berapa lama due diligent itu “
“ Sebulan.”
“ Apakah bisa diatur extend waktunya ?
“ Saya sudah usulkan ke Bu Yuni tapi dia tolak”
“ Ok Kalau begitu, team dari Lili Hui akan membantu proses due diligent . Saya pastikan
mereka bisa selesai 3 hari“
“ Apa mungkin ?
“ Tidak ada yang tidak mungkin bagi China. Lakukan saja ya”
“ Baik pak . Segera di laksanakan”
Dengan menggunakan fasilitas private banking, Burhan melakukan structure asset dan
membuka posisi offer sale dengan code special offers. Tak lebih 5 menit, dari salah
satu members melakukan takedown file. Burhan mengarahkan rekening penerimaan
penjualan synthetic bond ke perusahaan Yuni di NY dengan special drawdown payment.
Paling lambat 3 hari uang sebesar USD 150 juta sudah sampai di rekening Perusahaan
Yuni.
Usai bicara dengan Henry , Burhan sholat tahajud dan tafakur di sajadahnya sampai
waktu subuh masuk. Setelah sholat subuh dia telp istrinya di Jakarta. Kemudian tidur
sampai jam 7 pagi. Rutinitas seperti ini di lakukan Burhan bertahun tahun. Dia tidak
punya pilihan banyak karena ini soal pilihan hidup. Yang penting dia terima dengan
ikhlas dan lakukan dengan passion tinggi sebagai bagian dari ibadah. Bukankan mencari
rezeki adalah ibadah dan apalagi itu menyangkut hidup banyak orang yang bekerja.
***
Kedatangan Henry bersama team dari Geneva ke kantor di sambut Yuni dengan perasaan
kawatir “ Apakah semua beres “
“ Kami gagal mendapatkan dana dari Dubai”
“ Oh. Pak Burhan sudah tahu ?
‘ Sudah. “
“ Lantas “
“ Kami kemari untuk membantu anda menerima kiriman uang dari global account.
Nilainya USD 150 juta net settlement.”
“ Oh. Dari mana uangnya?
“ Dari private investment di Frankfurt.”
“ Settlement dengan perusahaan saya apa ?
“ Venture business. Jadi tidak ada resiko debt terhadap perusahaan anda. Dan lagi
secara akuntasi perusahaan anda tidak layak menarik loan sebesar USD 150 juta.”
“ Saya paham”
Siang hari, Yuni dapat kabar dari banker nya bahwa ada kiriman uang ke rekenignnya
dengan fasilitas special drawdown payment. Artinya perusahaannya sebagai penerima
namun uang itu tidak posting di rekeningnya tapi di rekening yang di tunjuk oleh pihak
pengirim dana. George memperlihatkan kuasa CEO dari Private Investment company di
Frankfurt. Di situ tertera namanya David Chang. Atas dasar kuasa itu, George sebagai
pengendali uang tersebut. Yuni tidak mau protes. Bagaimanapun ini yang bekerja
adalah team Burhan.
Proses pencairan dana dan penempatan dana di escrow agent berlangsung cepat. Sehari
selesai.
“ Bu, ini bukti dana yang ada di escrow. Ibu bisa gunakan bukti ini untuk negosiasi
dengan pihak perusahaan yang akan diambil alih. Protokol pengambil alihan sudah ibu
ketahui semua sesuai agrement dengan mereka. Saya akan dampingi Ibu dalam negosiasi
itu.”
“ Baik akan saya lakukan.” Kata Yuni segera meminta sekretaris untuk menghubungi
serikat kerja dari perusahaan yang akan di ambil alih. Tak berapa lama sekretaris
meminta Yuni menerima telp dari Mahmud “ Assalamualikum” Kata Yuni. “ Kami siap
masuk dalam tahap penutupan proses pengambil alihan, yaitu due dillgent tekhnology
“
“ Baik, Bu. Kami akan buka komunikasi dengan Pemegang saham. Saya dapat yakinkan
ibu, proses selanjutnya segera dapat dilaksanakan lusa.”
“ Kami akan gunakan tenaga konsultant dari China. Mereka akan datang besok”
“ Kami tunggu.”
Para pemegang saham Perusaan tempat Mahmud kerja menyetujui untuk proses due
dilligent karena adanya bukti dana dari Yuni. Team dari China datang tempat waktu.
Setelah menyelesaikan penanda tanganan NDA, proses due dilligent tekhnologi di
laksanakan. Yuni memberikan fasiltas terbaik untuk akomodasi team dari china selama
ada di Amerika, terutama di tempat pusat riset di silicon valley.
Setelah tiga hari, team bisa menyelesaikan due diligent namun mereka tidak mau
melaporkan hasilnya kepada Yuni. Mereka akan menyampaikan langsung kepada Burhan
di Beijing. Yuni kurang mengerti. Bagaimana mungkin laporan yang maha penting itu
dia tidak punya akses? karena itu dia menghubungi Burhan.
“ Uda” Seru Yuni via telp international.
“ Kenapa Yun”
“ Team dari China tidak mau serahkan laporan due diligent kepada aku. Padahal aku
yang signed agrement dengan perusahaan yang jadi target.”
“ Oh itu. Jadi maunya gimana Yun”
“ Aku harus lihat laporan itu Uda.”
“ Ya udah. Kalau gitu kamu ikut mereka ke Beijing ke temu dengan aku. Nanti kamu
akan tahu juga”
“ Oh gitu ya Uda. Ya udah Yuni ikut mereka.”
“ Yun, agar proses negosiasi tidak terhenti, selama kamu pergi serahkan mandate
perusahaan ke Henry ya.”
“ Ya Uda.”
***
Di bawah tempratur 7 derajat celcius, Beijing nampak berkabut. Yuni melangkah keluar
dari bandara. Ketika sampai di Hotel, Burhan sudah menanti di Loby. Rasanya Yuni ingin
menghambur dalam pelukan Burhan. Mengingat pikirannya sejak Burhan sakit selalu
kepada Burhan. Apalagi melihat Burhan sehat. Namun niat itu di urungkannya karena
Burhan segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Yuni cepat mencium
punggung tangan Burhan “ Lihat uda sehat. duh senang hati Yuni.”
“ Kamu cepat ke kamar. Mandi dan pakai baju terbaik. Karena kita jam 8 kita akan
makan malam dengan tean mereka “
“ Baik Uda. Ayo temanin Yuni ke kamar. “
“ Aku tunggu di sini aja Yun”
“ Kenapa uda.Biasanya Uda engga begini.”
“ Sejak kamu pakaian jilbab, aku jadi salah tingkah”
“ Hallo, Boss. Aku masih Yuni yang dulu , yang sering ngeselin Boss”Kata Yuni denga
raut manjanya.
“ Benar nih”
“ Yuni percaya dengan Uda dari dulu. Uda engga pernah sentuh Yuni, walau Yuni ingin
sekali.”
Burhan tersenyum sambil melangkah ke arah lift “ Ayo cepat ke kamar. Aku mau
pastikan kamu engga lama lama riasnya”
“ Siap boss.”
Burhan menyediakan kamar president sweet room untuk Yuni. Kamar dan ruang tamu
terpisah. Sehingga Burhan bisa menanti di ruang tamu kamar ketika Yuni ganti pakaian
di kamar.
Jam 8 malam, Burhan datang ke restoran di dampingi oleh Tong, Lena dan Wu. Dari
team China hadir Lili Hui dan tiga orang anak muda.
“ Ini laporan hasil due diligent “ kata salah satu anak muda kepada Burhan sambil
menyerahkan paper dengan binding cover warna merah.
“ Apa kesimpulannya ?
“ Proyek itu tidak punya apa apa kecuali asset keras yang tidak ada nilai apapun.”
“ Bukankah mereka sudah melakukan riset lebih dari 5 tahun? Kata Yuni.
“ Masih sangat prematur hasil riset mereka. Useless “ Kata Lili.
“ Oh my god.” Seru Yuni.
“ Ya engga apa apa. Kita mundur dari transaksi itu.” Kata Tong.
Yuni menatap Burhan, seakan mengharapkan Burhan bersikap.
“ OK. Kita keluar dari transaksi “ kata Wu.
Burhan hanya diam namun tetap tersenyum. “ Mari di nikmati makan malamnya.” Kata
Burhan ketika hidang tersedia diatas meja. Kemudian pembicaraan lebih banyak soal
yang tidak penting. Keliatan sekali keakraban LIli dengan Burhan. Yuni merasa sedikit
cemburu namun dia sadar bahwa Burhan harus bersikap ramah kepada tamunya.
Usai makan malam , Burhan dan Yuni kembali ke Hotel. Namun karena kamar mereka
berbeda, Burhan mengajak Yuni minum teh di cafe yang ada di hotel.
“ Uda, maafkan Yuni karena mengecewakan uda”
“ Engga apa apa. Dari Beijing kamu ikut aku ke Jakarta. Engga usah balik lagi ke NY.”
“ Pulang uda ?”
“ Ya. Kan udah setahun kamu cuti dari kantor di Jakarta.”
“ Tapi perusahaan Yuni di NY gimana ?
“ Kan kamu sudah kasih mandate kepada Henry “
“ Ya”
“ Ya udah. Selanjutnya sub holding di NY yang akan kelola perusahaan itu” Kata Burhan
dengan santai. Tak nampak sedikitpun Burhan sedang meradang rugi karena biaya yang
telah di keluarkan selama setahun untuk Yuni.
“ Uda…”
“ Ada apa ?
‘ Boleh tanya “
“ Ya”
“ Uda engga rugi kan?
“ Apa aku bicara rugi dari tadi ?
“ Ya engga”
“ Lantas kenapa kamu tanya?
“ Jadi uda dapat untung dari kerjaan Yuni di NY ?
Burhan hanya tersenyum.
“ Udaaa” Teriak Yuni. “ Hayooo.ngaku. Uda untung ya? gimana bisa untung? Yuni kenal
betul bahasa tubuh Burhan, karena dia pernah tiga tahun bersama Burhan di Hongkong.
Buhan tetap diam dan tersenyum penuh arti.” Ayo dong Udaaa.kasih tahu Yuni gimana
caranya uda dapat untung?
Burhan mengambil sesuatu dari saku jas nya “ Ini bonus untuk kamu. Maaf kalau
kurang”
“ 2 juta dollar “ Kata Yuni setengah teriak membaca bank draft di tangannya. Yuni
segera menyambar tangan Burhan dan mencium punggung tangan Burhan dengan air
mata berlinang. “ Dengan uang ini Yuni mau beli apartemen di London untuk Yuli”
“ Oh OK.”
“ Thanks my dear brother.
Tak berapa lama nampak Yuni murung.
“ Ada apa Yun”
“ Mahmud, kasihan dia uda. Padahal dia sangat berharap deal ini terjadi. Yang pasti
kegagalan transaksi ini akan membuat dia pengangguran, menambah daftar
pengangguran nasional Amerika. Kasihan uda.. Yuni merasa bersalah uda”
“ Kamu tidak salah. Itu salah aku.”
“ Kenapa uda yang salah, Kan Yuni yang berbuat. Uda sudah tunjukan uang di bank.
Sudah penuhi semua proses pengambil alihan. Tapi mereka yang tidak performed.”
“ Ok Tawarkan Mahmud untuk pindah ke Hangzhou, Zhejiang”
“ Perusahaan apa itu?
“ Produsen prosesor terbaik yang pernah ada.”
“ Punya holding”
“ Ya , tepatnya malam ini holding punya 51 % saham. di produsen prosesor itu”
“ Malam ini?
“ Ya. “
Yuni terdiam cukup lama seakan berpikir keras. Akhirnya matanya memandang asing ke
arah Burhan “ Uda..” Seru Yuni dengan air mata berlinang “ Uda manfaatkan Yuni Ya.
Kenapa uda? Ini transaksi beresiko. Uda jadikan Yuni sebagai pretender, uang yang ada
di escrow itu juga bukan milik uda. Semua nampak sempurna. Semua hanya untuk
dapatkan informasi di perusahaan Mahmud kerja. Dengan due diligent , uda dapat
semua informasi. Yuni tahu , perusahaan mahmud sedang melakukan riset material
processor. Namun mereka kehabisan uang. Kenapa uda ? Kenapa uda?
Burhan hanya diam. “ Uda..” Teriak Yuni sambi memukul dada Burhan. Kemudian dia
merobek robek bank draft itu. “ Yuni engga butuh uang dengan cara begini Uda.
Bukankan selama ini Uda ajarkan Yuni untuk hidup jujur, menjaga kehormatan. Ya
kan..”
Burhan hanya diam. Yuni terus menangis. Dada berguncang hebat. Tak tahan menahan
gejolak emosinhya. Burhan memberinya air di gelas. “ Minumlah, tenangkan dirimu.
Setelah itu aku jelaskan alasan aku berbuat seperti yang kamu tuduhkan” Kata Burhan.
Setelah Yuni menenangkan dirinya, Burhan berkata.
“ Yun, kamu tahu di era sekarang tidak ada peralatan canggih yang tidak butuh
komputer. Tidak ada komputer yang bisa beroperasi tanpa prosessor. Sementara
prosessor di monopoli oleh satu merek dari satu perusahaan dan itu di miliki Amerika.
Perusahaan tempat Mahmud kerja itu, adalah pesaing yang tak pernah berhasil
mengalahkan sang monopoli. Bank bank di Amerika dibawah tekanan untuk menolak
kredit mereka. Siapa yang menenekan? Kita tidak tahu pasti siapa. Tapi faktanya setiap
ada pesaing , maka akan di matikan secara keji. Sementara negara kita butuh kemajuan
industri elektronik. Tanpa prosessor kita hanya jadi tukang jahit. Semakin banyak kita
produksi, semakin besar mereka dapat laba, sementara laba kita di atur mereka. Ini
tidak adil.
Indonesia engga mungkin bisa melampaui kemajuan riset mereka. Tidak mungkin
mereka mau kerjasama dengan kita untuk transfer tekhnology. Satu satunya cara adalah
dengan menggunakan tangan China. China telah melakukan riset lebih dari 5 tahun tapi
mereka belum berhasil menemukak prosessor seperti merek yang telah ada. Namun
dengan di gabungkan hasil riset mereka dengan hasil riset dari perusahaan tempat
Mahmud kerja maka China bisa dengan mudah menghasilkan prosessor terbaik di dunia.
“ Lantas apa hubungannya dengan Indonesia , dengan uda?
“ Perusahaan yang akan memproduksi prosessor di China itu 51 % sahamnya punya
holding. Dan aku salah satu pemegang saham mayoritas di Holding. Nah, aku adalah
putra ibuku, orang Indonesia. Tentu tidak sulit bagiku untuk mengembangkannya kelak
di Indonesia. Indutri elektronik untuk berbagai keperluan seperti alat kesehatan,
dirgantara, transfortasi, dan lain lain dapat kita hasilkan mandiri tanpa tergantung lagi
dari Amrik.“
“ Jadi uda merampok tekhnologi orang demi idealisme uda?
“ Ya aku udah minta baik baik , orang Amrik itu engga mau, ya terpaksa aku rampok.
Tapi rampok secara legal dan smart.”
“ Dan Uda manfaatkan aku yang lugu ini untuk melakukannya.”
“ Benar. Itu salah ku” Kata Burhan dengan raut wajah menyesal.
Yuni terdiam lama. Burhan masih dengan wajah sesal. Tak berapa lama Yuni menyentuh
pipi Burhan. “ Itu bukan salah Uda. Yuni salah karena tidak pernah bisa cepat
memahami setiap tindakan Uda. Dan cepat paranoia terhadap sikap uda. Padahal niat
uda sangat mulia. Menjadi petarung sendirian menghadapi raksasa yang arogan dan
culas. maafkan Yuni.”
***
Dengan pesawat Korean Airline, Burhan dan Yuni terbang dari Beijing ke Hongkong.
Karena Burhan ada janji meeting di AirPort dengan sahabatnya sebelum terbang ke
Jakarta. Di dalam penerbangan Business Class, Yuni duduk di sebelah Burhan yang asyik
membaca buku sejarah Islam. Yuni ingin bertanya sesuatu namun niat itu di
urungkannya karena melihat Burhan asyik dengan buku bacaannya. Namun ketika
hidangan makan malam datang , Burhan menutup bukunya , melirik kearah Yuni seraya
memegang lengan Yuni.
" Apa ada yang tersisa cerita tentang Mahmud? Kata Burhan dengan tersenyum.
" Maksud Uda?
" Kamu merindukannya?
" Uda tanya apa aku ada hubungan istimewa dengan dia?
" Bisa juga begitu "
" Aku udah engga mikir laki laki Uda. Yuni hanya focus untuk Yuli dan membayar
kebaikan Uda ke Yuni"
" Kamu udah bayar lebih dari cukup. Malah aku merasa berhutang"
" Persahabatan yang tulus yang di uji dengan waktu, itu mahal dan tak bisa di bayar
dengan apapun kecuali dengan ketulusan juga."
" Bisa aja kamu. Tapi aku merasa bersalah karena melibatkan kamu dengan transaksi
berisiko besar. Itu yang terjadi di Amerika."
" Engga apa-apa Uda. Yuni merasa tersanjung Uda begitu percaya dengan Yuni untuk
urusan yang sangat mulia demi negara yang kita cintai"
" Ya tapi tidak seharusnya kamu terlibat. " kata Burhan dengan wajah sesal.
Yuni menggenggam jemari Burhan untuk menguatkan dan meyakinkan bahwa dia tidak
mempersoalkan masalah itu. Hening.
" Uda, boleh tanya ?
" Apa ?
" Semua dari awal sudah diatur ya agar Yuni akhirnya kenalan dengan Mahmud.
Termasuk sewa kantor satu building dengan kantornya Mahmud"
" Kenapa tanya itu?
" Mau tahu aja Uda. Boleh kan.?
" Baiklah aku jawab. Ya. Semua sudah diatur oleh Henry"
" Termasuk mengirim Team consultant dari Beijing, yang hanya tiga hari bisa selesaikan
Due diligent. Siapa mereka itu sebenarnya ?
" Mereka Tanaga ahli China yang telah melakukan riset semikonduktor dan prosesor
lebih dari 5 tahun.N amun belum berhasil menemukan prosesor terbaik. Karena
terkendala soal material."
" Itu sebabnya mereka hanya butuh 3 hari Due diligent sudah bisa dapat semua informasi
yang diperlukan untuk menyelesaikan riset mereka yang tertunda. Dan tentu tindakan
mereka tidak akan di curigai karena di lakukan dengan singkat. Disamping itu mereka
lakukan atas perintah calon pembeli yang telah tunjukkan bukti uang sebesar USD 150
juta."
" Kamu cerdas sekali Yun"
" Dan secara hukum tidak bisa di tuntut karena memang Perusahaan Mahmud tidak bisa
performed atas Purchase agreement. "
" Ya. "
" OK, sekarang gimana dengan uang USD 150 juta itu ?
" Uang itu memang dari awal di gunakan untuk take over sky building di Boston. Setelah
di beli kita akan jual SUKUK di Dubai untuk dapatkan cash Advance sebesar 1,5 kali dari
harga beli. "
" OK. Jadi bukti dana itu hanya bukti yang memang tidak ditujukan untuk ambil alih
perusahaan Mahmud. Kegagalan sudah di design dari awal. Sekarang Yuni mau tanya ,
dari mana dana untuk bangun pabrik prosesor dan industri MRI itu?
" Dari venture capital. Lili Hui. Ini proyek aman karena di jamin pasarnya oleh
Pemerintah China.
" Uda dapat saham 51 % karena Uda berhasil dapatkan Tekhnlogi prosesor untuk MRI itu
dari hasil mencuri melalui transaksi pretender dengan Mahmud
" Ya. "
" Dan itulah prestasi Yuni."
" Ya"
" Mana cek USD 2 juta itu?
" Kan udah kamu robek. Ya udah "
" Udaaaaa ... Mana? Kata Yuni setengah berteriak seraya merogoh jas Burhan.
" Udah engga ada."Kata Burhan menepis tangan Yuni dari saku jas nya.
" Uda gitu ya caranya "Kata Yuni setengah merajuk.
" Makanya jangan cepat bawa perasaan. Uang 2 juta dolar di robek"
" Bodo amat. Pendeknya Yuni akan bilang ke Yuli , cari apartemen di London dan
uangnya minta sama papa"
Burhan hanya tersenyum.
" Uda janji ya, mau pekerjakan Mahmud di Pabrik MRI itu."
" Ya."
" Clear "
Hening. Yuni berusaha tidur setelah itu. Namun Burhan sibuk dengan komputer nya.
Ketika roda pesawat lepas dan persiapan lending , Yuni terbangun. Burhan masih dengan
komputernya
" Uda., sepertinya Yuni masuk pra mono. "
" Kenapa kamu simpulkan begitu ?
" Karena udah jarang men"
" Coba periksa ke dokter"
" Ya, nanti sampai jakarta Yuni akan periksa kedokter. "
' Kasih aku hasilnya."
" Ya, uda"
***
Di Bandara Hong Kong, Burhan menerima telp “ Where should i meet you ? terdengar
suara Hendra dari seberang.
“ Aku tunggu kamu di HKIA 2.”
“ Ok. Aku kesana. Di restoran tempat biasa ya?
" OK."
Burhan tahu, Hendra dalam keadaan tertekan. Demikian email yang dia terima minggu
lalu. Transaksi yang dilakukan Hendra penuh ambisi akhirnya hancur berkeping keping.
Beberapa asset yang dikuasainya di Eropa ,harganya fall down. Padahal sebagian besar
asset tersebut ditempatkan sebagai collateral untuk program pembiayaan pengambilalihan
project di berbagai Negara. Sudah bisa dipastikan hanya soal waktu project yang
telah dikuasainya akan diambil alih bank karena value collateral tidak lagi sufficient
untuk meng cover outstanding loan nya.
Yang menyedihkan adalah seluruh harta yang Hendra dapat dari kerja keras siang malam
dan berpuluh tahun itu, akhirnya menguap ditelan angin badai moneter global. Mungkin
bila saatnya tiba, tak ada lagi harta tersisa yang patut dia banggakan kecuali harta
pribadinya yang tentu lambat laun akan habis karena dimakan ongkos yang mahal,
seperti jet pribadi, kapal pesiar, apartement mewah dll. Ketika Burhan bertemu dengan
Hendra dalam makan malam di Hong Kong financial club. Yang pertama kata keluar dari
mulut Hendra adalah dia mengutuk dan menyesali kebodohan pemerintahan di Eropa
yang mengakibatkan keadaan financial market tak lagi menjadi tempat nyaman untuk
mengembangkan hartanya.
Lima tahu lalu , Hendra sulit ditemui karena dia sibuk melakukan investasi dimana
mana. Ketika negeri nya begitu sulitnya mendapatkan dana membangun pembangkit
listrik , Hendra malah sibuk mengambil alih perusahaan pembangkit listrik di Dubai.
China, Brazil dan lain lain. Ketika orang begitu sulitnya membangun infrastruktur
ekonomi, malah dia sibuk mengambil alih beberapa business infrastruktur dibeberapa
Negara. Ada perusahaan Pertro Chemical raksasa yang terhadang kesulitan likuiditas
dan di ambang kebangkrutan, dia tampil sebagai penyelamat dengan melakukan
restruktur permodalan berskala gigatik.
Kini Burhan kehilangan kekuatan. Masa depan terasa gelap dihadapannya. Dia
mengkawatirkan nasip anak anaknya, istrinya dan tentu sederet benda kesenangannya,
juga pride.. Burhan hanya tersenyum mendengar keluhannya. Hendra mungkin agak
kesal dengan sikap Burhan yang tak nampak prihatin. Sebagai sahabat, Burhan katakan
kepada Hendra bahwa dia tak pantas berkeluh kesah karena kemana dia pergi masih
menggunakan private jet. Disetiap Negara dia tinggal dirumah yang dibelinya sendiri.
Itu tidak disadarinya. Dia hanya kawatir masa depan business nya akan hancur.
" Ada sesuatu yang salah dari awal. Kata Burhan. Hendra terkejut karena menyebut
tentang kesalahan. " Betapa tidak ? sedari awal kamu hanya berpikir tentang uang.
Segala daya kamu lakukan untuk mendapatkan uang. Ini bagaikan narkoba yang selalu
menuntut untuk lebih dan lebih. Sehingga bila awalnya uang adalah suatu kenikmatan
namun pada akhirnya uang sudah menjadi racun dalam jiwanya. Sedikit saja ada
masalah maka derita nestap menyelimuti dirinya. Kamu kawatir hartamu akan
menyusut. Kawatir tak ada lagi ruang untuk terus tumbuh dan berkembang. Pada saat
itu kamu tak henti menyalahkan siapapun termasuk menyalahkan pemerintah. Padahal
selama ini kamu menikmati kemewahan berkat regulasi pemerintah. Itupun kamu tidak
sadari."
" Bagaimana dengan kamu ? tanya Hendra. Burhan tersenyum karena Hendra seakan
ingin mengetahui tentang sikap Burhan ditengah krisis global saat ini. Mungkin Hendra
mencibirkan Burhan yang tentu lebih sulit darinya.
“ Ya secara materi , saya bukanlah apa apa dibandingkan kamu. Namun secara kejiwaan
saya lebih siap menerima kenyataan. Bukankah nasip buruk itu ada ketika kita tidak
mengakui ada nasip buruk. Dan nasip baik itu ada ketika kita sadar ada nasip
buruk.” Begitu kata Burhan.
Hendra nampak bingung. “ Kamu berfilsafat !. Itu tandanya kamu sudah tidak ada lagi
kata kata untuk mengungkapkan realitas. Padahal kita hidup dalam realitas. Bangunlah,
sahabat.” Katanya.
“ Bagi saya bukan soal realitas tapi memang begitulah sikap hidup saya. Bahwa saya
tidak pernah menganggap kesenangan dunia sebagai tujuan. Bila kita mengejar
kesenangan , harta, kepuasan , kita pasti akan kehilangan semua itu. Yakinlah. Saya
bekerja keras dan terus bergerak tanpa kenal lelah. Bukan karena ingin seperti kamu.
“ Kata Burhan tegas. “ Dalam banyak hal kita mungkin punya nature sama tapi dalam
hal prinsip kita jauh berbeda. “ Sambung Burhan.
“ Apa itu.. Tanya Hendra.
“ Yaitu kita memang butuh uang tapi itu bukan segala galanya.
“ Memang uang bukan segala galanya tapi segalanya tak bisa dilakukan tanpa uang.
Ingat ini era uang yang bicara. Berhentilah berfilsafat, sahabat”. Kata Hendra dengan
nada mengejek.
“ Kalau begitu , inilah letak persoalan yang sedang melanda kamu, juga sebagian besar
kaum seperti kita.” kata Burhan. “ Kamu terjebak dalam paranoia akibat keadaan yang
tidak bersahabat. Karena kamu hanya yakin bahwa uang adalah segala galanya. Orang
termiskin yang saya ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.
Kamu lebih lemah dibandingkan simiskin yang tinggal dirumah reot dan berbaju
selembar. Berhentilah barang sejenak berpikir soal uang. Lupakan soal masa depan.
Lihatlah hari ini dan syukuri sebagai berkah tak terhingga dimana kamu masih bisa
bernafas dan menikmati mentari dengan gratis dari Tuhan.”
“ Apa yang harus saya lakukan? Tanya Hendra. Kini dia mulai tercerahkan. Burhan
senang karena sahabatnya mulai berpikir rasional.
“ Apa yang harus dilakukan adalah berbuatlah untuk membahagiakan orang lain dengan
apa yang kini kamu punyai. Pernahkah kamu berpikir bahwa minuman dan makanan
yang terhidang didepan kita harganya sama dengan penghasilan satu bulan buruh di
Indonesia ? Pernahkah kamu menyadari ongkos sekali jalan kamu melintasi benua sama
dengan penghasilan petani dua kali musim. Pernah kamu menyadari ongkos
memanjakan wanita wanitamu sama dengan biaya mahasiswa miskin sebanyak ratusan
orang . Pernahkah itu semua terpikirkan. ?
Sementara apa yang kamu belanjakan dari kerja keras itu tak lain hanyalah kesia siaan.
Kesenangan yang menyesatkan. Tak ada nilai. Nyatanya ketika uang mulai menyusut,
yang pertama kamu pikirkan orang orang terdekat kamu akan meninggalkan kamu.
Padahal masih ada yang bisa kamu perbuat dengan sisa harta itu, yang tentu sangat
bernilai bagi mereka yang duapa harta. Sedikit bagi kamu namun sangat berarti bagi
mereka yang lapar dan tersisihkan oleh kerakurasan orang seperti kamu. Sadarlah…”
Keduanya Hening. Dari tadi Yuni hanya menjadi pendengar yang baik. Namun dari
pembicaraan ini, Yuni dapat pelajaran mahal tentang orang orang seperti Hendra.
Bahwa tidak semua mereka bahagia dengan hidupnya. Kalaupun Burhan bisa bersikap
seperti yang dia katakannya, namun Yuni tahu Burhan kadang merasakan tekanan
dalam bentuk lain. Hanya bedanya Burhan punya kekuatan spiritual. Sholat dan Sabar
adalah senjata utama nhya dalam menghadapi setiap persoalan. Hingga dia nampak
tegar dan selalu percaya diri.
“ Han, saya paham. Apakah ada kemungkinan saya dapat solusi dari kamu? Please. Saya
butuh pinjaman jangka pendek. Bantulah. Karena engga ada lagi yang bisa saya
gadaikan untuk dapat pinjaman. “
“ Tidak ada solusi dari saya. Solusi ada pada sikap dirimu sendiri. Karena tidak ada
masalah yang lebih rumit kecuali dirimu sendiri. Lihatlah kenyataan dan belajarlah dari
kenyataan. Kamu akan baik baik saja. “ Kata Burhan dengan tersenyum seakan
memberikan keyakinan kepada Hendra untuk tidak perlu takut. “ Apapun yang terjadi
, kamu tetap sahabat saya. Kaya atau miksin , kamu tetap sahabat saya. Hadapi masalah
dengan tenang. Saya yakin kamu bisa “
“ Baiklah Han. Terimakasih” Kata Hendra sambil memandang ketempat lain. Seakan
hilang harapan. Tidak tahu apa yang harus di katakan. Burhan berdiri “ Saya harus check
in lagi untuk penerbangan ke Jakarta. “ Kata Burhan sambil menepuk bahu Hendra. Yuni
juga lansung berdiri mengikuti langkah Burhan yang terkesan cepat. Yuni tahu, betapa
pedulinya Burhan kepada sahabatnya. Dia korbankan terbang langsung ke Beijing-
Jakarta, hanya karena untuk pembicaraan tak lebih 10 menit dengan Hendra.
Ketika menanti Boarding , Yuni bertanya kepada Burhan
“ Yuni jadi ingat kejatuhan Amerikan, mungkin seperti yang Uda ceritakan ya. “
“ Kamu tau Yun, Aku ingat ketika terjadi crisis kredit di Amerika tahun 2008,kolumnis
terkenal dar The Washington Post mengatakan bahwa We are now facing more than just
a financial mess; almost every other major institution is under threat. The political
system is adrift; public schools are failing; the borders are porous; the intelligence
agencies are dysfunctional; the inner cities are infested with drugs and gangs; the
family is broken; and millions are fleeing their churches. In most of our institutions
there is poor leadership. A survey by Harvard's Center for Public Leadership revealed
77 percent of Americans believe the country faces a leadership crisis; this is prevalent
across 12 different institutions and leadership groupings. In the survey, Congress, the
executive branch, the business community and the media ranked in the lower echelons.
Democratic capitalism is based on widespread social trust - especially, trust in leaders.
Without this confidence, the whole system threatens to unravel. The solution is not
more government regulation; it is moral and spiritual renewal. “
Ungkapan tersebut ingin menyadarkan public AS bahwa krisis terjadi harus disikapi
secara fundamental terhadap akar masalah. Dana talangan tidak akan menjamin
perbaikan ekonomi AS. Ini hanya mengobati rasa sakit tapi tidak menghilangkan sumber
penyakit. Biang penyakit sebenarnya adalah ada pada kemorosotan moral para
pemimpin AS. The solution is not more government regulation; it is moral and spiritual
renewal. “
Yuni terhenyak mendengar kata kata Burhan. “ Padahal sebelumnya para pemimpin AS
begitu bangganya mengeksport paham kapitalisme dan demokrasi kepada seluruh
dunia. Mereka memaksakan agenda demokrasi dan kapitalisme , neo liberal disemua
sector tapi mereka lupa satu hal bahwa apapun ideology haruslah didukung oleh
kepercayaan public terhadap pemimpinnya. Dan itu hanya mungkin bila pemimpinnya
mempunyai moral spiritual yang tinggi.” Kata Yuni.
“ Di AS para politisi berusaha menghilangkan ruang agama dalam setiap pembahasan
regulasi. Kampanye hidup bebas dan individualisme telah membuat banyak gereja
kosong dan bahkan ada yang dilelang.” Kata Burhan
“ Namun , Islam tumbuh dan berkembang secara significant di AS. Kedatangan Islam di
AS menjawab semua kebutuhan spiritual masyarakat AS yang mulai gamang dengan
masa depannya. Lambat tapi pasti, Islam mulai menjadi agama yang diperhitungkan.
Keagungan peradaban Islam tempo dulu ,kini mulai diulas oleh berbagai seminar.
Spiritual Islam dan kehebatan sejarah peradaban islam , banyak digunakan oleh
perusahaan Raksasa AS sebagai cara memotivasi karyawan untuk tumbuh dan
berkembang ditengah arus globalisasi. Mereka sadar globalisasi bukan seperti yang kuat
memakan yang lemah tapi globalisasi seperti ketika Islam menguasai dunia, dimana
kemakmuran dan keadilan , perdamaian mewarnai seluruh pelosok bumi.” Kata Yuni.
“ Ya, sementara itu, kalangan politisi AS terus meniupkan kebencian terhadap pengaruh
Islam diseluruh dunia. Bahkan negara yang mendukung kekuatan gerakan islam akan
menuai kesulitan untuk memperoleh dukungan pendanaan dari lembaga multilateral.
Ulah AS terhadap Afghanistan, Pakistan, Irak , Sudan adalah bukti betapa rendahnya
moral politikus AS dan selama ini hanya ditonton saja oleh public AS. Namun , dengan
kejatuhan wallstreet dan mega scandal dibidang keuangan, maka public AS baru sadar
bahwa musuh mereka sebenarnya bukanlah Islam tapi diri mereka sendiri. Dan islam
seperti agama lainnya, selama ini berjuang tidak lebih hanya untuk mengingatkan umat
manusia agar kembali kepada hakikat diciptakan oleh Tuhan bahwa manusia itu harus
menegakan kebajikan dengan menjujung tinggi the truth, goodness dan justice. Dan
itulah moral sebenarnya yang membuat semua fondasi social kokoh sepanjang masa.”
“ Tapi akankah ini dapat dipahami oleh para politikus AS ?
“ Keliatannya masih jauh sebagaimana ungkapan dari Jeffrey T. Kuhner “Don't expect
to hear any of this from Sen. Barack Obama or Sen. John McCain. They are our leaders,
after all.”
“Sangat menyedihkan dan keliatannya krisis ini tidak disikapi sebagai peringatan Tuhan.
Mereka masih meremehkan situasi. Mungkin itu sebabnya pak Jokowi punya program
revolusi mental ya Uda.”
Burhan hanya tersenyum “ Kamu sejak kenal si Turki itu semakin pintar yang bicara
politik.”
“ Ah Uda. Kan uda yang nasehati aku, bertemanlah dengan orang yang karenanya
membuat kita berkembang lebih baik secara spiritual. Dan Hormati orang kaya agar
mereka dapat menuntun kita ke mata air dan sayangi orang miskin agar empati kita
tetap hidup untuk mendekat kepada Tuhan. Ya kan.”
Burhan hanya tersenyum.
“ Eh Uda…Yuni keliatan udah tua ya ? Kata Yuni dengan wajah memerah ketika Burhan
memperhatikan sekilas wajahnya.
“ Engga lah. Usia kamu memang 45. Tapi penampilan kamu seperti usia 35 tahun.
Gimana engga awet muda. Seminggu dua kali ke Gym dan spa. Sejak kamu pakai jilbab
kamu nampak lebih cantik. Ada aura di wajah kamu yang membuat pria segan pada
pandangan pertama."
“ Thanks. Yuni percaya Uda bilang Yuni cantik itu jujur. " Kata Yuni memerah wajah. "
Teman teman Yuni bahkan ada yang pakai suntik segala agar nampak awet muda. Dan
lagi penampilan Uda juga lebih muda dari usia Uda.”
“ Emang aku udah tua? KIta hanya beda 6 tahun kok. Catat itu “ Kata Burhan tersenyum
sambil berdiri dari tempat duduk karena terdengar panggilan untuk masuk pesawat.
***
Setelah hampir setahun di New York, Yuni kembali masuk kantor di Holdingnya di
Jakarta. Walau dia baru masuk namun perkembangan perusahaan setiap hari dia
monitor dari Amerika. Itu sebabnya dia bisa langsung bekerja tanpa harus bertanya
tanya. Hanya dia perlu keliling ke unit business yang tersebar di beberapa kota di
Indonesia dan juga di luar negeri. Hari harinya tetap sibuk. Dia sudah memikirkan untuk
membuat kantor sendiri tanpa harus menyewa di office tower. Sehingga semua unit
business yang tersebar di beberapa tempat di jakarta, dapat di satukan dalam satu
building. Rencana ini dia sampaikan kepada Burhan via email. Burhan tidak menjawab.
Yuni tahu apabila Email tidak di balas Burhan , itu artinya kebijakan sudah benar tanpa
perlu di bahas. Yuni menugaskan Direktur Keuangan Holding untuk melaksanakan
rencana pembangun gedung kantor.
Selepas kantor Yuni tidak lagi menghabiskan waktunya di cafe bersama teman teman
sosialita nya. Waktunya lebih banyak bergaul dengan pebisnis. Diapun aktif dalam
asosiasi bisnis. Burhan tidak pernah mempertanyakan kesibukannya. Sejak kembali dari
Amerika, Yuni sudah jarang bertemu dengan Burhan. Terakhir Yuni tahu bahwa Burhan
lebih banyak di rumah bersama istrinya. Alasanya Burhan ingin lebih punya waktu
dengan istrinya. Maklum tahun ini kedua anaknya sudah keluar dari rumah. Istrinya
tentu merasa kesepian. Untuk itulah Burhan mendampingi istrinya selama tahun tahun
awal dalam kesendirian di rumah. Sambil berharap agar istrinya dapat mendampinginya
kemanapun dia pergi. Yuni sadar bahwa bagi Burhan keluarga adalah nomor satu.
Yuni ingin sekali bertamu tatap muka dengan Burhan khususnya membicarakan
rencananya membantu sahabatnya yang sedang di rudung masalah keuangan
perusahaannya. Betapa girang hatinya ketika pesan singkat masuk ke gadget nya “
Temanin aku ke spa hari ini “. Benarlah , tepat jam yang di janjikan Burhan sudah ada
di cafe favorit nya. Mereka berdua berangkat dengan berjalan kaki ke hotel dimana
tempat spa berada. Setelah selesai spa, mereka duduk di ruang santai.
“ Uda, boleh diskusi “
“ Soal apa ?
“ Aku punya teman. Perusahaannya sangat bagus pengelolaanya. Penjualannya terus
meningkat. SDM hebat, produk berkualitas.Laba yang dihasilkan terus meningkat dari
tahun ketahun. Relasi Yuni di bank memberikan informasi kepada Yuni perusahaan
tersebut bagus dan tumbuh dengan cepat. Namun punya masalah terhadap Cash flow”
“ Kenapa bisa begitu? Kata Burhan sambil rebahan di korsi santai.
“ Peningkatan penjuaan begitu cepat namun tidak diimbangi arus kas masuk yang
cepat.”
“ Miss management “
“ Ya Perusahaan terjebak dengan peningkatan penjualan secara kredit sementara bank
tidak lagi mendukung pembiayaan cash flow tersebut karena Debt to equity ratio sudah
diatas ambang batas. Hanya dua cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan yaitu
merubah syarat penjualan atau pemegang saham menyetor modal agar kondisi DER
membaik. Yang pertama tidak mungkin dilakukan karena kawatir memperlemah
momentum pasar.Yang kedua para pemegang saham tidak punya dana untuk
menbambah modal karena pertumbuhan laba habis untuk ekspansi.”
“ Oh gitu. Lantas rencana kamu apa ?
“ Yuni tertarik terhadap perusahaan ini.”
Burhan hanya diam sambil memejamkan mata. Dia membalikan tubuhnya menghadap
kearah Yuni. “ Jadi apa yang harus aku lakukan?
“ Ubah dech kebijakan holding. Jadi Yuni bisa gunakan cadangan laba untuk ambil
perusahaan ini. “
“ Engga boleh.”
“ Uda, bantu Yuni. Ini suami sahabat Yuni sejak kecil di Medan.”
“ Engga bisa.”
“ Uda. Kalau kita injeck uang cash, perusahaan akan membaik. Kasih Yuni kesempatan.
“
Burhan berdiri dari korsi santainya menuju ke arah meja minuman. Dia minum air putih.
Yuni mendekat “ Uda mau Yuni buatkan teh atau kopi.”
“ Engga usah. Air putih aja. Uni di rumah larang aku minum kopi keseringan.” Burhan
langsung melangkah ke locker untuk ganti pakatain dan ikuti oleh Yuni. Mereka keluar
dari tempat Spa. Yuni tidak ingin bicara lagi soal rencananya itu. Karena dia kenal betul
sifat Burhan yang engga bisa di tekan.
“ Gimana hasil pemeriksaan dokter soal penyakit kamu?
“ Engga apa apa. Hanya stress aja penyebabnya. Sekarang udah normal”
“ Kapan periksanya?
“ Tiga bulan lalu setelah pulang dari Amerika.”
“ Kenapa kamu baru bilang setelah aku tanya.”
“ Aku pikir engga penting banget uda.”
“ Kamu pikir itu engga penting. Tapi aku mengkawatirkan kamu, Yun.. Cobalah
mengerti perasaan orang. Kalau engga , ya engga usah ngeluh.”
“ Ya maaf Uda.”
Karena Burhan ada janji dengan teman temannya di Pondok Indah Mall, mereka
berpisah. Sebelum berpisah dari tempat spa itu, burhan berkata kepada Yuni “ Undang
Direksi itu makan malam besok.”
“ Terimakasih Uda.” Kata Yuni dengan tersenyum cerah. Itu artinya Burhan akan
mendukungnya.
***
Jamuan makan malam diadakan di restoran jepang di salah satu hotel bintang lima.
Dengan ramah Burhan memuji management perusahaan itu. Burhan mempertimbangkan
untuk membantu ketika direksi perusahaan itu meminta agar Burhan mengatasi cash
flow nya.
“ Pak Han, Kami sebenarnya tidak butuh investor dalam jangka panjang. Kami hanya
butuh cash flow untuk mendukung penjualan yang terus meningkat. Kami menawarkan
kerjasama berdasarkan bagi hasil atas dasar persentase penjualan.”
Dengan wajah tetap ramah, Burhan berkata “ Kami bukan lembaga keuangan untuk
memberikan solusi seperti yang anda inginkan. Kalau itu kami lakukan tentu akan
melanggar hukum.”
“ Jadi bagaimana caranya anda bisa terlbat membantu kami?
“ Kita kerjasama aja. Kami akan setor modal atas saham yang boleh kami kuasai. Soal
harga saham, kita bisa rundingkan.”
“ Maaf, kami perusahaan keluarga. Kami engga bisa tawarkan kepemilikan saham. “
“ Saya maklum.” Kata Burhan dengan tetap ramah.
Usai makan malam itu, Yuni menemani Burhan pergi ke cafe di tempat biasa Burhan
menyendiri. “ terimakasih Uda.”
“ Untuk apa ?
“ Udah penuhi permintaan Yuni. Niat Yuni untuk membantu sudah sampaikan tapi
mereka menolak.”
Setelah sebulan sejak pertemuan itu, Yuni kembali di hubungi sahabatnya. Bahwa
suaminya ingin bertemu kembali dengan Burhan. Tapi Burhan tidak bisa ketemu karena
sedang sibuk dengan keluarganya. “Kamu temui aja. kasih tahu aku perkembanganya.
Jangan ambil komitmen ya” Demikian pesan Burhan kepada Yuni. Ditengah pertemuan
itu, Yuni menelphone Burhan.
“ Uda , mereka ajukan proposal. “
“ Apa proposal nya”
“ Mereka mau jual piutangnya kekita untuk mengatasi cash flow nya”
“ Berapa diskon yang mereka tawarkan?
“ 30%.”
“ Ambil.”
“ Boleh ya Uda.”
“ Boleh.Ambil peluang itu. Uangnya jangan ambil dari holding tapi ambil dari Wenni di
Hong kong.”
“ Thanks Uda.
Dengan wajah sumringah Yuni mengatakan bahwa dia setuju atas proposal mereka. Para
direksi senang. Rencana besok perjanjian mengenai transaksi ini akan di tanda tangani.
Setelah 3 bulan kemudian, Direksi kembali menghubungi Yuni. Mereka nampaknya
panik. Mereka setengah memaksa untuk bertemu dengan Burhan.Tapi kembali Burhan
tidak ada waktu karena kesibukannya dengan keluarga.
“ Uda mereka panik.”
“ Kenapa ?
“ Mereka terjebak dengan hutang jangka pendek.DER mereka sudah diatas 50%.Wenni
engga bisa lagi tambah platform factoring mereka. Kalau di paksa akan terkena aturan
dari OJK di Hong Kong. Kalau tidak di bantu, factoring yang kita pegang terancam
default. Karena debitur punya alasan tidak membayar hutang apabila suplai di
hentikan.”
“ OK. Mulai sekarang kamu keluar dari deal dengan mereka. Selanjutnya urusan di
handle oleh team dari Hong kong.”
“ Holding ?
“ Ya.”
“ Baik Uda. Saya kan sampaikan kebijakan ini kepada mereka”
Benarlah tidak lebih seminggu Team dari Holding di Hongkong menemui direksi
perusahaan yang bermasalah itu. Mereka adalah team akuisisi yang Yuni sebut sebagai
team srigala. Dingin dan cepat gerakannya namun akurat. Mereka di latih langsung oleh
Burhan. Yuni mendampingi team beberapa kali rapat selama proses penyelesaian
financial tersebut. Memang pada posisi ini perusahaan tidak punya pilihan banyak
karena kondisi perusahaan terjebak hutang jangka pendek dan biaya jangka pendek.
Karenanya tawaran Team meng akuisi sebesar diatas 80% saham tanpa bisa ditolak.
Harga bagus walau tidak sebagus yang di harapkan awalnya. Namun bagaimanapun
pemegang saham lama merasa happy karena disamping dapat uang dari hasil penjualan
saham juga nilai sahamnya yang ada ditangannya akan meningkat seiring masuknya
investor baru.
Bagaimana Burhan membayar perusahaan itu ? apakah dari kas Holding ? tidak! Yuni
mengikuti semua tahapan proses sampai uang mengalir ke perusahaan yang sahamnya
di ambil alih. Caranya, team membentuk Special Propose Company untuk bertindak
sebagai vehicle pengamibi alihan. SPC ini menjual bond dengan underlying akuisis.
Mengapa bond bisa laku dijual? karena Team punya exit akan masuk bursa dan
refinancing melalui bank. Team hanya menjual bond senilai cukup mendongkrak DER
menjadi dibawah 30%. Mengapa? dengan DER dibawah 30% team bisa menarik pinjaman
baru dari bank untuk mendukung penjualan dan menjaga cash flow tetap sehat.
Bagaimana dengan pembayaran bond yang dikeluarkan SPC? Rencananya dengan kondisi
keuangan sudah sehat Team akan menawarkan kepada limited investor berupa
convertible bonds. Artinya hutang itu akan di konversi dengan saham kelak ketika
perusahan masuk bursa. Dengan demikian Team bisa ambil perusahaan tanpa keluar
uang.
Setelah proses penambil alhan itu selesai, Burhan menelphone Yuni
“ Yun, Perusahaan di bawah kendali Holding kamu”
“ Jadi anak perusahaan Yuni?
“ Ya.”
“ Terimakasih Uda.Uda baik banget.”
“ Tugas kamu ganti direksi sesuai dengan grand strategy masuk bursa. Pastikan TOP
eksekutif adalah mereka yang punya reputasi dikalangan perbankan agar beauty ketika
masuk bursa kelak.”
“ Ya uda.”
“ Pastikan jadwal masuk bursa dengan performance strong market sesuai business plan
yang ada , bahwa kita akan dapat sedikitnya capital gain sebesar 4 kali lipat. “
“ Ya uda.
“ Kalau kamu bisa laksanakan semua rencana dengan baik maka Limited investor
bersenang hati karena mendapatkan yield tinggi dari capital gain dan holding kamu
tetap sebagai pemegang kendali utama perusahaan karena kamu tetap mayoritas.”
“ Kok bisa begitu ?
“ Ya karena kamu tidak menjual semua saham yang kamu miliki di perusahaan itu tapi
hanya sebagian kecil sebagai fresh money untuk memberikan konstribusi kepada
Holding. Yang penting kamu tidak punya hutang lagi kepada limited investor. Setelah
itu kondisi neraca perusahaan semakin sehat karena masuknya investor bursa. Dengan
begitu perusahaan bisa kembali menarik pinjaman dari bank untuk meningkatkan
program penjualan agar perusahaan semakin bersinar dan kelak kalau right issue PER
akan naik berlipat. Paham kamu ?
“ Paham Uda.”
***
Ketika tahun baru Yuni bertemu dengan sahabatnya yang suaminya dulu menguasai
saham mayoritas di perusahaan yang kini dibawah kendali Yuni. Tapi anehnya setelah
itu sahabatnya itu tidak nampak akrab lagi. Kesannya berusaha menjauhi Yuni.
“ Sis, kenapa susah sekali di telp “ kata Yuni kepada sahabatnya itu.
“ Untuk apa berteman dengan perampok” kata sahabatnya itu dengan sinis.
“ Maksud kamu apa ? Kata Yuni heran.
“ Asal kamu tahu aja. Sejak pengambil alihan itu, suami saya sakit sakitan. Udah dua
kali kena stroke. Kamu kejam”
“ Kejam?
“ ya kejam. Gimana engga kejam. Sejak pertama kali pertemuan dengan kamu, suami
saya bilang, semua bank menutup pintu memberikan solusi. Belakangan di ketahui , ada
pihak yang menekan bank agar tidak menambah fasilitas pinjaman. Sehingga memaksa
suami saya untuk deal dengan kamu. Akhirnya semua habis. Habis. Kamu bukan sahabat
tapi Ular piton. Melilit orang dengan utang berbunga tinggi dan kemudain
memangsanya. “ Kata temannya dengan air mata berlinang. Yuni yakin bahwa Burhan
menggunakan aksesnya menekan bank agar menghentikan kucuran kredit kepada
perusahan suami temannya agar terjebak hutang jangka pendek dengannya sehingga
jadi mangsa empuk untuk di lumat.
Yuni terasa terhempas dari langit ketujuh, Dia merasa kotor dan hina di hadapan
sahabatnya. Yuni baru menyadari apa yang selama ini dia lakukan bukanlah pekerjaan
seorang wanita , seorang ibu. Kesalahan ada padanya karena dia sendiri yang ingin
memperbesar unit bisnisnya di bawah Holding. Burhan? tidak pernah Burhan
memaksanya atau memintanya untuk berkembang seperti sekarang ini. Itu datang dari
dirinya sendiri.
‘ Uda, please beri aku waktu. Aku harus ketemu Uda.”kata Yuni via telp dengan nada
menahan tangis
“ Ada apa Yun?
“ Penting Uda.”
“ Aku lagi di KL.”
“ Boleh ke sana ?
“ Datanglah”
Ketika bertemu dengan Burhan, Yuni berusaha tenang. Dia sudah siap dengan
tekadnya.
“ Uda, ini surat pengunduran diri Yuni.”Kata Yuni tanpa berani menatap wajah Burhan
“ Kamu mengundurkan diri sebagai direksi atau pemegang saham atau keduanya ? Kata
Burhan dingin.
“ Keduanya. “kata Yuni dengan tenang
“ Baiklah. “ Kata Burhan sambil menghela nafas panjang. Mata burhan memandang jauh
keluar jendela. “ Aku akan telp Lawyer aku di jakarta untuk selesaikan proses
pengunduran diri kamu. Kamu akan dapatkan cash atas saham yang kamu miliki dan
juga bonus.”Suara Burhan terdengar lirih
“ Yuni engga butuh cash dari saham yang Yuni miliki dan juga engga butuh bonus.”
“ Ok..” Burhan tetap tenang “ Apa rencana kamu setelah ini ?
“ Entahlah Uda. Aku tidak menyesali kemitraan kita. Tapi yang aku sesali adalah aku
tidak pernah bisa setabah Uda. Tidak pernah punya kemampuan seperti Uda yang selalu
punya alasan kuat dalam setiap keputusan bisnis yang Uda ambil.”
“ Maafkan Aku Yun. Aku tahu kamu kecewa dan marah atas sikap Team dalam proses
pengambil alihan perusahanaan suami sahabat kamu. Aku tahu , lambat atau cepat ,
saat ini akan datang. Karena kamu cukup cerdas untuk mengetahui yang sebenarnya
terjadi dan menentukan sikap sesuai keyakinan kamu. Ini salah ku.”
“ Yuni hanya ingin jadi sahabat uda saja. Ya sahabat. Papa Yuli. Bukan seorang Burhan
businessman tapi Burhan sebagai putra dari ibunya, yang humanis dan sayang sama
keluaga, mencintai sahabatnya, rendah hati. Itu aja.”
Cahaya senja di KL, sebagai saksi akhir dari kemitraan bisnis diantara mereka berdua.
Harta bisa hilang, Jabatan bisa hilang, kemitraan bisnis bisa berakhir, namun yang
tersisa hanyalah persahabatan. Yuni ingat kata kata Burhan". Nilai nilai persahabatan
bertumpu kepada CINTA. Cinta bukanlah apa yang kamu katakan tapi apa yang kamu
perbuat. Ketika orang yang kamu cintai dalam keadaan gundah, tugasmu
menentramkan bukan bertanya. Ketika orang yang kamu cintai bersalah, tugasmu
meluruskan bukannya menyalahkan. Ketika orang yang kamu cintai tak bisa menjawab
maka hatimulah yang menjawab. Ketika orang yang kamu cintai dalam keadaan lemah,
tugasmu menyediakan tubuhmu untuk menopangnya. Kecintaan kepada seseorang
bukan hanya mempercayainya tapi bagaimana kamu bersikap terhadapnya. Dan itu
hanya ketulusan untuk sepatah kata bahwa cinta adalah cinta." Ya berkah Tuhan bukan
akses bisnis yang di miliki Burhan tapi persahabatan. Menjadi sahabat Burhan adalah
pilihan terbaik bagi Yuni untuk menerima kenyataan hidup dan berdamai.
As my friend I offer you, all that I can give,
My time, my dreams, my loyalty, as long as I shall live.
A truer friend you will not find, by searching far or near,
Nor will I abandon you, of this you need not fear.
I'm very understanding, when others have caused pain,
I know I am not perfect, so would never offer blame.
I offer not perfection, and that is something new.
But I can offer loyalty, and friendship ever true.
I will not break a promise, on that you can rely;
My word will always be my bond, until the day I die.
Your secrets they are safe with me, as mine would be with you,
I’m sure if you confide in me, you'd find me ever true.
I know I'm not perfection, I don’t pretend to be,
I have my faults, and you have yours, and this we both can see.
But I will never hurt you, and never be unkind;
I’d be the truest caring friend, that you could hope to find.
So don’t be sad that we are friends,
there is no cause for sorrow.
Just be glad I'm in your life...for today and tomorrow.
Dekatlah Kepada Tuhan
Beberapa bulan atau tepat 4 bulan 17 hari setelah Yuni mengundurkan diri dari
perusahaan, dia merasakan ada yang hilang dari dirinya. Apa itu ? Ketulusan. Satu demi
satu sahabat yang tadinya akrab dia tinggalkan. Betapa tidak ? Yang kaya selalu ngajak
shoping. Kalau ketemu yang di bahas masalah sepele , sekitar barang dan pria. Ada
teman yang kurang berada. Kalau ketemu selalu mengeluh tentang suami yang malas,
anak yang bandel dan hidup yang semakin sulit karena biaya biaya terus naik. Ada juga
yang jomblo. Selalu mudah tersinggung dan bawa perasaan. Hobinya makan dan nonton.
Engga jelas motivasi hidupnya. Ada juga pria yang bersuami selalu mengeluh soal istri
namun mereka suka berimajinasi soal sex dengan wanita lain. Bahkan ada yang bangga
bisa mempecundangi wanita setelah menikmatinya. Entah siapa memanfaatkan siapa.
Yuni semakin merasa kesepian dan mungkin lebih tepatnya kosong. Bertahun tahun dia
tinggalkan pergaulan dengan teman temannya yang dulu pernah jadi sales jalanan. Kini
ketika dia kembali bergaul dengan mereka. Dia melihat kenyataan, hidup mereka tidak
berubah lebih baik. Bahkan samakin mundur. Yang status istri semakin tergantung
dengan suami dan selalu punya alasan menyalahkan suami. Yang punya istri semakin
kehilangan semangat untuk saling mengkawatirkan diantara mereka. Yang kaya doyan
konsumsi dan terkesan sombong. Yang hidup kekurangan , selalu punya alasan mau
kasbon, bahkan merasa tidak kotor di ajak tidur dengan teman pria bule setelah dua
kali kencan.
Mungkin kehidupan kosmopolitan di Jakarta terlalu mahal harga persahabatan. Semua
orang yang dia temui punya motive untuk saling memanfaatkan dan cepat berlalu bila
tak ada lagi mutual benefit. Yuni merasakan semakin tak bisa punya ruang untuk
bernafas diantara mereka. "Apakah persepsi ku yang otopis tentang persahabatan
ataukah dunia sudah berubah dan aku tidak memahami perubahan itu" Katanya
membatin. Yang dia sesali, dua kali dia minta bertemu dengan Burhan namun ketika
waktunya bertemu, dia punya alasan untuk membatalkan pertemuan. Mungkin karena
itu Burhan mem block Telp nya sehingga dia tidak bisa lagi Telp Burhan. Marahkah
Burhan ? Karena merasa di permainkan oleh nya.
Kini dia kuatkan hati untuk bertemu dengan Burhan. Karena Telp sudah di block, dia
coba meminta bertemu melalui e-mail. Yuni juga sampaikan bahwa dia sakit. Hanya
setengah jam, Burhan menjawab singkat " OK. Aku akan datang ke rumah sore ini.
” Benarlah sore hari , Burhan sudah ada dirumah.
Yuni masih tidur di sofa ruang tengah ketika Burhan datang. Angin tak sampai. Hanya
lapat-lapat suara kendaraan, agak jauh di depan, di jalan. Juga harum kenanga. Dan
hari tak henti berenang dalam petang. Burhan duduk di kursi mengamati Yuni, sesekali
melihat ke tivi. Alangkah lengang petang. Betapa sunyi siang di ujung hari. Dan dari
pojok ruang di lihatnya Yuni tidur di sofa, tak bergerak. Dadanya bak tak beriak.
Mukanya putih-bersih. Atau pucat? Tidak, tidak. Kulit Yuni memang bersih-putih dan
saat tidur mukanya terlihat makin putih. Tapi Burhan ingin meraba kening Yuni,
memegang tangannya, menyentuh jarinya. Burhan ingin merasa kehangatan tetap
mengalir di sana. Dia mendekat, di rapikan daster dan luruskan kaki Yuni hati-hati. Dia
tersenyum lega merasa kehangatan mengalir di sana.
Di luar, hari berlayar menuju petang seperti usia. Bayang pohon memanjang di halaman
berlawanan dengan bayang sore. Suara-suara pembantu senyap di belakang. Telepon
bisu di sudut ruang. Di jalan agak jauh di depan rumah kendaraan lalu-lalang, bunyinya
menyusup masuk usai berenang meniti daun dan bunga-bunga di halaman. Dibawanya
juga harum kenanga ke dalam ruangan.
Burhan amati wajah Yuni sekali lagi, balik ke kursi, menonton tivi. Tidak ada yang patut.
Pisah-cerai artis. Heboh, aneh, bagai pasangan hidup hanya mainan. Atau baju, sepatu,
dapat kau ganti kapan mau. Tapi Burhan terus menonton. Di saluran lain film kartun,
masak-memasak. Ah. Masakan Yuni tentu mampu bersaing kalau tak lebih sedap. 16
tahun kebersamaan dengan Yuni , selerannya dimanja, asam urat kolesterol pun tak
singgah. Cuma umur, terus menjulur; meretas garis dekat ke batas.
”Oh, hebat ini! Sedap. Luar biasa!” Semua teman Burhan pun memuji tiap kali Yuni
mengundang makan di rumah, dulu, sebelum Yuni berhenti, kebersamaan itu terasa
indah.
Bagaimana tak hebat luar biasa. Dari kecil Yuni menurut ceritanya ia suka dan terlatih
memasak. Bakatnya turun dari nenek serta ibunya, dia asah tiap hari. ”Pokoknya,
masakan Mama itu hm!” puji Yuli ketika disuruh pulang dengan alasan mamanya sakit,
tahunya mamanya hanya rindu.
***
Yuni bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dia lihat Burhan sejenak, lalu beralih melihat
tivi. ”Uda, maaf. Kenapa Telp Yuni di block. WA juga?” tanyanya. Suaranya lirih seperti
bisik. Matanya redup, hati Burhan teriris. Yuni masih tidur di sofa ruang tengah
" Aku memberi kesempatan kamu focus dengan dunia kamu yang baru, Yun. Lingkungan
yang baru. Karena memang kamu butuh ruang untuk itu, tanpa harus ada aku lagi. Aku
maklumi itu ketika kamu dengan mudah membatalkan dua kali pertemuan dengan ku.
Engga apa apa."
" Uda tersinggung ya"
" Engga. Kan aku udah bilang. Aku memaklumi sikap kamu, selalu"
" Uda..."
" Ada apa?
" Kemarin Yuli minta izin ke Sudan. Ikut program kemanusiaan dari Bulan Sabit London.
Dia ingin gunakan waktu libur musim panas untuk kegiatan sosial. Yuli engga bisa tidur
mikirkan dia mau ke sana” Suara Yuni nampak parau.
" Pendapat kamu ?
" Aku larang keras. Tapi dia berkeras mau ikut rombongan Bulan Sabit ke sana. Uda,
please. Bilang Yuli engga usah pergi. Larang dia, Uda. Hanya Uda yang dia dengar. Aku
ibunya tapi engga ada respect di hadapan dia" kata Yuni, air mata mengalir di tubir
kelopak matanya
" Yuli sangat respect dengan kamu, Yun. Sangat. Hanya masalahnya kamu engga bisa
memahami gejolak usia mudanya. Kamu engga melihat masalah secara utuh dan bijak.
Anak kamu sekarang sudah dewasa. Pergaulannya di luar sana ikut mempengaruhi
karakternya. Kamu tidak bisa paksa dia untuk mengikuti seperti apa kamu mau. “
" Tapi itu kan misi berbahaya. Apalagi berada di wilayah konflik. Uda..please” Yuni
berusaha berdiri dari rebahannya di sofa. Ingin duduk mendekati Burhan. Tapi Burhan
cepat mendekatinya dan membantunya duduk. Terasa aroma parfum yang sangat
Burhan kenal.
" Itulah kamu. Alasan yang tidak berkelas. Kamu engga tahu bahwa dia pergi dengan
rombongan Bulan Sabit yang merupakan organisasi kemanusiaan yang di hormati di
seluruh dunia. Mereka punya SOP yang ketat untuk memastikan para aktifis terhindar
dari kecelakaan atau korban dari akibat adanya konflik. Jadi aman. Engga usah kawatir"
" Kan masih ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat untuk liburan musim panasnya "
" Contoh?
" Ke Bali sama Yuni atau ke Thailand liburan. Banyaklah "
" Itu artinya untuk kepentingan kamu aja. Sementara dia bukan lagi hidup di dunia
kamu. Dia hidup di dunianya untuk takdirnya. Ya , pantas aja dia sulit menerima alasan
kamu"
Burhan masuk kekamar. “ Kita kedokter ya. Aku antar kamu.” Kata Burhan sambil
membawa selimut menyelimuti kaki Yuni sampai pinggang.
" Engga apa apa Uda. Engga usah ke dokter. Yuni hanya capek mikir soal Yuli. Dia satu
satunya harta Yuni di dunia ini, Uda.” kata Yuni dengan suara terkesan berbisik.
Matanya memandang ruangan tengah rumah yang luas.
“ Sepi sekali hidup Yuni , Uda. Di luar sana banyak teman, tapi semua membosankan.
Berkali kali Yuni ingin telp Uda tapi tidak ada keberanian. Capek Yuni mikir apa yang
salah dengan hidup Yuni.”
“ Masih sering kan sholat Tahajud? Tanya Burhan.
“ Udah jarang Uda.”
“ Kenapa ?
“ Yuni malu sama Allah. Masalah hidup Yuni karena pilihan hidup Yuni sendiri.
Sementara kasih sayang Allah terlalu melimpah.”
Burhan diam saja. Tanpa ingin membahas lagi masalah Yuni. Karena masalah Yuni dari
dulu adalah dia tidak pernah bersikap memilih jalan hidupnya dangan ikhlas. Makanya
dia selalu cepat bertindak pragmatis. Burhan harus mengarahkan Yuni untuk benar
benar bisa memilih jalan hidupnya. Dan itu hanya Yuni yang bisa melakukannya. Burhan
hanya bisa membantu dengan mengurangi sikap intervensi nya yang berlebihan seperti
sebelumnya.
" Uda, gimana?
" Gimana apa?
" Apa yang harus Yuni lakukan?
" Kamu bisa buka usaha lain untuk mengisi kesibukan. Kan kamu ada uang dari saham
yang kamu serahkan ke aku. Sampai kini kamu belum ambil uangnya di kantor. Ambillah
, itu hak kamu. Pakailah uang itu untuk usaha kamu sendiri"
" Tapi Uda ikut ya dalam usaha itu ya"
" Untuk apa?
" Ikut aja, Uda."
" Itu sama saja kita jadi mitra lagi"
" Engga. Uda jadi mentor Yuni aja. Kan saham uda kecil. Biar Yuni yang setor semua"
Burhan diam sambil melirik kearah Yuni yang mengejar arah matanya " Mau ya" kata
Yuni dengan tersenyum sipis.
“ Yun, untuk jadi mentor tidak harus jadi mitra. Ya, kan. Jadi sahabat itu lebih tinggi
di bandingkan hubungan kemitraan bisnis. Kamu harus belajar menjadi diri kamu
sendiri. Sudah saatnya kamu tentukan sikap untuk jauh dari bayang bayang aku. Kita
tetap bersahabat. Aku akan selalu ada di kala kamu memang membutuhkan aku. Seperti
sekarang ini, kan. Aku ada di samping kamu.”
Yuni terdiam. Dia kembali merebahkan dirinya di sofa. Tak berapa lama dia sudah
tertidur. Burhan menyelimuti tubuh Yuni, sambil mengusap kening Yuni. “ Kamu wanita
kuat Yun. Kamu tahu bagaimana seharusnya menyelesaikan hidupmu. Aku akan
berusaha menjadi penonton yang baik, sembil berdoa untuk mu. Bukan aku penolong
mu tapi Tuhan. Dekatlah kepada Tuhan, dan kamu akan tahu betapa bernilainya dirimu
untuk kamu syukuri sepanjang usia. Ya sayang..” Kata Burhan berbisik. Kemudian
melangkah keluar rumah. Senja telah berlalu, malam datang. Besok fajar akan kembali
menyapa. Akan selalu ada harapan baru dan kemuningkan baru , untuk Yuni tentunya.
Baik baik selalu….
Seindah apakah senja yang mengendap perlahan-lahan di permukaan laut sehingga
tampak air yang hijau itu berangsur-angsur berwarna warni akibat pantulan cahaya
lampu reklame yang berjejer di atas gedung kawasan causeway bay Hongkong. Sesedih
apakah perasaan kala melihat senja itu lewat jendela apartemen Harbour Horizon view
, Kowloon? Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian,
senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi
meski sesungguhnya seruling kapal ketika melintasi harbour itu bisa terdengar hingga
ke batas langit, atau ke dasar laut.
”Aku melihat senja, lalu memikirkan Uda.” Ucap Yuni pada Burhan. Mereka keluar dari
apartement, di sore yang cerah, di tepi dermaga. Keduanya duduk di korsi taman pinggir
Harbour , menikmati embusan angin dan melihat kapal berlalu-lalang masuk dan keluar
pelabuhan. Akankah Burhan masih paham tentang Yuni menunggu senja yang dimaksud.
Mungkin saja Burhan tak pernah memperhatikan bagaimana bentuk senja semenjak ia
memutuskan menikahi istrinya.
”Uda tahu kenapa aku memikirkan Uda setiap kali melihat senja?” tanya Yuni.
Burhan tak menjawab, toh sebentar lagi pasti Yuni menjawab pertanyaannya sendiri.
”Karena senja seperti diri Uda, keras dengan mata elang tapi menyenangkan. Sangat
menentramkan, walau bisa kapan saja bagaikan elang terbang menembus cakrawala
dan muncul tiba tiba dari balik awan menyerang dengan akurasi tinggi. Dingin tanpa
emosi. ” Kata Yuni seakan mencoba mendiskprisikan seorang Burhan di hatinya.
”Yuni tetap suka berada di sini meski Uda diam saja.” Kata Yuni
Begitukah?
Burhan memang masih diam.
”Kalau tidak ada Uda, pasti senja membuatku merasa ditimbun lara. Dengan bersama
Uda, entah mengapa selalu ada harapan. Angin senja selalu setia menyampaikan pesan
rinduku”
Sepanjang angin berembus, Yuni terus berbicara. Tapi hari masih belum menuju malam
pekat. Belum waktunya pulang, beberapa burung kecil duduk di besi dermaga kemudian
terbang lagi. Malam belum datang, dan kebersamaan ini janganlah cepat berlalu.
”Benarkah ada imajinasi yang selalu datang ketika senja?” tanya Burhan. Mungkin ia
gusar dengan cara Yuni selalu menikmati keheningan senja.
”Tentu saja.”
”imajinasi apa? Imajinasi cinta?
”Ah, bukan. Jangan terlalu klise, Sayang.”
”Lalu?”
”Hanya imajinasi saja.”
”Pasti ada visualnya. Bahkan anak TK saja punya visual imajinasinya. Sampaikanlah.
Aku ingin dengar"
” Dari langit akan ada burung besi di kendarai kesatria menjemput putri yang selalu
menanti di jendela kamarnya"
”Ya. Terus ..."
”Ah sudahlah ..."
Kenangan lagi. Seperti diksi yang luar biasa picisan, namun kadang sepasang kekasih
bisa mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang picisan, bahkan pembicaraan
selanjutnya seperti tak akan menyelamatkan mereka. Kecuali waktu yang terus susut,
jam terpojok ke angka 7. Senja turun, ada kapal yang melintas di teluk itu.
”Mungkin kita harus pindah tempat, kembali ke apartement” Ucap Burhan
”Tidak. Dari sini kita bisa melihat senja.”
”Tapi kini terasa dingin.”
”Tapi kalau kita pindah, nanti Yuni susah memikirkan Uda dalam bentuk yang seperti
ini.”
Tentu saja.
***
Dermaga besar yang teramat sabar, bentangan laut memanjang sampai ke penjuru
ingatan, ke palung kehilangan, ke laut kasmaran. Sesungguhnya, ada banyak cerita di
Kowloon atau Tsim Sha Tsui, East. Bukan hanya sepasang kekasih yang duduk di besi
dermaga untuk menunggu senja, tapi juga kisah-kisah lain manusia. Semua itu adalah
cerita. Tapi pemandangan Dermaga, senja, dan sepasang kekasih mungkin akan menjadi
cerita yang paling dramatis. Bisa saja sepasang kekasih itu pada akhirnya akan berpisah,
tapi masing-masing dari mereka tak bisa menghilangkan kenangan ketika duduk berdua
di dermaga. Seakan-akan mereka sedang mengabadikan cinta dalam hitungan detik
terbenamnya matahari. Lalu pada suatu waktu si lelaki akan sengaja kembali ke tempat
itu, duduk di sana, demi mengenang wanita itu atau bisa saja kisahnya di balik. Meski
mungkin si wanita tak kembali, sebab ia merasa tersakiti jika harus melihat senja di
dermaga itu lagi.
Tetapi, kapal akan tetap melintas, tepat ketika senja, ketika matahari bundar di ujung
laut.Ya, sebentar lagi, sebuah kapal akan melintasi teluk itu. Sungguh suasana yang
romantis, seorang kapten kapal yang bertugas di kapal itu sedang membayangkan kapal
yang di kemudikannya sebentar lagi melintasi teluk, lalu ia akan membunyikan peluit
keras-keras, nguooongngng, hingga ia pun teringat dengan kekasihnya di masa lalu;
seorang wanita penggemar senja.
”Bertahun tahun aku berimajinasi Uda menjadi kapten, dan membawa kapal yang
melintasi teluk tepat ketika senja.”
”Kamu ingin aku jadi kapten kapal?”
”Ya. Menjemput ku yang setia menanti di kala senja” Mata sipit Yuni melirik kearah
Burhan” Tidak mungkin ya Uda ?” Matanya layu jatuh ke tanah.
”Aku telah mencoba tapi tidak pernah berhasil Yun. Maafkan aku. Persahabatan kita
terlalu indah untuk dibatasi oleh lembaga perkawinan.”
”Uda akan selalu dalam pikiranku, selalu.”
”Cinta sudah cukup sempurna bila kita punya ruang untuk berbagi dan peduli.”
" Apakah cukup cinta yang Uda maksud itu? Untuk ku? Sepanjang angin akan berembus,
pertanyaan seperti itu seolah tak ada gunanya. ”Cinta yang uda maksud tidak membuat
Uda merindukanku. Uda hanya peduli dan selalu ada untuk Yuni , untuk melindungi
Yuni, menghapus air mata Yuni. itu aja. Sementara cinta yang kumaksud adalah
merindukan. Selalu ?” Kata Yuni.
Burhan hanya diam.
" Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!Apalah aku
untuk bisa memiliki sehingga selalu merindukan. Bahkan terhadap diriku saja aku tak
berdaya. Kalau sakit ya sakit aja walau begitu kerasnya menjaga disiplin agar tetap
sehat. "Kata Burhan kemudian sambil menatap kearah dermaga.
“ Ini terakhir aku menanti senja. Satria itu telah datang kemarin. Besok besok ia akan
melamarku.” Akhirnya sampai juga sebuah sikap dari Yuni. Menentukan pilihan yang
ketiga kalinya dalam hidupnya. Dia yakin tidak ada pilihan yang sempurna namun
dengan memilih dia mengakui kelemahanya sebagai manusia yang tidak sempurna. Andi
sudah menentukan sikap dengan menceraikan istrinya yang memang tidak pernah ada
titik temu untuk berdamai. Rasa hormatnya akan pribadi Yuni telah membuatnya punya
keberanian melamar Yuni jadi istri.
“ Siapa kapten itu ?
“ Bukan Uda yang pasti. “ Kata Yuni dengan mata sipitnya yang sendu.
“ Siapa ?
“ Andi Ng. Dia telah mengabarkan bahwa dia berani mengambil keputusan untuk
memperistriku”
“ Akhirnya berlabuh juga kamu di dermaga harapan. “
“ Ya. Aku lelah menanti senja, menanti kapten kapal menjemputku, yang akhirnya
hanyut dibawa angin malam. Dia bukan si kapten yang aku imajinasikan namun
dengannya aku bisa menghapus warna warni imajinasiku, tentang Uda.”
“ Aku tetap sahabatmu. Kapanpun kau merindukan ku, yakinlah aku selalu di hatimu.
Setidaknya aku ada pada Yuli. Dia akan menjadi malaikatmu di usia senjamu.”
“ Terimakasih Uda. Terimakasih untuk segala galanya. Yuni tidak akan ambil uang dari
saham yang Uda hibahkan ketika kita mendirikan Holding. Di hadapan Yuni , Uda terlalu
berharga di bandingkan uang yang Uda berikan untuk 20% saham itu. Tabungan Yuni
hasil dari deviden, bonus dan gaji selama berkerja dengan Uda, lebih dari cukup untuk
seorang istri pilot. “
“ Baik baik selalu sayang. Jaga dirimu ya” Kata Burhan dengan senyum tertulus.
“ Ya, Uda. “ Kata Yuni dengan air mata berlinang. “ Yuli bersikap jelas. Dia tidak
mendukung keputusan Yuni untuk menikah. Dia memilih untuk tetap bersama Uda. Jaga
Yuli ya Uda.”
" Aku sudah berusaha meyakinkan Yuli untuk mengerti kamu. Bahwa kamu butuh suami
yang akan melengkapi hidup kamu, menuju sorga yang di janjikan Tuhan. Tapi, sabar
ya Yun, semoga berjalannya waktu , Yuli bisa berdamai dengan kenyataan. Tentu.
Tentu, akan aku jaga Yuli seperti aku menjaga nilai nilai persahabatan kita. “
" Sifat Uda lebih dominan pada diri Yuli. Entah kenapa pandangan hidupnya adalah
pandangan Uda. Termasuk dia merasa nyaman ketika Henry dekat dengannya.
" Hubungan Henry dengan Yuli hanyalah hubungan orang dewasa. Henry pria lajang
yang baik dan cerdas. Dia juga dari keluarga miskin yang yatim sedari kecil. Henry di
besarkan oleh kakeknya."
" Mengapa Yuli sampai dekat dengan Henry, Uda?
" Yuli ambil jurusan Financial and banking dan Henry alumni Harvard yang jurusannya
sama dengan yang di ambil Yuli di Universitas. Mungkin chemistry intelektual mereka
sama makanya bisa nyambung. Beri Yuli kepercayaan untuk menentukan sendiri
hidupnya. Kita akan awasi dia agar tidak terjerumus. Dan lagi Henry sangat
menghormati Yuli, bahkan terkesan walau dekat masih menjaga jarak. Karena Henry
tahu siapa Yuli, putriku. Tenang aja"
Terdengar getaran telepon genggam Yuni, dan melirik Burhan “ Andi Ng, sudah di
loby. Jemput Yuni untuk makan malam. Besok Yuni ke London bersama Andi. Karena
Andi ingin bicara dengan Yuli.”
“ Ok. Silahkan Yun. Aku kembali ke apartement ku.” Kata Burhan sambil
tersenyum. Yuni menyalami Burhan sambil mencium punggung tangannya. “ You always
my man, my dearest. You were always on my mind..” Kata Yuni lirih ketika Burhan
melangkah menjauh menjemput malam. Senja berlalu dan dia biasa pergi meninggalkan
senja, tanpa beban. Semua berawal karena Tuhan dan berakir karena Tuhan.
Tidak Han, aku harus akhiri…
Han, entah mengapa aku ingin berkirim surat kepadamu. Lewat email ini segala hal
mudah di sampaikan, dan kali ini aku tidak akan menyebut “ Uda” tapi Han. Ya cukup
Han saja. Karena kamu sekarang benar benar sudah jadi sahabatku. Tidak ada ikatan
apapun secara bisnis. Secara emosi ada dinding tebal memisahkan kita karena statusku
sebagai istri orang. Sehingga tidak memungkinkan kita bersedekat seperti dulu, tidak
mungkin lagi ya kan, Han
Han, seperti biasa, ia tak menoleh ketika aku menggeliat mengeluarkan suara manja.
Aku pun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh.
Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak
mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup
lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak asyik membaca buku
tebal.
***
Aku dan Andi Ng pertama kali bertemu dua tahun yang lalu. saat itu aku sedang galau
karena keputusanmu Han, menempatkan Yuli ke asrama di Singapore. Dalam keadaan
seperti itu, di dalam pesawat , sang pilot dengan simpati menyampaku. Dan aku lebih
senang lagi, karena rupanya pilot itu tertarik kepadaku—bisa kupastikan itu dari tatapan
matanya. Ia meminta nomorku yang bisa ia hubungi. Kuberikan Business card ku dan
diapun memberi ku.
Beberapa jam setelah kami berpisah malam itu, ia mengirimiku SMS. Dua hari kemudian,
ia meneleponku. Lima hari setelahnya, ia mengatakan ingin sekali bertemu denganku.
Maka kubilang, “Ke sinilah. Mungkin kita bisa sekalian ngobrol-ngobrol dan kamu bisa
memberitahuku bagaimana caranya mengendalikan pesawat di tengah badai.”
Rupanya, ia menanggapi perkataanku itu dengan serius. Pada hari kedelapan belas sejak
pertemua itu kami bertemu di Cafe, plaza Senayan. Ada rasa tersengat, tentu saja,
melihat sosoknya itu berdiri di hadapanku. Singkat kata kami pun berbicara tentang
berbagai hal
“Aku menyukaimu dan ingin kembali bertemu denganmu,” katanya besok harinya, Aku
tersenyum. Dua bulan setelah saat itu ia datang lagi, dan kami berdiskusi banyak hal.
Mungkin yang tak dia minati adalah business. Selebihnya dia menyenangkan, Han. Di
salah satu malam yang kami lalui bersama, aku pernah menanyakan padanya bagaimana
sesungguhnya perasaannya padaku.
Ia bilang, ia menyukaiku, tapi tak lebih dari itu. Tak bisa.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku sudah memiliki seseorang,” jawabnya. “Dan dia adalah istriku dengan dua
anak,” lanjutnya.
Aku pun mengerti. Ia sempat cemas dan bertanya apakah kejujurannya itu mengusikku.
Kujawab dengan senyum percaya diri. Pada malam selanjutnya ia memberiku sebuket
mawar merah dan beberapa buku. “Ini untuk mengurangi rasa bersalahku,” katanya.
Kukatakan bahwa itu tak perlu, sebab aku sama sekali tak pernah menganggap ia
bersalah. “Tapi aku merasa bersalah,” desaknya. Jadi kuterima saja.
Namun rupanya itu memberinya peluang untuk menciumiku di bibir, aku mengelak. Di
pipi, akupun mengelak. Di leher, di bahu, aku mundur dengan perasaan tersinggung.
“Kamu tahu, kurasa aku mulai mencintaimu,” ucapnya.
“Apakah itu berbahaya?” tanyaku.
“Sangat,” jawabnya.
Namun lagi-lagi rupanya itu tak menghentikannya untuk mencoba menciumiku tapi
tetap aku tolak, yang akhirnya aku kehilangan respect terhadapnya. Bukannya aku
munafik melepaskan kesempatan di cumbui pria hebat, apalagi aku sudah menjanda
lama. Bukan, Han. Aku hanya ingin hubungan yang tulus, bukan karena kencantikan
wajah atau kulitku yang putih bersih, Bukan. Tapi aku tidak melihat ketulusan itu.
***
Berbulan bulan lamanya sejak saat itu kami tak berkomunikasi melalui telepon maupun
SMS. Kukira saat itu ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mulai sepenuhnya
mempersiapkan diri untuk membangun kembali rumah tangganya yang retak berderak.
Akan tetapi, suatu pagi, ia membangunkanku, dan mengatakan betapa ia merindukanku
dan tak bisa berhenti memikirkan ku.
“Aku juga,” kataku, yang kemudian kusesali.
Beberapa hari setelahnya kami kemudian bertemu. Kali itu aku yang mendatanginya di
Singapore. Konyolkan, Han. Hanya sejengkal dengan apartement tempat istri dan anak
anaknya tinggal. Dalam pertemuan di sebuah cafe di Mandarin Hotel, awalnya kami
berdiskusi hal yang sederhana. Tapi akhirnya aku meminta pendapatnya tentang pria
yang punya karakter seperti kamu , Han. Kamu tahu Han, apa pendapatnya? Dia
mengatakan bahwa pria tersebut secara GEN tidak punya sifat pendendam, yang
tentunya tidak bisa membeci, apalagi sakit hati. Pria seperti ini, dia tidak akan paham
arti mencintai seperti yang kita persepsikan. Dia tidak akan merindukan siapapun, dan
tidak merasa takut kepada siapapun. Kalau dia memberi, karena itu memang secara
pantas dia harus memberi. Kalau dia melindungi , itupun biasa saja. Tidak ada alasan
melodrama yang kita harapkan dari sikap kelembutan kasihnya.
Kalaupun dia menikahi wanita , itu bukan karena dia ingin memiliki wanita seperti pria
lainnya yang merasa unggul menaklukan hati wanita dengan kegantengan dan harta,
atau kata kata. Baginya menikah adalah perintah Tuhan. Itu saja. Apapun yang dia
lakukan kepada istri dan anak anaknya , itupun karena alasan Tuhan. Dia tidak akan
memanjakan mereka, namun selalu ada ketika hal yang penting harus di adakan. Dia
tidak perlu merindukan semua hal sehingga merasa kawatir berlebihan. Hidupnya
terkesan datar saja. Tanpa gelombang. Dalam bisnis juga begitu. Tak lebih. Kalau deal
menguntungkannya , tidak akan membuat dia euforia. Kalau rugi , atau bahkan bangkrut
, tidak akan membuat dia hancur. Mengapa ? Berapapun laba bertambah, tidak akan
membuat dia kehilangan dirinya. Harta dia perlukan tapi itu hanya option. Sama halnya
dengan sex, itu juga option. Kalau ada , yang di pakai seperlunya dan kalau engga ada,
diapun bisa melupakan, Namun caranya selalu menurut standar nya sendiri sesuai
agama yang dia yakini. Jangan kamu bayangkan dia bisa membeli sex untuk
kepuasannya dan membeli barang bermerek untuk memuaskan egonya. Tidak mungkin.
“ Begitukah pemahamanmu tentang pria yang kumaksud” Tanyaku kepada Andi.
“ Ya. Aku pernah baca buku psikologi tentang manusia yang punya kepribadian seperti
itu. Kadang orang salah duga bahwa dia punya ke pribadian ganda, seperti bunglon.
Karena dia bisa bersikap humanis sebagai sahabat dan bisa juga sebagai petarung ketika
berbisnis. Sebenarnya, karakternya satu saja. Dia menggunakan akal dan hatinya ketika
bersikap. Yang membuat dia terkesan aneh, adalah di akalnya tidak ada storage
informasi tentang dandam dan benci. Memang GEN sebagai cetak biru kehidupannya
tidak ada buku yang memuat bagaimana membenci dan dendam. Ya semacam kelainan
jiwa. Kalaupun ada orang seperti itu, pasti tidak banyak, atau mungkin tidak ada.”
Jangan marah ya Han. Aku tidak bilang bahwa itu karakter kamu. Aku berusaha
mendebatnya, namun akhirnya semakin membuat aku tercerahkan, tentang alasan
dibalik kebaikan demi kebaikan kamu kepadaku. Aku mengangguk-angguk saja meski
sesungguhnya begitu dongkol dan dalam hati terus bergumam: orang yang teguh dengan
prinsipnya memang terkesan kelainan jiwa. Tapi sebetulnya kita sendiri yang tidak
punya prinsip. Pragmatis. Sehingga menilai orang seperti itu, punya kelainan
jiwa.” Ketika ketegangan sudah benar-benar menghilang, ia akhirnya tersenyum,
meraih tanganku, dan berkata, “Aku merindukanmu beberapa hari ini. Sangat.”
***
Han, Sejauh itu hubungan ku dengan Andi terkesan hambar. Namun ketika dia sedang
off, selalu sepanjang waktu itu ia habiskan berdua saja denganku. Kadang itu
membuatku bertanya-tanya, apakah ia dan istrinya masih hidup serumah?
Suatu saat akhirnya kuutarakan keherananku itu padanya dan ia menjawab cepat,
“Masih kok.” Sambil sesekali menatap mataku ia menjelaskan bahwa apapun yang telah
terjadi di antara kami, ia tak akan mengubah keputusannya untuk menceraikan
istrinya.
“Apakah kau mencintainya?” tanyaku.
“Tentu saja,” jawabnya, dengan raut muka seperti awan gelap yang memadat. Ketika
kuungkapkan keherananku dengan sikapnya itu, betapa ia mengakui pernikahannya
adalah takdir yang tidak sanggup dia pikul, dan karena kasih Tuhan mengirim aku
kepadanya. Ini pengkhiatan halal dan harus di maklumi sebagaimana ia mengatakan
sesuatu yang membuatku terdiam, “Ia tahu kok hubungan kita ini.” Lima detik, dua
belas detik, kuhabiskan dengan ternganga.
“Benarkah itu?” tanyaku.
“Ya,” jawabnya.
Di setiap malam aku terus memikirkannya dan akhirnya aku jadi tak bisa benar benar
mencintainya. Dua minggu setelah saat itu, aku memberanikan diri untuk menemuimu
Han, Ingat engga ketika kita di cork and screw, Plaza Indonesia, membicarakan soal
hubunganku dengan Andi Ng. Sebenarnya, Andi sudah sejak lama mewanti-wanti agar
aku tak mencoba-coba menemui mu membicarakan hubungan dengannya. Tapi aku
sudah memikirkannya masak-masak selama dua minggu dan kusimpulkan bahwa harihariku
tak akan tenang jika aku dan kamu tak bertemu. Maka, ketika pertemuan riskan
itu terjadi, besar harapanku kamu memberikan pernyataan yang entah bagaimana bisa
menghapuskan kegelisahanku.
Ternyata, yang terjadi adalah benar adanya. Kamu menasehatiku untuk tabah dengan
penuh maklum bahwa aku bukanlah wanita pertama yang pernah di cintai Andi Ng.
Sebetulnya jawabmu tidak begitu penting. Namun, Han, ketika itu aku membayangkan
kamu menasehatiku untuk tahu resiko mencintaimu dan berharap menjadi istrimu. Yang
jelas aku tak akan sanggup memenuhi syarat seperti yang kamu tetapkan. Kamu jujur
tapi Andi Ng, tidak bisa jujur.
Sejak saat itu, aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Andi Ng. Alasan demi
alasan kuberikan. Rindu demi rindu aku simpan. Hingga akhirnya, pertemuan kembali
tak terhindarkan.
“Menurutmu, apakah aku ini orang yang setia?” tanyanya.
Aku terpaku, lantas menggeleng.
“Entahlah,” kataku. “Kau bilang apapun yang terjadi di antara kita, istrimu akan
diceraikan. Kurasa, itu suatu wujud ketidak kesetiaanmu “. Tapi kamu…”
“Terus meyakinkanmu ?” potongnya.
“Ya,” jawabku.
Ia diam, beberapa detik.
“Bukankah itu suatu wujud kesetiaanku padamu, bahwa perceraian itu terjadi karena
tekadku memberikan diriku padamu?”
Giliranku yang terdiam. Benarkah itu? pikirku. Dan senyum di wajah Andi Ng itu seperti
berkata, “Ya.”
Maka aku pun tak lagi ambil pusing dengan semua itu. Biarlah ia kelak bercerai dan
kami akan menikah. Biarlah ia terus mengatakan padaku bahwa seseorang itu baik-baik
saja dan perkawinan kami tak akan melukai siapapun.
***
Satu hal kutanyakan, “Tidak kah kamu ingat kenangan malam pertama dengan istrimu.
Menerobos selaput virgin nya. Apakah itu tidak ada artinya lagi kini?” Ia menjawab,
“Malam itu, kami sama sama menikmati.Biasa saja” Oh.. Aku pun sepertinya mengerti
mengapa setelah malam pertama dengannya , ketika aku terbangun dia asyik dengan
bukunya. Sepertinya tidak ada arti hubungan intim suami istri ini. Atau mungkin baginya
hubungan intim adalah mutual benefit karena mutual orgasm. Artinya dia hanya anggap
hubungan intim hanyalah bisnis. Padahal banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya
, tentang rencana kesibukanku selama dia terbang, tentang Yuli yang terus kamu
tanggung biayanya. Apalagi Han, setelah bosan membaca dan matanya mengantuk, dia
mematikan lampu, tidur memunggungiku. Itu kehidupan perkawinanku kini, Han.
Benar katamu, Han, memang tidak ada hubungan yang sempurna namun rasa hormat
tidak boleh hilang. Bukankah kita hidup berjuang untuk kehormatan diri di hadapan
manusia dan Tuhan. Rasa hormat itu tidak kutemukan dari Andi Ng. Sementara
bertahun tahun aku bersama mu, Han, walau bukan istrimu aku mendapatkan rasa
hormat. Persahabatan yang kamu maknai memang menempatkan rasa hormat yang
harus di bayar dengan kelapangan hati untuk mengerti satu sama lain.
Tidak, Han, aku harus akhiri perkawinan ini. ***
Akhirnya lunak dan layu…
Burhan pernah berkata " mencintai satu hal namun perpisahan adalah takdir, namun
anehnya banyak orang siap jatuh cinta namun tidak siap ketika harus berpisah. Seakan
bila sudah mencintai maka itu kavlingnya yang syah sebagai miliknya. Padahal tidak ada
manusia berhak atas hidup ini kecuali Tuhan” Kini Yuni dapat meklumi kata kata bijak
itu. Tidak ada yang tahu pasti kapan panah cinta itu melesat tanpa bisa menghindar
dan akhirnya panah cinta itu tidak bisa lepas dari jantung hatinya. Hingga sampai pada
keputusan melanjutkan hubungan sampai ke mahligai rumah tangga. Itu yang kini di
rasakan oleh Yuni. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa jatuh cinta dan berbahagia ketika
Andi Ng melamarnya. Bagaimana sampai dia tidak menyadari resiko atas pilihannya
menjadi istri seorang duda yang gagal membangun rumah tangga? Memang cinta bisa
mengaburkan logika , dan hati menuntun orang kepada takdirnya. Maka yang terjadi,
terjadilah.
Begitu banyak orang berumah tangga tapi mereka tidak harus menyelesaikan
masalahnya dengan perceraian. Walau ada berakhir dengan cerai namun itu tidak
banyak. Dan Yuni termasuk yang segelintir orang yang menyelesaikan masalah dengan
perceraian. "Coba perhatikan baik baik, " kata burhan dalam email balasannya kepada
Yuni " apakah kamu kira suami istri yang selalu bergandengan tangan itu karena
hubungan mereka hebat ? Tidak! Mengapa ? Mereka hanya cerdas menghadapi
kebersamaan itu. Kamu kira Bar penuh sesak setiap hari oleh orang orang bahagia?
Tidak. Mereka adalah para pria dan wanita yang punya banyak masalah dan Bar adalah
tempat mereka lari dari masalah barang sejenak, untuk kemudian kembali menghadapi
masalah. Ya, semacam recharge. Kamu kira gereja dan masjid ramai di kunjungi orang
karena mereka orang Tabah ? Tidak juga. Mereka datang ketempat ibadah sebagai
tempat mengalihkan masalah, karena mungkin pendapatan lebih kecil dari
pengeluaran, istri yang bawel, suami yang jarang pulang, karir yang mentok, bisnis yang
lesu, jomblo, dan lain sebagainya. Barang sebentar di tempat ibadah itu bisa
melupakan semuanya, untuk kembali ke dunia nyata dengan harapan baru. Ya semacam
recharge juga. Yang pasti orang bisa bertahan karena dalam kehidupanya banyak cara
menemukan cara cerdas untuk bebas dari masalah walau itu hanya sejenak. Namun
sejenak itu sudah cukup me recharge power nya.
Di kehidupan ini Yun, tidak ada hubungan yang sempurna. Yang ada adalah orang orang
cerdas menghadapi masalah untuk mereka berdamai. Manusia selalu punya cara
berdamai dengan kenyataan selagi dia sadar bahwa dia tidak akan pernah menemukan
dan merasakan sesuatu seperti yang dia mau. Mungkin kamu bisa dapatkan suami kaya
tapi kurang waktu kebersamaan. Mungkin ada yang miskin yang selalu punya waktu
melimpah untuk keluarga namun tidak cukup uang untuk memenuhi kewajibannya
sebagai suami. Atau bisa juga tidak punya waktu dan juga uang namun dia sebagai suami
yang penyabar dan mau mencuci celana dalam istrinya ketika sakit. Akan ada selalu sisi
baik dan buruk di setiap orang. Akan ada benturan di setiap rumah tangga. Mengapa?
Karena begitulah cara Tuhan menciptakan kehidupan ini. Agar manusia sadar bahwa
mereka bukan siapa siapa kecuali makhluk hidup yang di design oleh Tuhan tidak
sempurna. Yang sempurna hanya Tuhan. Karena itu manusia harus mendekat kepada
Tuhan agar ketidak sempurnaannya membuat dia rendah hati dan pandai bersyukur di
situasi apapun. Pahamkan sayang "
Yuni acap tersenyum bila ingat nasehat Burhan. Selalu rasional dan membumi tanpa
kesan menggurui , apalagi berpikir utopia. Lantas bagaimana seharusnya kehidupan
cinta itu? Inilah kata Burhan lewat email " Saya katakan bahwa kalian berdua tidak
pernah saling mencintai. Kalian berdua hanya mencintai diri sendiri. Sehingga sulit
sekali bersatu ketika harapan dan impian tidak tercapai. Ketahuilah oleh mu bahwa
Cinta itu adalah menyadari bahwa realitas lebih baik daripada mimpi dan berjuang
untuk saling mengerti melewati hari hari dengan saling memperbaiki . Memang pahit.
Karena kamu harus menari seperti orang lain tidak menontonnya. Menyanyi seperti
orang lain tidak pernah mendengarnya. Tersakiti seperti kamu tidak pernah terluka
karenanya. Hidup seperti layaknya kamu tidak pernah tahu apa itu sorga. Dan itu hanya
mungkin berbuat dan berkorban satu sama lain tanpa pernah bertanya mengapa. Kalian
saling mengetahui sebuah alasan mengapa kalian harus bersama..”
Itulah cinta yang Burhan maknai.? Sampai kini Yuni tidak tahu cinta yang dimaknai
Burhan. “Menurutku cinta itu tidak perlu didefinisikan. Sekuat apapun kamu ingin
meraih impian cinta maka kamu akan menghadapi ujian dengan derita sampai kamu
tidak lagi berpikir tentang mimpi tapi sebuah kenyataan yang harus kamu lalui dengan
rendah hati, tanpa kebanggaan, tanpa merasa saling ingin memiliki, ingin menguasai.
Mengapa ? Karena pemilik cinta itu adalah Tuhan. Bila hubungan karena Tuhan maka
cinta tidak lagi dimaknai dengan mimpi indah tapi kenyataan yang harus dilewati
dengan semangat memberi dan ikhlas.Tak penting siapa memanfaatkan siapa..Dia
dapat bisa mengerti.
Yuni teringat kata katanya kepada Burhan "Aku merasa nyaman ketika aku melangkah
Uda memegang tanganku untuk memastikan aku tidak terjatuh dan aku mengkawatirkan
kebiasaan Uda yang selalu lupa makan siang karena kesibukan".Burhan tersenyum. "itu
sebabnya sampai kini kita selalu bersama sebagai sahabat,ya kan”..Kata Burhan. Tak
terasa 15 tahun kebersamaan karena satu sama lain tidak merasa saling memiliki tapi
saling menjaga dan memaafkan kekurangan untuk saling memaklumi selalu, selanjutnya
ikhlas karena Tuhan
Menurut Yuni nasehat Burhan tentang cinta ini tidak seratus persen dia terima. Kecuali
dia terlahir tanpa Gen benci dan dendam. Imbal balik seharusnya diakui oleh
masyarakat Modern. Orang berbuat baik akan mendapatkan balasan baik. Orang jahat
harus membayar kejahatan nya. Masalahnya , menurut Burhan, siapa yang menentukan
ukuran baik dan jahat itu ? Kalau manusia yang menentukan maka siap siaplah kecewa
bila kebaikan berbalas kejahatan. Kejahatan mendulang kemenangan. Jadi bagaimana
seharusnya ? Jangan menghakimi orang dari perbuatannya. Kalau tidak baik dan
merugikan kita ya bersabar. Kalau bagus , jangan di puji. Syukuri saja kalau itu
berdampak bagus untuk kita. Karena selalu setiap perbuatan ada alasan dan dibalik
alasan itu selalu ada niat. Yang tahu niat seseorang itu ya hanya Tuhan. Tugas kita
hanyalah berprasangka baik. Itu aja. Namun Yuni tetap sulit menerima cara berpikir
Burhan.
***
Proses perceraian sedang berlangsung. Selama itu Yuni kembali ke Jakarta. Tidak ingin
mengabarkan kepada Burhan tentang keputusannya bercerai telah di eksekusi. Yang dia
tahu dari e-mail , Burhan menasihatinya seperti nasehat yang sering dia dengar. Ini
masalah hidupnya. Burhan bisa saja nyaman dangan sikap hidupnya tapi tidak bagi Yuni.
Hidup hanya sekali, terlalu bodoh bila harus menderita karena cinta kepada seorang
pria yang untuk menaruh hormat kepada istri saja tidak bisa.
Di Jakarta keseharian Yuni di habiskan bersama dengan teman teman lamanya. Dia
berusaha mengalihkan masalahnya , larut dengan kebiasaan teman temannya, termasuk
berjudi kelas teri. Hanya sekedar have fun. Kadang mereka menyewa apartement atau
kamar hotel untuk main mahyong. Waktu terbuang begitu saja tanpa terasa. Kadang
tertawa dengan cetusan kata yang tak senonoh. Kadang cemberut ketika setiap putaran
kalah. Kebiasaan ini menjadi mengasyikan dan membuat dia benar benar melupakan
perceraiannya, dan tentu melupakan Burhan. Yuli , putrinya sudah jarang dia telp
.Karena merasa yakin Yuli akan baik baik saja di London, apalagi sudah ada pangeran
gagah yang setia menjaganya. Biaya Yuli sepenuhnya di tanggung oleh Burhan.
***
“ Papa “ terdengar suara Yuli di seberang. Burhan menerimanya ketika sedang dalam
perjalanan pulang kerumah. Ketika itu jam menunjukan pukul 11.30 malam.
“ Ada apa sayang?
“ Tolong mama”
“ Kenapa dengan mama kamu ?
“ Mama di tahan polisi,barusan aja mama telp”
“ Di tahan? Kenapa ?
“ Di grebek karena pesta dan judi di apartement.”
“ Baik, sekarang papa telp mama kamu” Kata Burhan segera mematikan telp.
Cukup lama telp Burhan tidak diterima oleh Yuni, namun akhirnya diangkat.
“ Ya Uda”
“ Dimana kamu sekarang? Kata Burhan tegas.
“ Di Polres.”
“ Aku akan urus kamu sekarang.”
Burhan segera matikan telp. Dia segera menghubungi lawyer nya menjelaskan masalah
Yuni yang sedang di kantor Polisi “ Bud, tolong urus Yuni. Pastikan besok pagi dia
ketemu saya di Pullman Hotel, Central Park.”
“ Baik, Pak. Segera saya urus malam ini”
Burhan segera menghubungi temannya di Kepolisian agar membantu Yuni.Tak berapa
lama temannya menjelaskan bahwa Yuni hanya di tanyain saja. Tidak akan di penjara.
Target polisi sebetulnya adalah operasi narkoba. Setelah test urine tidak ada bukti,
Yuni sudah bisa pulang keesokan paginya. Beberapa temannya terpaksa mendekam
dalam penjara untuk proses ke pengadilan
Jam 10 pagi Yuni sudah ada di Hotel Pullman. Dia nampak pucat ketika melihat Burhan
menantinya di loby.
“ Uda..” Kata Yuni dengan air mata berlinang. “ Maafkan Yuni, uda. Maafkan..” Kata
Yuni memegang lengan Burhan berharap Burhan memaklumi keadaanya.
“ Ibu macam apa kamu? Inikah yang akan kamu contohkan kepada putri kamu? Rubah
sikap hidup kamu.!” Kata Burhan menatap dingin kearah Yuni “ Pulang kamu sekarang.
Mandi yang bersih. “ Burhan menahan geram. Yuni diam dengan air mata berlinang.
“ Bud, antar dia pulang. Pastikan dia sampai di rumah.“ kata Burhan kepada lawyer
nya sambil melangkah ke arah restoran untuk breakfast dengan relasinya.
Meninggalkan Yuni seorang diri diam terpaku.
Namun entah menganpa Yuni berlari kearah Burhan sambil memukul Burhan " Uda ,
jahat dengan Yuni. Yuni kehilangan segala galanya, suami, perusahaan, anak juga Uda
ambil. Manusia macam apa Uda itu? jahat sekali" Kata Yuni histeris. Pengunjung hotel
menatap kearah Yuni. Burhan menghadapi dengan tenang tanpa ada reaksi apapun atas
sikap Yuni. Namun mata Burhan menatap keras kearah Yuni sehingga mata Yuni
terkulai.
" Tenangkan dirimu Yun. Semua akan baik baik saja. " Kata Burhan seraya memeluk
Yuni.
" Yuni hanya butuh Uda maafkan Yuni, Itu aja"
" Aku engga pernah marah kepada kamu Yun. Aku hanya engga suka dengan
kelakuanmu."
" Aku sudah bercerai dengan Andi Ng, Uda." Yuni makin terisak dalam pelukan Burhan
Burhan menarik napas panjang sambil menoleh ke kiri seakan menahan
keterkejutannya. Dia menyadari keadaan Yuni sedang rapuh " Yun, kalau kamu punya
masalah, kita bisa bicarakan. Akan selau ada solusi, sayang. Engga usah dengan cara
sampai kamu kena grebek Polisi. Nah pulanglah. Nanti aku temui kamu di rumah. Kita
bahas masalah kamu."
" Benar ya Uda. Yuni tunggu di rumah."
" Ya." Kata Burhan dengan tersenyum. Dan itu cukup membuat Yuni lega.
Yuni belalu dari Burhan. Dia melangkah berat sambil sebentar bentar menoleh ke
belakang melihat Burhan yang masih berdiri melihatnya. Hati Burhan serasa terenyuh.
Wanita besi yang akhirnya lunak dan layu karena waktu. Semoga Yuni akan baik baik
saja..
Nilai persahabatan..
Sore itu Burhan datang ke rumah Yuni. Pembantu membuka pintu pagar " Ibu sedang
tidur di kamar sejak siang tadi"
" Udah makan dia?
" Belum Pak. Sejak datang Ibu langsung masuk kamar. Engga keluar lagi"
" Ya, sudah"
" Bapak mau makan?
" Engga. " Kata Burhan langsung masuk ke dalam ruang tamu. Dia duduk di sofa sambil
nonton TV. Hanya lima menit setelah itu, Yuni sudah keluar dari kamar.
" Uda, sudah lama? " katanya sambil tersenyum. Duduk di sebelah Burhan.
" Baru saja datang." Kata Burhan seraya membelai rambut Yuni.
" Kemarin malam Yuni takut sekali Uda. Engga bisa membayangkan Yuni akan di penjara.
Sebetulnya Yuni mau Telp Uda, tapi takut Uda akan marah. Dan lagi memang engga ada
keberanian. " kata Yuni sambil menunduk, tak berani menatap Burhan.
" Dan kamu lebih berani Telp Yuli, putri kamu?
" Yuni takut Uda ..."
" Kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri. Seharusnya kalau kamu benar sayang
dengan anak kamu, tidak seharusnya dia tahu kelakuan buruk kamu. Aku berusaha
menjelaskan setiap alasan sikap kamu ke Yuli agar kamu tetap idolanya. Tapi dengan
peristiwa semalam, apalagi yang akan aku sampaikan tentang kamu seorang ibu yang
harus jadi panutannya."
" Maaf Uda."
" Aku sahabat kamu, Yun. Apakah ada masalah kamu yang tidak aku selesaikan. Aku
selalu ada untuk kamu di saat tersulit kamu dan berusaha memaklumi kamu. Kapan aku
marah sehingga melukai perasaan kamu? Apakah aku pernah menyakiti kamu?"
" Tidak pernah sekalipun Uda menyakiti Yuni. Baik phisik maupun perasaan . Tidak
pernah. "
" Jadi kenapa kamu tidak hubungi aku ketika berurusan dengan polisi? Mengapa hubungi
Yuli?
" Engga tahu Uda. Maafkan Yuni..."
Burhan terdiam. Terdengar isakan tangis Yuni. Burhan pergi ke toilet. Setelah kembali,
Burhan kembali duduk di samping Yuni.
" Yun, tolong beritahu aku, apa yang harus aku lakukan agar masalah kamu selesai. "
" Yuni engga tahu , Uda. "
Burhan terdiam. Di rangkul nya Yuni dari samping. Yuni merebahkan kepalanya di
pundak Burhan. " kenapa ya Yuni jadi begini ?
" Kamu hanya lelah dengan semua masalah kamu, yang sebetulnya bukan masalah rumit
tapi kamu yang bikin rumit. "
" Maksud Uda" Kata Yuni menatap Burhan. " jelaskan kepada Yuni, Uda"
Burhan terenyum menatap Yuni, dan kemudian menyentuh dagu Yuni. " Baik aku
jelaskan kepada kamu. Ada teman di Hongkong, dia baru saja diputuskan oleh pacarnya.
Tak nampak dia stress. Apa alasannya ? Mungkin dia berpikir saya bukan orang yang
tepat untuk teman hidupnya. Itu hak dia dan saya harus hormati. Demikian katanya
dengan tenang. Ada teman yang terpaksa menelan pil pahit karena kemitraannya
dengan investor gagal. Dia tak nampak stress. Alasannya, mungkin investor itu tidak
melihat hal yang positif atas rencana bisnisnya.
Ada juga mendengar kabar anaknya gagal di terima di universitas. Dia tenang saja.
Menurutnya, mungkin putranya tidak harus jadi sarjana. Ada juga teman yang bercerai
setelah 15 tahun berumah tangga. Dia juga tenang saja. Alasannya, tidak ada yang
inginkan perpisahan tapi kalau itu terjadi selalu karena alasan yang harus di pahami.
Ada juga di PHK di saat dia sangat butuh biaya hidup. Namun dia tidak nampak kawatir
seakan kiamat datang. Dia hanya berpikir bahwa perusahaan perlu PHK dan itu hak
perusahaan.
Cerita diatas sering aku temui, Yun, di banyak pergaulan. Aku menilai mereka orangorang
hebat. Tak terdengar mereka mengeluh menyalahkan orang lain dan merasa dia
paling benar. Tak terdengar mereka membenci karena itu. Mereka sudah sampai pada
tahap bukan hanya menjalani hidup tapi mengenal hidup dengan rendah hati. Mengapa
rendah hati? Karena mereka tidak mengutuki masalah namun menarik hikmah dari
setiap masalah yang datang. Hidup mereka adalah mereka sendiri yang jalani dan itu
tidak ada kaitannya dengan orang lain. Itu antara mereka dengan Tuhan.
Hidup tidak seperti menarik garis lurus dan memisahkan jalur. Hidup seperti melukis
diatas kanvas. Tidak ada tarikan kuas yang salah. Selalu ketika kamu berpikir menarik
jari ke kiri menggerakkan kuas, itulah yang terjadi dan itulah yang akan menjadi warna
lukisan. Soal sketsa sehebat apapun kamu buat diawal lukisan, ketika mulai
menggerakan kuas, yang terjadi ya terjadilah. Hanya ada dua pilihan hentikan melukis
atau terus melanjutkan lukisan dengan improvisasi agar yang sudah terlanjur di tores
oleh kuas tetap dapat indah dengan tarikan kuas berikutnya.
Kehidupan juga begitu. Kalau kesalahan terjadi sehingga menimbulkan kegagalan,
perceraian , perpisahan, kerugian , jangan berhenti. Terus lanjutkan hidup. Langkah
berikutnya akan ada moment untuk lukisan hidup kamu menjadi indah, walau tak
seperti sketsa awal. Karenanya jangan dibuat ruwet hidup ini dan kerjakan saja dengan
cara berpikir sederhana. Bahkan beragama pun jangan berlebihan. Sesuatu yang
berlebihan akan melemahkanmu. Tuhan itu maha bijaksana dan maha pengatur. Yang
ruwet itu karena kamu percaya kepada Tuhan namun sikap hidup kamu meragukan kasih
sayang Tuhan dan lupa bahwa Tuhan itu maha bijaksana dan pengatur. Pahamkan
sayang "
" Paham Uda"
" Paham apa ?
" Ya paham. Kalau Yuni harus menerima kenyataan tidak mungkin jadi istri Uda. Engga
usah Uda lagi di jadikan target dan impian. Ya kan? Kata Yuni seakan paham arah
pembicaraan Burhan kepadanya.
" Yun, aku mencintai mu tapi soal menikah itu tidak mudah. Kalau aku menurut kan
ego sebagai pria , tidak sulit dan tidak dilarang untuk punya istri lebih dari satu. Tapi
nilai persahabatan kita yang telah terbangun dan aku sebagai pria beristri , menikahi
kamu bukanlah pilihan yang bijak. Yakinlah persahabatan kita jauh lebih baik untuk
kamu."
Yuni terdiam. Nampaknya dia berusaha mengerti tentang persahabatan sehingga begitu
dibela oleh Burhan. Ketika dia tanya lebih jauh , Burhan menjawab " Sahabat adalah
kebutuhan jiwa, yang harus di penuhi. Dialah ladang hati, yang kamu taburi dengan
kasih dan kamu tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan
penyejukmu. Kerana kamu menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa
inginkan kedamaian. Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kamu tiada takut
membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kamu menyembunyikan kata
“Ya”. Dan bilamana dia diam, hatimu mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata,
dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan di
gabungkan , dengan kegembiraan tiada terkirakan. Di kala berpisah dengan sahabat,
kamu tidak berduka ; Kerana yang paling penting bagimu adalah dia, mungkin
keberadaan kamu semakin utuh ketika tidak sedang bersamanya, bagai sebuah gunung
bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Tidak ada maksud lain dari sebuah persahabatan kecuali saling memperkaya roh
kejiwaan. Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah
cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada di harapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim
surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu. Sahabat itu Yun, bukan hanya
sekedar teman untuk membunuh waktu. Bukan teman seperti itu yang harus kamu
dapatkan. Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Karena dialah yang bisa
mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu. Dan dalam manisnya
persahabatan, biarkanlah ada tawa ria menyatukan kegembiraan. Kerana dalam titisan
kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan. Pahamkan
sayang …”
Yuni bisa memahami kata kata Burhan itu. Namun dengan kesadaran dia katakan “ Yuni
disini dan Uda disana. Kita akan selalu berjarak dalam diam. Walau gelora hati ku
menembus laut dan benua , namun semua terbang terbawa sekawanan burung yang
pergi entah kemana. Kini Yuni tak ingin lagi bertanya lebih jauh tentang Uda. Biarkan
Yuni cukup membayangkan kegigihan Uda menutupi kelemahanku. Melindungiku dari
kebodohanku. Menjagaku dalam kealfaan. Menggiring ku kearah cahaya dimana aku
harus melangkah ditengah kegegelapan. Setelah itu Uda pergi. Mengapa ? Maaf, ini
bukan hendak bertanya kepada Uda. Ini hanya sekedar menutupi luka hatiku yang gagal
dan salah menilai siapa Uda. Sebegitu indahkah makna persahabatan yang terpatri
dalam diri Uda.Seperti apakah kira kira makna itu. Katakanlah kepadaku. Katakan....
Uda diam ,menjauh dan berjarak, Setelah itu semua tinggal misteri bagiku, dalam
hening.
Uda, setiap malam sepi ,dari balik jendela kamar kulihat bulan bulat putih. Tanpa
bingkai mega. Di kitari oleh taburan bintang yang berkelip bagaikan kunang kunang.
Semakin kupandang semakin jauh kenangan terbawa. Masihkah Uda seperti dulu
sebelum aku menikahi pria yang akhir nya mengecewakanku. ? mungkin tidak. Atau
setidaknya Uda mengingat dalam kesadaran seperti kesadaran burung yang harus
terbang kebenua lain berlindung dibalik musim salju. Tak ada yang istimewa, Bila harus
pergi maka pergilah. Setelah itu yang ada hanyalah kepasrahan untuk sebuah pilihan
yang tak bisa memilih. Tegarkah Uda ? Ah terlalu bodoh aku bertanya seperti itu. Tapi
bulan itu dimalam malam sepi membawaku kepada Uda. Mengenang tentang kesadaran
bahwa “perjuangan menaklukan diri tak akan pernah usai sampai ajal menjemput”
Ngeri aku mengingat itu. Uda petarung sendirian melewati jembatan yang rapuh oleh
kerakusan bisnis global namun semangat Uda membuat dinding tebal terkoyak dan
bergetar. Kadang kalah , kadang menang, kadang melayang tinggi, kadang tersungkur.
Tapi aku yakin kamu akan baik baik saja.
Hari ini aku harus berkata satu kepada diriku bahwa Uda bukanlah milik siapa siapa,
Uda adalah milik sang pencipta. Ketika Uda mewakafkan diri Uda kepadaNYA maka Dia
yang akan menjaga Uda. Lebih dari apapun didunia ini. Aku tak ingin lagi berusaha
menjangkau Uda. Setidaknya doaku akan lebih khusu untuk Uda yang sendiri ditengah
orang ramai. Betapa tidak ? Inilah yang tak pernah bisa kulupakan tentang Uda. Kali
pertama pertemuan kita. Tidak ada yang istimewa. Aku dengan aku dan Uda dengan
diri Uda. Namun dalam perjalanan waktu , dalam kebersamaan kita, Uda tampil sebagai
sahabat. Aku semakin merasa bodoh dihadapan Uda. Namun Uda tak pernah nampak
superior dihadapanku. Rasa hormat untuk saling menjaga bagaikan hembusan angin
dimusim semi. Raut wajah Uda begitu bersemangat memancarkan magnit untuk
kumengerti bahwa Uda peduli dengan obsesiku, dengan impianku. Ya, kan.
Malam seperti seperti malam sebelumnya, tak beda dengan diriku yang melangkah
terseok seok dijalan berliku dan berduri. Aku tak pernah henti berasa akan ada
perubahan untuk nanti dan nanti. Namun aku semakin terjepit dalam asa yang tak
sudah. Kini , aku lelah dan sangat lelah. Benar kata Uda bahwa mungkin segala hal aku
bisa hadapi tapi soal waktu aku tak bisa berbuat apa apa. Ditengah kegalauanku itulah
Uda datang menemuiku. Selalu begitu. Kita saling tersenyum melangkah kekorsi
dipinggir dermaga tanpa saling bertatap. Kita asyik dengan lamunan kita. Rasanya kita
ingin menumpakah semua rindu itu dalam imajinasi kita yang bersetatapan.
“ Besok aku harus kembali ke Holding di Hong kong. “ kata Burhan.
Kemudian membalikan tubuhnya menghadap kepada Yuni.
“ Secepat itukah ? Tanya Yuni
“ Ya. Besok jam 2 sore pesawatku.“
“ Uda tahu.. Berulang kali Yuni mencoba melupakan Uda. Tapi tak pernah aku bisa
berkompromi dengan diriku sendiri. Uda terlalu berharga untuk dilupakan. Karena tak
ada satupun alasan bagiku untuk melupakan Uda Sungguh. Kini here I am.! . “ Kata Yuni
“ Ya aku tahu itu.. “
“ Uda! Setiap bangun pagi yang pertama aku pikirkan adalah Uda. Aku tidak tahu
mengapa selalu begitu. Wajah Uda selalu terbayang. Maafkan aku ,Uda. Aku terlalu naïf
bila harus selalu berbohong atas perasaanku. “ Yuni berhenti bicara namun pancaran
wajahnya menusuk jantung Burhan Mungkin Yuni berharap Burhan menimpalinya.
Namun Burhan hanya diam.. Burhan mengalihkan pandangannya ketempat lain.
Kemudian melangkah agak menjauh dari tempat Yuni duduk.
“ Uda, tahu ..! seru Yuni hingga membuat Burhan terkejut. “ Yuni tahu adalah bukan
sifat Uda untuk pergi ketika kesulitan datang. Yuni dan Yuli banyak bergantung pada
Uda. Sementara , Uda selalu senang membantu dan tidak pernah terganggu bila kadang
kami mulai mengacuhkan Uda.. Ketika kami kawatir dengan hidup ini , Uda hadir dengan
senyum hangat untuk meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Uda terlalu baik
,…terlalu baik. “ Yuni nampak menahan tangis namun airmata nampak mengambang
dipelupuk matanya.
“ Sekarang…inilah Yuni. “ kata Yuni. Sambil merentangkan tangannya. Burhan
menyambutnya dengan memeluk Yuni. “ Aku senang bila pada akirnya kita dapat saling
mengerti, Yun.”
“ Terimakasih Uda…” Dengan air mata berlinang
“ Ya….Yun. Gimana kalau ikut aku ke Hong Kong. Mungkin bisa menenangkan pikiran
kamu. Sayang apartement kamu di Hong Kong di anggurin aja. Kamu bisa lihat
keindahan senja di Harbour View Horizon, Ya kan” kata Burhan seraya melepaskan
pelukannya dengan senyum tulus.
Burhan melihat Yuni menangis dan berdiri dari tampat duduk, melangkah ke arah
kamar. Burhan hanya terdiam tanpa harus mengikuti langkah Yuni ke dalam kamar, dan
Burhan memilih pergi ke arah pintu untuk pulang.
***
Yun, satu hal yang dapat kuungkapkan kepadamu bahwa Allah memberiku begitu banyak
maka ini adalah berkah dan sekaligus beban. Kecintaanku kepada sahabat dan siapa
saja hanyalah untuk lebih pandai bersyukur. Semuanya kulakukan hanya karena cinta
dan cinta. Bukan masalah siapa memanfaatkan siapa tapi lebih kepada kepedulian
ketika kita mampu berbuat lebih kepada orang yang terdekat pada kita. Semoga
perjalanan waktu dapat membuat kamu menyadari bahwa kecintaan persahabatan
begitu agung ketika kita dapat bersikap dengan jelas tanpa pamrih. Tapi kata kata
Burhan terbang terbawa angin sore. Yuni di kamar dan Burhan berlalu,
menjauh...Namun akan selalu ada untuk Yuni sebagai sahabat.
Ujian keimanan
Selama ini aku agak tertutup bercerita tentang aku dan dia. Mungkin Yun, menjadi
tanda tanya yang tak sudah bagimu. Mengapa aku begitu tegar besikap. Seakan bagaikan
batu karang di tengah samudera yang tak pernah tergoyah walau di hantam ombak tiada
henti. Baiklah aku ceritakan sedikit. Ketika menikah, aku hanyalah pria kampung yang
miskin. Datang ke Jakarta tanpa skill, hanya berbekal keberanian atas dasar keimanan.
Berawal dari sebuah rumah mungil di pinggiran barat Jakarta yang kami sewa bulanan.
Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Dia berkubang dalam banyak pekerjaan
rumah. Aku , seperti biasa, sibuk bersiap diri pergi ke kantor. Bukan orang kantoran
tapi orang yang melapor ke kantor bahwa dia hadir untuk menjajakan barang dagangan.
Tak ada gaji kecuali komisi.
Dasternya tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa
menyembunyikan tahi lalat di tempat tertutup. Hanya aku tentunya yang tahu persis
letaknya. Rambut lebatnya dibiarkan memanjang sebatas bahu. Hidungnya yang tak
mancung kerap mengundang godaan ku. " Tak apa-apa hidungmu tak mancung. Lebih
baik berhidung seperti itu tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,”
kata ku meyakinkan bahwa dia adalah pilihanku dan itulah yang terbaik bagiku.
”Lebih baik daripada apa…?” selanya yang kadang merajuk.
”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di
bawahnya.”
Aku tergelak. Dia hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti inilah
yang sangat kusukai. Karena diapun punya cara menertawakan kekuranganku. Kulit
hitam, muka kasar dan pendengkur. Karena itu, kami gemar saling menggoda terutama
pada setiap pagi yang jadi milik kami. Kadang-kadang aku berpikir bahwa kami memang
ditakdirkan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran
seorang penyerang dan kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan
kepasrahan korban buruan.
Yun, dia adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan
cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang
tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari.
Sepanjang minggu. Sepanjang tahun. Anak anak terurus dengan baik. Semua sehat dan
pintar pintar. Aku membayangkan. Seperti itulah ibuku dulu selagi muda bekerja di
rumah masa kecilku di Kampung. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan
tertata. Mengurus suami, ayahku, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik 7 orang
anak yang sungguh merepotkan. Tanpa pernah mengeluh. Satu kali pun.
Yun, lima tahun pertama pernikahan kami. dia tampil sebagai tiang rumah tanggaku.
Diapun tak banyak menuntut dari seorang pengusaha pemula. Rumah tangga kami tanpa
servant. Menyangkut materi, permintaannya selalu sederhana. Pakaian yang tak perlu
bermerek , rumah mungil di pinggir kota, sebisa mungkin menabung berapapun untuk
biaya sekolah anak. Tak pernah dia menuntut dan bermimpi rumah mewah, dan segala
standar kehidupan orang kaya. Aku ingat Yun, dari sisa uang belanja , dia tabung dan
di belikan emas . Emas itu di jualnya. Ia dengan bangga berkata kepadaku " pakailah
uang ini untuk ibumu pergi ke tanah suci." Padahal ketika itu hidup kami belum mapan.
Namun dia tak ragu mengorbankan tabungan sekolah anak untuk kepergian ibuku ke
Tanah Suci.
" Mengapa ? Bukankah kamu sangat menginginkan pergi haji. Mengapa kamu lebih
utamakan ibuku" Kataku. Kamu tahu Yun, apa katanya " cinta papa yang paling tulus
adalah kepada orang tua. Aku mengutamakan ibu karena aku berharap Tuhan
mengkokohkan cinta kita. Bukankah ridho Ibu, juga adalah ridho Tuhan. " rasanya aku
ingin menangis mendengar kata katanya Yun. Begitu rendah hatinya dia mengungkapkan
cintanya kepadaku. Bahwa sebesar apapun cintanya kepada ku tetap tidak akan bisa
mengalahkan cinta ibuku kepadaku. Dia tidak cemburu karena itu. Tidak juga
menggunakan senjata merayu berwajah penuh make up tapi dengan memuliakan ibuku.
Dia percaya bahwa pada ibuku ada Tuhan dan doa ibu selalu di kabulkan Tuhan. Ya kan.
Hanya satu permintaannya yang kadang di sampaikannya dengan malu malu" kalau
Tuhan kasih rezeki kita berlebih , ajaklah aku ke Baitullah. Itu keinginanku yang tak
pernah kusebut ketika masih di bangku Madrasah Sanawiyah. Aku ingin di peluk suamiku
ketika usai mencium ajar aswad. " Alhamdulilah, 15 tahun setelah itu, aku bisa
mengabulkan permintaannya. Aku tidak pernah melhat wajahnya begitu bahagia kecuali
ketika usai mencium azwar aswad, sambil memelukku " Puja Puji kepadaMu ya Allah,
engkau kabulkan doaku untuk bisa datang ke RumahMu bersama suamiku. Papa,
terimakasih sudah memenuhi impianku di masa remaja"
Dengan berjalannya waktu , ekonomi ku semakin membaik. Untuk banyak alasan, yang
tentu saja kusetujui, dia memang tak pernah memamerkan berlebihan barang-barang
berharga pemberianku. Kendaraan yang di pilihnya bukan yang bermerek hebat tapi
yang kuat dan efisien untuk antar jemput anak sekolah. Ia menyimpan dengan rapi
setiap pemberianku , serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya lelaki yang pernah
menjamah tubuhnya itu.
Waktu berlalu, aktifitas ku sebagai pengusaha semakin sulit dia pahami. Aku menjelma
menjadi elang yang bisa terbang melintasi pulau dan benua. Namun aku selalu pulang.
Kebersamaan dengannya adalah recharge power ku untuk tegar menghadapi ketidak
pastian hidup. Dia maklum akan hidupku seperti dia bisa berdamai menjadi istri
pengusaha, yang bisa kapan saja bangkrut, yang bisa berteman dengan siapapun, yang
bisa terjerumus dalam pergaulan. Karenanya doanya tiada henti siang malam ketika aku
ada di luar rumah. Ketika aku tanya , apa doanya, dia berharap agar aku selamat di
luar, bertemu dengan orang orang baik , menjaga persahabatan dengan tulus, sabar
dari segala kesulitan, dan tidak membuat aku kikir untuk berbagi.
Oh ya Yun, untuk kamu ketahui bahwa setidaknya dua kali dalam usia perkawinan kami
, aku jatuh bangkrut. Kami tidak punya uang sama sekali tapi kami tidak pernah
mengemis dan mungkin tidak banyak orang tahu kami sudah jatuh miskin. Karena dia
memang pandai mengambil peran untuk menjadi penyanggaku ketika aku oleng. Dia
bisa trampil dan gesit mendatangkan uang untuk sekedar dapur kami mengepul. Dengan
sikapnya mendorong aku produktif dan doyan kerja keras, tidak ragu mengambil resiko
atas keyakinanku. Ingat ketika paska krismon , dalam keadaan bangkrut aku hijrah ke
China, di Bandara ketika mengatarku, dia berkata " Jangan pikirkan Rumah. Jangan
nampak kan Papa lemah di hadapan anak anak. Papa akan selalu jadi idola mereka.
Apapun itu. Anak anak akan baik saja denganku. Jangan ragu karena Papa yang terbaik
Tuhan beri kepadaku." Kata katanya membuatku menjadi petarung tanpa lelah.
Kalaulah boleh meminta seperti yang aku mau kepada Tuhan, aku lebih memilih di beri
waktu 36 jam sehari daripada harta melimpah. Sehingga aku bisa bangkit lagi.
Dengan kebangkrutan itu , aku semakin menyadari bahwa Tuhan tidak hanya mengirim
wanita untuk menjadi istriku tapi juga seorang sahabat. Bahkan Yun, aku menemukan
kesejatiannya sebagai wanita ketika aku jatuh bangkrut. Sabarnya bisa membuat aku
nyaman menghadapi kemiskinan dan tegar untuk bangkit kembali. Walau tanpa kata
kata seperti layaknya sang motivator , sikap hidupnya telah menjadi buku besar untuk
aku belajar bijak. Jadi kalau kamu mengenal seorang Burhan hari ini , maka itulah
cermin dari kekuatan istrinya. Dialah mentor ku , tentu dengan caranya yang kadang
membuat aku stress. Ia bisa dengan keras menyalahkan aku untuk aku sadar dan
berubah namun diapun takut untuk memujiku karena kawatir aku lupa bersyukur. Dia
melarang aku untuk menulis buku dan di terbitkan. Selalu dia lakukan dengan niat baik.
Aku tahu itu. Bukan karena dia melarang aku menyalurkan hobiku tapi dia tidak ingin
aku di puji orang , yang bisa melemahkan aku karena sifat sombong. Aku pernah jatuh
tapi bukan karena kesombongan dan itu artinya secara spritual aku tidak pernah
bangkrut. Maka akan selalu ada cara untuk bangkit.
Aku menghabiskan sebagian besar pikiranku ke bisnis , rapat bisnis, di Cafe menjamu
clients, business trip melintasi banyak negara, Hidupku seperti lalu lintas di antara
business yang melelahkan dan di rumah yang hanya hitungan jam. Kadang aku sering
mengeluh tentang bisnisku tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluh mengurus
rumah dan anak anak. Bagi sebagian orang uang memang kadang-kadang jadi persoalan.
Aku sendiri tak pernah mau pusing soal keuangan. Aku tak terlalu peduli apakah uang
kami sedang melimpah atau kami sedang bangkrut. Dari dulu aku hidup mengambil
resiko. Mungkin itu karena di rumah aku tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti
soal uang.
***
Kini , di usia diatas setengah abad, aku dan dia semakin saling mengkawatirkan. Saling
merindukan dan menjaga. Dia tidak ingin aku terus di sibukan dengan bisnis. Dia tahu
aku lelah dan tahu aku tidak begitu menyukai kehidupan ku sebagai pengusaha. Dia
hanya tahu aku hanya bertahan hidup dengan apa yang aku bisa, sebagai orang yang tak
pernah berhasil masuk PTN, dan gagal menjadi profesional yang bergengsi seperti cita
cintaku waktu kecil.
Walau hidup kami tetap bersahaja, kami merasa hidup kami lebih dari cukup. Memiliki
sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih,
buat dia, ternyata rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah. Aku
bisa mengatur sendiri hidupku, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal rutin
lain, pergi sholat subuh ke masjid sambil bergandengan tangan dengannya adalah
kemewahan lain yang kumiliki. Aku merasa hidupku sudah selesai dengan dua
kemewahan yang sudah digenggamanku, apalagi kedua putra putri kami sudah menikah
dan mandiri.
Yun, pernah aku bilang kepadamu bahwa tidak ada perkawinan yang sempurna. Tidak
ada manusia yang sempurna. Aku tahu kamu melihatku sebagai pria sejati menurut
ukuranmu. Pria sejati tidak akan kamu temukan di etalage, Yun. tidak ada. Tidak juga
pada diriku. Aku adalah repliksi istriku yang dengan kedua tangannya bersusah payah
menjadikan pria kampung yang pemalu untuk tampil di panggung dunia menjadi elang.
Temukanlah pria yang karenanya membuat kamu nyaman untuk melabuhkan cintamu,
kemudian berjuanglah untuk menjadikan ia pria sejati. Pria sejati tidak tersedia di luar
sana tapi kamulah yang harus menjadikannya pria sejati. Pria itu akan menjadi cobaan
mu sepanjang usia, untuk kamu memakluminya. Mencintainya bukanlah dengan kata
kata tapi bagaimana sikapmu untuk mempercayainya dan memahaminya sepanjang
waktu. Itulah yang di lakukan istriku terhadapku.
Mungkin aku pria yang beruntung karena aku bisa berkembang tidak dengan kemanjaan
dan pujian wanita , tidak dengan rongrongan wanita yang gila harta, tidak dengan
kecantikan bidadari. Aku mendapatkan seorang istri yang sebetulnya ia adalah
sahabatku, mitra ku , kelengkapan jiwaku. Sepanjang hidupku banyak keputusan yang
aku buat dan kalau ada keputusan terbaik adalah ketika aku melamarnya menjadi
istriku. Mengapa? kami mengawali dengan ketidak sempurnaan dan kami lewati hidup
dengan sadar bahwa kami tidak akan pernah sempurna. Hubungan kami adalah cobaan
untuk menguji keimanan kami kepada Tuhan. Bukankah menikah adalah ibadah untuk
menguji ke imanan kita. Belum di katakan beriman sebelum di uji, ya kan.
***
Seperti biasa aku masih berkutat dengan data di komputer ku. Memonitor
perkembangan portofolio bisnis secara online . Kadang aku tersenyum , kadang
merengut tapi aku nikmati saja pagi itu sambil melepas ketegangan lewat facebook.
”Hayuu sarapan. Aku sudah masak kesukaan papa “ Tiba-tiba suaranya menyereruput
punggung telingaku. Dua bilah tangan putih melingkari dipinggang ku. Dia merapatkan
badannya di punggungku. Wangi-pagi-hari tubuhnya yang khas membuat pagiku begitu
sempurna, selalu. Kebersamaan dan kebahagian kecil seperti inilah yang tak ingin aku
korbankan hanya karena ego pribadiku. Kini kusadari , dia telah menua , aku juga ,
memang sudah banyak yang kurang dari dia karena usia namun ia tak mungkin
kuduakan. Tidak mungkin, Yun, dan kamu tetap sahabatku. Semoga kamu maklum.
Komentar
Posting Komentar