PREDATOR


“ Kelihatannya upaya akuisisi Block City di Beijing akan mengalami
kegagalan dan bukan itu saja kalau benar gagal ini akan jadi scandal. “
Kata lawyer saya dengan suara lambat di musim dingin tahun 2008. Minggu
lalu saya dapat confirmasi dari kantor di Beijing bahwa Fund Confirmation
yang di kirim Fund Manager melalui first class bank di Eropa di suspect oleh
otoritas China. Dengan demikian financial closing jadi terhenti prosesnya.
Saya membayangkan lebih USD 10 miliar uang yang dilibatkan dalam
akuisisi ini terancam di freeze dan selanjutnya akan jadi mega scandal.
“ Apakah ada solusi lain “ Tanya saya.
“ Semua jalur tertutup untuk sebuah solusi.”
“ Mengapa ?
“ Karena penentu soal ini hanya satu orang.”
“ Siapa ?
“ Pejabat bidang pengawasan lalu lintas devisa China”
“ Apa tidak ada cara meyakinkan dia bahwa apa yang kita lakukan sudah
mengikuti aturan hukum yang ada. “
“ Ini China Bung. Apapun menurut kita benar sesuai aturan tapi diskresi
pejabat adalah hukum itu sendiri, bahkan lebih tinggi. Ini negara
kekuasaan. Ingat itu. Tidak ada cara yang bisa meyakinkannya.
“ Mengapa ?
“ Dia seorang wanita yang tergabung dalam elite penentu kebijakan
moneter China. Tak banyak popularitas dan jarang sekali muncul di TV.
Tapi setiap banker kalau ditelp nya pasti setelah itu demam.”
“ Mungkin kita bisa dekati keluarganya atau suaminya.”
“ Dia wanita yang tidak pernah menikah seumur hidupnya. Keluarganya
juga tidak jelas. Latar belakang wanita itu gelap. Seakan disembunyikan
rapat.”
“ OK lah…Berapa lama waktu yang kita punya untuk menyelesaikan ini?
“ 10 hari lagi kalau kita tidak bisa melakukan financial closing dengan
seller, mereka akan cairkan performance bond sebesar 5%. Dan mereka
juga akan laporkan ke Polisi. Ini akan jadi scandal.”
***
Jam 4 sore pesawat saya mendarat di Bandara Beijing. Ketika itu suhu 7%
derajat celsius. Dengan kendaraan Audi yang disiapkan kantor menjemput
saya di Bandara, saya meluncur ke Marriot Hotel West Beijing. Setelah
check in, tak lebih 10 menit telp selular saya bergetar.
“ Saya sudah di loby. “ Terdengar suara seorang wanita.
“ Apakah anda tidak keberatan datang ke kamar saya. “ Kata saya dengan
menyebutkan nomor kamar.
“ OK. Saya segera ke kamar anda.”
Dihadapan saya nampak wanita usia sekitar 40 tahun. Pakaian blesser
warna biru dengan kemeja putih berkerah tinggi seakan menutupi lehernya
yang jenjang.
“ Saya sudah baca profile perusahaan anda. Saya tertarik untuk
menggunakan jasa perusahaan anda.” Kata saya langsung ke pokok
persoalan.
“ Terimakasih. Jadi informasi tentang siapa yang anda butuhkan.”
Saya memperlihat koran yang memuat berita tentang seseorang. Tidak ada
photo pada berita itu. “ Nama ini yang anda maksud ? Katanya menunjuk
head line koran.
“ Ya. “
Wanita itu menatap saya dengan wajah tanda tanya.” Mengapa ?
“ Itu tidak penting. “
“ Oklah. Tapi fee kami sangat mahal. “ Kata wanita itu.
“ Berapa ?
“ USD 50,000 “
“ OK. Kapan saya bisa dapatkan informasi tentang orang itu. Saya butuh
semua informasi seperti kebiasaannya, minuman kegemarannya, makanan
kesukaannya, tempat dia biasa bersantai, dan lain sebagainya.”
“ Minggu depan.”
“ Kalau anda bisa dapatkan informasi itu besok pagi, saya akan bayar
double” Wanita itu terdiam tapi matanya tidak lepas dari mata saya.
” Baiklah. Besok pagi anda sudah dapatkan informasinya. “
“ Terimakasih.” Wanita itu berlalu.
***
“ Apakah saya bisa dapatkan akses ke Club” Kata saya kepada petugas
Business center Hotel sambil menyebutkan nama club yang saya maksud.
“ Tentu tapi anda harus jadi members terlebih dahulu. Syaratnya deposit
USD 300,000.”
“ Berapa lama proses pendaftarannya ?
“ Paling cepat seminggu”
“ Apa bisa hari ini selesai?
“ Saya akan usahakan. Kebetulan manager CLub nya teman pria saya. Tapi
sebaiknya anda tinggal di hotel dimana club itu berada. Itu akan
memudahkan saya untuk membujuknya. Apalagi kalau anda pesan kamar
panthouse “
“ OK. Bantu saya pesan kamar dan sekaligus pendaftaran members club
itu.” Kata saya. Dengan tersenyum wanita itu mengangguk.
“ Baiknya kita kesana “ katanya. Kami berangkat dengan taksi ke hotel
dimana club itu berada. Posisinya disebelah Hyatt Beijing. Tidak lebih satu
jam booking kamar dan pendaftaran members club selesai. Saya
menyerahkan cash card untuk membayar deposit members club dan
booking kamar panthouse. Wanita itu berjanji akan mengatur check out
kamar saya di Marriot , juga mengantar tas ke kamar saya. Ketika berpisah
saya menyalaminya sambil menyerahkan amplop sebagai tip dia membantu
saya. Dengan wajah merona dia melirik uang didalam amplop “ Anda terlau
baik. Terimakasih “ Katanya.
“Apakah suatu saat saya bisa undang anda makan malam?
“ Tentu, tentu , saya senang sekali. Ini telp saya “ kata wanita itu seraya
menyerahkan kartu namanya.
***
Hari senin.
Jam 7 malam saya sudah berada di Club. Benarlah bahwa club ini hanya di
peruntukan untuk kalangan terbatas. Suasana club yang berkelas diiringi
oleh dentingan suara piano dengan lembut, memang membuat orang malu
bicara keras keras. Orang lebih suka bicara lambat terkesan berbisik. Saya
mengambil posisi di table yang membelakangi dinding. Sehingga saya bebas
meliat kearah semua pojok ruangan dan orang yang masuk ke club. Jam 8
sesuai informasi yang saya dapat dari agent, wanita yang menjadi target
saya datang seorang diri. Dia memilih table tidak jauh dari pemain piano..
Tak berapa lama pelayan club menghampirinya. Selang beberapa menit
pelayan club membawa botol minuman dan menuangkannya ke gelas
wanita itu. Semua saya perhatikan. Saya tahu percis minuman
kegemaranya tapi juga tahu apa yang paling dia sukai.
Jam 9 saya memanggil pelayar club. “ Apakah saya bisa pesan yellow wine
“ Kata saya sambil menyebut merek yellow wine.
“ Bisa Tuan. “
Tak lebih 5 menit pelayan itu sudah kembali ke table saya. “ silahkan tanda
tangani ini” Katanya menyerahkan secarik kertas ukuran kecil. Itu bill
untuk yellow wine dengan harga 18.000 Yuan atau Rp. 32 juta rupiah.
Setelah saya tanda tangani saya selipkan uang 100 yuan ke pelayan itu
“ Tolong antar wine ini kepada wanita itu “ kata saya sambil menunjuk
kearah wanita yang sedang duduk ditable seorang diri. Pelayan itu
tersenyum penuh arti dan melangkah kearah table yang saya maksud. Dari
kejauhan saya lihat wanita yang jadi target saya hanya mengangguk dan
menatap sekilas kearah wine yang ditelakan ditablenya. Jam 11 malam
wanita itu berdiri dan melangkah kearah pintu keluar. Tanpa melirik kearah
saya. Padahal saya barus saja menghadiahinya wine seharga 18.000 yuan.
***
Hari selasa.
Seperti biasa jam 7 malam di club, wanita itu sudah di table nya duduk
sesorang diri. Tapi kali ini dia nampak murung. Kadang nampak tegang.
Entah apa yang sedang dipikirkannya. Saya memanggil pelayang club. Saya
memesan Yellow wine berkatagori Royal. Setelah saya sebut nama Yellow
wine itu, pelayan itu akan berkerut kening. Dia seakan tidak percaya yang
saya pesan “ Baik , saya segera kembali” Katanya.
Selang beberapa menit pelayan itu datang bersama managernya “ Silahkan
nikmati wine nya “ kata manager itu sambil menyerahkan bill. Tertera
harganya 200.000 Yuan atau Rp. 350 juta. Kembali saya minta pelayan itu
mengantar ke table wanita itu. Dari kejauhan saya melihat wanita itu
hanya melirik sekilas kearah saya dan mengangguk kepada pelayan itu.
Tandanya dia suka dengan hadiah saya. Jam 11 malam, wanita itu berdiri
dan melangkah keluar. Tidak menyapa saya dan tidak juga melirik saya.
Pergi tanpa kesan.
***
Hari Rabu.
Saya agak terlambat datang ke club karena makan malam bersama relasi
di Restoran yang ada di puncak hotel. Jam 8.30 saya masuk club. Saya
perhatikan dia menoleh kearah saya tapi segera mengalihkan pandangan
ketempat lain. Saya tersenyum. Dalam hati saya berkata “ selalu wanita
merasa kehilangan bila ada pria yang memperhatikannya tidak ada
dihadapannya” .Walau informasi yang saya peroleh wanita ini sangat sulit
didekati tapi semua wanita suka di perhatikan. Saya kembali memesan
wine.
“ Apakah wine ini juga untuk wanita itu ? kata pelayan melirik kearah table
wanita itu.
“ Ya.”
Pelayan itu segera berlalu dan kembali dengan membawa pesanan saya.
Dia menyerahkan bill sebesar 300.000 Yuan atau Rp. 550 juta untuk saya
tanda tangani. Ketika pelayan menyerahkan wine itu, wanita itu melirik
kearah saya. Dan..berdiri melangkah kearah saya sambil menenteng botol
minuman
“ Mengapa anda terlalu baik kepada saya. Selalu memberi hadiah minuman
mahal “ Katanya dengan wajah bingung.
“ Karena…”
“ Apa ?
“ Anda cantik. Maaf..” Kata saya seketika. Berharap ini bukan jawaban
konyol yang bisa merusak rencana saya. Wanita itu tersenyum dengan
wajah merona. Dia menoleh kesamping seakan berusaha berpikir apa yang
harus dia katakan lagi kepada saya.
“ Ok lah. Saya punya usul ? Katanya.
“ Silahkan “
“ Bagaimana kalau minuman ini kita habiskan bersama. “
“ Ok di meja anda atau ..”
“ Di meja anda. Saya gabung dengan anda” katanya. Dan sekarang dia
tersenyum indah.
“ Apakah cara ini kebiasaan anda untuk menaklukan wanita.” Katanya.
“ Apakah saya nampak sebagai penakluk wanita ? Dia terdiam sebentar
sambil menatap saya
“ Tidak. Ada bukan tipe pria penakluk wanita. Dan lagi anda tidak pernah
menyapa saya walau telah memberikan hadiah banyak. Wajah dan sikap
anda seperti biasa saja untuk seorang pria yang telah berkorban banyak
uang “. katanya dengan bahasa inggeris sempurna. Saya hanya tersenyum
tanpa ada kesan tersanjung dengan kata katanya.
“ Tentu anda sangat kaya “ Katanya lagi.
“ Tidak, Saya tidak sekaya yang anda bayangkan. Tapi memang uang engga
begitu penting bagi saya, apalagi bisa memberi kepada orang yang tepat,
seperti anda.”
“ Mengapa? apa yang luar biasa dari saya “
“ Saya tidak bisa jelaskan. Tapi saya terkesan ketika kali pertama melihat
anda masuk club ini.”
“ Itu saja?
“ Ya”
“ Bagaimana kalau saya tidak peduli “
“ itu juga tida ada masalah. Karena memberi bagi seorang pria adalah
kehormatan. Dengan anda menerima hadiah saya, anda telah memberi rasa
hormat kepada saya. Itu sudah cukup.”
Wanita itu mengangguk ngangguk..” Dulu peperangan dan penaklukan satu
wilayah dengan wilayah lain biasanya hanya bentuk lain para pria ingin
mendapatkan rasa hormat dari wanita. “
“ Perang memang pekerjaan para pria”
“ Ya pria di lahirkan untuk menjadi petarung”
“ Tapi dulu revolusi kebudayaan di prakarsai oleh Madam Mao, bukan pria
kan. Jutaan pria mati terbunuh. “
“ Justru Mao membiarkan revolusi kebudayaan di motori istrinya karena
hanya itu yang bisa memanjakan istrinya. Untuk seorang wanita, Mao
menghadang resiko dari semua lawan politiknya, dan…”
“ Karena itu dia mendapatkan rasa hormat dari istrinya.” kata saya
melanjutkan ceritanya dan juga menyimpulkan.
“ Tepat sekali.” jawabnya dan tertawa. Sekarang dia tidak nampak wanita
besi. Seakan mencair oleh suasana keberduaan kami.
Saya menuangkan Wine ke gelasnya. Dia menyambut dengan kedua
tangannya. Jari lentik dan hiasan warna kuku yang konservative nampak
jelas, bahwa dia wanita yang bersikap sederhana dan praktis. “ For lady
from Beijing, wonderful lady “Kata saya mengajak Toas. “ For nice guy “
Jawabnya
Entah kenapa kami terdiam ketika terdengar lagu yang dilantunkan
You ask me if I love you And I choke on my reply I'd rather hurt you
honestly Than mislead you with a lie
And who am I to judge you In what you say or do I'm only just beginning To
see the real you.
Dia tersenyum melirik saya. Saya mengangguk seakan saya larut dengan
lagu itu.
And sometimes when we touch The honesty's too much And I have to close
my eyes and hide I want to hold you till I die Till we both break down and
cry I want to hold you till the fear in me subsides
Romance and all it's strategy Leaves me battling with my pride But
through all the insecurity Some tenderness survives
I'm just another writer Still trapped within my truth A hesitant prize
fighter Still trapped within my youth
And sometimes when we touch The honesty's too much And I have to
close my eyes and hide I want to hold you till I die Till we both break
down and cry I want to hold you till the fear in me subsides
At times I'd like to break you And drive you to your knees At times I'd like
to break through And hold you endlessly
At times I understand you And I know how hard you try I watched while
love commands you And I've watched love pass you by
At times I think we're drifters Still searching for a friend A brother or a
sister But then the passion flares again.
Kembali dia melirik saya dengan tersenyum.
And sometimes when we touch The honesty's too much And I have to close
my eyes and hide I want to hold ya till I die Till we both break down and
cry I want to hold you till the fear in me subsides Subsides.
Usai lagu itu dia memberikan aplaus kepada penyanyi dan pemain piano
itu. Dia melirik jam tangan “ Saya harus kembali. Senang bertemu dengan
anda. “ katanya tanpa ada kesan untuk berdiri. Saya tahu budaya CHina
tidak sopan wanita berdiri sebelum pria berdiri. Saya segera berdiri tanpa
ada kesan menahannya lebih lama lagi. Segera saya memegang ujung
sandaran korsinya sebagai isyarat agar dia bisa berdiri dengan aman dan
saya akan memberi ruang agar dia leluasa berdiri. Saya mengantarnya
sampai loby club. Tak berapa lama nampak kendaraan audi standar pejabat
china menghampir loby. Dia tersenyum kearah saya “ Terimakasih, Selamat
malam,” Katanya seraya masuk kedalam kendaraan.
Saya kembali ke kamar hotel.
“ Bro..” terdengar telp overseas dari fund manager di Lugano.
“ Kemarin si Arab itu berang sekali. Dia ingin tahu kepastian proses
financial closing. Mereka butuh kepastian atas uang mereka. Dan pihak
Korea juga tanya saya kepastian untuk proses akuisisi. Hari senin depan bila
tak ada kepastian, mereka akan mengundurkan diri proses akuisisi. Mereka
sudah punya buyer baru. Keliatannya keadaan semakin sulit bagi kamu.”
“ Ya saya paham. Tapi si Arab itu kan sudah pegang jaminan dari kita.
Mengapa dia sewot ?
“ Bro, mereka sudah tahu itu jaminan hanya credit enhancement,
illegible”
“ Bagaimana mereka bisa tahu”
‘ Entah lah..keadaan semakin rumit. Semua di luar kendali kita.”
“ Apa saran kamu ?
“ Pastikan senin depan bukan hari neraka untuk kita. “
“ Saya tak bisa berandai andai apa yang terburuk akan terjadi. Selagi ada
kesempatan saya akan terus berjuang. “
“ Saya paham. itulah salah satu sebab saya percaya mendukung kamu.”
“ OK. terimakasih. Tetaplah tenang sampai senin depan.”
***
Hari Kamis.
Saya datang ke Club itu kembali terlambat karena mengajak makan malam
banker dan asset manager untuk sekedar meyakinkan mereka saya ada di
Beijing sampai senin untuk menyelesaikan masalah. Saya tidak akan lari.
Ketika itu saya didampingi oleh salah satu staf saya dari kantor di Beijing.
Dia warga negara Australia. Jam 9 saya masuk ke Club. Tidak nampak
wanita itu duduk di table seperti biasanya. Pelayan club menghampiri saya
“ Tuan mari ikut saya “ katanya menuntun saya ke salah satu ruangan.
Nampak wanita itu sudah ada didalam ruangan. Hanya dia sendiri. Di setiap
sudut ruangan ada pelayan yang standby memberikan layanan apa yang
kami butuhkan.
“ Maaf , apakah anda tidak keberatan saya pilih ruangan ini.”
“ Tidak ada masalah.” Saya faham maksudnya. Karena sebagai pejabat
tinggi negara tentu dia ingin menghindari berdua berlama lama dengan pria
asing. Tapi saya tidak mau bicara lebih jauh alasanya mengapa harus sewa
ruangan khusus untuk berduaan.
“ Boleh tahu apa pekerjaan anda” katanya.
“ Pengusaha ‘
“ Pengusaha apa ? Katanya terkesan dingin seakan tidak berminat
mendapatkan informasi lebih jauh atau memang tidak peduli siapa saya
sebenarnya.
“ Apa yang harus saya katakan tentang saya. Tapi itu tidak penting. Itu
hanya bisnis.”
“ Yang penting apa ?
“ Persahabatan. Saya suka berteman dengan siapapun. Yang bisa mengenal
saya apa adanya saya. Dan juga saya ingin bersahabat apa adanya kepada
siappun, bukan karena jabatan atau kekayaannya tapi karena dia sahabat
saya“ Dia tersenyum.
“ ternyata tepat dugaan saya.”
“ Apa ? “
“ Anda orang yang tahu menikmati hidup dan bersika sederhana. Selama
beberapa hari ini saya perhatikan anda tidak pernah punya tamu.
Kenyamanan club benar benar anda nikmati secara privasi. Tidak seperti
orang lain. Selalu sibuk walau di club mereka sibuk bicara bisnis” Saya
hanya tersenyum tanpa terkesan tersanjung.
“ Oh ya darimana asal anda ?
“ Tebak lah “
“ Philipine “
“ Salah. Indonesia.”
“ Oh. Saya suka indonesia “
“ Apanya yang anda suka ?
“ Semua hal tentang indonesia saya suka. Budayanya, rakyatnya dan
kehidupannya. Benar benar sorga yang terlupakan.”
“ Woowww. “ Kata saya berseru. “ Mengapa anda bilang begitu ?
“ Saya pernah ke Bali dan saya menemukan semua hal tentang imaginasi
sorga.”
“ Oh Bali’
“ Ya Pula dewata. “
“ Nah kalau suatu saat anda ke Indonesia saya akan mengajak anda
ketempat tempat hebat seperti Bali itu. Ada banyak Indonesia. Negeri kami
luas. Luas sekali. Luasnya sama dengan jarak London SIberia..”
“ Woh negara besar. “
“ Ya sangat besar dan hebat.”
“ Dan melahirkan banyak pria hebat seperti Soekarno.” Saya hanya
tersenyum. Kadang wanita China juga orang China lebih mengenal Soekarno
atau hanya kenal Soekarno bila menyebut Indonesia. Kami terus bicara
tentang banyak hal tapi tidak pernah sekalipun saya bertanya siapa dia,
apa pekerjaannya.
“ Saya harus segera kembali. Oh ya besok saya ada keperluan lain. Mungkin
saya tidak ke club ini. Apa anda acara weekend ?
“ Tidak ada. Saya tetap di Hotel. Tapi senin saya sudah kembali ke Hong
Kong”
“ Apakah mau ikut saya weekend ke Jilin. Sabtu kita berangkat dengan
pesawat dan minggunya kita kembali denga kereta. “
“ Dengan senang hati kalau tidak merepotkan anda. “
“ OK. Hari sabtu pagi saya jemput di Hotel. Kita sama sama ke Bandara. “
katanya.
“ Baik terimakasih untuk malam yang menyenangkan.” sambungnya, Saya
segera menjaga ujung korsinya untuk memberikan ruang bagi dia untuk
berdiri. Ketika saya hendak antar dia ke loby, dia menolak halus. “ tidak
perlu antar saya. Terimakasih. Selamat malam” Saya mengangguk sambil
setengah menunduk sebagai rasa hormat kepadanya. Saya segera minta
pelayan untuk melarang wanita itu membayar bill. Semua bill atas
tanggungan rekening saya. Pelayan itu bersegera pergi menuju kasir.
***
Hari Jumat saya menghubungi call center Centurion agar menyediakan
private jet dengan standar layanan pribadi. Pesawat saya carter selama
dua hari. Petugas itu berjanji akan memberikan layanan terbaik bagi saya.
Semua ongkos dibebankan dalam bill corporate saya.
“ Hari Jumat malam private jet sudah standby di bandara. Kami akan kirim
kendaraan standar limo ke hotel anda jam 6 pagi. Apakah confirmed ”
katanya kemudian.
“ Yes Confirmed. “
“ Terimakasih.”
Setelah itu saya menghabiskan waktu di kamar membaca buku dan setelah
makan siang, saya istirahat di spa center untuk berenang, sauna, facial,
massage, Semua kegiatan itu berakhir menjelang jam 5 sore. Selanjutnya
waktu saya habiskan menelphone ke Eropa dan Hong kong. Diskusi dengan
direksi saya dan update segala hal tentang business process. Mereka
mungkin bertanya tanya karena saya tidak nampak terkesan kawatir.
Padahal dalam hitungan hari apabila saya tidak bisa lolos dari masalah
maka semua yang saya bangun hancur, juga reputasi.
***
Sabtu pagi jam 5 saya sudah di loby dengan pakaian casual. Tshirt Armany
dan celana denim. Sweater dan jacket GG menahan udara musin dingin.
Wanita itu tepat jam 5.30 masuk kedalam loby dengan pakain longcoat
namun dari balik longcoat nya dia menggunakan Tshirt berkerah tinggi
berbahan catoon yang dirajut dan juga celana panjang denim dengan
Winter Boots . Nampak cantik seperti bintang film Hong Kong, nampak lebih
muda dari usianya yang saya perkirakan tak lebih 45 tahun.
“ Kita langsung ke Bandara” Katanya melirik kearah kendaraanya yang
masih parkir depan loby.
“ Ya. Tapi lebih baik gunakan kendaraan saya.” kata saya.
Hanya lima menit setelah itu, nampak kendaraan standar limo merapat
depan loby. Seorang pria dengan seragam driver limo keluar dari dalam
kendaraan dalam posisi sempurna menanti kami masuk kedalam
kendaraan. “ Itu kendaraan saya” Kata saya. Dia melirik dengan agak
sedikit terkejut namun saya bersikap santai sehingga dia tidak terkesan
canggung. Driver membukakan pintu kendaraan. Nampak didadanya pin
berlogo , nama saya.
“Kita langsung ke bandara keberangkatan domestik. Disana sudah menanti
orang saya yang akan memberikan ticket untuk kita berdua.” Katanya.
Kemarin memang dia minta copy passpor saya, Saya langsung kirim via
email tanpa bertanya untuk apa.
“ Kita langsung ke bandara private. “
“ Mengapa ?
“ Maaf, mungkin lebih praktis gunakan private jet. Jadi kita bisa pulang
kapan saja tanpa diatur oleh jadwal penerbangan atau kereta.”
“ oh..”Dia melirik saya dengan bingung.
Didepan gate parkir pesawat , passport saya dan wanita itu di periksa tanpa
di cap. Karena ini penerbangan domestik. Kendaran limo masuk kedalam
bandara menuju tempat pesawat sedang di parkir. Dipintu pesawat nampak
logo nama saya pribadi. Ada dua pramugari yang melayani kami juga
dengan seragam. Didadanya ada pin logo nama saya. Wanita itu tersenyum
kearah saya ketika pilot menyalami saya dengan seragam yang juga berlogo
nama saya didadanya.
“ Mereka semua menaruh hormat kepada anda. Dan sangat hangat
layanannya.”
“ Mereka professional. Jadi biasa saja.”
“ Tapi mengapa harus menggunakan fasilitas ini semua “
“ Apakah ada yang salah. Maafkan saya.”
“ Tidak ada yang salah. Maksud saya kan lebih baik dengan pesawat
komersial”
“ Tapi kita tidak bisa bebas mengatur waktu. Apalagi ini liburan. Mengapa
kita harus terjebak dengan jadwal penerbangan dan kereta. Dan lagi ini
hanya standar layanan biasa, bukan hal luar biasa.”
“ Bagi anda ini hal biasa, tapi bagi saya ini luar biasa.”
“ Maafkan saya. Kalau ini membuat kamu tidak nyaman.”
“ Engga apa apa..saya malah tersanjung kamu perlakukan seperti ini”
“ Terimakasih.”
“ Apakah semua wanita kamu perlakukan seperti ini ?
‘ Apakah selama di club pernah ada wanita mendampingi saya?
“ Tidak ada. Walau tidak sulit bagi kamu minta layanan premium escort
yang muda dan cantik seperti bintang film Hongkong.”
Hanya butuh waktu 1 jam perjalanan udara, kami sudah sampai. Jadi belum
sempat bicara banyak. Tapi saya tahu dia menikmati perjalanan udara ini.
Ketika pintu pesawat terbuka, nampak kendaraan standar limo sudah
standby dekat parkir pesawat. Udara dingin yang menerpa wajah terasa
menyengat. Suhu sudah dibawah nol deraja celcius.
“ Saya sudah atur hotel untuk dua kamar di Sheraton. “ kata saya.
“ Tidak perlu dua kamar. Cukup satu kamar saja.” Katanya cepat.
“ Oh…”
“ Maksud saya, cukup anda tinggal di hotel, saya tidur ditempat lain”
“ Tempat apa ?
“ Nanti anda akan tahu sendiri. Bukankah kita kemari liburan”
“ Ya. Saya paham”
Perjalanan ke pusat kota Jilin dari Longjia airport ditempuh dalam waktu
sekitar 30 menit. Kota Jilin terletak di Provinsi Jilin. Ini kota kecil dengan
standar China, dengan populasi sekitar 4 juta orang. Kota ini indah dengan
sungai Songhua yang mengalir ke kota dan di kelilingi oleh bukit-bukit
pegunungan. Ketika itu bulan februari nampak pepohonan berbingkai es
spektakuler berjejer di tepi sungai Songhua.” Orang-orang Jilin ramah dan
sedikit penasaran dengan orang asing. Karenanya ada sedikit orang asing di
Jilin, Anda akan menarik sedikit perhatian saat Anda pergi, tapi Anda akan
terbiasa. Tapi tidak seperti beberapa kota besar lain di china yang lebih
kebarat baratan seperti Beijing atau Shanghai. Tinggal di Jilin memberikan
pengalaman China yang lebih otentik.” Kata Wanita itu. Saya hanya tak
bosan melihat keluar pemandangan.
“ Sebaiknya kita tidak langsung ke Hotel tapi ketempat saya dulu” Kata
wanita itu lagi.
“ Ok beri tahulah kepada supir kemana arah tujuan kamu “ kata saya. Dia
menggunakan bahasa china kepada driver itu dan nampak driver itu
mengangguk tanda tahu arah yang dimaksud. Lokasinya agak jauh dipusat
kota atau tepatnya pinggir kota. Ada bangunan tua namun disebelahnya
ada bangun modern dengan taman luas. Saya masih bertanya tanya, tempat
apa ini ? Ternyata setelah kendaraan parkir dan kami masuk kedalam
gedung itu, barulah saya tahun bahwa ini panti Asuhan. Kami di sambut
oleh Seorang wanita setengah baya dan pria muda. Mereka adalah pengurus
panti. Dengan ramah mereka menuntun kami ke aula dimana anak anak
panti sudah menanti kami. Ketika kami masuk mereka mengucapkan
selamat datang secara serentak. Saya masih terpesona dengan keadaan ini.
Ada apa dia bawa saya kemari.
Kemudian wanita itu berbaur dengan anak anak. Dia duduk ditengah tengah
dan anak anak usia dibawah 12 tahun itu mengelilinginya. Dia bercerita
semacam kisah spiritual untuk mendidik anak anak agar berbudaya , sambil
bercengkrama bersama anak anak itu. Kegiatan itu berlangsung sampai
siang. Kami makan siang bersama sama anak anak itu. Mereka sangat tertip
sekali. Tidak ada yang berisik selagi makan. Seusai makan siang , wanita
itu bersama sama anak anak panti bergotong royong membersihkan
ruangan. Sore hari wanita itu mengajak saya kepaviliun yang terletak
dibelakang panti
“ Di sinilah saya tinggal selama weekend. Sebetulnya saya ingin mengajak
kamu tinggal disini. “ Katanya dengan wajah merona seakan sungkan
menawarkan sesuatu yang dia yakin saya akan menolak. Maklum tempatnya
tidak semewah hotel.
“ Itu masih ada kamar satu lagi. Mari kita lihat” sambungnya. Saya meliat
kamar yang ditunjukannya itu. Bersih dan sederhana. Ada AC dan meja
kecil namun tidak ada TV.
“ Bagaimana ? katanya.
Saya berpikir sejenak. “ Baik, saya tinggal di sini. Dan lagi mengapa kita
harus berpisah tempat. Bukankah saya kemari karena ajakan kamu.” Kata
saya.
Dia tersenyum senang. “ Terimakasih untuk mengerti saya.”
***
Usai makan malam di panti, dia mengajak saya jalan jalan ke pusat
keramaian di pinggir Sungai Songhua , ini adalah anak sungai dari sungai
Amur, yang dikenal oleh orang China sebagai Heilong Jiang ( Sungai Naga
Hitam ). Nampak beberapa orang memainkan instrumen china kuno di tepi
sungai. Di depan saya melihat sebuah gunung yang tinggi dimahkotai oleh
kuil, pagoda. “ Menurut legenda ada seorang kaisar bernama Kangxi,
mengunjungi gunung itu pada abad XVII dan menciptakan sebuah puisi
tentang keindahannya. “ kata wanita itu mencoba menjelaskan keindahan
gunung itu.
Banyak tempat menggunakan tulisan bahasa korea, seperti toko dan
restoran khusus. “ Dulukala ketika kami akan diserang Rusia, kami
mengundang orang korea bergabung melawan invasi orang Rusia. Tapi
belakangan ketika kami bergabung dengan Jepang, Soviet berperang
melawan jepang di Manchuria dan berhasil menduduki sebagian besar
wilayah kami, bahkan kereta yang melintasi Manchuria melalui Harbin
dibangun oleh orang-orang Rusia.” Katanya menjelaskan mengapa banyak
tanda tanda korea di kota itu. Kami minum Soju di restoran korea sambil
bicara santai.
“ Setiap weekend kalau tidak ada urusan kantor saya lebih memilih berlibur
kemari. Saya senang berada di antara anak anak yatim. Mungkin karena
sedari kecil saya besar di panti. Dari kecil saya tidak mengenal orang tua.
Kehidupan panti merupkan kenangan terindah yang tak mungkin saya
lupakan. Terutama para mentor yang juga volantir dari kakak kakak yang
sudah lebih dulu mandiri. Mereka selalu kembali ke panti di waktu luangnya
menjadi penghibur bagi adik adiknya. Hidup memang tidak ramah. Namun
berkat cinta, kami punya keyakinan dan harapan bahwa kami akan baik
baik saja. “ katanya membuat saya tertegun dan terpesona.
“ Memang pemerintah china menanggung semua biaya makan dan sekolah
mereka tapi mereka bukan hanya butuh itu tapi juga butuh perhatian. Dari
petugas panti tidak bisa diharapkan perhatian penuh. Karena mereka hanya
pekerja yang dibayar pemerintah tapi dari kami , mereka mendapatkan
kehangatan cinta , rasa kebersamaan, dan kasih sayang. Itulah sebabnya
mengapa bila berada di tengah tengah mereka dan merasakan kehidupan
yang kini saya miliki maka rasa syukur kepada Tuhan tidak pernah habis.
Saya mecintai semua dan rasa terimakasih kepada pemerintah juga tidak
pernah berkurang. Saya harus memberikan yang terbaik kepada negara dan
bangsa karenanya saya harus bekerja jujur dan memastikan keberadaan
saya memberikan manfaat bagi pemerintah yang harus bertanggung jawab
kepada lebih 1 miliar penduduk” Katanya yang kembali membuat saya
terpesona.
“ Ingat dulu ketika tamat SMU, saya harus hidup sendiri di Beijing karena
dapat beasiswa masuk universitas. Pemerintah memberikan biaya hidup
hanya cukup untuk makan dengan standar sederhana sekali. Bertahun
tahun saya tidak pernah makan daging. Baju hanya berganti dua kali
setahun. Tapi dengan mendapatkan kesempatan belajar di universitas rasa
terimakasih kepada pemerintah tidak terkirakan. Saya tidak mau
menyianyiakan kesempatan yang diberikan pemerintah. Negara butuh
sarjana untuk membangun peradaban guna mengangkat saudara kami yang
miskin berada dipelosok negeri. Kerja keras dan belajar keras adalah
keniscayaan yang harus menjadi mindset kami untuk cina yang lebih baik”
“ Tamat Universitas saya berkarir di Bank Tani di sebuah distrik di Hunnan.
Saya harus mendidik petani agar disiplin menggunakan uang dan membuat
mereka smart dalam mengatur financial planner nya. Saya juga membina
kelompok tani agar dana kredit bantuan produksi yang disediakan
pemerintah melalui bank dapat efektif menolong mereka mandiri.
Bertahun tahun saya hidup lebih banyak bersama petani. Akhirnya usia 30
saya dapat beasiswa ke Harvard. Ini kesempatan yang harus saya
manfaatkan. Dua tahun di AS saya lalui dengan belajar keras. Dana
beasiswa sangat minim namun saya bisa survival berkat hidup hemat. “
Katanya. Saya kagum.
Di hadapan saya ada wanita sederhana. Tidak seperti informasi yang saya
terima bahwa dia wanita besi. Hatinya sangat lembut. Kalaupun dia tidak
bisa didekati dan di loby karena dia bekerja dengan prinsip amanah dan
focus dengan misinya untuk hanya bekerja demi kepentingan negara. Dia
tidak ada waktu dengan segala hal yang akhirnya merugikan negara. Bahkan
waktu liburnya ada bersama orang miskin dan yatim.
“ Tak terasa usia saya sudah 42 tahun. Rasanya baru kemarin saya tinggal
dirumah panti. Namun proses hidup yang keras dan penuh cinta membuat
waktu berlalu begitu cepat. “
“ Maaf, apakah pernah punya pacar ?
“ Pernah tapi itu hanya cinta monyet waktu SMU. Setelah itu tidak ada yang
mendekati saya. Entah mengapa? tapi saya juga tidak merasa kesepian.
Pergaulan saya dikantor hanyalah rutinitas diantara orang orang yang sudah
mapan secara intelektual dan spiritual. Jadi walaupun mereka dekat
dengan saya namun secara pribadi mereka asing bagi saya. “
“ Apakah kamu tidak punya sahabat sejati ? “
“ Ada tapi mereka semua sudah berkeluarga. Tentu engga bisa dekat lagi
seperti sebelum mereka menikah. Tapi tidak apalah. Toh setiap ada
kesempatan berkumpul mereka selalu undang saya. “
Pembicaraan terhenti. Karena dia mengingatkan harus memberi cerita
spiritual kepada anak anak sebelum mereka berangkat tidur. Kami segera
meluncur kembali ke Panti.
Ketika ingin berangkat tidur. Saya kehilangan semangat untuk
memprovokasinya membantu saya keluar dari kesulitan. Dengan sikap
hidupnya dan jalan hidupnya sebagai abdi negara, rasanya tidak seharusnya
saya mempengaruhi sikapnya hanya karena ingin menyelamatkan saya.
Kembali saya berdialogh dengan diri saya sendiri. Apa yang telah saya
lakukan untuk negeri yang saya cintai. Atau bisakah saya sedikit mengerem
nafsu ingin memiliki banyak hal dengan menghalalkan segala cara. Teringat
semua orang yang bekerja untuk saya dengan satu tujuan yaitu memuaskan
ego saya. Teringat semua hal, yang membuat saya merasa bersalah tak
berujung.
Hanya satu cara untuk memaafkan semua ini , yaitu saya harus
meninggalkan cara bisnis yang saya geluti. Stop. Apapun yang terjadi dan
apapun resiko akan saya hadapi. Mungkin inilah pesan cinta dari Tuhan
kepada saya.
****
Pagi pagi saya saya terjaga. Setelah sholat subuh saya duduk diteras
paviliun menghadap kataman. Kabut musing dingin mentupi fajar sehingga
sepagi itu masih gelap. Wanita itu nampak melangkah mendekati saya dari
sebelah paviliun “ Bagaimana tidurnya ? nyaman”
“ Nyaman.”
“ Rencana jam 1 siang kita kembali ke Beijing. Sebelum jam 1 saya harus
rapat dengan pengurus panti membicarakan perbaikan fasilitas panti agar
lebih baik dari yang sediakan pemerintah. Tadi malam sebelum tidur saya
baca proposal dari pengurus panti. Mereka butuh anggaran sebesar 100,000
yuan. Semoga ada solusi untuk mereka. Saya ada tabungan sebesar 60,000
yuan. Maklum saya butuh tabungan karena di apartement saya di Beijing
juga saya menampung anak yatim piatu 2 orang. Keduanya sedang kuliah
sekarang.”
“ Oh begitu.”
“ Sebelumnya saya sudah di janjikan oleh donatur untuk memberikan
bantuan tapi sudah lebih tiga bulan belum juga dipenuhi janjinya. Mungkin
dia lagi sulit. Baiklah kamu tunggu disini atau kamu bisa ikut dalam rapat.
Gmana ?
“ Sebaiknya saya tunggu disini.”
“ Ok. “
Dia melangkah kegedung utama. Tinggal saya sendirian. Segera saya
menghubungi call center centurion bahwa saya butuh uang tunai sebesar
100,000 yuan. Masalahnya hari minggu tidak mudah dapatkan uang tunai
sebanyak itu namun mereka memberikan fasilitas kemudahan
mendapatkan uang tunai dimana saja, kapan saja. Tak berapa lama driver
yang sedari kemarin standby ditempat parkir menanti untuk melayani saya
datang ke paviliun “ Saya dapat perintah menyerahkan uang kepada anda.
“ kata driver itu seraya menyerahkan amplop. Amplop itu saya simpan di
saku jaket bagian dalam.
Jam 12 siang wanita itu datang ke paviliun. “ saya sudah selesai. Sekarang
kita siap berangkat. Sebelumnya kita makan siang di restoran di pusat
kota.” katanya.
“ Terimalah ini. Mungkin bisa meringankan kamu. “ Saya menyerahkan
amplop itu. Dia terkejut sambil melihat isi amplop “ mengapa ?
“ Apalah arti uang itu dibandingkan kepedulian anda kepada anak yatim.”
“ Tapi saya cerita tentang panti ini bukan berarti saya minta bantuan
kepada anda. Lantas apa yang anda harapkan dari saya? ”
“ Apakah boleh saya menjadi sahabat kamu?
“ Hanya itu ?
‘ Ya”
“ Dengan semua kebaikan anda? “
“ Ya”
Wanita itu berpikir lama. Dia terdiam duduk dikorsi menatap kebawah.
“ Kamu tidak tahu siapa saya. Kita baru kenalan seminggu. Tapi kamu telah
berbuat banyak untuk saya. Dan baru kali ini saya merasa tersanjung
sebagai wanita. Apa lagi oleh pria sekelas anda. Muda, kaya dan
terpelajar.”
Dengan tersenyum saya berkata lambat “ Saya hanya ingin jadi sahabat
anda. Itu saja. Kalau anda tidak bersedia , jadikanlah saya sebagai
teman” Dia berdiri dari tempat duduknya seraya memberikan
kelingkingnya untuk saya tautkan “ kita sahabat sekarang “.
***
Ketika dalam pesawat saya masih membayangkan apa yang akan terjadi
buruk nanti hari senin depan. Tapi saya sudah pasrah. Saya ingin mengakiri
ini semua, apapun itu , yang terjadi terjadilah.
“ Ada apa? Katanya. Membuat saya terkejut.
“ Ah engga apa apa “
“ Saya perhatikan sekilas kamu sedang berpikir keras. Benar benar galau”
“ Ah engga apa apa. Saya baik bak saja”
“ Bukankah kita sudah berjanji sebagai sahabat. Bukankah sahabat itu
saling mendengar dan memberikan jalan keluar. Katakanlah kalau kamu
benar yakin saya adalah sahabat kamu”
Saya terdiam lama. Entah bagaimana harus bicara. Sampai saat ini dia tahu
bahwa saya tidak tahu pekerjaannya. Sampai saat ini dia tahu bahwa saya
tidak mengenal dia sebagai pejabat otoritas moneter. Lantas mau ngomong
apa ?
“ Bicaralah ..”Katanya setengah memelas.
“ Ya..saya ada masalah di Beijing. Ini hanya soal bisnis. Bukan masalah
serius. Biasa terjadi dalam bisnis.”
“ Masalah apa ?
“ Sebagai pendatang baru dalam bisnis private fund, saya terjebak oleh
permainan yang diciptakan oleh kompetitor saya. Entah bagaimana setelah
saya unggul dalam lelang mereka ciptakan rumor bahwa saya menggunakan
cara cara hedge fund untuk akuisisi. Padahal itu dana dari Arab yang saya
SWAP dengan islamic Bond yang mendapat exit dari buyer di Jepang dengan
harga 112%. Jadi tidak ada yang salah. Yang salah karena saya pendatang
baru dan terlalu ambisi “
“ Saya kurang paham, Ini berkaitan dengan transaksi apa ?
“ Akuisis salah satu Block city yang ada di Beijing”
“ Oh i see. Saya juga baca di media massa.” katanya. Dia tidak lagi
menanggapi dan bertanya. Dia memilih diam. Tapi saya segera mencairkan
suasana dengan mengajaknya diskusi soal lain. Tak terasa satu jam berlalu
pesawat sudah mendarat di bandara Beijing.
***
Senin pagi saya terbang dengan pesawat pertama. Malam sebelumnya saya
sudah beritahu rencana keberangkatan saya ke Hongkong. Dia berharap
dapat bertemu kembali dengan saya.
Jam 11.30 pagi saya mendarat di Hong Kong. Ketika HP dibuka, SMS masuk
“ Bejing meloloskan tranksasi kita dan proses financial closing bisa
dilanjutkan. Berita tadi jam 10.30 dari Beijing. Selamat. Anda sukses keluar
dari masalah” Berita dari Lawyer saya.
Berjalan di sepanjang kurudior kedatangan bandara, terasa berjalan diatas
awan. Tubuh saya terasa melayang. Tapi entah mengapa saya semakin
takut kembali ke Beijing untuk bertemu dengan wanita itu…Mengapa orang
baik harus jadi korban? Apalagi SMS masuk dari wanita itu " You always my
mind. You take care my dear" Saya seakan masuk kedalam lobang hitam
dalam sesal tak bertepi. Mengapa ini saya lakukan.? Wanita itu tidak Pantas
jadi korban permainan saya.
***
Tiga bulan berlalu saya masih gelisah. Ada perasaan bersalah yang sulit di
ungkapkan. Sementara proses akuisisi block city di Beijing sampai pada
pelepasan kembali kepada pihak exit buyer di Jepang sudah selesai di
lakukan. Pihak investor, partners & associates, fund manager , lawyer,
dan semua pihak yang membantu process transaksi merasa happy dengan
prestasi yang dicapai. Selama tiga bulan itu saya tidak ada komunikasi
apapun dengan wanita itu. Saya tidak mencoba menghubunginya dan
diapun tidak. Apakah dia sudah melupakan saya. Atau menganggap
pertemuannya dengan saya hanya sekedar intermezo. Tapi bagaimanapun
saya harus bertemu kembali dengan wanita itu dan berkata jujur.
Setidaknya saya bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga otoritas
begitu saja mengizinkan proses akuisisi di lanjutkan, padahal sudah dalam
kondisi di block karena alasan suspect.
***
Dari Seoul saya terbang ke Beijing. Ini kepergian tanpa missi business. Lebih
karena alasan pribadi bahwa saya harus bertemu dengan wanita itu. Harus.
Sesampai di Beijing saya memilih hotel yang berada di club dimana wanita
itu sering membuang waktu usai jam kantor. Jam 7 saya datang ke club.
Salah satu pelayan yang masih mengenal saya menegur dengan ramah.
“ Tuan, apa kabar. Senang bertemu kembali.”
“ Terimakasih. “ Kata saya dengan menyapu pandangan ke semua sudut
ruangan.
“ Wanita itu tidak pernah datang lagi Tuan. “
“ Sejak kapan ?
“ Sudah lebih satu bulan dia tidak pernah datang lagi “
Entah mengapa terdorong begitu saja saya menelphonenya melalui selular.
Tapi telp tidak diangkat atau tepatnya sudah tidak aktif lagi. Segara saya
telp fund manager saya untuk mencari tahun tentang wanita itu.
“ Dia sudah tidak lagi menjabat di posisi yang sama sejak sebulan lalu.
“Kata fund manager.
“ Dimana posisi dia sekarang ?
“ Tidak ada sumber informasi tentang itu.”
“ Mengapa ?
“ Lah ini China. Selain presiden, tidak ada Jabatan yang sakral. Tapi karena
profesionalitas. Pejabat datang dan pergi , naik dan jatuh itu bukan hal
luar biasa, Sudah biasa. Bahkan sangat biasa. Jadi bukan berita. Apalagi
pejabat sekelas teman wanita kamu itu. “
***
Saya ingat sepulang dari Jilin , saya pernah antar dia ke apartement tapi
tidak tahu pasti alamatnya. Saya hanya tahu kawasan apartementnya yang
berada di super block city Beijing. Tapi tentu saya bisa dapatkan alamat
wanita itu dari management kawasan apartement. Namun apa yang saya
dapat? Pegawai management apartement menyebutkan tidak ada nama
wanita yang saya maksud. Memang ada beberapa apartement di miliki oleh
pemerintah untuk pejabat tapi tempatnya tersebar di beberapa block.
Rasanya sama saja mencari jarum di tengah lautan. Saya putuskan
menghentikan upaya mendatangi satu persatu block apartement.
Dalam kebingungan, saya ingat Jilin. Ya saya harus ke Jilin. Dari pengurus
panti saya yakin bisa mendapaktan informasi lebih banyak tentang wanita
itu. Dan bagaimana saya bisa menemukannya. Keesokannya saya terbang
ke Jilin. Dari petugas panti saya dapat informasi bahwa wanita itu sudah
pindah ke Shanghai. itu kabar terakhir sebulan lalu ketika wanita itu
berkunjung ke Panti. Dari pengurus Panti saya dapat alamat di mana dia
bertugas sekarang. Tapi saya agak bingung kebenaran informasi yang saya
terima itu. Bagaimana mungkin sekarang di berubah profesi jadi dosen.
Universitas terkenal lagi. Tapi saya tetap jadikan itu sebagai informasi.
Saya putuskan terbang ke Shanghai dari Jilin.
Ketika itu musim semi. Dari bandara saya langsung menuju kampus dimana
wanita itu jadi dosen. Dari staf management kampus saya diminta untuk
menanti karena wanita itu akan segera datang menemui saya di ruang
tunggu. Tapi setelah lebih satu jam menanti, saya malah dapat memo dari
wanita itu. “ Beri tahu dimana kamu menginap nanti seusai jam kerja saya
usahakan datang ke hotel kamu. “ Saya memberikan catatan di belakang
memo itu, nama hotel saya. Dan setelah itu berlalu. Padahal saya belum
check in hotel. Namun saya bersegera check in dan menanti
kedatangannya.
Telp selular saya bergetar. Tidak ada nama penelphone. Tapi segera saya
angkat “ Saya sudah di loby “ terdengar suaranya diseberang dan itu suara
wanita tadi.
“ Segera saya kebawah”
“ tidak perlu. Biar saya ke kamar kamu. Boleh ?
“ Tentu. “ Saya menyebut kamar saya.
Tak berapa menit dia sudah didepan pintu kamar saya. Nampak tersenyum
namun keadaanya tidak se glamor dulu ketika masih menjadi pejabat
otoritas moneter. Ketika saya hendak menyalaminya, dia merangkul saya.
Cukup lama. “ Long time no see. “ Katanya.
“Bagaimana kamu bisa tahu saya di sini ? Katanya ketika saya persilahkan
dia duduk diruang tamu kamar panthouse saya.
“ Dari pengurus Panti.”
“ Sudah kuduga. Karena hanya mereka yang tahu.”
“ Mengapa kamu pindah kerja ?
“ Di china sudah biasa. Sebelum pejabat dirotasi ke bagian lain, pejabat
tersebut harus kembali ke kampus jadi dosen untuk memberikan
pengalaman dan ilmunya selama jadi pejabat. Ya semacan refresh. “
“ Oh begitu ?
“ Ya.”
“ Mengapa ?
“ Kami semua yang jadi pejabat tadinya adalah program beasiswa negara.
Dan terus berkembang berkat investasi pemerintah dalam mendidik kami.
Kelak generasi setelah kami juga akan mengikuti ritme yang sama kini kami
lakukan. “
Setelah itu, saya terdiam. Entah mengapa saya tidak berani menatapnya.
Semakin saya pandang dia semakin ada rasa bersalah. Selang beberapa
lama suasana kikuk itu mencair. Karena dia bisa menangkap pikiran saya.
“ Setelah kembali dari Jilin, saya segera menghubungi staff saya untuk
mencari tahu tentang kamu. Malam hari staff saya membawa berkas
tentang kasus kamu. Semalaman saya pelajari semua berkas itu. Pagi hari
saya hubungi kontak saya di Eropa. Dari mereka saya dapat informasi bahwa
sumber dana kamu clean. Transaksi SWAP melalui bank di Dubai atas
islamic bond yang kamu terbitkan memang limited offering dan tidak
memerlukan izin dari otoritas. Reputasi kamu pun di financial market tidak
ada catatan black list. Makanya keesokan paginya langsung saya membuat
keputusan agar transaksi cross border kamu di keluarkan dari list suspect”
Katanya dengan tenang dan lancar sekali menjelaskannya menunjukan dia
orang yang rasional dan professional.
“ Terimakasih “ Hanya itu yang bisa saya katakan sambil menarik nafas
lega.
“ Nah sekarang pertanyaan saya” katanya seraya menatap mata saya
dengan tajam “ Katakan dengan jujur apakah kamu mengenal saya
sebelumnya ?
“ Ya”
“ Kebiasaan saya sering nongkrong di club itu ?
“ Ya.”
“ Jadi kebaikan demi kebaikan yang kamu lakukan terhadap saya , itu
semua sudah di rencanakan?
“ Ya.”
“ Juga emosi persahabatan yang kamu bangun juga sudah di rencanakan?
“ Ya.”
“ Lantas mengapa kamu terus mencari saya dan ingin bertemu dengan
saya.”
“ Awalnya semua saya rencanakan dengan baik. Seperti artis melakonkan
skenario.”
“ Dan kamu artis yang baik menurut saya” katanya terkesan sinis.
“ Ya. Tapi malam terakhir di Jilin keadaan berubah. Saya ingin terus terang
kepada kamu tentang semua yang saya lakukan. Tapi logika saya
mengatakan akan lebih baik saya tidak perlu cerita niat saya mendekati
kamu. Apapun yang terjadi saya tetap ingin bersahabat dengan kamu. Saya
juga tidak berharap lagi kamu menggunakan jabatanmu membantu saya.
Tidak. Saya hanya berserah diri kepada Tuhan agar kebenaran yang selama
ini saya perjuangkan tidak sia sia. Tapi …
“ Apa ?
“ Rasa bersalah saya karena menggunakan cara berbohong untuk menarik
empati kamu, Itulah yang menjadi beban batin saya. Ini kesalahan yang tak
tertanggungkan. Sulit untuk saya lupakan“
“ Mengapa begitu besar rasa bersalah kamu”
“ Kamu orang baik. Baik sekali. Sebagai abdi negara kamu sangat tinggi
moralnya, Sebagai pribadi kamu punya spiritual yang tinggi dengan dekat
kepada anak yatim, bahkan sebagian besar penghasilan kamu di korbankan
untuk anak yatim. Sementara kamu hidup dalam kesendirian ditengah
kompetisi dan individualisme. Sementara saya, hanya berpikir soal uang
dan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang, termasuk
berbohong” Kata saya dengan mata tertunduk dihadapannya. Saya tak
sanggup lagi bicara. Saya rasa sudah cukup saya bicara. Rasa bersalah itu
sudah mulai berkurang. Soal dia maafkan atau tidak saya sudah pasrah.
Kepada Tuhan saya mohon ampun.
Keadaan hening.
“ Jaka…” terdengar dia memanggil saya, Saya mendongak kearahnya.
“ Boleh saya panggil nama kecil kamu. itupun kalau kamu tidak berbohong
soal nama kecil kamu. Karena beda dengan nama di passport.” Katanya
dengan wajah berhias senyum. Tak nampak dia sinis. Di hadapan saya, dia
seperti seorang ibu yang baru saja mendengar anaknya mengeluh atas
hidup yang tidak ramah.
“ Bo bo boleh. Itu memang nama kecil saya. Itu panggilan sayang ibu saya“
“ Saya berharap suatu saat kamu ajak saya makan malam. Tapi oleh
seorang Jaka. Saya ingin berteman dengan Jaka, putra dari ibunya, yang
tanpa setelan Armany, tidak menginap di panthouse, tidak punya limosin ,
tidak punya private jet. Dan Jaka hanya tahu saya seorang Lyly yang yatim
dan tidak secantik artis Hong Kong. Jadilah sahabat saya apa adanya saya
bukan karena jabatan atau profesi saya.“
Saya terpesona dengan kata kata sederhananya. Apakah itu sebagai tanda
dia sudah memaafkan saya dan memaklumi saya. Lagi, saya merasa kecil
di hadapannya.
“ Saya harus pulang. “ Katanya hendak mengakhiri pertemuan itu. Saya
berdiri dan diikuti olehnya.
Saya mengantarnya sampai ke lift
“ Apakah saya masih bisa bertemu kamu, lyly ?
“ Lain kali datanglah sebagai seorang Jaka, dan jangan lupa undang saya
makan malam. “Katanya dan pintu lift tertutup.
Sikap rendah hati memang mampu menghancurkan tembok tebal
kesombongan dan melunakan hati sekeras baja, membersihkan kebohongan
dan kemunafikan untuk orang kembali ke jalan Tuhan. Demikian tentang
Lyly.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGGAPAI UJUNG LANGIT

MENJADI SUFI

PEMIMPIN ATAU GURU