Postingan

Menjadi Srigala

Setelah kembali dari Hongkong aku tidak punya rencana apapun. Mau memulai bisnis engga tahu apa yang harus di kerjakan. Keadaan ekonomi semakin tidak jelas. Padahal setelah pemilu dengan terpilihnya Presiden baru seharusnya arah ekonomi bisa lebih jelas. Tapi mungkin karena begitu besar masalah yang diwariskan Soeharto maka keadaan menjadi tidak lagi sederhana. Kurs rupiah sudah berhasil dikendalikan dibawah ambang psikologis tapi tetap saja fundamental ekonomi belum sehat. Di zaman Megawati ada harapan ketika Pemerintah dengan tegas akan mengeluarkan IMF dari Indonesia. Namun mentri keuangan mengusulkan diberlakukannya SAPs ( Structural Adjustment Programmes) Ini sama saja tetap menggunakan kuridor IMF dengsn LOI nya untuk membuat ekonomi lebih terbuka. Selama di Jakarta walau aku tidak ada bisnis yang dikelola namun dengan uang yang cukup aku bisa lebih leluasa bersosialisasi di kalangan bisnis. Lambat laun membosankan. Aku terbiasa sibuk dan menghadapi tantangan. Melew...

MENJADI SUFI

2009 adalah awal prahara melanda hidupku. Saham perusahaan yang tercatat di bursa Shenzhen, Hangseng, Tokyo, NY terus turun. Setiap turun bukan hanya menurunkan asset perusahaan tapi juga mengharuskan Pemegang saham melalukan topup collateral kepada lending bank. Bila tadinya nilai saham yang digadaikan hanya sebesar 20% namun kini telah merangkak sebesar 50%. Hanya masalah waktu tidak ada lagi yang akan digadaikan oleh pemegang saham utama karana semua sudah di pledge. Pada saat itu perusahaan harus lempar handuk putih untuk minta perlindungan kebangkrutan kepada pengadilan. Trauma krismon 98 kembali menghantuiku. Tapi dengsn cepat aku tepis. Kali ini aku tidak mau menyerah dan lagi aku berhutang di negara dimana sistem hukum sudah solid. Jadi akan lebih mudah mendapat solusi. Aku harus tenang. Yang harus aku lakukan adalah mulai melakukan evaluasi menyeluruh dan ini aku umumkan kepada semua direktur disemua anak perusahaan yng berjumlah 32 unit. " Saya minta mulai s...